Asri yang sudah menunggu dari tadi di depan, kelas memasang tampang sebal ketika Gesna dan Naraya menghampiri. “Kok tumben kalian lama banget jemput gue?”
Gesna melengos. “Yaelah, masih untung disamperin. Lagian lo kayak Jelangkung aja pakai dijemput-jemput. Kalau lapar, ke kantin duluan aja, Ci.”
Naraya masih diam tak bersuara, mood-nya hari ini amburadul karena pengakuan Adji. Dengan cepat Asri sejajari langkah Gesna dan Naraya. Tampang cewek itu penuh tanda tanya. “Nay,” bisik Asri yang dapat didengar oleh mereka bertiga. “Kok berita tentang lo makin santer, ya? Memang beneran lo suka sama Kak Adji?”
Beberapa mata yang kebetulan berpapasan dengan mereka ikut menoleh. Naraya mendelik kesal. Di saat dia ingin melupakan berita terkutuk itu, Asri malah mengingatkannya. Langkah Naraya berbelok saat melewati tikungan koridor kelas sepuluh, tidak ke arah kantin Pespel, tetapi terus menuju depan. Dan Asri terus saja bertanya, “Kita ini mau ke mana, woy? Mau cabut?”
Sesekali, jika kumat bosan, Naraya dan Gesna sering mengajak Asri keluar dengan izin pura-pura fotokopi lalu makan di warung yang ada di sekitar sekolah.
“Mau makan, Ci,” jawab Gesna sabar, berupaya tidak terpancing lugunya Asri.
“Makan apa?” tanya Asri lagi. Dia tadi sudah berencana memesan bakso di kantin Pespel. Kenyataannya Gesna ataupun Naraya tidak ke kantin Pespel, rencananya buyar.
“Makan lo, Aci!” sambar Naraya sadis.
Mereka memasuki kantin depan, begitu masuk cicitan para perempuan sudah menguar di udara. Namun, Naraya tidak peduli. Untuk saat ini dia ingin absen dari kantin Pespel terlebih dahulu sampai mood-nya membaik. Ia yakin begitu masuk kantin Pespel akan banyak berondongan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan mood tidak baik hanya akan menjadikannya semakin garang. Sambil menunggu pempek, bangku mereka dihampiri Miya, salah satu anak kelas sebelas yang terkenal dan cantik. “Jessica! Ke mana aja lo? Acara Bude kemarin lo nggak datang.”
Cewek itu menyentil telinga Gesna sebelum duduk di sampingnya. Gesna meringis. Mukanya menunjukkan kalau dia tidak suka dipanggil dengan nama itu. Naraya tahu kalau antara Miya dan Gesna ada tali saudara meski tidak dekat dan sepertinya Miya juga paham kalau Gesna tidak suka nama depannya disebut sehingga menggoda cewek itu dengan sengaja. “Males gue, sumpah… Banyak bener nanti bacotnya, tanya ini tanya itu,” elak Gesna tertawa.
Mata Naraya melirik kepada dua orang di hadapan. Diam-diam, dia tahu kalau keluarga Gesna tidak harmonis. Cewek itu selalu mencari kesenangan dengan kongkow, main basket ataupun dugem, tanpa ada pengawasan dari orang tua. Beda dengan dia, yang dipantau dari CCTV. Satu yang Naraya masih respek dengan Gesna. Meski bebas, Gesna tidak terjerumus ke dalam nàrköbà atau pergaulan bebas. Cewek itu bahkan dianggap laki-laki oleh sahabat-sahabatnya.
Ketika pempek kapal selam sampai di meja, baik Gesna, Naraya maupun Asri langsung menyerbu suguhan tanpa aba-aba. Harum pempek yang baru digoreng ditambah aroma cuka yang khas dan taburan timun cacah berantakan membuat mereka lapar.
“Buset.” Miya tertawa melihat mereka bertiga. Cewek itu lalu memandang Naraya. “Nar… memang beneran berita tentang lo itu?”
Sambil memutar mata malas, Naraya menjawab dengan lantang, “Enggak.”
“Beneran juga nggak apa-apa. Gue malah senang dengarnya.” Miya menyengir.
Mata Naraya terpicing. Rumor tentangnya dan Adji memancing ketidaksukaan banyak cewek di sekolah, tetapi mengapa Miya malah senang? Dia berusaha mengartikan senyum Miya. Yang dilihat malah jadi malu-malu. Ada yang aneh sama jawaban Miya. “Kenapa? Kok lo senang?” selidiknya.
“Kan kita bisa double date gitu.” Miya mengerjap genit, membuat Gesna dan Naraya tersedak.
Gesna menoleh dan mencoba memperjelas. “Double date? Maksudnya?”
Sementara di depan Miya, Naraya melotot tidak percaya. Dia lebih dahulu paham daripada Gesna. “Lo … jadian sama Kak Adjam?” tebaknya. Dia tahu kalau orang terdekat Adji adalah Adjam yang merupakan ketua Pasuspala-nya. Makanya Adji dari dulu sudah ke kantin Pespel dan menjadi bagian dari mereka.
Yang ditanya tentu saja kembali tersenyum malu-malu. Naraya terkekeh berdengkus. Tawa itu sangat menyeramkan untuk sebagian orang. Mungkin kalau Miya bukan sepupu Gesna dan pacarnya Adjam, juga akan merasakan ketakutan yang sama. “Njir. Bisa juga Kak Adjam milih cewek,” gumam Naraya sambil menyeruput cuka dengan santai.
“Naraya… Bantuin gue, dong.” Miya menatapnya dengan tatapan mengiba.
“Apaan?” tanya Naraya menaikkan sebelah alis.
“Kasih tahu gue, Kak Adjam itu orangnya gimana.”
Naraya tersenyum miring. Kalau Miya pacaran dengan Adjam, secara tidak langsung Miya juga menjadi bagian dari Pasuspala. Tiba-tiba dia ingin menjaili Miya. “Ogah.”
Miya memasang muka memelas seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen. “Bantuin dong, Nar. Gue nggak berani tanya sama anak Pespel yang lain. Ini aja karena lo sahabatnya Gesna makanya gue berani.”
Gesna melengos begitu mendengar namanya dibawa-bawa. “Jangan mau, Nay. Yang begituan sih nggak gratis.”
Miya mencubit Gesna sehingga Gesna tertawa. “Gitu amat lo jadi saudara, Ge.”
“Bener kata Gege. There’s ain’t no such thing as a free lunch,” imbuh Naraya melipat tangan. Pempeknya sudah habis dan es teh manis juga sudah tandas.
“Gue bayarin pempek lo pada,” tawar Miya memandang mereka bertiga.
“Idih. Murah banget bayarin pempek doang.” Gesna ikut memanasi. “Pempek sama kantin-kantinnya juga bisa dibeli si Nay.”
“Gege!” Miya kembali mencubit Gesna dengan gemas.
“Minta free tiket aja, Nay.” Gesna mengedikkan dagu, mengingatkan Naraya kalau orang tua Miya adalah pengusaha travel agen terkemuka.
“Gila, mau melorotin apa gimana lo, Ge?” Miya masih memusatkan perhatiannya ke Naraya. “Masalah hati ini. Orang yang bantuin masalah hati orang lain, suatu saat, kalau lagi galau juga bakal dibantuin sama orang,” ujarnya meyakinkan Naraya.
Tentu saja afirmasi seperti itu tidak berlaku bagi Naraya. Sebuah ide melintas di dalam benaknya. “Gini aja. Selain lo traktir pempek, ada satu lagi permintaan gue.”
Miya mengangguk antusias, menunggu Naraya memberitahu keinginannya. Naraya menoleh ke sekitar. Kantin ini berisik sekali. Kalau kantin Pasuspala berisik karena penuh humor atau genjrengan gitar, kantin ini penuh suara-suara perempuan menggosip. “Lo harus ajakin anak-anak kantin ini milih gue waktu Pemilu OSIS, minggu depan.”
Miya membulatkan mata. Permintaan itu tentu tidak mudah.
“Gimana? Info tentang Kak Adjam nggak gampang lo dapatin, percaya sama gue.” Naraya mengangkat kedua alis dengan yakin kalau penawaran itu tidak akan bisa Miya dapat dari siapa pun.
“Oke deh,” angguk Miya menyanggupi. “Tapi lo seenggaknya, basa-basi dulu ke mereka, ya? Biar mudah gue ngajakinnya.”
Naraya mengangguk dan Miya berdiri. Cewek itu naik ke kursi kantin, meminta atensi dari yang lain. “Perhatian, perhatian,” serunya ke seluruh penjuru. Setelah keriuhan mereka reda dan mata penghuni kantin terarah ke Miya, cewek itu menyampaikan maksudnya. “Salah satu calon Ketos kita mau memperkenalkan diri. Mungkin kalian belum pada kenal. Ini gue kenalin orangnya.”
Tangan Miya menunjuk ke Naraya dan Naraya bangkit, membalik badan untuk menghadapi penghuni kantin depan. “Naraya Hardiyanto,” ujar Miya seperti seorang MC.
Naraya berani bersumpah kalau saja tidak ada pencalonan dirinya di OSIS, tentu dia tidak akan melakukan hal bodoh ini. Dia menarik bibir untuk coba tersenyum dan mengangkat tangan menyapa yang lain. “Halo, kenalin gue Naraya.”
Seseorang terdengar menyeletuk dari pojok. “Kita udah kenal. Orang tenar kayak lo sih pasti dikenal.”
“Udah kepajang di BOS. Siapa yang nggak tahu lo? Cewek yang ada cinta segitiga antara Renard dan Kak Adji,” sahut yang lain lagi. Suara-suara mulai kembali ribut. Ada nada-nada sumbang karena pembahasan barusan.
Naraya yang membaca situasi, langsung berusaha menjelaskan kepada koloni cewek-cewek seangkatan. “Sori, sebelumnya. Saran gue, kalian baca dulu sampai selesai isi artikel BOS. Soalnya headline-nya memang sering dipelintir. Yang jelas, antara gue, Kak Adji sama Renard nggak ada apa-apa.”
Nada-nada kelegaan terdengar kemudian.
“Gue minta dukungan kalian untuk pemilihan ketua OSIS, minggu depan. Kalau gue terpilih, insya Allah gue akan menjalankan amanat juga menyampaikan aspirasi dan inspirasi kalian semua.”
“Naraya… Adain konser, dong. Udah lama nggak ada konser.”
“Naraya… Bikinin ajang lomba fashion show dong buat klub modeling.”
“Naraya… Tiang bendera udah nggak bagus lagi, tuh.”
“Naraya, bikin lomba cerdas cermat aja,” seru seseorang disambut dengan sorakan mengejek dari yang lain. “Ye… Bukan gue yang mau ikut. Gue cuma mau nonton Renard.”
Naraya mengangkat alisnya kaget. Banyak fans Renard juga di sini.
Seseorang yang dari tadi diam, tiba-tiba menyeruak kerumunan. “Naraya, gue bakal milih lo. Kalau lo bisa janjiin buat memperjuangkan ruang ganti buat kita ganti baju kalau pelajaran olahraga. Gila, itu yang paling kita perluin saat ini.”
Naraya menatap yang berbicara tadi. Itu ide yang brilian. “Ester, gue bukan kepala sekolah.”
Cewek itu seperti terkejut. “Eh, lo ingat nama gue?” tanyanya tidak menyangka.
Naraya menyunggingkan senyum kecil. Untuk hal-hal tertentu, dia akan sangat mengingat nama orang. Apalagi yang membuatnya terkena masalah. Seperti saat itu, Ester pernah mengadukan dia melompat dinding kepada satpam. Jika saja Ester bukan perempuan, tentu Naraya sudah akan menghajarnya. “Ya, ingatlah. Siapa lagi yang ngadu kalau gue cabut lompati dinding samping kalau bukan lo?”
Ester terlihat salah tingkah karena tatapan Naraya. Cewek itu seperti paham kalau di balik senyum Naraya barusan tersirat banyak makna. “Gini ya, kawan-kawan. Untuk ide Ester, gue sebenernya sangat setuju. Nggak muak kalian sama modus-modus para cowok kalau udah giliran ganti baju pelajaran olahraga? Mau ganti di kelas takut diintip, ngantri di toilet kelamaan,” paparnya. Memang itu bukan rahasia umum lagi. Jika memasuki pelajaran olahraga dan giliran mengganti baju. Cowok-cowok kelas yang usil sering kali mendadak sok sibuk dan menggedor-gedor pintu kelas. Beragam alasan dibuat agar bisa mengintip.
“Tapi, kalaupun gue jadi Ketos. Tetap aja itu bukan wewenang gue. Tugas OSIS kan memberi masukan dan menyampaikan inspirasi dari kalian, murid sekolah ini. Kalau gue yang jadi Ketos, masukan itu akan gue sampaikan ke sekolah. Siapa lagi yang bakal bela perempuan kalau bukan sesama perempuan?”
Beberapa terlihat mengangguk dan menyetujui ucapan Naraya. Ada yang masih pandang-pandangan dan berusaha mempertimbangkan.
“Gue setuju. Kita harus pilih Ketos yang bisa mewakili pendapat kita di sekolah,” sambut Miya sembari tersenyum ke Naraya. “Jadi kalau gue sih, bakal pilih Naraya.”
Naraya balik tersenyum ke cewek itu. Mission accomplished.
***
Bisa jadi Naraya menyesal telah memilih bakso sebagai makanan siang di istirahat kedua ini. Bagaimana tidak, kuah yang panas membuat waktu bersantapnya menjadi terulur sedikit lama. Padahal rencananya siang ini adalah makan dengan cepat dan meninggalkan kantin sebelum orang yang sedang dihindari datang. Kemarin dan istirahat pertama Naraya sudah menghindari masuk kantin Pespel. Menghindari kantin ini lagi hanya akan menunjukkan seolah berita yang beredar di BOS adalah benar. Maka ia harus santai dan tetap menganggap tidak terjadi apa-apa. Berita kacangan tidak layak ditanggapi berlebihan, bukan?
Sayangnya Dewi Fortuna tidak memihak. Dari kejauhan, sudah terlihat bahwa sosok itu sedang mendekat ke kantin. Otak Naraya berpikir cepat. Ia harus menjalankan rencana lain, rencana kedua mungkin? Sambil menunduk dan memakan bihun dalam mangkuknya, ekor matanya menilai sekitar, kiri dan kanan. Perdebatan dalam batin juga bersahutan tidak mau kalah. Sosok itu makin mendekat ke pintu kantin. Naraya hanya menghitung waktu mundur dalam hati. TIGA….
Kantin Pespel ramai seperti biasanya. Yusuf terlihat sedang berjalan menuju dapur Makwo. Biasanya Yusuf akan memesan dengan tangannya sedikit ramah menjarah kerupuk atau bawang goreng. Ada Gesna dan Asri, sedang duduk di samping dan berdiskusi masalah basket. Ada anggota Pasuspala lain yang sedang cerita tentang lomba lintas alam atau di pojokan ada Gerombolan Si Berat sedang bernyanyi-nyanyi dengan gitar. DUA….
“Dji...” Langkah itu tertahan, seseorang memanggil ketika sosok itu mau masuk. Naraya melihat sekilas dan berusaha santai sambil meminum air madunya. Di pintu kantin ada Renard, membicarakan basket sepertinya. Sosok itu sudah menyelesaikan pembicaraan, dan kakinya melangkah memasuki kantin. SAT ––
“Halo, Kakak Adji.”
Sebuah suara dilembut-lembutkan dan dicentil-centilkan berasal dari arah pintu dapur. Belum selesai hitungan terakhir, yang diprediksi Naraya sedang terjadi. Yusuf berjalan dari arah dapur mendekati Adji sambil membawa jus jeruknya. “Minum dulu, Kak,” tawar Yusuf sok manis.
Adji tertawa, sepertinya ia mengerti maksud Yusuf kalau lagi dicengin. Adji lalu merangkul Yusuf dan berjalan bersama ke arah bangku.
“Kakak Adji dari mana aja? Kan Dedek tanen.” Kalau tadi Yusuf, sekarang yang bicara adalah Jaka, saudara seangkatan Naraya juga anggota Gerombolan Si Berat. Gerombolan yang kerjanya bernyanyi keras dan menggoda cewek yang lewat.
Kantin mendadak hening, seisinya sedang menjalankan parodi dengan sedikit-sedikit melirik Naraya, menunggu reaksi si singa betina. Tentu saja Naraya sedang menjalankan rencana lain; menulikan telinga dan membutakan mata. Cewek itu cuek sambil mengangguk-angguk seolah sedang bernyanyi sendiri.
Melihat reaksi yang diharapkan tidak terjadi pada Naraya, lalu Yusuf menghampiri Jaka. Cowok itu mengurung Jaka di dinding, seperti yang Gesna lakukan kemarin kepada Fiska. “Eh, gue ingetin sama lo, ya. Nggak usah sok cantik jadi cewek,” ujar Yusuf dengan menyetel suaranya menjadi kecewek-cewekan.
“Eh, kalau gue memang cantik terus kenapa? Salah gue? Salah teman-teman gue? Salah lo yang lesbi?” Jaka bergaya mengibaskan rambut seolah-olah memiliki rambut panjang di kepalanya.
Naraya rasanya ingin sekali menoyor kepala kedua orang itu dengan handgrip seperti biasa. Fix! Dua codot itu sedang memerankan kejadian di kantin biru. Gesna sebagai orang yang terlibat dalam kejadian itu malah terkekeh, tidak ada niat sedikit pun menjernihkan cerita.
Yusuf mendengkus, menirukan hal yang sering dilakukan Naraya. “Nggak usah sembarangan nuduh orang, Sist.”
Jaka yang sedang berperan menjadi Fiska berusaha mengimut-imutkan muka, membuat satu kantin menggigit bibir, menahan tawa. Ia melipat tangannya di depan dàdà. “Lah, memang lo lesbi. Nyatanya aja nggak ada cowok yang mau sama lo.”
Bukan cuma kantin Pespel yang menikmati pertunjukan itu, bahkan beberapa mata di kantin Netral juga menonton acara tersebut. Kantin yang tidak berjendela tentu membuat orang dengan mudah tahu apa yang ada di dalamnya.
“Apa sih falsafah hidup lo? Udah sok cantik, sok tahu lagi. Nirfaedah!” balas Yusuf sengit. Penonton berdesis, akting yang diperankan Yusuf sangat mirip dengan Naraya. Bahkan kata-kata yang terlontar adalah kalimat yang sering Naraya bilang sehari-harinya.
Jaka mulai mendorong Yusuf agar pemuda itu tidak menguncinya di dinding. Adegan yang nggak ada di kejadian kemarin mulai ditambah-tambahkan. Naraya mengatupkan rahang dan menggigit lidah, berusaha tidak tertawa atau bereaksi apa pun atas komedi bodoh yang ada. Jika saja saat ini tidak ada Adji, mungkin mereka sudah dilemparnya dengan gelas.
“Yang sopan lo sama kakak kelas!” pekik Jaka sembari berpura-pura merapikan rambut panjangnya.
Naraya yang tidak menonton adegan itu hanya menghela napas. Dia sudah tidak tahan, tetapi dia tidak boleh kalah. Setelah menyelesaikan baksonya, ia tantang adegan itu dengan menaruh tangan di dagu. Menonton pertunjukan gratis di seberang meja meski harus menahan keinginan menyiram sisa kuah bakso kepada dua pemeran itu atau melempar handgrip yang masih ada di tangan kirinya.
Tentu saja, mereka semakin menjadi. Jaka memegang tangan Yusuf sambil berkata, “Adji itu punya gue. Kami sama-sama kapten di lapangan. Dia kapten basket, gue kapten cheers. Cocok banget.” Pasti Jaka sudah membaca komentar para warganet julid di artikel itu. “Jangan ngimpi sih, Naraya.”
“Heh, Udang Rebon. Otak lo nggak dibawa, ya, Sist? Ngomong asal jeplak aja.” Yusuf mengatupkan rahang. Penonton sudah menutup bibir masing-masing dengan tangan, menyembunyikan gelak yang sudah tidak bisa ditahan.
Naraya bertambah geram. Entah sudah berapa satwa yang terabsen dalam hati, perutnya seperti teraduk-aduk sekarang. Ia bahkan sedang berusaha menahan diri agar tidak meledak menonton aksi memalukan yang sialnya diperagakan oleh orang yang mengaku saudara seangkatan. Dadanya sudah naik turun tak berirama.
Sebuah sosok berjalan dan duduk di sampingnya, menuai reaksi penonton di kantin ini dan juga kantin sebelah. Pertunjukan sedang berada di babak klimàks. “Apa sih lo berdua?” ujar Adji yang sudah duduk di sebelah Naraya. “Gue pasti milih Nay-lah dibanding dia. Ya, nggak, Nay?” tanya Adji sambil tersenyum jail.
Naraya hanya melengos malas. Kantin menjadi ramai, kor ‘Cie’ dari penonton menggema di udara. Jaka dan Yusuf kemudian menghentikan aksinya.
“Udah, tunggu apalagi. Kode keras itu mah, Nay,” sela Jaka sambil tertawa. Tak lama handgrip Naraya benar-benar sampai di kepalanya.
“Nggak lucu!” Naraya berdiri dan memungut handgrip. “Bikinlah lagi begini, mundur gue dari pencalonan Ketos!” ancamnya sambil berlalu.
“Yah, ngambekan dia mah.” Yusuf yang hendak menarik lengan Naraya sudah keburu ditepis. Tulang kering cowok itu bahkan ditendang. Yusuf mengaduh kesakitan.
Adjam yang sedari tadi mesem-mesem menonton pertunjukan, turut berbicara, “Sampai Nay mundur dari pencalonan. Lo berdua yang tanggung jawab, ya.”
Dua pembuat onar tadi mendadak diam. Namun, yang lebih terdiam adalah Adji. Cowok itu tersadar bahwa ekspektasinya terlalu tinggi. Sepertinya Naraya tidak menyukainya. Sepertinya Naraya menolak dengan jelas perasaannya. Adji berpikir keakraban mereka selama ini didasari atas perasaan yang sama. Ternyata dia salah. Benar-benar salah.