Minggu pagi yang cerah membuat seorang yang masih bergelung selimut menggeliat saat cahaya matahari mulai menyinari wajahnya
"Bangunn Ella"
"Eunghhh" gadis itu mengulet semakin mengeratkan pelukan pada guling namun tersadar akan sesuatu yang berbeda Rane membuka matanya, ia melihat sekeliling ruangan lalu matanya melihat sosok laki-laki yang berdiri membelakanginya.
Rane bangun dan langsung duduk, ia membuka selimut lega rasanya saat pakaian nya masih lengkap dengan baju tidur, tunggu baju tidur? Rane baru ingat semalam kan ia ke club bersama Garal,
"Bangun juga akhirnya" Rane menatap laki-laki yang kini menatapnya dari jendela kamar, Zaf lah yang membuka hordeng jendela membiarkan cahaya matahari menyinari kewajahnya tadi.
"Zaf, elo.."
"Apa?" Rane mencoba mengingat-mengingat kejadian di club, dari Zaf datang ke club membawanya pulang kerumah seketika wajah Rane mendadak memerah. Ia sedikit ingat apa yang telah terjadi tadi malam.
"Aww" Ringis Rane saat hendak turun dari ranjang, ia merasakan perbedaan pada tubuhnya, matanya melotot kearah Zaf, Rane tau kondisi seperti apa saat ini, ia bukan wanita polos yang tak tahu apa-apa.
"Zaff lo apain gue? Ngaku lo pasti ... Ahkk Zaf sialan" teriak Rane marah ia langsung menimpuki bantal kearah Zaf.
"Zaf kurang ajar"
"Dasar laki-laki gak bisa dipercaya"
"Gue benci lo Zaf"
"Lo apain gue!" teriak Rane ia mengamuk pada lelaki yang masih berdiri didekat jendela
"Sudah marahnya?" tanya Zaf saat melihat nafas Rane naik turun masih memandangnya dengan mata sinisnya, Zaf mengambil bantal - bantal yang jatuh lalu menaruhnya diranjang.
"Sialan lo Zaf, lo manfaatin gue pas mabuk kan?"
"Semua berawal karena kamu Ella. Kenapa kamu ke club? Kenapa mabuk-mabukan?"
"Ya suka-suka gue lah Zaf, gue ke club bukan urusan lo, tapi kenapa lo ikut campur urusan gue, dan lo udah berani-beraninya ambil hal yang paling berharga dalam hidup gue yang harusnya bakal gue kasihin ke orang yang gue cinta"
"Lo jahat tau gak, lo gak berhak giniin gue Zaf" teriak Rane, ia kesal, ia benci pada laki-laki didepannya ini
"Maaf Ella, tapi kamu yang memaksa, apa perlu aku putar cctv?" ucap Zaf menunjuk sebuah cctv diujung kamarnya, itu hanya omongan belaka saja padahal cctv itu sudah lama tak menyala.
"Dan yang berhak dapetin itu semua cuma aku, aku suami kamu Ella, kamu gak perlu khawatir jika kamu hamil, aku pasti tanggung jawab karena aku suami kamu, sekarang mandi dan sarapan aku gak mau kamu sampai sakit"
"Gila.. lo gila Zaf, gue gak mau hamil, amit-amit ya, gue benciii elo Zaf, jangan bicara apapun sama gue!" ucap Rane dengan tegasnya ia bangun dan segera masuk kedalam kamar mandi secara tertatih-tatih. Zaf hanya bisa menghela nafas menatap istrinya yang marah
Rane mengunci pintu kamar mandi lalu ia langsung bercermin di wastafel kemudian menyalakan air dan membasuh wajahnya dengan air mengalir,
"Rane kenapa lo ceroboh banget sih, kenapa lo tidur dengan Zaf, kenapa? Harusnya Garal dia laki-laki yang lo cintai bukan Zaf, apa kata Garal kalau dirinya bukan perawan lagi?" Rane menghela nafasnya mulai mengatur nafasnya
"Berfikir positif Rane, lo gak mungkin hamil, dan Garal gak perlu tau hal ini, gue gak mau kehilangan Garal, Garal baru aja cinta sama gue, gue harus pertahanin" tekad Rane ia menatap wajahnya di cermin ia gak boleh lemah dengan sikap Zaf, mau Zaf suaminya atau bukan Zaf bukan cintanya. Cintanya hanya untuk Garal seorang. Bodo amat dengan Zaf dan statusnya saat ini.
Saat Rane mulai membuka pakaian Rane melotot tak percaya, ia benar-benar harus waspada dengan Zaf, ternyata Zaf bukan laki-laki alim yang gak tau apa-apa mengenai hububgan badan.
"Awas ya lo Zaf, sampai berani sentuh gue lagi."
Setelah mandi dengan waktu yang cukup lama karena gadis yang sekarang bukan gadis lagi itu berendam cukup lama, Rane keluar kamar mandi dengan bathrobenya berharap ia tak bertemu wajah Zaf yang akan selalu membuatnya naik darah.
Saat berendam Rane mendadak mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalam, Rane menyesal kenapa ia minum begitu banyak dan berakhir mabuk dan bisa-bisanya ia terus menggoda dan memaksa Zaf padahal laki-laki itu sudah menolaknya. Rane kira Zaf tak akan tergoda dan akan tetap menjaganya namun Zaf memang sepertinya seorang laki-laki yang normal.
Hebatnya Rane kalau mabuk gak sampai kehilangan ingatannya, ia bisa mengingat semua yang dilakukan walau harus mengingat secara keras. Ini bukan pertama kalinya Rane mabuk, sudah beberapa kali hingga ia sering merepotkan teman wanitanya. Salsa teman yang sering Rane ajak ke club malam atau Sonya yang sering mengajaknya minum pun sering mengurusnya saat mabuk berat.
Rane bernafas lega saat Zaf tak ada dikamar, kamar sudah rapi dengan ranjang yang sudah terganti spreinya. Setelah berdadan rapi Rane mencari tasnya, ingin mengambil ponsel mau menghubungi kekasihnya pasti semalam Garal marah karena ia tinggali.
"Cari ini?"
"Siniin ponsel gue Zaf" Zaf memberikan ponsel Rane
"Aku sudah hapus semua yang bermahluk cowok di hape kamu, aku gak suka kamu masih berhubungan dengan laki-laki lain ya Ella. Ingat kamu sudah menikah, kamu sudah menjadi milik aku."
"Sialan lo Zaf, lo pikir lo siapa? Gue bukan barang, dan gue bukan punya lo, jangan pernah urusi hidup gue Zaf!"
"Kamu itu istri aku Ranella, semua urusan hidup kamu aku yang tanggung jawab, termasuk anak yang dikandung kamu nanti"
"Gila gue benci lo Zaf, jangan berharap gue mau ngandung anak lo, cukup sampai sini hubungan kita, gue mau pulang" ucap Rane mendorong tubuh Zaf agar bergeser
Zaf menarik Rane lalu mengurung Rane dan memojokkannya ditembok membuat gadis itu tergelak dengan sikap Zaf yang tiba-tiba
"Jangan pulang, aku minta maaf Rane karena lancang memanfaatkan keadaan kamu yang mabuk. Kamu istri aku, aku akan bertanggung jawab untuk kamu, pernikahan kita bukan main-main, aku mau perjuangin kamu Ella." ucap Zaf menatap mata Rane
"Lo benar-benar udah cinta kan sama gue Zaf? Ngaku gak kalau emang lo udah cinta gue dan makannya lo menyeret gue dalam pernikahan ini kan?"
"Kalau aku cinta kamu, kamu akan membalasnya Rane?"
"Hahaha jadi bener lo cinta gue? Kalau cinta buktiin jangan sekedar ngomong, dan gak semudah itu gue cinta sama lo Zaf" Zaf menatap wajah Rane intens membuat gadis itu merasa sedikit malu karena terus ditatap.
"Haha terlalu pede kamu Rane, sudah sebaik apa kamu mendapat cintaku? aku bukan cinta sama kamu, hanya tanggung jawab, dengar tanggung jawab karena sudah memiliki istri seperti kamu, kamu gak mau kan kalau anak kita gak punya ayah?"
Rane mendorong Zaf lalu menampar pipi Zaf ia sudah terlalu kesal dengan perkataan Zaf, seolah-olah dirinya benar hamil
"Gue gak hamil, lo ternyata bukan laki-laki yang baik ya Zaf? Gue kira lo beda dengan laki-laki lain, ternyata salah, lo hanya laki-laki sok alim, sok baik yang mencari keuntungan sendiri, sampai kapan pun gue gak sudi hamil anak lo sampai gue cinta sama lo sekalipun, tapi itu gak mungkin karena cinta gue hanya untuk Garal, stop ikut campur urusan gue" Rane keluar kamar dengan membanting pintu membuat Zaf tercenung, apa ia sudah keterlaluan?
Rane menangis ia mengeluarkan air mata ia benci dengan Zaf, kenapa hubungannya bisa serumit ini dengan Zaf? Zaf dengan seenaknya menidurinya dan segampang itu ia mengatakan hanya tanggung jawab? Rane wanita normal yang juga menginginkan cinta, dicintai dari seorang laki-laki bukan hanya sekedar tanggung jawab. Zaf keterlaluan emang dia pikir dia itu siapa?
Dan apa tadi katanya sebaik apa dirinya? Rane tidak munafik ia bukan gadis yang baik tapi bukan berarti ia tak pantas mendapatkan cinta kan? Garal ya hanya Garal yang mencintainya, semua laki-laki sama, semua mantannya hanya ingin sesuatu darinya, tak ada yang tulus mencintainya, termasuk Zaf laki-laki yang sudah menikahinya sekaligus laki-laki yang sudah menidurinya.
Apa Rane terlalu nakal hingga ia tak pantas dicintai?
Rane keluar rumah mencari taksi, ia akan pergi menemui Garal. Hanya Garal saat ini yang ia punya.
Di dalam taksi Rane terus merenung tanpa sadar ia memegang perutnya, apa benar ia akan hamil? Rane menggeleng, Enggak mana mungkin, baru satu kali melakukannya dan itu tak mungkin langsung jadi, masa depannya masih panjang, ia tak mau jadi ibu-ibu yang kerjanya menggendong anak, ia tak mau punya anak saat ini, impiannya masih diatas dan belum diraih dan digapai, persoalan menikah dan anak adalah nomor terakhir saat dirinya sudah sukses.
Rane menengok ke jendela saat taksi yang ditumpanginya berhenti saat lampu merah, ada sebuah mobil yang Rane kenal
Rane tersenyum kebetulan sekali, saat ingin turun dari taksi senyum Rane luntur seketika menatap tak percaya pada dua orang yang ada di dalam mobil, mereka ciuman. Ciuman mesra didalam mobil, Rane bisa melihat itu semua karena posisi mobil disampingnya itu tidak sejajar dengan taksi, membuat Rane melihat dengan mudah dan jelas. Ia tak salah lihat. itu Garal kekasihnya
"Sakit, sakit ya tuhan."
Hancur sudah hati Rane, kepercayaannya pupus begitu saja, semua laki-laki sama saja, mereka b******k. Air mata Rane menetes di pipi putihnya tak sangka Garal akan menyelingkuhinya.
Supir taksi yang melihat penumpangnya menangis memberikan sekotak tisu yang langsung diambil oleh Rane
Hiks hiks
suara tangisan Rane mulai terdengar di taksi, sang supir ikut sedih melihatnya
"Sabar ya mba"
"Putar arah ya pak!" ujar Rane kemudian langsung memberitahu tujuannya.