Renata sambil memegang tangan Rania sambil memasangkan wajah yang sangat iba dan dia berkata dengan tenang. “Aku meminta tolong kepadamu terimalah kau menjadi istri kedua suamiku, aku tahu aku tidak memiliki anak, aku hanya ingin suamiku bahagia memiliki anak itu saja. Aku mohon Rania aku sangat percaya kepadamu. Tidak ada satu pun orang yang aku percaya saat ini selain dirimu. Aku ikhlas merelakan suamiku untuk dia bisa bahagia. ”
“Renata! Kau sudah gila! Aku ini sahabatmu. Tidak aku tidak mau kalau aku akan menjadi orang ketiga di rumah tangga kalian, sudah Renata kau jangan meminta tolong kepadaku. Aku mohon! ”
“Aku mohon Renata sekarang kau bisa mendapatkan yang terbaik untuk keluargamu, aku janji akan memberikan semuanya kepadamu asal kau mau menerimanya.”
“Ya ... ampun kenapa kau begitu Renata?”
"Hanya kau wanita yang cocok menjadi istri suamiku. Kita akan berbagi Rania! Asal kau dan aku sama-sama berusaha ikhlas."
Rania masih tidak bisa berpikir apa yang telah di putuskan oleh Renata sahabatnya, menurut dia itu hanya membuat dia sakit saja.
Rania menenangkan dirinya dan berusaha untuk berpikir, Ayo ... Rania, dia sahabatmu. Aku sangat tidak bisa melihat di memohon seperti ini, aku tidak yakin jika pernikahan ini akan membuat diriku bahagia nanti.
“Rania, mohon kabulkan permintaanku, terimalah ini. Aku akan membuat kau bahagia dan mas fajar akan adil kepada kita, jangan takut. ”
Rania masih berpikir dan dia meminta maaf kepada Renata untuk memberikannya waktu berpikir dan mengiyakan pintanya.
Dering telepon dari Renata menghantui Rania, dia tidak menahan perasaan ini. Beberapa banyak pesan yang masuk di ponselnya masih saja tetap tidak mau dia mengangkatnya. Dia membayangkan apa yang telah diucapkan oleh Renata waktu itu, Aku harus memberikan perasaanku untuk keluargaku, mereka semua membutuhkan biaya yang sangat besar, kedua orang tuaku semakin hari semakin tua apa aku harus menerima permintaan Renata yang sangat gila itu? "Ucap Rania di dalam begitu dia gundah.
Suasana di rumah Renata, dia berusaha untuk membicarakan ini kepada suaminya, "Mas Fajar, kau kenapa hanya murung saja."
"Tidak apa-apa sayang." Ucap Fajar yang berusaha tersenyum di depan suaminya yang tercinta.
"Hm ... kemarin aku sudah menemui Rania, aku berusaha untuk membicarakan hal ini kepadanya, tetapi dia meminta kepadaku untuk mempertimbangkan waktu untuk berpikir, aku tahu kalau dia masih belum menerima apa yang aku katakan ini, hanya saja semua yang diinginkan Rania memiliki pernikahan di dasarkan cinta bukan keterpaksaan, aku menonton dia untuk segera menerimanya. "
"Sayang, semua wanita tidak mau menjadi yang kedua. Aku mengerti perasaan Rania itu bagaimana dia hanya takut nanti aku akan tidak memperlakukan dia dengan adil. Aku dan dia tidak memiliki perasaan makanya untuk menerima saja dia tidak mau." Jelas Fajar kepada Renata
"Aku yakin Rania mau menerimanya dengan cara apa pun dia mau membantuku mas, aku sangat percaya kepada Rania hanya dia yang bisa aku percayai selama pertemanan ini." Ucap Renata berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Iya terserah kamu sekarang, kalau itu membuat dirimu membaik." Ucap Fajar yang sudah pasrah kepada istrinya.
Saat Fajar sudah pergi ke kantor dia masih gelisah sampai sekarang belum dapat kabar dari Rania, dia tidak ambil pusing lagi langsung pergi meninggalkan rumah langsung pergi menemui Rania. Sesuai alamat yang pernah Rania berikan, dia sudah menemukan alamat itu. Tok ... Tok ... "Renata pintu dan dia bertemu dengan Ibunya Rania dan dia berkata" Hallo Ibu, ini aku Renata. Ibu masih ingat? "
"Renata ... ibu kira siapa tadi, ayo masuk dulu ke dalam. Rania sedang bekerja mungkin siang nanti dia akan pulang mau menunggu di sini lama?"
"Tidak apa-apa Ibu, aku masih mau menunggunya di sini."
"Iya baiklah Nak."
Beberapa jam Renata menunggu Rania di dalam kamar dia menemukan sebuah buku harian yang berada di meja kerja Rania, wanita itu meneteskan air matanya saat kata-kata yang di tulis oleh Rania. Dia menyadari kalau Rania menjalani hidup yang tidak seperti orang lain. Renata semakin bersemangat untuk membuat Rania semakin bahagia menjalankannya, hanya Renata yang dapat membantu dia dalam perekonomian keluarganya.
Terdengar suara pintu, ternyata Rania yang sudah pulang langsung membuka pintu. Dia melihat sosok wanita yang terduduk, "Renata!" Ucap Rania dengan sedikit terkejut.
"Hai... aku meneleponmu dari tadi, tapi kau tidak mengangkatnya, tidak berpikir panjang aku langsung ke rumahmu saja. Aku ingin menanyakan permasalahan kemarin, aku meminta pertolongan kepadamu dan aku akan membantumu Rania. Aku mohon..."
Rania terdiam sejenak memandangi wajah Renata yang selalu memelas kepadanya lalu dia berkata "Iya Renata aku bersedia, asalkan kau bisa bahagia dan memiliki anak yang kau inginkan. tapi satu hal yang aku pinta. Jangan sampai keluarga aku tahu terutama Ibuku.
Beberapa jam Renata menunggu Rania di dalam kamar dia menemukan sebuah buku harian yang berada di meja kerja Rania, wanita itu meneteskan air matanya saat kata-kata yang di tulis oleh Rania. Dia menyadari kalau Rania menjalani hidup yang tidak seperti orang lain. Renata semakin bersemangat untuk membuat Rania semakin bahagia menjalankannya, hanya Renata yang dapat membantu dia dalam perekonomian keluarganya.
Terdengar suara pintu, ternyata Rania yang sudah pulang langsung membuka pintu. Dia melihat sosok wanita yang terduduk wajahnyai wajahnya, "Renata!" Ucap Rania dengan sedikit terkejut.
"Hai ... aku meneleponmu dari tadi, tapi kau tidak mengangkatnya, tidak berpikir panjang aku ke rumahmu saja. Aku ingin menanyakan permasalahan kemarin, aku meminta pertolongan kepadamu dan aku akan membantumu Rania. Aku mohon ..."
Rania terdiam memandangi wajah Renata yang selalu memelas kepadanya lalu berkata "Iya Renata aku bersedia, asalkan kau bisa bahagia dan memiliki anak yang kau inginkan. Tapi satu hal yang aku pinta. Jangan sampai keluarga aku tahu terutama Ibuku.
“Serius Rania? Pastinya aku akan menjaganya rahasia,”
“Iya, jika itu membuat kau senang sekarang, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, jangan membuat orang tua aku akan menjadi pikiran jika tahu kalau aku menikah dengan pasangan sahabatku sendiri saat ini, memang aku merasakan kalau kau tidak pernah memperlakukan aku seperti orang yang sangat jahat, Renata berjanjilah kepadaku! ”
“Iya Rania aku, kepadamu, tenang aku akan merahasiakan ini kepada ibu sementara, suatu saat nanti sudah datang waktu yang tepat aku ingin mengatakan kepada ibumu kalau kau sangat berjasa dalam kebahagiaan hidupku.” Ucap Renata yang langsung menerapkan tubuh Rania.