Fajar menganggukkan kepala, dan dia langsung tertunduk, di dalam hati Fajar berkata “Sial! Aku bingung apa yang aku lakukan saat ini, dia tidak mau terlebih dahulu memulainya, apa dia tidak mengerti apa yang suami istri lakukan untuk malam pertamanya dan dia seperti orang sangat pasrah, jadi aku bingung mulainya dari mana.”
“Mas, kenapa termenung begitu?"
“Huh... tidak apa-apa, iya sudah tiduran saja kau dulu.”
“Aku belum merasa ngantuk mungkin aku akan mengerjakan semua pekerjaan kantor malam ini jugam sampai aku bisa tenang untuk hari ke depannya.”
“Jangan!!!” teriakkan Fajar membuat Rania terkejut dan dia langsung mengatakan lagi, “Rania...”
Tiba-tiba Fajar langsung mencium bibir Rania dengan lembut membuat wanita itu terkejut dan membulatkan matanya, darah yang mengalir begitu deras, jantung nya berdegub kencang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bertatap.
Fajar perlahan meraba tangannya ke buah d**a Rania dan tiba-tiba Rania mendorong tubuh Fajar dan berkata “Mas!”
“Kenapa? Ada yang salah dariku?” Tanya Fajar kebingungan.
“Huh, apa yang mau kau lakukan?” Tanya Rania yang masih syok saat Fajar melakukannya.
Fajar hanya menggelengkan kepala dan langsung merebahkan tubuhnya menganggap semuanya dia lakukan sia-sia saja.
Suasana pagi yang sangat cerah, Rania melihat sahabat dan suaminya sedang duduk di meja makan. Makanan yang telah di sediakan oleh Rania mereka santap dengan lahap. Lalu Renata berkata “Maaf ya aku sudah pagi-pagi sekali siapkan makanannya karena Mas Fajar harus sarapan pagi. Jika kau memang mau siapkan aku tidak melarang hal itu. ”
“Iya Renata, tidak apa-apa aku sudah juga berusaha membantumu saja, agar kau tidak sendirian untuk masuk rumah.”
“Hm ... sudahlah jangan di, sayang aku harap kalian berdua bisa berbulan madu juga.”
Fajar langsung membulatkan matanya dan berkata “Apa! Bulan madu? ”
“Iya mas, kan kalau pengantin baru akan bulan madu, jadi apa salah aku menyebutkannya?”
“Huh aku tidak bisa melakukan, aku sedang sibuk saat sekarang di kantor.” Ucap Fajar kepada Renata.
“Iya tunggu kamu tidak sibuk saja, mau ya mas?”
“Lihat saja nanti.” Ucap singkat Fajar.
Rania tertunduk dia menganggap kalau Fajar sama sekali tidak tertarik pada pernikahan ini, dia menerima ikhlas apa yang telah di takdirkan untuk itu.
“Rania, kenapa kau melamun? Mau kan kau pergi bulan madu dengan mas Fajar? ”
“Hm ... iya kalau tidak sibuk aku mau, kita lihat saja nanti ya Renata.” Ucap Rania dengan senyuman tipisnya.
Fajar langsung membicarakan semuanya di depan Rania dan Renata, “Kalau memang aku harus berbulan madu, aku ingin kau Renata pergi juga, aku tidak ingin berdua saja.”
Renata tertawa dan berkata “Hahaha ... kau ini ada-ada saja. Nanti aku mengganggu kalian bulan madu. ”
“Tidak apa-apa Renata, sekalian juga kita liburan bertiga, jangan merasa terganggu itu juga lebih seru kalau kita melakukan bersama.” Ucap Rania dengan hati yang begitu tenang.
“Hm... baiklah, aku ikut asalkan kalian berdua jadi bulan madu.” Ucap Renata.
Suasana di dalam mobil begitu kaku, Rania memandang sekali-kali wajah Fajar yang dari tadi hanya berfokus di depan saja berusaha Rania mengajak dia berbicara, “Tuan... eh... maksudnya mas, soal tadi malam maaf ya, aku tidak bermaksud untuk...”
“Sudahlah, aku mengerti soal itu. Jika kau merasa keberatan untuk menerima lebih baik kau katakan dan jangan membuat Renata sedih jika dia tahu kalau kau tidak mau membantunya, aku sudah berusaha untuk mengatakan kepada Renata kalau aku belum bisa menerimamu, dia terus memaksa agar aku bisa menerima kau. Oke... demi kebahagiaan Renata aku lakukan.” Jelas Fajar kepada Rania.
“E... soal itu, awalnya aku keberatan karena melihat Renata begitu aku iba, tapi berjanji untuk membantunya. Aku tidak akan menyakiti perasaan Renata dia sahabatku. Bagaimana pun dia sudah banyak membantu aku dan keluargaku dan saatnya aku membantu dia.”
“Baguslah, aku harap begitu juga. Dia istri yang sangat berhati mulia, tidak ada wanita sepertinya yang mau di madu hanya dia saja. Rania perlu kau tahu aku menikahi bukan dasar dari cinta tetapi aku akan berjuang untuk melawan keegoisanku saat ini. Memperlakukan dua orang istri dengan adil.” Jelas Fajar yang berusaha untuk tidak melakukan hal yang membuat Rania bersedih.
“Iya baiklah Mas, aku bisa menerima apa yang telah kau ucapkan itu. Semaksimal mungkin aku akan terus menjadi yang terbaik untuk perjalanan pernikahan yang kita berdua setuju ini. Aku harap suatu saat nanti aku memiliki seorang anak, aku akan merelakan anak yang lahir dari rahimku untuk kalian rawat juga dan aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua. Aku tidak mau berlama-alam menyakiti hati Renata, di dalam hatinya dia begitu hancur harus menerima suaminya menikah dengan wanita lain yang ternyata sahabatnya sendiri.” Rania menjawab dengan nada yang sangat lesu.
“Jangan kau buat perjanjian sendiri, jalani saja apa yang sudah di takdirkan dan sampai kapan tuhan akan menjaga pernikahan yang telah kita jalani ini Rania, jangan membuat Renata akan kecewa. Di dalam perjanjian itu tidak ada begitu. Sudahlah, sebentar lagi sudah sampai di kantormu, nanti pulang aku akan menjemputmu jangan pulang sendirian.”
“Baiklah.” Ucap Rania dengan singkat.
Sesampainya Rania di kantor dia merasa dirinya tidak memiliki perasaan, tetapi semua yang dia jalankan itu ingin membuat sahabat dan keluarganya bahagia.
“Aku harus merelakan kehidupanku dengan Fajar pria yang sama sekali tidak mencintai aku apa adanya. Hanya Renata lah yang membuat Fajar bahagia bukan aku!” Rutukan Rania dari tadi.
Ada salah satu teman yang menghampirinya berkata “Hei... pengantin baru... kenapa sudaah masuk kerja saja? Seharusnya kalian akan bulan madu, ayo... pulang saja Rania.”
“Hm... tidak sekarang aku mengambil cuti, soalnya suamiku sedang sibuk dengan kerjaan yang yang banyaK, jadi dari pada aku suntuk tidak ada kegiatan lebih baik aku ke kantor saja bisa bertemu dengan kalian teman-teman.”
“Hm... baiklah, aku kira kenapa tadi. Kau istri yang pengertian Rania.” Ucap teman kantornya.
Rania tersenyum dan kembali duduk di meja kerjanya, dia begitu tidak fokus apa yang di kerjakannya. Terlintas di pikiran Rania wajah Renata. Di dalam hatinya berkata “Apa aku harus mengatakan kalau pernikahan ini sangat berat aku jalani, atau aku harus mempertahankan pernikahan tanpa di dasarkan cinta. Arg...nanti saja aku menemui Renata setelah sampai di rumah, aku berusaha membicarakan ini hanya empat mata saja tanpa Mas Fajar juga ikut.”
Beberapa jam kemudia, Rania begitu sangat gelisah pikirannya hanya inginbertemu dengan Renata. Dia meraih ponsel dan mengirimkan pesan kalau dia akan pulang sendiri. Dengan sigap dia langsung menaiki taksi sampai di depan Rumah.”