Fajar melihat jam yang melingkar di tangannya dan dia langsung berkata “Sudah ya sayang aku tidak ingin mendebatkan masalah ini, aku harus pergi ke kantor nanti aku telat, Bye... sayang, sampai ketemu nanti malam.”
“Mas...” teriakkan Renata.
Fajar langsung mencium kening Renata dengan lembut dan segera masuk ke dalam mobil.
Huft ... aku tidak tahu lagi caranya, Jika memang dia tidak mau mencari wanita itu, akan aku usahakan mencari yang tepat untuk mas Fajar. Aku tahu dia tidak ingin mengkhianati cinta ini, tetapi aku ingin dia bahagia memiliki anak dari darah dagingnya makanya aku ingin sekali mendapatkannya. Pokoknya aku harus merelakan semuanya demi kebahagiannya.
Renata yang sedang duduk di safo sambil menunggu Fajar pulang, tetapi dia masih ingin membicarakan soal tadi pagi.
Tok ... tokk ...
“Sayang ... aku pulang.”
Kenapa malam sekali pulangnya?
“Iya hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesai, agar besok aku bisa rapat dengan tenang, maaf aku tidak mengabarimu tadi, memang tidak sempat memegang ponsel.” Jelas Fajar kepada Renata.
Renata sepatu suaminya, dengan sigap dia mempersiapkan air panas untuk Fajar mandi tidak di sangka Renata selalu ingin melakukan agar Fajar selalu nyaman dengannya. Menjadi istri yang terbaik untuk suaminya.
“Jika kamu sudah selesai, nanti kita akan makan bersama.” Ucap Renata.
“Baiklah, tunggu aku selesai membersihkan tubuh ini.”
Renata telah selesai membereskan semuanya dan mempersiapkan yang telah dia buat malam ini, hampir 30 menit Renata menunggu, tidak lama Fajar datang makanan dari belakang dan dia berkata “Sayang .... aku selesai. Waah ... makanannya banyak sekali pasti semuanya enak. Aku akan menyantap semuanya
“Waah ... kamu tidak makan di kantor tadi, sampai mau menghabiskan makanan yang aku buat ini.”
“Iya aku belum makan dari siang karena sibuknya, sekarang aku sangat lapar Renata.”
“Iya sudah ayo kita makan bersama.”
Fajar tersenyum melihat Renata senang saat semua makanannya dia buat untuk suaminya, di dalam hati Fajar berkata sambil mengambil satu persatu makanannya, “Huft ... aku sangat kasihan melihat dia sudah lelah menyiapkan makanan khusus untukku saja, jika aku katakan sudah makan betapa hancur dirinya. Jadi demi kau Renata aku akan menghabiskannya. Aku tidak ingin kau akan kecewa kepadaku saat ini.
“Mas ... kenapa kamu melamun saja?”
“Hm ... tidak-tidak ayo kita makan lagi jangan pikir apa-apa.”
Baiklah mas.
Setelah makan malam, Renata membereskan semuanya, Fajar yang sudah tidak ada lagi kegiatan dia terbaring sambil memegang ponselnya dan dia pun berkata kepada Renata istrinya, “Sayang ... jangan terlalu lelah mari bersantai dulu, seharian ini kau hanya menghabiskan waktu untuk bekerja di rumah. ”
“Iya mas, ini aku sudah selesai dan langsung ingin tidur dan menunggu kamu.”
“Waah ... jangan kau bilang malam ini kau ingin melakukannya lagi? Kalau aku sih mau saja hehe ... ”
“Hahaa ... itu maumu mas.”
Fajar mengecup bibir Renata di lumatnya dengan penuh nafsu, sampai tidak bisa lepas dari buah d**a Renata, wanita itu rilis lumatan dan berkata “Mas ... soal tadi ...”
“Soal apa sayang?” Tanya Fajar.
“Mas aku ingin kamu bahagia, tidak ingin kamu seperti ini. Kabulkan permintaanku hanya satu ini menikahlah dengan wanita lain agar kamu bisa mendapatkan anak dari darah dagingmu. ”
Fajar membulatkan matanya dan langsung duduk kembali, “Renata! Aku sudah katakan kalau tidak mau! Aku hanya mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, seharusnya kau mengerti apa yang aku rasakan. Aku tidak ingin menyakitimu jika aku menikah aku takut tidak akan menjadi adil. Agh ... Renata kau membuat pilihan yang sangat aku benci, jangan kau Anggap kebahagiaan itu anak saja, tidak! Jika kita saling melengkapi kebahagiaan itu akan menyusul. ”
Air mata renata menetes dia menangis dan berkata “Aku mohon mas! Aku juga mencintaimu, jangan kau marah dulu. ”
“Renata, maafkan aku ... aku tidak mau menyakitimu. Belum tentu wanita yang akan aku nikahi itu baik kepadamu dan mau berbagi. Tolong Renata jangan membuat masalah.
“Mas aku tidak membuat masalah! Aku serius, aku sangat ikhlas apa yang membuatmu bahagia akan lakukan. ”
“Terserah! Aku ingin istirahat capek membahas ini saja. Fajar langsung terbaring dan mengacuhkan Renata.
Besok paginya Fajar sama sekali tidak ingin berbicara kepada Renata, berusaha Renata untuk mengajaknya mengobrol tetapi yang dukung hanya diam saja. Berhari-hari Renata tidak di acuhkan oleh suaminya pada malam itu juga Renata langsung menerapkan tubuh Fajar dengan kuat.
“Mas, maafkan aku ... betapa aku resah saat kau diam begitu, aku hanya ingin pernikahan kita berjalan harmonis, jauh di pikiranku untuk membuatmu sakit. Aku sudah mengikhlaskan semuanya berbagi kasih dengan wanita lain asal kau bisa bahagia mas. Aku mohon permintaanku satu ini saja, selama pernikahan kau ingin sekali anak tetapi aku tidak pernah mengabulkannya sekarang aku akan mengabulkannya dengan kau bisa menikah dan memiliki anak dari rahim wanita lain. ”
Fajar terdiam sebentar dia berpikir keras lalu dia kembali mendekap tubuh Renata dan berkata “Sayang ... jika itu membuatmu bahagia, aku memang akan berusaha menerimanya. Aku akan serahkan kepadamu siapa pun itu wanitanya. Tapi kau perlu ingat, aku hanya mencintaimu dan aku hanya untuk memiliki anak dan lainnya aku tidak tahu bagaimana lagi. ”
Renata tersenyum saat kebijakan Fajar itu, lalu dia berkata, “Jangan kau telantarkan wanita itu, dia akan menjadi tanggung jawabmu.”
“Hm ... akan aku usahakan demi kau Renata.”
Malam itu Renata bingung mencari siapa yang tepat untuk menjadi istri untuk suaminya, dia berpikir dengan keras. Di bayangannya hanya terlintas wajah RANIA sahabatnya itu, “Mas ... aku ada calon untukmu.”
“Siapa?”
“RANIA!”
“Rania? Sahabatmu itu? ”
“Iya mas, sepertinya hanya dia yang cocok. Aku sudah tahu siapa dia. Jadi aku tidak perlu-perlu lagi mencari berlama-lama. ”
“Yang benar saja Renata, tidak! Tidak! Dia sahabatmu. ”
Renata tersenyum dan berusaha meyakinkan hati suaminnya dan akhirnya Fajar mengiyakan dengan wajah udah. Fajar yang melihat wajah Renata begitu bahagia di situlah dia merasa luluh lagi dan mengikuti apa yang diinginkan Renata.
Mereka berdua merencanakan untuk bertemu dengan Rania keesokkan harinya.
Singkat cerita Rania menunggu Renata di sebuah restoran.
“Hay ... Kenapa mendadak sekali menghubungi aku, apa yang mau di bicarakan?”
“Hm .. begini Rania, aku minta tolong kamu, aku sangat percaya denganmu tidak tahu aku siapa lagi yang akan aku cari untuk menjadi istri untuk suamiku.”
"Ha! Maksudnya Renata? Jelaskan kepadaku.”