Liam, Ayyana, Isyana

1006 Words

Duduk di balkon kamar dengan suasana temaram tanpa penerangan, pria yang baru saja sampai dari tempatnya mengalihkan harap itu, menatap rembulan yang malam ini terlihat hangat. Ingin sekali ia dekap dengan rasa yang tiba-tiba mencuat. Namun itu tetap tak akan menghapus dosa-dosa yang telah tertambat sedemikian dasyat hingga membuat semuanya cacat. Malam ini, ia merindukannya. Merindukan wanita pun sang putra yang selalu menghangatkan jiwa tiap kali sepulang bekerja namun kali ini hanya sepi yang melanda. Untuk sebuah rasa sesal, Liam telah mengalaminya. Pun merasakan rasa sesak begitu mendalam hingga menikam jantung pun sendi-sendi yang ada di tubuhnya. Apa yang dikatakan sang Ibu dulu adalah benar adanya jika ia akan menyesal jika tak memedulikan apa yang dikatakan. Namun, nasi telah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD