Chapter 22

1477 Words

Merasa kurang enak badan, aku memilih berdiam diri di meja kerjaku. Membaluri dahiku dengan aromaterapi supaya rasa pusing yang aku rasakan sedikit mereda. Pintu ruangan terbuka, Ghina baru saja masuk setelah mengecek perlengkapan dapur kafe. Ia memperhatikanku sebelum duduk di kursi kerjanya. "Masih pusing lo?" Aku mengangguk. "Mau minum obat?" Kali ini aku menggeleng. "Lo tahu kalau gue gak bisa minum obat." Anti obat sebenarnya. Kalau sakitnya cuma pusing, atau pun flu aku lebih baik tidak minum obat. "Kayak anak kecil," ledek Ghina. "Yaudah mending gue anterin lo pulang deh. Istirahat aja." Aku menggeleng cepat seraya memijit-mijit dahi. "Gak. Di apartemen sepi. Di rumah terlalu rame. Mending di sini aja. Tiduran bentar juga paling ilang pusingnya." "Yaudah. Lo tidur deh," b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD