Hari ini, tepat lima tahun yang lalu orang yang penting bagi Naraya berpulang selama-lamanya. Neira, kakak satu-satu yang dia punya, teman terdekatnya, saudara kandungnya meninggalkan dunia. Naraya tidak pernah melupakan itu. Kenangan itu seperti hujan rintik-rintik. Kecil-kecil namun banyak dan merata, membasahi dunianya. Naraya terlalu takut melihat darah dan pisau. Dia sering sekali bermimpi buruk sehingga mesti terapi selama setahun untuk mengatasi trauma itu. Mimpi buruk itu masih sering datang, tetapi Naraya sudah bisa mengendalikan ketakutannya. Tanpa dia sadari, dia membangun sikap apatis sebagai pertahanan diri. Tidak peduli dan masa bodoh menjadi kekuatannya menjalani hidup. Dia tidak menggantungkan diri kepada siapa pun, termasuk kedua orang tua. Ditinggal Sofia dan Satria ke A

