SEBELAS

2331 Words
Mobil Naraya memasuki pekarangan rumah Ajeng, ia terlambat datang. Sepulang dari pemantapan OSIS tadi sore, dia tertidur dengan sukses tanpa berganti baju. Ketika terbangun ternyata sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab dan sms dari Adji juga panggilan berkumpul di grup Angkatan 13 untuk mendiskusikan acara pertama mereka yaitu pelantikan calon anggota muda. Saat dia masuk, suasana ramai khas anak-anak Pespel sudah menyerbu pendengaran. Bahkan sebelum Ajeng selesai meletakkan martabak yang dibawa Naraya ke atas meja, tangan-tangan ramah sudah menjamah sampai habis. Kalau masalah perut, semua susah berkompromi. “Udah fix semua?” tanya Naraya sambil duduk di lantai. “Pas bener lo datang, lo yang sangat dibutuhkan,” ujar Gunawan dengan senyum penuh arti. Sang ketua itu berkata sambil mengunyah martabak yang kejunya lumer dalam tenggorokan. Naraya menyipitkan mata, berusaha menebak hal apa yang belum terselesaikan, dan hendak disampaikan Gunawan. “Maksudnya?” Ajeng datang dengan seteko es sirup yang sudah keberapa kali diisi ulang. Rumah ini memang sering jadi tempat kumpul Angkatan 13. “Yang belum fix itu tempat Nay, yang gue tahu beberapa tempat sekarang nggak bisa dipakai buat pelantikan lagi. Sedangkan kalau pelantikan syal kan cuma dua hari satu malam aja. Perlunya sih kayak lembah aja, gitu.” “Kalau menurut kami, bagusnya sih di hutan lindung gitu aja,” tambah Gunawan sambil menatap Naraya penuh maksud. “Terus masalahnya apa? Divisi Hutan Gunung, si Jeck, udah ajuin izin ke Tahura?” tanya Naraya. Menurutnya kalau butuh seperti hutan lindung, bagusnya bertempat di Taman Hutan Raya yang ada. “Udah dan ditolak.” Gunawan mengangguk. “And then?” “Kata Adjam, waktu angkatan mereka dulu sih kalau izin-izin begini bisa minta tolong bantuan dari Bapaknya Adji.” Gunawan mulai tersenyum kembali membuat Naraya membulatkan mata. Dia tahu apa yang akan akan menjadi apa kelanjutan pembicaraan itu. “Enggak! Gue nggak mau! Ada Jeck, ada Ucup, kenapa harus gue yang ngomong sama dia? Gue nggak ikut-ikutan. Kalian semua ya yang bikin gue jadi nggak enakan gitu di kantin,” ujarnya sambil mengangkat kedua tangan. “Lo aja, Jeng.” “Ya udah, gue dulu yang coba minta bantuan Kak Adji, tapi kalau nggak mempan, tolonglah dibantu Nay. Dia kan jinaknya cuma sama lo,” pinta Ajeng. “Jinak? Lo pikir gue pawang?” seru Naraya, membuat yang lain tertawa. Ajeng memberi kode, serentak yang lain diam. Cewek itu sedang menghubungi Adji untuk meminta bantuan. Naraya melirik waspada, semoga Ajeng tidak keceplosan menyebut namanya. Karena sejak siang tadi di sekolah, dia menghindari Adji. Meski tahu cowok itu menunggu dia selesai pemantapan calon ketua OSIS. Naraya tidak tahu bagaimana kelanjutan pembicaraan Ajeng sebab cewek itu menelepon sambil berjalan. Dia sendiri mulai asyik terlibat pembicaraan dengan yang lain. Di Pasuspala, pembicaraan dengan sesekali mendaratkan tangan di kepala sang korban adalah hal yang biasa. Dan malam ini yang banyak kena keplakan adalah Naraya. Dia berusaha berkelit, tetapi mereka masih saja tidak percaya. Mereka terus saja mencecarnya tentang berita di BOS. “Tinggal jawab aja susah amat sih, Nay. Mau dibikin jadi saksang?” ancam Echo, salah satu personel Gerombolan Si Berat selain Yusuf dan Jaka. Cowok berdarah Batak ini adalah juru kunci tambahan kosakata anak-anak Pespel. Dari Echo mereka mengetahui apa itu BPK, lomok-lomok, saksang, tanggo-tanggo. Pengetahuan mereka semakin bertambah. “Idih! Sadis amat, Bang Echo. Gimana ceritanya bidadari semanis gue ini dicincang terus dimasak pakai darah sendiri? Kan pada keilangan lo semua,” balasnya sembari mencibir, membuat sebuah toyoran mendarat di kepalanya. “Tangan lo minta dipotong, ya, Jeck?” “Gue sih masih ngeplak pakai tangan, Nay. Bukan kayak lo yang pakai handgrip. Lagian lo makin dikeplak bukannya makin sadar, tapi makin miring,” ejek Jaka. “Ya, lo mah keplaknya pakai dendam kesumat! Kalau cinta lo nggak terbalas sama gue, legowo aja sih,” balas Naraya mendengkus. Membuat Jaka makin kasar menoyor kepalanya dan dia menyambit setiap pukulan yang mendarat. “Ini kaca. Coba ngaca, Nay.” Yusuf kemudian menyodorkan cermin kecil milik Ajeng yang terletak di atas meja. “Nyuruhnya nggak pakai kuah berapa, Bang? Nyembur-nyembur gini,” ledek Naraya membuat Yusuf mengayunkan kaca kecil ke kepalanya. “Lagian enggak usah ngaca juga gue tahu kalau gue cakep. Jadi, udah belum, nih? Kalau udah, gue mau balik.” “Yaelah, Nay. Sok sibuk amat lo. Udah malam gini, enggak mungkin ada latihan, ‘kan? Udah lama lho, lo enggak ikut kumpul-kumpul gini.” Jaka meraih kartu Uno yang ada di laci meja tamu. “Main Uno aja, kuy?” Yang lain mengangguk sepakat, tangan Naraya bahkan ditahan Yusuf dan tasnya disita Gunawan agar tidak pulang. Jaka mulai membagikan Uno kepada mereka yang serempak duduk melingkar. Ponsel Ajeng berbunyi, cewek itu lalu menjawab panggilan sambil berjalan-jalan seperti biasa. Tidak lama permainan mereka semakin memanas. Hukuman push up dan coreng bedak tabur bagi yang kalah, membuat yang lain berseru-seru ribut. Sayup terdengar suara Ajeng memberitahu bahwa Adji akan diskusi dengan mereka masalah tempat pelantikan syal. Mendengar itu Naraya menarik napas lega, berarti tidak perlu dia yang maju untuk melobi seorang Adji bukan? Dia pun larut dalam permainan Uno. “Kenapa gue mulu sih yang kalah?! Ini pasti ada sabotase nih,” tuduh Naraya tidak terima setelah berulang kali push up dua seri dan pasrah bermuka cemong. “Belum mandi wajib kali lo,” sela Yusuf ngakak, disusul oleh sebuah botol plastik mendarat tiba-tiba di bibirnya. “Ih, kasar mainnya si Nay!” “Jeck, lo kalau kocok kartu yang rata dong. Nggak expert bener! Berantakan semua kartu,” sengit Naraya lagi, masih merutuki kekalahannya berturut-turut. “Nay, gue expert-nya kocok yang lain!” balas Jaka ambigu, disusul dengan keplakan barbar dari yang lain melayang bebas ke kepalanya. Naraya sempat bengong sesaat menelaah kalimat Jaka sampai ia mengumpat maksud yang terselubung. “Hanjeng!” makinya sambil refleks menonjok muka Jaka. Cowok yang tidak menyangka reaksi Naraya itu hanya bisa pasrah dan mengelus mukanya yang pedih. Lagian Jaka, bercandaannya sering kelewatan. “Ehem.” Sebuah dehaman dan ketukan di pintu terdengar dari luar, membuat Naraya menoleh ke belakangnya menuju arah pintu ruang tamu rumah Ajeng. Mukanya mendadak kaku, melihat Adji sedang berdiri di depan pintu. Padahal dia sudah berusaha menghindari cowok itu seharian ini. Eh, bertemu lagi. Kesialan macam apa ini? *** Selesai ikut duduk untuk mendengar yang lain berdiskusi tentang tempat pelantikan bersama Adji, Naraya beringsut ke dapur. Lagi pula masalah sudah selesai. Adji memberi alternatif tempat lain yaitu Elephant Conservation Camp. Dia melirik Adji dan lainnya masih asyik berbicara. Berusaha tidak terlihat, Naraya segera menghilang sambil menarik napas lega. Angkatan 13 mungkin belum pada sadar kalau dia menghindari cowok itu. Bagaimanapun pengakuan Adji membuat semuanya menjadi canggung. Dia sudah berusaha melupakan dan menganggap pengakuan itu tidak ada, tetapi sikap Adji semakin aneh. “Hape lo rusak? Sampai nggak bisa angkat telepon gue?” tanya Adji tiba-tiba berada di sampingnya. Naraya yang menyibukkan diri di dapur Ajeng dengan sok-sokan membasuh gelas kotor, langsung tergagap. Hampir saja dia membanting gelas yang ada di tangan. Dalam diam, dia berusaha menarik oksigen dalam-dalam untuk meredakan kegugupan. Mampus. “Eh, enggak sih. Hapenya gue silent, terus gue ketiduran,” sahut Naraya menoleh sekilas ke samping, berusaha biasa saja. Adji mengangguk-angguk. “Terus, kenapa lo enggak telepon balik atau balas sms gue waktu udah bangun?” Otak Naraya sedang berputar memilih jawaban yang paling rasional ketika mulutnya refleks menjawab dengan alasan paling klasik di dunia ini. “Nggak ada pulsa,” sahutnya enteng lalu sejenak membeku, merutuki kebodohan ucapannya tadi. “Kan bisa collect sms atau collect call?” Naraya hanya diam, Adji berbalik menyandarkan badan di kitchen set. Tangan cowok itu merogoh ponsel dalam saku celana, terlihat serius ke layar dan kedua jempolnya mengetik sesuatu. Tidak lama, tidak sampai satu menit berselang, muncul bunyi sms dari ponsel. Naraya menoleh sesaat, melihat pop up di layar itu dengan tangan tetap membasuh gelas kotor. 858, 21:05 PM: Anda mendapatkan penambahan pulsa Rp 100.000 dari nomor 628126164884. Cek Pulsa melalui *888#. Info CS: 188 Badan Naraya tegang. Ia ingin mati suri di tempat. Kalau tidak ingat yang sedang dibasuh adalah gelasnya ibu Ajeng, mungkin gelas tersebut sudah bernasib malang. Naraya seketika sangat ingin memaki diri sendiri, sangat ingin! Apa lagi sekarang alasannya? Bisa dibilang Naraya kesal. Cara Adji mentransfer pulsa seolah menegaskan bahwa setiap chat, sms atau teleponnya harus dibalas. Itu bukan keharusan, ‘kan? Mengangkat telpon, membalas sms atau chat adalah pilihan. Bukannya kalau chat cuma di-read. Legowo saja, ya? Anggap saja koran. Dan malam tadi di dapur Ajeng dihabiskan dengan saling kirim-kiriman balik pulsa antara Adji dan Naraya sampai operator 858 kalau bisa mengumpat pasti akan mengumpat kepada nomor mereka berdua. Malas memperpanjang perdebatan, Naraya akhirnya mengalah. Membiarkan pulsa dari Adji masuk juga. Dahulu, memang mereka cukup dekat. Adji merupakan teman yang baik, tidak berusaha memosisikan diri sebagai senior. Cowok itu kerap membantunya jika diminta bantuan. Adji yang mengantarkan dome kepunyaannya di detik-detik terakhir pergantian hari karena malam itu saat packing untuk pelantikan syal Naraya baru menyadari bahwa dome-nya robek dimakan tikus. Adji jugalah yang mengajari untuk menyelipkan satu ransum di dalam lipatan ponco agar ketika dirazia masih tetap selamat minimal satu bekal makanan yang ada. Adji yang sering ia palak kalau di kantin. Adji yang lapang dàdà diminta antarin dia pulang ke rumah ketika sedang tidak membawa kendaraan. Adji yang tidak sungkan membantu keperluan anak-anak Pespel. Adji yang tidak pernah tersinggung atas candaan, makian atau kejutekannya. Adji yang baik, sangat baik, hingga Naraya sadar kebaikan cowok itu juga ada maksudnya. Naraya menghentikan mobil di depan rumah ketika pintu pagar dibuka satpam. Dia turun dan menghampiri pengemudi mobil yang sedari tadi mengikutinya di belakang. Kaca mobil Adji turun perlahan, tahu kalau Naraya hendak berbicara. “Makasih udah temenin gue pulang. Lain kali enggak usah repot-repot, gue biasa pulang sendiri,” ujar Naraya kaku. Adji menatap Naraya. Ada banyak sekali yang ia ingin bagi kepada cewek itu. “Kita bisa ngomong sebentar enggak?” tanya Adji meminta waktu. Naraya menatap Adji, entah kenapa kepalanya mengangguk paham. Memang ada yang perlu dibicarakan cepat atau lambat di antara mereka berdua. “Bentar gue balikin mobil dulu.” Setelah Naraya ikut naik ke mobil Adji, cowok itu kembali menjalankan kendaraannya. Kebisuan masih menyergap. Naraya yang sudah duduk di bangku penumpang mulai melirik ke samping. Tidak ada tanda-tanda Adji mengeluarkan suaranya. Dalam diam, Adji mengarahkan mobilnya ke arah Ancol. “Udah malam, jangan jauh-jauh. Lo mau ngomongin apa?” Adji menghirup udara dalam-dalam, kemudian mulai berbicara. “Nay, lo kok ngehindarin gue, sih?” “Gue? Ngehindarin? Enggak ah, perasaan lo aja,” tampik Naraya. “Perasaan gue?” cibir Adji tidak percaya. “Semua telepon gue, sms gue, chat gue udah jarang lo balas, Nay. Kok kayak gue ada salah apa gitu. Seolah-olah lo musuhin gue, jauhin gue, nggak mau kenal sama gue lagi.” Naraya mendecak. “Nggak ada yang musuhin lo, jangan punya pemikiran sendiri, sih.” Nyatanya dia memang menjauhi Adji, rasanya sekarang canggung jika berada di dekat Adji. Naraya memutar matanya ke arah luar. Mereka telah tiba di ujung sebuah pantai sepi. Hanya suara ombak jauh yang bergulung-gulung lalu pecah, mengurai di daratan. “Lagian kan udah gue bilang, pulsa gue nggak ada.” “Kurang jago lo ngelesnya,” sahut Adji sambil menghentikan mobil. Memutar badan sembilan puluh derajat ke arah Naraya sambil bersedekap. Kedua alisnya terangkat, ia yakin sekali Naraya berbohong. Kalau pulsa nggak ada, nggak mungkin tadi mereka balas-balasan mengirimi pulsa, ‘kan? Mereka bukan baru kenal sehari atau dua hari. Adji juga tahu, untuk seorang Naraya pulsa bukanlah masalah. Cewek itu malah termasuk orang royal yang tidak keberatan mentraktir teman. Menilik bagaimana besarnya rumah Naraya saja, semua orang akan paham kalau cewek itu tidak memiliki kesulitan apa pun dalam hal finansial. Naraya beranjak membuka pintu mobil. Memang Adji benar. Tidak pernah ada sejarahnya kalau dia kehabisan pulsa. Tabungannya selalu terisi, dompet digitalnya saja memiliki saldo yang tebal untuk ukuran pelajar. Dia lalu melangkah sambil merapatkan kemeja tartan, menghalau dingin angin yang berembus ke arah mereka. Adji sudah menyusul keluar dan duduk di kap mobil. Keheningan menyergap antara mereka. Mungkin malam yang terlampau pekat atau suasana yang tidak bersahabat, menjadikan mereka sangat jauh padahal dahulu begitu dekat. “Lo musuhin gue gara-gara gue bilang kalau gue suka sama lo, ya?” “Enggak. Jangan lebay, deh,” balas Naraya sambil tetap memandang ke arah pantai. Bohong. Adji tahu Naraya bohong. Dia dapat merasakan dijauhi Naraya. Ditambah kejadian di kantin Pespel tadi siang, dia tahu Naraya marah dan tidak suka. Dia bahkan menunggu dengan sabar agar bisa berbicara dengan Naraya setelah selesai pemantapan enam belas besar calon pengurus OSIS, sore tadi. Hanya ditinggal sebentar ke toilet saja, Naraya sudah hilang entah ke mana. Sampai malam, telepon dan smsnya tidak jua ditanggapi oleh Naraya. Itu jelas tidak biasa. Mereka dahulu sering saling menghubungi dengan atau tanpa alasan. Bahkan sekadar untuk menanyakan judul lagu dan siapa penyanyinya jika mendadak lupa. Sehingga berubahnya Naraya tentu sangat dirasakan oleh Adji, ada yang hilang dari kesehariannya. Dunianya sedang tidak baik-baik saja. Seketika semua berubah. Dia pikir artikel-artikel yang ditulis BOS akan membuatnya semakin dekat dengan Naraya. Akan menjadi kemajuan yang baik untuk kedekatan dengan cewek itu tapi prediksinya salah, artikel itu malah membuatnya mundur sepuluh langkah. Seperti kembali ke titik nol. Saat hanya bisa melihat dari jauh dan belum dikenal oleh Naraya. Untuk cowok yang menyukai cewek, ketika membaca artikel yang menyebutkan namanya dan Naraya pastilah Adji senang. Dia berpikir kalau reporter BOS saja bisa menebak kedekatan mereka, apalagi Naraya. Cewek itu pasti paham perasaan yang terselip dalam interaksi mereka sehari-hari. Namun, headline yang memelintir ditambah perlakuan lingkungan yang mengolok-olok menjadikan harapan Adji kemudian pupus. Seperti sesuatu yang sudah belajar terbang cukup tinggi lalu menungkik jatuh ke bumi. Semua pasti tahu bagaimana rasa kejatuhan itu. “Udah belum? Gue pengin pulang, ngantuk.” Naraya menoleh dengan muka datar, terlihat ingin menyudahi pembicaraan. Sadar kalau Naraya tidak ingin membahas lebih, Adji mengangguk, mengajak Naraya untuk pulang. “Jangan musuhi gue, Nay,” pinta Adji sebelum Naraya diantar pulang ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD