Kret... terdengar bunyi pintu di buka, lalu Rania terkejut melihat Fajar yang sedang duduk di ranjang sambil memandanginya dengan sinis, “Mas, sudah lama menunggu aku di sini? Maaf ya aku tadi masih di ruangan makan.”
“Hm... tidak terlalu lama, aku malam ini tidur di sini ya? Aku tidak mau kalau kau tidak mengizinkan aku untuk tidur.” Ucap Fajar kepada Rania.
“Boleh mas, masa sih suami aku tidak boleh tidur di sini, padahal kau kan bebas saja mau tidur di mana dan aku juga tidak bisa melarang kau untuk kemana saja, Renata juga istrtimu untuk apa aku harus marah.” Jelas Rania kepada Fajar yang masih sibuk dengan ponselnya.
Di dalam hati Rani berkata “Huh... aku harus menghadapi kecuekannya, aku tahu dia memang terpaksa untuk tidur di sini karena Renata, aku harus berusaha untuk terlihat tidak ada apa-apa semoga saja sabarku ini terbalaskan dengan mendapatkan kebahagiaan yang sudah aku raih. Sakit? Iya aku sakit, cemburu jika mas Fajar tidak menganggap aku seorang istri yang sah padahal semuanya aku berikan asal dia melakukan yang wajar kepadaku.” Rutukan Rania yang begitu sangat pasrah, dia melihat sosok pria yang memiliki kesetian pada satu wanita.
Suasana malam itu membuat Rania terkaku, memandangi wajah suaminya yang hanya mengkerut saja, lalu dia berkata "mas kok belum tidur?"
"Aku belum ngantuk tidur saja duluan besok kita akan segera pergi untuk menghabiskan liburan ini."
"Aku juga belum ngantuk, mas apakah aku boleh bertanya?"
"Ya bertanya saja tidak ada yang melarang!" Jawab singkat Fajar kepada Rania.
"Mas apa yang membuat kau tidak menyukaiku? Aku tahu tentang pernikahan ini sapi berdamailah pada diri sendiri agar apa yang telah di rencanakan Renata itu bisa berjalan dengan lancar."
"Untuk apa kamu tanyakan itu? Aku sih hanya berharap semua bisa baik-baik saja jangan pernah menganggap itu tidak terjalin dengan baik, Aku masih menghargai Renata ya istriku, tidak ada yang bisa menggantikan dia sebenarnya, termasuk kau Rania."
Rania sangat terkejut saat mendengar kata-kata fajar yang begitu membuat luka di hatinya. Hancur yang dirasakan saat itu.
"Rania apa kau siap malam ini?" Tanya fajar dengan wajah datar dia.
"Siap untuk apa? Jelaskan kepadaku."
Tiba-tiba Fajar langsung merebahkan tubuh Rania di ranjang itu, motoran yang membulat dia sangat terkejut apa yang telah terjadi, tatapan itu terlihat sangat jelas.
"Mas! Mau apakan aku sekarang? Jangan membuat aku takut aku tidak pernah melakukannya!"
"Ikuti saja aku Aku ingin tidak mengecewakan Renata lagi malam ini kau nikmati apa yang diberikan. Semua bisa berjalan dengan lancar jika kau menuruti."
Rania menganggukkan kepalanya, saat itu juga Fajar memejamkan matanya sambil membayangkan wajah Renata di hadapannya, dia tidak bisa melakukan kalau bukan dengan istrinya sendiri.
Perlahan-lahan Fajar buka baju yang dikenakan oleh Rania, di remat Gunung Kembar milik Rania,
"Jangan memberontak ikuti saja aku." Ucap Fajar kepada Rania yang terlihat sangat syok.
"Mas, Ehhm ..." Desahan yang keluar dari mulut Rania.
Fajar terkejut semudahnya itu dia mendesah membuat diri saya Fajar b*******h, "ayo lakukan itu aku sangat menyukai desahan wanita."
Fajar mengeluarkan batangannya sampai dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua yang dilakukannya saat ini jauh di pemikirannya kalau dia akan melakukan malam pertama mereka berdua. Digoyang Kanya pinggul saat tubuh Fajar di atas tubuh Rania.
"Sstthh..."
"Ma...as... Aku sudah tidak kuat lagi."
Wajar tidak menghiraukan apa yang keluar dari mulut dia terus memainkan aksinya dengan gila, batangan Fajar mulai terasa berdenyut tubuh mereka berdua telah di cucuri oleh keringat, soal hentakan itu semakin kuat semakin kuat pula desahan Rania yang keluar dari mulutnya. Cairan kental yang segera memuntahkan ke dalam lubang milik Rania, dan akhirnya permainan mereka sudah selesai, wajah Rania yang sudah memerah dan tubuh sudah tidak berdaya lagi. Fajar langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Rania semakin bingung untuk pertama kalinya ia merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat dari Fajar, malam pertama mereka gitu sangat berkesan. Semua yang dilakukan Fajar itu sudah membuat aku mengerti semuanya harus didasarkan Dengan cinta.
"Aku menikmati malam pertama aku dan mas Fajar, walaupun dia harus membayangkan wajah Renata dulu baru menggauli aku istri keduanya. Huft... tidak tahu aku harus gimana lagi menghadapi sikap cuek nya Fajar tapi aku berusaha menjadi yang lebih baik untuknya demi Renata aku harus ikhlas sabar, mungkin dia tidak terlalu menikmati hanya sementara membayangkan wajah Renata itu membuat dia bergairah." Ucap Rania di dalam hatinya itu.
"Rania, kenapa cuma termenung saja? bersihkan dirimu lalu tidurlah kita akan menghabiskan waktu besok hari. Terima kasih kau sudah terasa ikhlas melakukannya."
Rania menundukkan kepalanya nya sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai akhirnya mereka berdua tidur pulas, Rania merasa pelukan yang diberikan oleh Fajar begitu sangat tulus untuk pertama kalinya dia merasakan pelukan yang sangat ikhlas. Fajar begitu penyayang dengan siapapun dia melakukannya.
Keesokan paginya nya Fajar dan Rania sedang menunggu Renata di ruang makan yang sudah disediakan, "hai maaf ya aku telat datangnya hari lagi mandi bangun tidur aku telat."
"Tidak apa-apa Renata, segera sarapan saja kita berdua akan menunggu."
"Baiklah Rania aku akan sarapan."
Fajar berjalan mengelilingi pantai sendiri saja sambil menunggu kedua istrinya sarapan pagi, di dalam hati Fajar tersimpan sedih saat menatap Renata yang dikhianati itu, dia tahu tatapan Renata hanya sekedar di buah-buahan agar terlihat bahagia padahal dia begitu sangat tersiksa.
"Aku pria bodoh kenapa aku harus mengiyakan pernikahan ini! sama saja menyakiti Renata kayak begitu baik kepadaku tapi Aku khianati menjadi sosok yang tidak berguna di kehidupannya, Renata aku tahu sakit tapi kau berusaha untuk tegar, dari kejauhan aku memandang wajahmu begitu sangat sakit di rasakan,dan wajah Rania seperti orang yang tersiksa untuk memendam perasaan yang dia buat, tidak pernah dirasakan lagi semenjak menikah denganku.tatapan mata itu aku lihat semalam juga kau bisa menjadi pasti kita akan mencari akan berkata tidak ingin melanjutkan pernikahan."ucap Fajar di dalam hati.
Dalam lamunan Fajar Renata menghampirinya dan berkata, "mas kenapa kau melamun saja? Ayo dong bersemangat liburan kita bertiga Aku tahu kau tidak ingin liburan ini terjadi, tapi aku harap kau bisa membuatku bahagia selamanya di hidupku."