Chapter 15

1435 Words

Duduk melamun di Kafe, menatap lurus lalu lalang kendaraan dari balik kaca besar di depanku. Beberapa kali aku menghela napas berat. Segelas matcha latte tersaji di meja dan belum sama sekali kucicip. Jika bercermin, wajahku amat sangat mengenaskan. Mata panda, pucat, kusam seperti tidak punya sinar yang cerah. Meringis pilu seraya menatap lipatan kertas yang menjadi tersangka kenapa air mataku jatuh dengan derasnya semalam. Lipatan kertas sederhana namun punya isi yang bermakna. Hatiku sesak setiap kali membaca kata per-kata tulisan tangan milik Raka yang ia tuangkan dalam secarik kertas yang kini berada dalam genggamanku. Entahlah... "Masih pagi gak usah ngelamun lo!" Tepukan keras di bahuku oleh Ghina membuatku kembali ke dunia nyata dengan segala kerumitannya. Ghina duduk di depa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD