Untuk Renard. Kamu tahu, persamaan kopi denganmu? Kalian menerima dengan tangan terbuka Terlihat pekat dan kelam namun jujur, apa adanya Sesaplah. Setiap tetes dari rangkaian biji kopi terpilih Menghendaki kita tertawa di hadapan mereka Sisihkan antologi dan ilustrasi Mengurai kisah yang selama ini hanya dibawa diam Mungkin benar Kopi diciptakan untuk memotong batas dua insan Meretas keangkuhan dan menjadikannya berkawan Selamat Ulang Tahun. Naraya, November 2019 Pada secangkir kopi di kedai itu, berpayungkan hujan. Puisi itu dibacakan Yusuf dengan sangat lantang di tengah kantin, diiringi kekehan dari beberapa orang. Yusuf sangat buruk dalam membaca puisi. Kata-kata yang Naraya tulis malah terdengar seperti lagu dangdut. “Bagusan lo diam, Cup. Jèlèk banget lo baca puisi,”

