Part 3

659 Words
"Buat anak kamu, kasian kelaparan di jalan." Ibu menyerahkan uang dua ribu. Catat, dua ribu! "Jangan gengsi, ambil saja, kasian loh anak kamu, dari tadi melotot liat makanan enak, eh malah dipaksa pulang sama emak bapaknya." Aku tersenyum sambil menatap ibu, mengambil uang yang berada di tangannya sambil tersenyum. "Terima kasih." Mas Daffa menarik tanganku agar benar-benar pergi. "Hati-hati, jangan sampai mobil orang tergores." "Baru belajar nysetir si Daffa sepertinya makanya sombong, ha ha ha." Aku masih bisa mendengar hinaan mereka dengan sangat jelas. Tidak ada sama sekali penysalan dalam hatiku karena kembali ke rumah mertua. Aku bahkan semakin semangat untuk memebalas hinaan-hinaan merka dengan lebih menyakitkan. "Maaf," kata Mas Daffa. Aku ternyum sambil mengangguk. "Aku sudah berencana untuk mengubah acara hajatan di rumah baru kita." "Maksudnya, Mas?" tanyaku. "Aku rasa persiapan sebelumnya masih kurang mewah, jadi tambah tamu undangan lagi, catering ambil yang menunya paling mahal-mahal. Aku siap keluar uang ratusan juta untuk membalas hinaan mereka padamu." kata pria itu ber api-api. "Masih ada waktu satu minggu sebelum acara, aku akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Kupastikan mulut mereka akan terbuka lebar dan tidak dapat terkatup, mata yang meloto dan hampir keluar saat melihat acara yang kita adakan." "Untuk mc dan pengisi sesi hiburan, sewa mc terkenal dan artis papan atas." "Mas!" "Jangan ada penolakan Airin, hatiku terlalu sakit dibuat oleh mereka selama puluhan tahun. Jadi ini saatnya untuk aku membalaskan dendamku pada mereka." Mas Daffa memanggil namaku, itu artinya aku harus menurutinya dan tidak membentah apa pun yang ia katakan. "Ibu macam apa dia, menghina anak, menantu serta cucunya sendiri?" ucap Mas Daffa dengan nada suara yang terdengar begitu kecewa. "Apa pun ceritanya, aku tetap akan membalas mereka di acara hajatan mewah kita." **** Mobil yang mas Daffa kendarai masuk ke dalam kompleks perumahan yang ditempati oleh orang-orang kaya. Rumah-rumah di komplek ini minimal memiliki dua lantai, itu sebabnya tidak ada bangunan yang kecil di sini. Kemudian Mas Daffa menghentikan mobil di deoan sebuah pagar yang menjulang tinggi, tidak berapa lama pagar itu pun terbuka dengan lebar memperlihatkan rumah kami yang mungkin ukurannya kira-kira tujuh kali lipat dari rumah ibu mertua. Mas Daffa memarkirkan mobil merk Fortuner di dalam garasi yang juga di isi oleh beberapa mobil lain milik kami. Setelah menempuh perjalanan panjang selama 5 jam, akhirnya kami sampai juga. Sebenarnya aku sedikit terkejut saat melihat halaman rumahku yang luas sudah diletakkan banyak besi-besi yang akan dirakit untuk menjadi tenda. Ya, walau pun belum di pasang, akan tetapi aku bisa menebak sebesar apa jadinya tende itu nanti. "Kamu jangan banyak pikiran, ingat kamu sedang hamil, biar aku yang mengurus semuanya," ucap Mas Daffa. Ah, bahkan aku sudah lupa dengan kehamilanku. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Kemudian turun dari mobil, Aqilla—putriku sudah di gendong oleh papanya. Saat menutup pintu mobil, tiba-tiba ide yang entah dari mana memenuhi pikiranku. Kucari sebuah foto di galeri kemudian kuposting di story w******p, ini pertama kalinya aku memosting sesuatu dan tidak memprivat dari keluarga suami. Foto yang memperlihatkan aku yang sedang duduk di sebuah caffe, di depanku terhidang berbagai macam menu-menu mewah. Selama ini bukannya tidak mau memeprlihatkan kemewahanku, tapi aku selalu ingat kata Mas Daffa yang melarangku untuk pamer. "Yang sekarang kita rasakan belum tentu bisa di rasakan oleh orang lain, jadi jangan post sesuatu yang membuat keluarga kita merasa sedih dan iri." begitu katanya. Namun sekarang kata-kata itu sudah tidak dapat ditoleransi lagi oleh hatiku. Aku memilih masuk ke dalam rumah setelah memposting status tersebut, belum beberapa menit, ponselku bergetar, yang menandakan ada notifikasi masuk. [Duh-aduh, makin menjadi-jadi si Airin.] tulis Mbak Kania dengan disertai sebuah foto hasil screnshootan storyku tadi pada pesannya itu. [Mau banget dibilang kaya, ha ha ha,] balas Erina disertai emoji ketawa sampai keluar air mata. [Iyain deh, biar dia senang. Si paling kaya.] balas Mbak Ghita. Aku tersenyum devils. [Kalian mampu tidak ha ha ha?] Kubalas pesan mereka dengan disertai sebuah foto yang membuat merka semua jengkel dan kesal. [Duh panas, ya?] Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD