Part 4

470 Words
[Duh, amit-amit panas sama si miskin murahan.] [Mana lebel Guccinya aja mau copot, ha ha ha.] [Udah, jangan dibully, namanya juga barang kw.] Mereka mengomentari tas yang berada dalam fotoku, ha, dasar bodoh, padahal jelas-jelas itu tas asli. Orang bodah saja kurasa bisa membedakan yang mana kw dan yang mana barang asli. [Kalau aku sih, mending tas yang nggak ada lebel brandnya dari pada harus pakek yang lebel branded tapi belinya di pasar, mana barang obral lagi ha ha ha,] Erina istri Bang Abas menyahuti. [Rina kok panas, sih?] tanyaku disertai emoji sedih. [Ini orang lama-lama dibiarin makin kelewatan.] [Setelah ke sini, dia semakin panas karena melihat kita yang sudah kaya-kaya,] Bang Abas menimpali. Aku berniat untuk mengabaikan perkataan-perkataan para benalu itu. Masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhku di atas sofa. "Buk, Bapak pergi lagi ya?" tanya Mbok Ijah sambil membawakan nampan berisikan minuman. Aku yakin bahwa Mas Daffa lah yang menyuruh wanita itu untuk membuatkan aku minuman. "Iya mbok, ada banyak hal yang harus di urus," kataku menjawab penyatanyaan wanita itu. Mbok ijah nampak diam beberapa saat, ia seperti sedang menyimpan pertanyaan besar di otaknya. "Sepertinya akan ada acara di sini, ya buk?" tanya wanita itu. "Iya benar mbok, hajatan tapi lumayan besar," "Oh, pantas Daffa terlihat sibuk sekali." Aku mengangguk sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian wanita itu pergi. Kuseruput minuman yang berada dalam gelas itu habis dan bangkit dari dudukku. Melangkah perlahan ke arah kamar. Kubuka pintu kamar perlahan kemudian kuhempaskan tubuhku di atas kasur. Ponselku sejak tadi berbunyi, menandakan ada banyak chatt yang masuk. [Udah kalah di Airin makanya nggak balas lagi.] [Eh, ngomong-ngomong aku dapat undangan dari pemilik saham kantor tempat aku berkerja nanti tanggal 15.] [Bisa samaan sama acara si Airin dan suaminya ya?] tanya Ibu. [Btw dia ngundangnya satu keluarga loh, jadi maaf ya Rin, kami tidak bisa hadir di acaramu.] balas Bang Abas lagi dengan nyebut namaku di dalam pesannya. [Halah nggak usah minta maaf.] balas ibu. [Mending ke acara orang kaya dari pada ke acara mereka, yang ada rugi, cape-cape ke kota malah nggak dikasih makan nanti di acaranya si Airin.] balas ibu lagi. [Iya sih, benar kata ibu, jadi mending ke acara yang diundang kantorku saja, sudah jelas-jelas perut kita terjaminkan.] Aku tersenyum membaca pesan-pesan keluarga suamiku itu yang mengatai acara hajatanku. Mereka tidak tahu pemilik sebagain saham kantor tempat Bang Abas bekeja itu milik suamiku. Mereka tidak tahu siapa yang mereka puji kaya sejak tadi. Mungkin saat mengetahui bahwa orang kaya itu adalah anak dan menantu yang mereka hina miskin pasti mereka semua akan serangan jantung. Tidak masalah kita lihat saja nanti. [Have fun yah kalian, jangan sampai terkena serangan jantung nanti.] balasku dengan disertai emoji tertawa ngakak. Kemudian aku memilih tidur saja. Ah, tidak sabar rasanya menunggu 7 hari lagi. Aku penasaran bagaimana wajah mereka nantinya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD