"Kok pulang cepat sekali? Mobil yang kalian rental di suruh kembalikan sama pemiliknya, ya?"
"Kayaknya sih majikannya yang nyuruh balik."
"Biarkan saja mereka pergi," lerai ibu mertuaku pada ipar-iparku yang bermulut kejam itu.
"Oh iya Daffa, lain kali kalau ke rumah ibu, apa adanya saja, ya. Jangan lah, rental-rental mobil kasihan kalian, udah makan sulit, malah harus bayar begituan. Itu sewa kontrakan sudah di bayar kan? Ibu tidak ingin kamu diusir lalu pulang ke sini."
Tajam dan begitu menusuk. Mas Daffa melepaskan genggaman tangan kami, pria berbadan tegap itu menghela napas sebentar sebelum membalikkan badan, dan menatap keluarganya dengan penuh rasa kekecewaan.
Ternyata sama saja, kami tidak dihargai oleh mereka, padahal selama 10 tahun lamanya kami merantau, mereka tidak pernah mau tau dengan keadaan kami di sana, jangankan ditanyai kabar, saat Mas Daffa mencoba menghubungi ibunya. Selama ini wanita itu selalu saja menolak dengan bernagai macam alasan.
"Kami memang miskin, tapi kami tidak miskin harga diri." Mas Daffa menegaskan sembari menatap ibunya tajam. Sontak ucapannya sukses membuat merka semua tertawa. Bahkan parahnya lagi Bang Abas menepuk tangan sambil teetawa begitu keras.
"Heh, Daffa. Jaman sekarang nggak perlu soksoan berprinsip begitu, kalau sudah susah ya susah saja, jangan soksoan jual mahal." sindir laki-laki yang mungkin berusia 45 tahun.
Aku tersenyum devils. Tenyata pernyata bahwa ekonomi menentukan harga diri benar adanya. Jika kita miskin, jangankan orang lain, keluarga sendiri saja bisa dengan tega membully.
Saat ingin menjawab perkataan Bang Abas, tiba-tiba suara telpon dari ponsel milik Mas Daffa terdengar keras. Alhasil suamiku merongoh saku celana jansnya dan mengeluarkan benda persegi itu.
Mas Daffa menekan tombol tolak pada layar ponsel, dan kembali menyimpan benda tersebut ke dalam saku celana.
"Aduh-aduh, itu iPhone kw?" tuding mbak Kania.
"Sepertinya itu memang iPhone asli deh, kamu sewa di mana?" Sekarang giliran Mbak Ghita yang mengeluarkan suara.
"Berapa Kamu sewa sehari? Lucu ya kalian, soksoan kaya. Padahal kami semua tau latarbelakang kalian." Ibu tersenyum sinis. Kasihan sekali suamiku sejak dulu dikucilkan keluarganya karena hanya dia yang tidak pns.
"Mas, sudahlah, ayo pulang saja."
Aku mengelus bahu pria di hadapannya sambil berujar dengar lembut, Mas Daffa melirik wajahku sebentar kemudian tersenyum lega sambil menatapku dalam.
"Orang-orang seperti mereka tidak akan pernah berubah," tambahku lagi. Sontak Mbak Kania marah besar mendengar ucapanku. Wanita itu mendekat sambil manarik tangannku kasar.
"Apanya yang nggak berubah?" tanya wanita itu, aku membalas tatapan nyalanya dengan senyum penuh seringan di bibirku.
"Kok panas?" sindirku.
"Heh? Kalian saja yang tidak berubah, miskin daru dulu, malu tau, pinjam dan sewa barang-barang mewah padahal makan saja sulit," katanya, ia menjeda ucapannya sambil melirik tanganku yang masih di pegang kuat.
"Ups! Tangan kamu kan sering bersihin wc orang kaya. Ih ji jik tau," sontak Mbak Kania melepas tanganku.
"Tau apa kalian tentang kehidupan kami?" tanyaku sambil tersenyum.
"Ya tau lah, lihat saja wajahmu tanpa rasa malu it ...."
"Sekali lagi kau hina istri saja, jangan salahkan saya jika berani bertindak kasar!" bentar Mas Daffa.
Aku mengandeng lengan suamiku guna agar amarah pria itu redam. Aku tau bagaimana harus membalas mulut ipar dan mertuaku.
Cukup main cantik saja. Tidak perlu meladeni mereka, toh nanti akan mati kutu sendiri.
"Jangan lupa tanggal 15, ada Syukuran yang kami adakan, aku harap kalian semua hadir. Detail alamatnya nanti aku kirim lewat grup saja," kataku sebelum pergi. Merka tidak menjawab apa pun. Namun ekspresi wajah mereka yang menatapku seperti mengejek.
Aku sudah tidak peduli, akhirnya aku memlih untuk melangkahkan kaki dari sana.
"Tunggu dulu," ibu menghampiri sambil sedikit berlari.
Wanita paruh baya itu menyerahkan sesuatu yang membuat mataku melotot.
Bersambung ....