Senyap tak melulu mencipta sepi. Begitu pun dengan ramai yang tak selalu mampu membunuh sunyi. Ya … seperti saat ini. Meski mereka berdua masih terdiam dengan pikiran kusut yang sesekali terdengar helaan napas berat keduanya. Sisa air mata yang sedari tadi menganak sungai, sudah hilang berganti dengan dataran yang mengering. “Aku … maafkan,” ucap Ayyana terdengar tenang namun rautnya masih diliputi dengan hawa sendu yang berkepanjangan. “Aku memaafkanmu, Mas. Dengan tulus,” sambungnya lagi. Liam menatap Ayyana dengan pandangan yang sulit terbaca dan mengangguk. “Terima kasih.” Tangannya yang sedari tadi telah menggenggam tangan Ayyana beralih menarik tubuh Ayyana agar bisa memeluk dengan erat. Ya. Mereka saat ini merebahkan diri di kasur kamar mereka. “Aku juga tak meminta jaminan. Ka

