LIMA PULUH SATU

1442 Words

Adji mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Cowok itu terlihat sangat emosional ketika Naraya mengangguk sebagai jawaban pertanyaannya. Ya, dia menolak Adji dan dia punya alasan untuk itu. Namun, Adji bungkam, tidak menanyakan alasan mengapa Naraya menolaknya. Mereka berdua pulang tanpa bicara. Hujan mulai turun menapak di jalan. Lebat dan rapat. “Dji, pelan-pelan,” tegur Naraya menyentuh lengan Adji. Sentuhan itu langsung dielak oleh Adji. Bayangkan, setelah semua yang sudah ada di antara mereka. Nyatanya Naraya bahkan tidak bisa menganggapnya cukup spesial daripada yang lain. Naraya hanya menganggapnya teman. Jadi? Apa arti semua ini? Kedekatan belakangan ini? Semua pertanyaan berkecamuk di benak Adji, tumpah ruah, berbelit dan membuatnya pusing. “Dji, di luar hujan. Pelan-pela

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD