Bab 8

1079 Words
  Renata sangat terkejut melihat Rania yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah, lalu dia berkata “Rania, kenapa kau tidak pulang bersama mas Fajar? Bukannya tadi dia mengatakan akan menjemputmu jika ingin pulang.” “Iya tidak apa-apa, kebeulan aku di kantor tidak ada kerjaan lagi jadinya aku suntuk dan ingin pulang terlebih dulu, jika aku memberitahu mas Fajar nanti kerjaanya terganggu.” “Ooo... begitu ya, iya sudah yang penting kau sudah memberitahu dia kalau kau sudah pulang ke rumah dulu.” “Sudah Renata.” Rania masih bingung untuk mengatakan permasalahan tadi, dia mencari kesempatan saat Renata yang sedang memasak di dapur. Saat Rania ingin mulai mengatakan tiba-tiba Renata sudah terlebih dulu bebicara, “Rania, aku sudah mengatur waktu kalau besok kalian berdua akan bulan madu, aku sudah menelepon Mas Fajar soal ini dia mengatakan akan mengambil cutinya di kantor yang belumpernah dia ambil selama ini. Dan kau juga sudah mengambil cuti nikah juga jadi besok kita akan berangkat. Bagaimana?” “Ha! Iya sudah, aku akan menelepon bos di kantor kalau aku akan mengambil cuti nikah.” “Yey... bahagianya aku saat ini. Bisa berlibur dengan dua orang yang aku sayang ini. “ Ucap Renata yang langsung memeluk tubuh Rania yang sudah terdiam saja. Tidak habis pikir kalau Rania mengatakan itu, begitu hancur perasaan Renata saat mendengarkannya. “Huft... aku gagal lagi untuk mengatakannya, seperti aku di suruh untuk tetap selalu menjaga perasaan Renata saat ini, tidak ada yang bisa di lakukan lagi hanya membuat diri ini semakin tersiksa saja. “Aku pulang...” Ucap Fajar yang baru saja memasuki rumah. “Cepat sekali pulangnya mas?” Ucap Renata. “Iya, tidak banya laporan yang aku selesaikan semuanya sudah di buat oleh sekretarisku jadi aku bisa bersantai saja. Oo... iya, kenapa tidak menungguku saja tadi, aku juga pulang cepat?” “Iya tidak apa-apa mas, aku kira mas punya kerjaan yang banyak jadi aku tidak mau merepotkanmu mas.” Ucap Rania. “Sudahlah, yang penting besok kita sudah mulai untuk liburan menghabiskan waktu bersama. Jadi malam ini kita mempersiapkan semuanya, oke?” Malam telah tiba perasaan Rania yang begitu gugup, entah apa yang ada di pikirannya sekarang dia merasa ada yang lain lagi tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan demi mendapatkan yang terbaik untuk sahabatnya saat ini. Jauh di pikirannya untuk melakukan hubungan suami istri dengan suami sahabatnya sendiri. Dag... Dig... Dug... itu yang dia rasakan memandangi wajah Fajar yang membuat diri ini terasa melayang begitu saja, tidak ada satupun yang bisa membuat semua ini berjalan dengan tenang. Tok... Tok... Suara ketukan pintu itu terdengar jelas, Fajar membuka pintu dan dia langsung terbaring di ranjang tanpa berkata apa-apa. “Mau tidur mas?” Tanya Rania kepada Fajar. “Kau bisa lihat sendiri kalau aku sedang terbaring di hadapanmu?”Jawab ketus Fajar kepada Rania. Rania sangat terkejut untuk pertama kalinya dia mendengarkan ucapan ketus oleh Fajar. Di dalam hatinya berkata “Kenapa dia begitu? Apa aku berbuat salah kepadanya. Padahal tadi dia baik-baik saja berbicara denganku. Sudahlah mungkin dia sangat lelah sampai berkata kasar kepada diriku ini. Tidak di sangka juga yang dia lakukan itu hanya membuat diri ini semakin berpikir negatif saja. Lebih baik aku tidur dan memikirkan untuk liburan besok. Akhirnya mereka berdua tertidur pulas saling membelakangi tubuh masing-masing. Beberapa menit Fajar terbangun dari tidurnya dia begitu gelisah, dan akhirnya dia langsung tidur di dalam kamar Renata. Saat dia membuka pintu terlihat jelas tubuh Renata yang hanya memakai pakaian tidur sangat tipis, tidak sabar lagi Fajar menghampiri dan memeluk tubuh Renata. “Sayang... bangun...” Renata membuka matanya perlahan dia sangat terkejut apa yang dia lihat kalau Fajar sudah berada di kamarnya, “Mas! Kau kenapa di sini? Aku kan menyuruhmu untuk tidur bersama Rania saja, kau ini ada-ada saja kasihan dai sendirian tidur.” “Kenapa? Ada yang salah aku tidur bersamamu? Renata aku ingin bersamamu saja.” Ucap Fajar penuh menggoda. “Iya sudahlah kalau begitu untuk malam ini tidur bersamaku saja.” Perlahan jari jemari milik Fajar mendarat di kedua buah d**a Renata terus menerus dia meremat dengan sangat b*******h. Malam itu juga Fajar menghabiskan waktu berdua dengan Renata, mereka berdua tidak menghiraukan apa yang telah terjadi saat itu. Rania yang terbangun dari tidurnya melihat tidak ada Fajar di sampingnya dia berusaha untuk tenang. “Perasaan tadi mas Fajar di sini, kemana dia?” Ucap Rania di dalam hatinya. Dia suara yang mendengar yang sangat berisik membuat dia lebih yakin kalau Fajar ada di kamar Renata. Perasaan Rania yang begitu hancur saat tahu kalau Fajar meninggalkannya, di dalam hati Rania dia merasa ada kecurigaan kalau Fajar memang benar-benar tidak berlaku sama sekali. “Huft… begini rasanya menjadi istri kedua, aku juga bingung dia menganggap aku apa di sekarang.” Rutuk Rania di dalam hatinya. Akhirnya Rania kembali berusaha untuk tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Jauh di pikirannya kalau semuanya itu hanya ingin menyakitinya saja. Setelah mereka menghabiskan waktu bersama Renata berkata kepada Fajar, “Mas, apa kau sudah melakukannya kepada Rania?” Fajar melepaskan pelukkan itu dan dia mengatakan, “Aku tidak bisa Renata, aku tidak bisa melakukan tidak berdasarkan cinta, aku pikir aku bisa setelah menikahinya ternyata tidak. Saat malam itu aku berusaha tetapi aku tidak melakukannya. ” Renata membulatkan matanya dan dia mengatakan, “Mas! Aku tidak suka hal ini terjadi, kau pikir kalau kau melakukan nya denganku akan mendapatkan kebahagiaan itu? Tidak sama sekali! Kau sudah berlaku kepadaku kalau kau akan membahagiakan aku setelah kau menikah dengan Rania. ” “Maafkan aku Renata, beri aku kesempatan untuk itu. Aku tidak bisa memaksakan diri kalau semua itu akan membuat dia sakit saja. Apa salahku kalau aku melakukan kamu? Kau juga istriku. ” “Huft ... terserah mas, aku lelah saat ini kita akan membahas ini besok pagi dan jangan membuat Rania kecewa. Kau ingat kau sudah memperlakukan dia dengan adil. Sudah ya besok kita akan liburan saat kesempatan tiba. ” Fajar hanya menganggukkan kepalanya, tidak apa yang Renata ucapkan dari tadi. Ke esokkan paginya Renata sudah siap terlebih dahulu dan dia melihat Rania yang membawa barangnya dari kamar sendiri, “Rania, biar aku bantu.” Ucap Renata sambil mengambil barang yang ada di sini. “Iya terima kasih Renata.” “Rania, maaf ya.” “Maaf untuk apa?” Tanya Rania kepada Renata. “Hm… masalah Mas Fajar tadi malam tidur di kamarku. iya aku tahu juga  dia sedang bersamamu semalam, dan aku juga merasa tidak ada waktu untuk kalian berduaan. ”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD