Terlalu mudah untuk Naraya dan Gesna berbaikan. Seakan bentak-bentakan dan caci-maki tadi memang pelampiasan, sekarang mereka bertiga jalan dengan santai menuju kantin Pespel. Tidak ada yang tahu, kalau tadi sudah akan terjadi pertumpahan darah. Dari awal, pertemanan mereka bukanlah hal yang dirumitkan. “Nggak ada salahnya nanti lo tegur Kak Adji lebih dahulu,” bisik Gesna begitu mereka mendekat ke pintu kantin. “Lo lihat mukanya, deh. Udah kayak ayam mau dipotong.” Naraya hanya berdengkus sambil mendorong pelan kepala Gesna. Pandangannya menyapu isi kantin. Memang ada Adji di pojokan dengan segelas jus. Cowok itu duduk sendiri sambil menunduk menganduk jus. Bukan seperti ayam mau dipotong, sih, tapi seperti tidak ada gairah hidup. Naraya mengingat ulang penjelasan Gesna, tadi. Dia mema

