Kun ... Kun ... Kuntilanaaak!

1207 Words
Tak berapa lama Mas Baim balik dari kamar mandi. "Ngapain muntah-muntah, Mas? Hamil?" tanyaku asal. Plak! Gulungan koran langsung mendarat di kepalaku dari tangan Mas Baim. Rasanya lumayan, lumayan ngagetin. "Kamu nggak pernah ikut pelajaran Biologi ya? Masa' laki-laki bisa hamil!" tukasnya. "Hehehe, bercanda, Mas," jawabku cengengesan sambil kasih jari victory. "Aaaaaargh!" tiba-tiba Mas Baim teriak dan meloncat memelukku. "Ada apa, Mas?" tanyaku kaget. Tiba-tiba makhluk coklat sebesar jari yang lengket dan isinya daging semua meloncat ke kepalaku juga. "Aaaaargh!" aku ikut menjerit. Aku dan Mas Baim sama-sama menjerit. "Cicaaak! Cicaaak!" teriak Mas Baim sambil mengusir cicak dari kepalanya. Aku juga sibuk mengusir cicak yang meloncat dari kepala Mas Baim ke kepalaku. "Dasar orang kismin! Kok bisa-bisanya ada cicak merayap di dinding dan jatuh ke kepala!" umpat Mas Baim. Aku melotot karena Mas Baim ngatain aku orang kismin lagi. "Emang kalau orang kaya yang merayap di dinding apa?! Komodo?!" Tiba-tiba ada bau nggak enak dari kepala kami. Aku sama Mas Baim berpandangan sambil meringis jijik. Yaaaah, cicak itu buang kotoran di kepala kamiii! Aku langsung teringat sesuatu. Cepat-cepat kuambil handuk dan lari ke kamar mandi lalu menutup pintu. Bener kan, Mas Baim juga lari ke arah kamar mandi. Tapi aku berhasil duluan, hahaha! "Woi, buka pintunya!" teriak Mas Baim. "Ogah!" "Aku mau mandi!" "Sama!" "Aku duluan!" "Nggak boleh!" "Kepalaku udah bau nih!" "Sama!" Akhirnya aku selesai mandi keramas lalu bantu Ibu di dapur. Tak lama kemudian Mas Baim juga muncul udah mandi keramas. "Eh, cie cieee, yang pengantin baru, udah mandi keramas bareng ...," ledek Ibu. "Ih, Ibu apaan sih? Ini gara-gara ada cicak buang kotoran di kepalaku sama Mas Baim, jadi kami mandi keramas bareng," tukasku. "Ehem, ehem," Ibu sengaja berdehem sambil saling lirik sama Bapak yang lagi minum kopi. Dua-duanya lantas senyum-senyum. Ih, apaan sih! Mereka pasti nggak percaya. Dikira aku sama Mas Baim udah begituan. Tak lama kemudian aku sama Ibu udah selesai nyiapin makanan. Aku, Ibu, Bapak, dan Mas Baim siap di meja makan untuk sarapan. "Pak, Bu, setelah sarapan saya izin boyong Rara ke rumah saya ya. Kami mau belajar hidup mandiri," kata Mas Baim. "Aaah, Nak Baim nggak usah sungkan, bawa aja Rara, nggak usah dibalikin. Malah nggak ngerepotin," jawab Ibu senang. Ih, apaan sih Ibu. Norak banget. Untung ya surga ada di telapak kaki Ibu, kalau enggak udah kukitik-kitik kakinya sampai kaku. "Iya, Nak Baim. Bapak sih setuju-setuju aja." Bapak ikut menjawab. Lalu pandangannya beralih padaku. "Rara, inget, kamu harus taat pada suamimu ya! Jangan nakal!" Lalu ia membisikkan sesuatu di telingaku. "Ingat, suamimu itu horang kayah." Ih dasar Bapak matre! Yang diinget cuma duit aja. Aku dan Mas Baim selesai sarapan. Kami memasukkan barang-barang ke mobil. Tak lama setelah siap kami berpamitan lagi pada Ibu dan Bapak. "Kami berangkat dulu, Pak, Bu," ucap Mas Baim. Ibu dan Bapak memeluknya dengan haru. "Pak, Bu, Rara berangkat dulu," pamitku haru dan hampir menangis. "Ya, ya, sono! Inget jangan nakal ya!" balas Bapak dan Ibu dengan tampang biasa-biasa aja. Ih, orang tua macam apa itu, anak udah berusaha terharu nan dramatis malah orang tua biasa-biasa aja. Dasar! "Selamat tinggal, Bu, Pak!" Aku melambaikan tangan seiring mobil yang berjalan. Bapak sama Ibu melambaikan tangan dengan wajah girang. Sayup-sayup kudengar tetangga bertanya pada orang tuaku. "Wah, Rara udah diboyong suaminya ya?" "Iya, dapat orang kaya! Anak dari keluarga Hariwijaya, pemilik pabrik rokok terbesar di kota kita," jawab Bapak pamer. Mobil terus melaju. Aku sudah berada jauh dari orang tuaku. "Mas, rumahnya jauh banget ya? Aku kalau mau dagang bakso jauh dong berangkatnya," kataku. "Kamu kan udah jadi istriku, jadi nggak perlu kerja lagi," jawab Mas Baim. "Tapi kan ... aku merasa harus ikut andil dalam usaha bakso Bapak. Aku masih punya cita-cita menjadikan usaha bakso Bapak itu besar, Mas." "Nggak usah. Sekarang kan kamu udah jadi keluarga Hariwijaya, pemilik pabrik rokok terbesar di kota ini. Kalau mau kerja ya di kantorku. Tapi nggak usah deh. Kamu di rumah aja ngurus rumah tangga," kata Mas Baim. Dalam hati aku ketar-ketir. Bagaimanapun juga aku tetap ingin ikut menjalankan usaha bapakku. Lagipula cowok ini, walaupun kelihatannya baik, tapi dulu dia play boy kelas kakap. Aku nggak boleh seratus persen percaya padanya. Cewek-cewek yang dulu percaya padanya pada naas nasibnya. Paling ngenes Imelda yang cuma dipacarin seminggu, lalu dilupakan begitu saja, padahal katanya udah dianu-anuin. Aku bisa lebih parah nasibnya, dinikahin, diperawanin, lalu ditinggal. Ya, bisa jadi ... makanya aku harus hati-hati dengan cowok ini. Tiba-tiba mobil berhenti. "Aku mau muntah, Ra," kata Mas Baim. Dia keluar lalu muntah-muntah. Setelah itu dia balik, ngeluh pusing. Badannya panas, keluar keringat sebiji-biji jagung di dahinya. "Aku kayaknya masuk angin, Ra," katanya. Dalam hati aku kaget. Wah, bisa jadi ini karena ulahku yang tadi malam nyuruh dia tidur di lantai cuma beralas karpet dan bed cover. "Terus gimana? Apa kita balik aja?" tanyaku. "Nggak usah. Perjalanan kita sebentar lagi kok. Aku masih kuat," kata Mas Baim akhirnya. Dalam hati aku merasa bersalah padanya. Gara-gara ulahku, dia masuk angin. Padahal dia masih harus nyetir sampai rumah. Akhirnya kami tiba. Mas Baim mengajakku masuk. "Ayo masuk, Ra. Kecil nggak apa-apa, ya," katanya sambil membuka pintu. Dalam hati aku terkejut. Katanya orang kaya, kok rumahnya biasa-biasa aja? Jangan-jangan dia orang kaya palsu, atau anak tiri, atau anak buangan dari orang kaya. Tapi aku mau tanya nggak enak, takut ketahuan matrenya. Setelah masuk rumah aku dan Mas Baim sama-sama sibuk. Aku sibuk beres-beres, dia sibuk tidur, hehehe. Saat kuraba dahinya dia sangat panas. Duh, aku jadi beneran nggak enak. Usai beres-beres aku sibuk balesin chat dari temen-temen. "Ra, katanya kamu nikah sama Baim ya? Anak orang kaya yang tengil dan play boy itu?" chat dari Nana, sahabatku dari kecil hingga kuliah yang kini kerja di luar kota. "Iya, Na. Tapi sebenernya aku terpaksa nikah sama dia. Semua karena Bapak," jawabku. Lalu kuceritakan semua asal usulnya kenapa bisa nikah sama Mas Baim. "Hati-hati lho, Ra." Chat dari Nana. "Iya, aku juga khawatir. Aku takut setelah Baim dapat yang dia inginkan, trus dia ninggalin aku. Semacam kayak sama Imelda dulu." "Bukan cuma itu," chat Nana lagi. "Katanya kan keluarga Baim kaya karena pakai pesugihan. Jangan-jangan kamu mau dijadiin tumbal." What??? Aku kaget setengah mati. Tapi masuk akal ni. Kenapa dia bisa tiba-tiba nikah sama aku? Kenapa dia kaya raya tapi aku ditaruh rumah kecil yang biasa-biasa aja kayak gini? Wah, bisa jadi pendapat Nana benar. "Kamu yang hati-hati, Ra," lanjut Nana. "Jangan mau digitu-gituin sama dia. Biasanya pengantin baru bisa dijadiin tumbal setelah perawannya hilang." Aku jadi makin khawatir. Tapi tetap berterimakasih pada Nana yang sudah mengingatkan. Aku menengok Mas Baim di kamar. Tadinya mau menyelidiki, kira-kira benar nggak ya dia mau jadiin aku tumbal. Tapi lihat kelelahan wajahnya yang tertidur aku jadi iba. Mas Baim ini kalau diperhatikan ganteng juga. Hidungnya mancung, ada lesung pipinya. Wajahnya sebelas dua belas sama Kim Seon Ho. Sayang, dia play boy, dan mungkin mau jadiin aku tumbal. Kututup pintu kamar dan meninggalkan Mas Baim. Sehari itu Mas Baim cuma bangun sebentar-sebentar lalu tidur lagi. Seharian kulewati waktu sendiri. Hingga akhirnya petang tiba. Aku mulai menutup pintu-pintu dan jendela. Saat aku mau menutup pintu belakang. "Aaaaaargh!" aku menjerit sekencang-kencangnya. Di luar ada ada sesosok wanita berbaju putih dan berambut panjang. Ia berdiri membelakangiku dengan rambut terurai sepanjang pinggul. Si-si-siapa dia??? *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD