EMPAT PULUH TIGA

2389 Words

“Apaan?” sahut Naraya ketika melihat Adit menelepon. Dia merasa tidak perlu banyak berbasa-basi dalam mengangkat panggilan cowok itu. “Lo nggak bisa nyahutnya baik-baik? Pakai ‘halo’ dulu, kek.” “Ribet! Gue udah tahu ini lo yang telepon,” balas Naraya sambil menaikkan kedua kaki ke atas meja belajar. “Kenapa telepon?” Sepupunya itu berdecak. “Buset, kenapa sih gue mesti berurusan sama cewek-cewek sadis kayak kalian?” “Kalian siapa?” “Lo sama Gesna.” Naraya berdengkus pelan, tidak suka disama-samakan dengan Gesna. “Derita lo sih itu. Ya udah, kenapa?” “Gini, besok gue kan tampil di festival.” Adit kemudian menjelaskan tujuannya menelepon. “Terus kenapa? Walaupun gue panitia, gue nggak ikut campur keputusan juri.” “Kan… negatif melulu pikiran lo, padahal gue telepon bukan buat itu.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD