"Aaaaargh!" aku masih menjerit melihat kuntilanak di depanku.
Plak! Tiba-tiba sebuah gulungan koran mendarat di kepala.
"Berisik!" Terdengar suara Mas Baim.
Kuntilanak di depan pun menoleh. Astaga! Ternyata dia ibu-ibu biasa yang lagi berdiri dengan rambut terurai. Aku yakin dia ibu-ibu biasa karena daster putihnya ternyata gambar Sponge Bob, kan nggak mungkin kuntilanak pakai baju gambar Sponge Bob (wkwkwk, jadi bayangin kuntilanak pakai baju gambar Sponge bob).
"Bu Rita, maafin istri saya ya, dia lahir Jumat Kliwon jadi ya kayak gini." Mas Baim memintakan maaf pada ibu-ibu yang kukira kuntilanak itu.
"Oh, jadi ini ya istrinya Mas Baim. Belum kenalan kita, Mbak." Bu Rita mendekat dan menyalamiku. Aku jadi bener-bener nggak enak, ternyata dia beneran manusia bukan kuntilanak.
"Dia tetangga sebelah, Rara," kata Mas Baim.
"Oh, maaf, Bu. Saya memang orangnya kagetan," kataku berbasa-basi.
"Nggak apa-apa, Mbak Rara. Ibu habis keramas, jadi rambutnya diurai. Maaf ya kalau ngagetin Mbak Rara," kata Bu Rita.
Aku jadi bener-bener nggak enak.
"Pak Udin sudah pulang, Bu?" tanya Mas Baim.
"Itulah makanya saya lagi nunggu Pak Udin. Kan kalau dari sini jalan depan kelihatan," jawab Bu Rita.
Tak lama kemudian muncul seorang laki-laki dengan motor.
"Eh, itu suami saya sudah pulang," kata Bu Rita. "Pak, Pak! Aku di sini, Pak! Lagi ngobrol sama Mas Baim dan istrinya!"
Pak Udin menghentikan motor. Dengan senyum sumringah ia mendekati aku dan Mas Baim.
"Waah, pengantin baru. Selamat ya!" katanya sambil menyalami aku dan suami.
"Namanya Mbak Rara, Pak," Bu Rita memperkenalkanku pada suaminya.
"Saya Pak Udin, Mbak. Saya dan istri tinggal di rumah sebelah. Jangan sungkan minta tolong kalau ada apa-apa. Yang namanya tetangga kita harus saling bantu," kata Pak Udin ramah.
"Iya, Pak," jawabku. Ternyata tetangga di sini baik-baik.
Hari beranjak petang, Pak Udin dan Bu Rita balik ke rumahnya.
"Kamu jangan kaget ya sama Pak Udin, dia suka nyanyi," kata Mas Baim.
Tak lama kemudian tiba-tiba tanah bergetar, lampu bergoyang-goyang, lalu terdengar suara nyanyian fales yang kencang membahana dari rumah sebelah, "Aduh senangnya pengantin baruu ... Duduk bersanding bersenda gurauu ...
Duhai senangnya pengantin baruu ...
Duduk bersanding bersenda gurauu ..."
Tembok pun bergetar, cicak di dinding kesurupan, aku sama Mas Baim tutup kuping erat-erat. Pantesan Mas Baim bilang aku disuruh jangan kaget kalau Pak Udin nyanyi, ternyata begini keadaannya kalau pria setengah baya itu bernyanyi.
Dalam pelajaran IPA SD disebutkan bahwa setiap makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan. Tapi hebatnya Pak Udin, lingkungan yang pada beradaptasi dengan beliau. Tembok, lantai, lampu, aku, dan Mas Baim yang tadinya kaget dengan suaranya kini telah terbiasa dan merasa nggak gimana-gimana lagi walaupun Pak Udin masih nyanyi.
Karena semua telah kembali membaik, aku bertanya pada Mas Baim, "Mas Baim udah baikan?"
"Sebenernya masih pusing, tapi kamu sih gangguin orang tidur."
"Kan nggak baik, Mas, tidur menjelang maghrib. Bisa digondol Lampor!"
"Hahaha, masak sih. Bukannya sombong ya, kamu tahu kenapa Lampor kerandanya bisa terbang? Itu Mas Baim yang niupin," seloroh Mas Baim.
Ih, ngapain Mas Baim ngomong kayak gitu. Ntar Lampornya marah gimana? Takutnya durhaka sama Lampor terus diapa-apain.
***
"Mas, buka bajunya dong!"
"Ih, apaan sih Rara, enggak ah!"
"Ayolah, Mas. Bentar aja," rayuku.
Nggak nyangka ya aku melakukan ini. Habis aku tiba-tiba pengen banget. Kan nggak apa-apa istri minta duluan.
"Enggak ah, Rara. Enggak! Jangan perkosa aku!" ucap Mas Baim.
"Pelan aja, Mas."
"Enggak!"
Tapi aku merasa harus melakukan saat ini. Kalau tidak rasanya nggak lega. Aku pun menindih tubuh Mas Baim dan bajunya kubuka paksa.
"Aduh, Ra ... Aduuuhhh ... Ahhhh ... Aahhh ... Sakit Raaah," jerit Mas Baim.
"Bentar lagi, Mas, belum tuntas."
"Aduh, Ra. Geli ah." Mas Baim terus menggelinjang.
Tenaganya begitu kuat, membuatku berkeringat. Terpaksa kududuki kakinya supaya lebih leluasa melakukan ini.
"Aduh, Ra ... Aduuhhh," pekik Mas Baim.
"Bentar, Mas, dikit lagi," balasku.
Ah, legaaa ... Akhirnya selesai juga. Kuraih handuk kecil di pinggir tempat tidur untuk mengusap punggung Mas Baim yang kini loreng-loreng kayak zebra.
"Uh, anak manja, dikerokin aja teriak-teriak kayak orang diperkosa," kataku sambil mengusapkan handuk ke punggung Mas Baim.
"Sumpah, sakit banget, Ra. Aku baru ini dikerokin," kata suamiku itu.
"Tapi habis ini lega, Mas," kataku sambil meletakkan koin dan minyak pijat ke tempatnya. Ternyata aku bakat juga jadi tukang pijet dan kerok.
Selanjutnya kubuatkan teh hangat untuk Mas Baim.
"Diminum, Mas. Setelah ini tidur," kataku.
Mas Baim memandangku dengan tatapan kayak gimana gitu. Sambil senyum-senyum dia bilang, "Makasih ya, Ra. Kamu baik banget."
"Iya, Mas. Rara juga minta maaf udah nyuruh Mas tidur di lantai, akibatnya Mas Baim masuk angin," jawabku.
Mas Baim mengusap kepalaku dan hampir mendaratkan ciuman di kening. Aku langsung menghindar.
"Ih enggak ah, enggak," kataku.
Aku sengaja bertingkah yang nggak memancing. Kata Nana aku disuruh jaga keperawanan, karena kalau keperawananku udah tandas aku bisa dijadiin tumbal.
"Kenapa nggak boleh cium? Kan udah suami istri," kata Mas Baim.
"Prokes, Mas. Kan harus jaga jarak biar nggak ketularan penyakit," jawabku.
"Oh ya udah," kata suamiku. Selanjutnya ia menutup badan dengan selimut dan memejamkan mata.
***
Karena Mas Baim tidur, aku sendirian menonton televisi.
Terdengar suara presenter acara TV. "Pemirsa, saat ini sedang ramai isu makhluk halus yang biasa disebut Lampor."
Aku langsung merinding melihat acara itu. Kupencet remot TV untuk ganti chanel. Sial, ternyata chanelnya nggak berubah-berubah.
Berita di TV itu makin menakutkan. "Penampakan sosok Lampor berupa keranda terbang. Ia akan menculik korbannya dan digunakan untuk tumbal pesugihan."
Acara itu pun makin seram. Diwarnai dengan backsound suara jeritan dan tawa hantu, tambah musik-musik mengerikan. Hii, aku benar-benar takut. Sialnya Si Remot nggak mau diajak kerja sama, udah dipencet-pencet ganti chanel nggak berubah-ubah. Kupencet tombol power juga nggak mati-mati. Sambil sembunyi di samping TV (biar nggak lihat acaranya), tanganku mencari-cari tombol power.
Pett! Bukannya TV yang mati, malah listrik yang mati. Sekitar pun gelap gulita. Bahkan kalau misal ada hantu, dia bakal nggak kelihatan. Kalau tiba-tiba dia meluk mau gimana coba? Jantungku pun dag dig dug.
"Maaas! Mas Baim ...!" panggilku dengan suara gemetar.
"Maaaas!" Kukeraskan suaraku.
Tak ada tanggapan dari Mas Baim.
Aku mencoba merayap menuju kamar, tapi suasana gelap gulita bikin aku nggak tahu arah. Bahkan aku berkali-kali menabrak barang.
Tok tok tok ! Tok tok tok!
Tiba-tiba kudengar ketukan tiga kali di depan pintu.
"Aaaaaargh!" aku menjerit sekencang-kencangnya.
*Bersambung*