Renata menatap mata Fajar dan dia langsung berkata dengan mata yang berbinar-binar, “Iya mas aku bisa mengendalikannya asal kau bisa menikah dengan Rania dan mendapatkan apa yang membuat kita bahagia. Aku sangat sedih jika orang lain mengatakan kalau aku tidak bisa memiliki anak dan membahagiakan suami Huft ... ”
“Sudah sayang, jangan kau mengabaikan apa kata orang itu hanya membuat dirimu sakit saja, aku tahu yang membuat kau bahagia.”
“Apa itu?
“Kita memasak dan menghabiskan waktu kita berdua di rumah saja, kan tidak ada yang perlu kita persiapkan lagi, semua perlengkapan pernikahan sudah di atur oleh orang yang aku percaya.” Ucap Fajar kepada Renata.
“Hm ... baiklah kalau begitu asal kau bahagia saja jika melakukannya.”
Dan akhirnya tiba waktunya pernikahan yang di tunggu-tunggu, tubuh yang berbalut kan gaun pengantin, wajah yang sudah di rias begitu cantik membuat dia semakin tidak percaya, di dalam hati Rania berkata “Pernikahan yang di idam-idamkan semua wanita tetapi berbeda denganku menjalani pernikahan dengan sebuah pengorbanan, hidupku baru di mulai setelah seorang pria ingin menikahi aku dan harus membagikan cinta untuk dua orang wanita yang akan membuat dia bahagia.” Ucapan Rania yang begitu mendalam di dalam hatinya, saat ini merasa pasrah dan harus menjalani kehidupan baru yang sahabatnya inginkan.
“Rania, acara mau di mulai aku akan membawakanmu dan melangsungkan acaranya.” Ucap Renata.
“Renata, aku sangat gugup, aku takut.” Wajah Rania yang begitu kaku.
“Sudah, tenang saja aku banya berharap padamu, jadi jangan mengecewakan aku sekarang aku mohon Rania kau pasti bisa menjalankannya.” Ucap Renata kepada Rania yang dari tadi tidak tahu harus berkata apa-apa kepadanya saat ini.
Acara yang berlangsung saat itu juga Rania yang sedang duduk di samping Fajar, tatapan Fajar kepada Rania yang begitu kosong dia merasa sedikit ketegangan diantara mereka berdua. Saat Fajar mengucapkan ijab kabul di depan penghulu membuat Rania merasa berdesir darah yang mengalir dengan kencang tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan demi melanjutkannya.
SAH!!! teriakkan semua orang saat Ijab kabul itu berlangsung tidak pernah dia berpikir kalau semua yang dia lakukan hanya membuat Rania terkejut dan masih tidak menyangka akhirnya pernikahan ini lancar begitu saja. Di dalam hati Rania berkata “Akhirnya aku sekarang sudah sah menjadi istri kedua dan aku siap untuk mendapatkan setengah kebahagiaan itu, aku merelakan semuanya demi orang yang aku sayang, mulai hari ini aku sudah siap memulai melaksanakan kewajibanku sebagai istri, dan harus siap melayani suami lahir dan batin.
Setelah acara selesai, Renata memeluk Rania dengan air mata yang mengalir dan dia berkata “Rania, terima kasih sudah mau meneriman nya, akhirnya kita bisa bersama-sama dan jangan khawatirkan semuanya yang aku harapkan hanya kau bisa menjalani kewajibanmu menjadi istri sah juga. Aku tahu di dalam hatimu begitu keberatan dan terpaksa. Tapi harapanku ada padamu Rania.” Renata memeluk erat tubuh Rania dan membuat semua menjadi sedih, Fajar yang berada di sana pun menangis dan dia berkata di dalam hati, “Begitu dalam persahabatan mereka, seperti orang tidak akan terpisahkan, aku berharap aku bisa menjadikan kedua istriku bahagia selalu tanpa berpikir panjang lagi semuanya akan berjalan dengan tenang.”
Renata berkata kepada Fajar dengan wajah yang sangat manja, “Mas, malam ini aku tahu kita tidak bisa tidur bersama dan aku harap juga kau bisa memperlakukan adil kepadanya jangan menganggap kalau kau memiliki istri hanya satu saja.”
“Tapi, malam ini aku ingin menghabiskan waktuku untukmu saja.” Ucap Fajar kepada Renata dengan wajah manja nya.
Renata tersenyum kepadanya, “Apa gunanya kau menikahinya kalau kau hanya ingin tidur bersamaku saja, kau pikir baik-baik apa perasaan seorang wanita saat dia menikah tetapi suaminya tidak ada berada di sampingnya, itu sangat sakit dan sedih, kalau berada di posisi Rania aku akan menangis dan menyesali pernikahan ini. Perlakukan dengan adil dia, berjanjilah kepadaku tujuan kita ingin memiliki anak yang di idamkan, dan dia juga istri sahmu bukan orang lain yang kita ambil di luar.”
“Tapi sayang...”
“Tidak ada tapi-tapi, aku hanya berharap kalau kau bisa menyelamatkan kebahagiaan kita juga, jangan menganggap sebuah pernikahan hanya main-main saja, mulai lah mencintainya dan mulai lah menganggap dia sebagai istri yang akan mengurusmu tua nanti, seperti kau menganggap aku ini apa sekarang.”
“Iya aku akan melakukan demi kau Renata, aku berusaha menjadi seorang suaminya yang sangat baik dan adil, kalau begitu aku malam ini akan tidur bersama Rania, tapi maafkan aku Renata aku sudah menjadi suamimu yang sangat gagal.” Ucap Fajar kepada Renata sambil mengecup dahinya dengan lembut sekali.
Dia langsung berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari kamar Renata, Fajar berusaha untuk menenangkan pikiran agar semuanya di anggap biasa saja, saat itu juga Rania yang baru saja selesai mandi mendengarkan ketukan pintu dari luar, segera dia memakai pakaiannya, saat membuka pintu dia harus berhadapan dengan seorang pria yang sampai sekarang sama sekali tidak memiliki perasaan yang mendalam.
“Hah... Tuan Fajar, masuk saja jangan berdiri di luar saja.” Ucap Rania kepada Fajar.
“Hm... iya aku memang mau masuk.” Ucap Fajar dengan sikap dingin nya.
Rania berusaha membuat suasana cair begitu saja, tidak ada satu pun yang bisa di lakukannya lagi, tidak ada yang bisa Rania ucapkan hanya ingin mengatakan, “Tuan mau tidur?”
“Eh... mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, aku risih mendengarkannya panggil saja aku seperti Renata memanggilku, aku dari awal tidak menyukai panggilan yang terlalu membuat aku semakin tidak ada saja.”
“Hm... iya maaf Tuan... eh... maksudnya mas Fajar, jika ingin beristirahat silahkan, aku masih belum mengantuk juga. Mas, Renata sudah tidur belum? Aku ingin mengobrol dengannya kalau begitu aku ke kamarnya saja ya.” Ucap Rania sambil beranjak dari tempat tidur.
Tiba-tiba Fajar menarik tangan Rania dan dia berkata dengan tenang. “Hm... jangan ganggu dia lagi, dia sangat lelah dia sudah tidur tadi, sekarang kau lakukan apa yang seharusnya kau lakukan kepadaku. Jangan mengalihkan pembicaraan ini.”
“Maksudnya bagaimana Mas? Melakukan apa?” Tanya Rania yang bgitu bingung sampai sekarang menghadapi Fajar.
“Aduh... aku bingung mengatakannya, sekarang begini saja, aku tidak maau kau nanti hanya membuat dirimu saja terpaksa melakukannya, jika kau malam ini tidak ingin melakukannya aku terima saja.”
Rania baru menyadari apa yang di maksud oleh Fajar dan dia langsung berkata “Oo... ya sudah lakukan saja, aku tidak ingin Renata kecewa dan tujuan kita menikah saja untuk membuat Renata bahagia, bukan begitu?”