Sembari tertawa, dua remaja itu bergandengan tangan menaiki bukit, berjalan menuju gundukan tanah dipenuhi rumput jepang yang tumbuh dengan rapi. Makam itu selalu terawat. Nisannya hanya berupa lempengan marmer hitam bertinta emas. Dari tanggal lahir dengan jarak kematian terlihat bahwa itu adalah makam anak-anak. Di situ, Airin Btari Prakoso beristirahat dengan tenang. “Assalamu'alaikum, Ai. Lihat Mas datang sama siapa,” sapa Adji dengan tangan kanan menggenggam erat jemari Naraya. Naraya tersenyum lalu berjongkok, meletakkan bunga lili di pusara Airin. “Halo, Ai… Gimana di sana?” Adji ikut berjongkok di samping makam. Seperti biasa, cowok itu memindahkan tangan Naraya dari tangan kanan ke tangan kiri hanya agar genggaman mereka tidak lepas. Sedangkan tangan kanan mulai Adji diperguna

