Bab 1. Wanita Itu Kembali
Aku duduk diam. Bukan karena kaget—tapi karena sudah menduganya sejak semalam.
Jay datang. Dan seperti dugaan, ia membawa "hadiah" dari masa lalunya. Cynthia. Tentu saja.
Seperti biasa, dia bahkan tak repot-repot menatapku saat bicara.
“Dia tinggal di sini. Sementara.”
Begitu saja. Sepotong kalimat kering. Seolah aku cuma tamu yang tak penting di rumah ini. Seolah aku—istrinya—hanya catatan kaki dalam keputusan yang sudah ia buat sendiri.
“Rumah ini besar. Dia di sayap barat. Lewat pintu samping. Kalian nggak harus sering ketemu.”
Betapa... bijaknya dia. Mengatur jarak yang rapi antara istri dan mantan kekasih yang nyaris ia nikahi. Nyaris, kalau saja wanita itu tidak memutuskan pergi sebelum resepsi dibuatkan.
Aku menatapnya. Jay tak bergeming. Sorot matanya kosong, tapi dinginnya menampar jauh lebih keras daripada amarah. Seolah berkata: Terima saja. Atau keluar.
Cynthia melangkah pelan, anggun seperti biasa. Duduk di sofa seperti ia baru pulang ke rumah sendiri. Gerakannya halus, penuh perhitungan. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap cantik. Air matanya menggantung manis di pelupuk mata—sempurna, seperti segala hal yang ia tampilkan ke dunia.
“Runi… aku… aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya… aku benar-benar tidak punya tempat lagi. Aku tidak mau menyusahkan siapa pun, sungguh.”
Nada suaranya lembut. Gemetar. Memohon. Begitu lemah... dan tentu saja, sangat bisa menimbulkan simpati. Gaya bicara perempuan suci yang selalu berhasil membuat semua orang melindunginya. Lembut di bibir. Tapi aku tahu… tajam di belakang.
Semua orang selalu jatuh iba pada wanita seperti Cynthia.
Jay tidak menanggapi. Tak ada "tidak apa-apa, Tya", tak ada pembelaan manis. Tapi diamnya… lebih mematikan. Karena diam Jay adalah bentuk izin paling menyakitkan.
“Cynthia nggak akan ke mana-mana.”
Jay akhirnya bicara. Satu kalimat. Datar. Tegas. Dingin.
Lalu datanglah si penyambut kehormatan: Ria. Dengan nada tinggi dan senyum sinisnya.
“Kak Tya! Udah, kau tak perlu pergi. Rumah ini juga rumahku, dan aku setuju kau tinggal. Kak Jay juga udah bilang kan?”
Ia kemudian memandangku—bukan dengan iba, tapi dengan kemenangan.
“Kak Runi, kamu tuh kenapa sih? Masa orang kesusahan malah kamu usir? Cuma tinggal sementara kok. Atau kamu takut?”
Ah, Ria.
Selalu tahu cara menyayat tanpa harus berteriak.
Tak perlu pisau—nada suaranya sudah cukup untuk melukai.
Cynthia menunduk. Diam. Tapi entah kenapa, dalam diamnya aku bisa merasakan… kepuasan. Seolah dia tahu, perlahan tapi pasti, dia akan menyingkirkan aku tanpa perlu menyentuh apa pun.
Aku menatap mereka satu persatu. Jay. Cynthia. Ria.
Pertunjukan yang sangat menarik. Dan aku?
Tokoh figuran yang bahkan tak diberi naskah.
Aku menarik napas pelan.
Tiga tahun. Sudah cukup aku menelan semua ini. Jay yang dingin, ibu mertua yang menggerutu setiap hari, Ria si pengatur kecil, dan ayah mertua yang pura-pura tuli.
“Baik,” kataku pelan. Senyum kecil mengembang di bibirku. Sinis.
“Dia boleh tinggal…”
Aku berdiri. Perlahan. Mataku menatap Jay, lalu Cynthia.
Suara dalam hatiku sudah mati sejak lama. Tapi yang tersisa kini—ketegasan tanpa suara.
“…tapi aku yang akan pergi.”
Tak perlu teriakan. Tak perlu air mata.
Karena kadang, pergi dengan kepala tegak jauh lebih keras dari semua drama mereka.