“Jadi aku harap kita bisa bersama-sama menjalankan kehidupan yang baru ini.”
Dikantor Tuan Fajar seperti orang yang tidak fokus dalam bekerja, membuat Sekretarisnya kebingungan apa yang telah terjadi pada diri bosnya. “Tuan, kenapa hari ini seperti tidak fokus, apakah anda sedang tidak enak badan?”
“Tidak apa-apa, jangan di pedulikan. Maaf aku tidak bisa fokus hari ini saya harap kau bisa membantu aku menyelesaikan laporan yang kita buat ini, jika ada kesulitan tahu saya, kalau begitu kau boleh keluar dari ruanganku. ” Jelas Fajar dengan wajah murungnya.
Sekretaris itu langsung meninggalkannya dan Fajar merebahkan tubuhnya di sofa ruangannya, di dalam hatinya merutuk “Apa yang harus aku lakukan jika memang Rania sahabat istriku mau menjadi yang ke dua, aku tidak tahu harus memperlakukan mereka berdua bagaimana. Saat ini yang ada hanya penyesalan. Renata aku mencintaimu, tidak ada yang bisa membuat aku bahagia selain dirimu. Aku tidak mau menyakitimu. Argh... kenapa ini harus terjadi, membuat aku gila saja karena hal ini. Aku harus membicarakan semua ini kepada Renata kalau aku tidak ingin melakukannya apa yang dia inginkan saat ini.
Fajar langsung segera pulang dan menancapkan gas agar sampai di rumah segera juga. Sesampainya dia di rumah dia melihat wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia lalu hatinya mengurungkan niat untuk mengatakan ini kepada istrinya, tidak tega dia rasakan saat ini.
“Sayang...”
“Iya sayang.”
“Aku bahagia sekali hari ini, aku sudah menemui Rania, akhirnya dia menyetujui semuanya, aku sangat bahagia sekali.” Ucap Renata sambil menjelaskan kepada Fajar suaminya,
Fajar terdiam sejenak tidak bisa berbicara apa-apa kepada Renata, dia hanya tersenyum dan membalas pelukkan istrinya, di dalam hatinya berkata, “Ya Tuhan seharusnya aku bisa membatalkannya, saat melihat wajah Renata begini hatiku semakin lulu saja tidak tahu harus berkata apa lagi kepadanya saat ini, semoga saja aku bisa menjalani semuanya, Renata aku mencintaimu tidak ada yang bisa menggantikan dirimu di hatiku saat ini.
“Mas...”
“Ha! Iya sayang kenapa?”
“Kamu kenapa melamun saja, besok kita akan menemui Rania untuk membicarakan ini lagi bagaimana mas?”
“Iya Renata, kamu atur saja pertemuan besok ya, aku ikut saja jangan menganggap aku menghalangkan dirimu.” Ucap Fajar sambil memasangkan senyuman yang membuat Renata senang.
Rania yang masih menggalaukan semuanya sampai dia ingin menemui ibunya hanya dia tidak membuat ibunya terbebani apa yang sudah terjadi padanya, menurutnya hanya membuat memperburuk suasana saja. Tidak ada yang bisa di lakukannya lagi saat ini menurutnya hanya Renata yang akan menjadikan kebahagiaan di keluarganya nanti, biarkan aku hidupku dan perasaanku saat ini. Saat Rania ingin terpejam dia mendengarkan ponselnya yang sedang berdering, ternyata itu Renata dan dia mengangkatnya, “Iya Renata ada apa malam-malam telepon?”
"Aku mau kau bertemu dengan Mas Fajar besok malam saat kau selesai pulang kerja, tenang aku akan menjemputmu terlebih dahulu, kemungkinan mas Fajar menyusul kita berdua di tempat biasanya ya, jangan lupa besok pokoknya kamu kosongkan waktumu sebentar saja, soalnya ini sangat penting untuk kita bertiga Rania. ”
"Baiklah Renata, sampai jumpa besok malam." Ucap Rania langsung mematikan teleponnya.
"Huft ... dan ternyata akan berakhir juga di sini, semoga saja aku bisa tenang saat bertemu dengan Tuan Fajar, perasaan ini sangat tidak menentu aku juga kau tidak mengerti saat ini apa yang telah terjadi padanya saat ini juga aku bersama dengan nya untuk membahagiakan keluarga dan Renata sahabatku yang sangat membutuhkan aku. Sudahlah, sepertinya aku harus tidur hari ini sangat penat, dan besok paginya aku bisa segar kembali. Rania terus mengeluh di hatinya yang tidak pernah merasakan dirinya menjadi sebuah bencana dalam rumah tangga sahabatnya sendiri." Ucap Rania di dalam hatinya
Di tempat lain Renata yang sedang merasa sedikit kelegaan di dalam hatinya, “Mas, terima kasih ya.”
“Iya sayang, aku harap kau bisa mengerti juga perasaanku saat ini, jangan salahkan aku jika aku terkadang khilaf, yang ada nanti aku akan menyakitimu yang sudah merasakan kenyamanan.”
“Mas, jangan berbicara begitu aku tidak bisa mengerti maksudmu apa saat ini, aku harap kau ikhlas menerimanya, jangan pernah menganggap aku tidak melakukan apa-apa. Aku sekarang bisa mengikhlaskan cinta mu di bagikan kepada orang lain, yang terpenting kau bisa mendapatkan anak dari darah dagingmu sendiri, dan aku juga bisa mengasuhnya, semoga itu menjadi pemancing aku untuk mendapat anak juga.” Jelas Renata kepada Fajar.
Fajar mengecup bibir Renata dengan lembut begitu dia merasa sedikit bergetar saat kecupan itu dia lakukan, “Renata, aku ingin malam ini.”
Renata terkekeh melihat tingkah manja Fajar yang seperti anak kecil meminta sesuatu, tiba-tiba Renata langsung mengecup kembali bibir Renata, begitu dalam rasa cinta Fajar kepada Renata yang selalu menjadi yang terbaik untuknya saat ini.
“Sayang ... apa kau tidak menginginkan nya cepatlah.” Ucap Fajar.
“Mas, kau kenapa begitu begitu begitu begitu tidak biasanya agresif sekali hahaha…” Ucap Renata sambil tertawa kecil memandangi wajah Fajar.
Fajar langsung menarik pakaian Renata sampai terlihat gunung kembarnya yang sangat menggairahkan. Di remat nya secara berulang kali sampai desahan Renata keluar dari mulutnya. ”Mas… Ehmm… jangan lakukan itu berulang kali.”
Sesampainya dia di rumah Rania, dan mereka berdua duduk sambil menunggu Ibu Rania keluar.
“Wah... Nak Renata sudah datang dari tadi ibu sudah menunggu, ada apa Nak? Sepertinya sangat penting yang akan di bicarakan.
“Ibu perkenalkan ini Fajar teman saya, bermaksud datang untuk melamar Rania, apakah ibu menerimanya?”
Setelah pertemuan dengan ibunya dan akhirnya mereka pulang dan membicarakan perlengkapan yang akan di implementasikan beberapa hari lagi, perjalanan pulang Renata berkata dengan singkat,
“Sayang ... maaf ya aku begitu kepada Ibu Rania, soalnya aku sudah berbicara kepada Rania nya untuk tidak membicarakan pernikahan ini kalau dia menjadi istri kedua dari suamiku. Kasihan ibunya yang sudah tua jika tidak menerima pernikahan yang telah kira rencanakan. ”
“Iya aku juga bingung harus mengatakan apa lagi tadi, karena kau tidak menjelaskan apa yang ingin di lakukan sekarang, semuanya aku serahkan kepadamu jangan sampai ada yang tahu rencana yang kau buat termasuk kedua orang tua kita.” Ucap Fajar yang menjelaskan kepada istrinya.