Januari yang Dingin

3992 Words
Aku masih berada pada situasi yang sama. Duduk berhadapan dengan Davin. Sang mimpi buruk yang datang dari masa silamku. Tidak banyak perubahan yang signifikan darinya. Penampakkannya masih sama seperti dulu sejak terakhir kali aku melihatnya. Potongan rambutnya pun tidak berubah. Terlebih lagi senyumannya untukku masih tetap sama. Senyuman manis yang kini menjadi racun bagiku jika terlalu lama dipandang. Beberapa saat setelah kedatangannnya, aku lebih menghabiskan waktu bersama ponselku, tak menghiraukan keberadaannya. Bahkan beberapa kata sapaan yang terucap dari mulutnya kuabaikan begitu saja. Namun pada akhirnya kuhentikan tingkah konyolku itu dan memilih untuk menatapnya. Lebih tepatnya menunggunya untuk memulai percakapan. Dia terlihat gugup. Sesekali melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian berdehem sebentar. "Kau sedang kencan dengan seseorang?" tanyanya. Aku hanya diam sambil menatapnya. Tak lupa menghirup aroma pangsit ayam yang berada di antara kami. Berharap yang berada di depanku ini adalah Bryan. Setidaknya jika yang berada di depanku ini adalah Bryan, aku tidak perlu untuk was-was seperti sekarang. "Apa aku mengganggumu?" Davin menatapku penuh selidik. Tak ada satupun jawaban yang terucap dari bibirku. Aku masih menatapnya. Berbicara dalam diam, seolah dia memiliki kemampuan untuk bertelepati. Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Untuk apa dia datang lagi? Dan kurasa dia benar-benar memiliki kemampuan itu. Tiba-tiba saja dia berucap, "Aku tadi sedang ingin membeli makanan, lalu tak sengaja melihatmu. Awalnya aku ragu bahwa itu adalah kau, Syera. Namun sekarang aku yakin aku tidak salah orang." Dia terkekeh sesaat sambil memainkan ponselnya yang ia letakkan di atas meja, lalu kembali menatapku. "Bagaimana keadaanmu? Kau tahu kan, kita sudah lama tidak bertemu." Ya. Sudah terlalu lama. Aku masih terdiam sambil menatapnya, sementara dia menghela napas. Menatapku kecewa karna aku tidak menjawab pertanyaannya. "Kau baik-baik saja, kan?" Ingin rasanya menjawab bahwa keadaanku cukup baik untuk tidak bertemu dengannya lagi. Namun aku memilih untuk mengambil waktu beberapa saat. Mencoba menahan perasaanku untuk tidak memarahinya, juga menyembunyikan rasa canggung yang kumiliki. Aku lalu berujar dengan pelan, "Aku baik-baik saja ... Dave." Jantungku berdegup secara tidak normal saat kusebutkan namanya. Seolah dipaksa untuk merajamnya dengan berbagai perkataan ketus yang seharusnya kukatakan belasan tahun yang lalu. Dalam ingatanku, nama itu pernah merebut hatiku, memberi kehangatan di sana, lalu berbalik mempermainkannya, menghancurkannya berkeping-keping, dan meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Cinta pertama yang menyedihkan. "Aku mengenalmu cukup lama, Syera. Kau tidak bisa membohongiku." Dia tertawa. Tawa yang sangat canggung. "Ada apa denganmu? Apa kau punya masalah?" "Kau seharusnya telah melupakan namaku." "Mana mungkin? Aku bahkan masih mengingat semua tentangmu dengan sangat baik." Aku tersenyum masam. Ragu untuk percaya pada perkataannya. "Apa kau tahu, SMP Fernseea akan mengadakan acara reuni khusus untuk angkatan kita di bulan April nanti?" Tambahnya. "Ya." "Apa kau akan datang ke sana?" Dia bergumam sejenak, "Mungkin kita bisa pergi bersama. Itupun jika kau mau." Kualihkan pandanganku ke lain arah. Sama sekali bukan urusannya. Aku bahkan belum memikirkan tentang reuni itu. Aku juga tidak berharap dapat pergi bersama dengan Davin. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Tambahnya lagi dengan dahi yang mengerut, namun masih tetap tersenyum. Pandanganku beralih dari posisinya, lalu menatap manik cokelat miliknya. Ingin menegaskan padanya bahwa aku sangat terganggu dengan kehadirannya. "Lalu bagaimana denganmu yang tidak pernah menjawab pertanyaanku?" Aku langsung menuju pada pertanyaan yang sudah lama tertahan di mulutku. Sebuah pertanyaan sederhana yang tak pernah dijawabnya hingga belasan tahun berlalu. Dadaku sesak, tertumpu oleh ribuan emosi yang siap meledak kapan saja. Memori yang sudah lama menghilang, perlahan terputar kembali. Davin tidak lagi tersenyum. Matanya tidak lagi menatapku. Dari ekspresi yang ditunjukkannya, aku yakin dia pasti telah mengingat kepingan masa lalu kami yang sekarang tengah kuungkit. "Aku sebenarnya tidak menginginkan semua ini terjadi. Namun Syera ...," Ada jeda yang cukup lama sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Aku akan menikah dengan Ramona, 9 Januari nanti." Aku tak bereaksi apa-apa. Pandanganku masih menatapnya. Tidak. Aku menatap jaket kulit berwarna cokelat yang tengah dikenakannya, sementara pikiranku berkelana menuju masa lalu. Jadi, dia masih bersama dengan nama itu? "Kau tahu, aku tidak yakin bahwa aku bisa tanpamu. Kau mungkin melihatku bersama Ramona, namun hatiku tetap untukmu, Syera. Banyak wanita yang kudekati, tapi pilihanku tetap padamu bahkan setelah belasan tahun ini." Aku tersenyum masam. Menatapnya dengan salah satu alis yang terangkat. "Apa kau selalu seperti ini? Mendekati semua wanita dalam waktu yang bersamaan dan berkata bahwa kau tidak bisa hidup tanpa mereka?" "Syera, aku ...," Aku menyela perkataannya. "Kau bahkan tidak mengatakan apa-apa saat kau meninggalkanku. Aku seperti orang asing di matamu. Dan sekarang ...," aku tertawa getir, "kita sudah lama selesai,” ucapku dengan tegas. Davin menggeleng. Menghela napas panjang, lalu berujar, "Tidak, Syera. Kita masih belum selesai. Kau tidak bisa mengakhiri suatu hubungan dengan sebelah pihak." Ia tersenyum kecil. Ia tahu betul. Bahkan sangat tahu. Kami hanya berpisah. Tanpa ada sepatah kata pun. Namun selama ini dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia bahkan dengan mudah mengencani gadis lain beberapa hari setelah kami berpisah. Dia juga tak pernah menemuiku atau mengungkit apapun mengenai ini. Apakah sekarang menggunakan alasan itu sebagai salah satu cara untuk mendapatkanku kembali? "Aku tahu kau masih mencintaiku, Syera. Kita mungkin telah lama berpisah, namun kau ini masih berstatus sebagai ...," Aku sebenarnya tidak suka mengungkit masa lalu yang tidak ingin kubahas lagi. Tak suka mengingat kembali sesuatu yang seharusnya telah terkubur bertahun-tahun yang lalu. Namun perkataannya barusan membuatku geram. Ingin sekali menyiramnya dengan pangsit ayam. Apa perkataannya barusan adalah serius? Apa aku perlu mengingatkannya pada apa yang telah terjadi belasan tahun yang lalu antara kami? Aku kembali menyela perkataannya.  "Dulu aku mungkin adalah gadis bodoh yang selama satu tahun tidak ada artinya bagimu. Namun sekarang jika kau ingin bermain-main, maka kau berhadapan lawan yang salah." Dahiku mengerut, menatapnya tak percaya, bahkan sempat berharap, jika aku memiliki kemampuan sihir, aku tidak akan mengutuknya. Aku lebih memilih untuk membuat diriku menghilang dari hadapannya. Aku tidak pernah ingin berurusan dengan dia lagi. Seandainya tadi aku pergi bersama Bryan, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan pria menyebalkan ini. Aku menghela napas. Mencoba melanjutkan perkataanku, lalu berujar dengan pelan, "Apa kau punya gejala penyakit Demensia?" Davin menatapku dengan kebingungan. "Hari itu perayaan satu tahun kebersamaan kita. Kau memintaku untuk menunggumu di taman kota. Aku menunggumu selama tiga jam di sana, seperti orang bodoh. Aku memang sangat bodoh waktu itu. Kau tahu, jika saja hari itu Danvy tidak datang menemuiku, mungkin aku akan tetap menunggumu di sana. Aku menunggumu seorang diri di taman kota dalam keadaan hujan, sementara kau sedang berkencan dengan Ramona." Kutarik napasku dalam-dalam. Aku tidak boleh menangis di depannya, walau sebenarnya aku sangat benci mengungkit sesuatu yang telah kusimpan rapat. Aku hanya kasihan pada kebodohan yang kulakukan bertahun-tahun silam itu. "Hari itu kau sangat sulit untuk dihubungi. Namun akhirnya aku bisa menelponmu. Aku hanya mengutarakan semua yang kupendam darimu. Tentang rumor yang 90% dapat berubah menjadi kenyataan. Terkhususnya tentang kau dan Ramona. Dan seingatku aku hanya memberikanmu satu pertanyaan. Tapi kau tidak pernah menjawabnya." Davin menatapku nanar. Namun sama sekali tidak berniat untuk memotong ucapanku. "Aku hanya menanyakan apa kau ingin menyudahi semuanya atau tidak. Tetapi kau tidak pernah membalas perkataanku. Kau mengakhiri panggilanku. Kau lebih memilih bersama Ramona. Jadi kupikir kita memang telah selesai. Dan itu sudah cukup jelas!" Aku mencoba tersenyum dengan tulus padanya, walau kurasa senyumanku itu terlihat canggung. Karena sebenarnya aku menyesal harus menyebut nama itu. Nama yang menjadi sumber masalah dari segala masalah yang kumiliki dulu. Aku tidak pernah membencinya, aku hanya membenci sikapnya. Ramona Stephanie. Dia adalah mayoret terkenal di sekolahku dulu. SMP Fernseea era 2003 - 2005. Aku mungkin tidak akan pernah mengenalnya, jika saja dia tidak mengusik kehidupanku. Aku tak pernah tahu mengapa dia begitu membenciku. Awalnya aku mencoba bersabar dan tidak menanggapi segala hal yang dia lakukan. Namun dia selalu menguji kesabaranku. Dia selalu ingin menyabotase semua yang kumiliki. Dia merebut posisiku sebagai seorang mayoret, dengan memfitnahku sehingga aku dikeluarkan dari tim marching band. Dia juga selalu menyebar rumor tidak sedap mengenaiku, selalu ingin mengungguliku, dan akhirnya dia juga merebut Davin dariku. Saat itu aku selalu bersabar menghadapinya. Aku tidak pernah membalas perbuatannya. Bahkan aku menutup telingaku saat rumor mengenai kedekatannya dan Davin semakin menjadi-jadi. Namun sebisa apapun usahaku untuk berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetap saja selalu ada kekhawatiran yang menghantuiku. Bagaimana jika Ramona berhasil merebut Davin? Dan benar saja, 24 September 2004 menjadi saksinya. Davin meninggalkanku. "Syera ...," Ia mencoba menggenggam tanganku, namun segera kutepis tangannya. "Tolong, jangan bersikap seperti ini. Aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak ingin menikah dengan Ramona. Aku menginginkanmu kembali." Ia tersenyum pilu. Seolah kejadian belasan tahun yang lalu baru terjadi sekitar duabelas jam yang lalu. Dan dia benar-benar menyesal telah melakukannya. "Bukan urusanku, Dave," ujarku dengan datar. Aku seharusnya membencinya dan juga semua yang ia lakukan padaku belasan tahun yang lalu. Tidakkah itu keterlaluan? Dia meninggalkanku begitu saja. Kami tidak pernah memiliki kontak selama satu dasawarsa lebih, dan sekarang dia tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa kami masih belum berakhir? Apa dia ingin menguji kesabaranku? Ataukah dia ingin melihat seberapa jauh aku telah melupakannya? "Kau tahu, sejak hari itu hingga sekarang, aku masih menganggap bahwa kau adalah milikku dan kita masih bersama. Ayolah, Syera ...," Davin menatapku dengan kedua alis yang mengerut, "kau tahu hubunganku dengan Ramona itu tidaklah benar." Kali ini dia berujar dengan kedua tangan yang digerakkan seirama dengan perkataannya. Suasana di dalam restoran yang sebenarnya sangat ramai, tiba-tiba berubah menjadi hening, setidaknya bagiku. "Aku bukan pilihan untukmu," tukasku. Davin memejamkan matanya, menghembuskan napasnya, sebelum akhirnya berujar dengan putus asa, "Syera, aku tidak pernah mencintai Ramona." Dahiku mengerut. Aku hanya diam sambil menatapnya. Skenario apa lagi ini? Sekali lagi ia melirik ke kanan dan kiri, sebelum berujar, "Saat itu kondisi perekonomian keluargaku sedang memburuk. Kami tidak tahu harus meminjam uang pada siapa. Lalu Ramona meminta ayahnya untuk meminjamkan uang pada kami. Karena uang yang kami pinjam terlalu banyak, ayahku tidak bisa melunasinya. Mereka memberikanku sebagai gantinya. Aku dijodohkan dengan Ramona. Dan dia memintaku untuk meninggalkanmu. Dia bahkan mengancam akan menyakitimu jika saja aku tidak melakukannya. Aku terpaksa, Syera." Aku menatapnya datar. "Aku sudah lama melupakanmu, Dave. Kita sudah lama selesai. Dan jika kau masih tidak bisa menerimanya, maka itu adalah urusanmu." Ia mengusap wajahnya dengan gusar. "Aku telah berkata jujur padamu. Apa kau begitu membenciku sehingga tidak ingin membantu membatalkan pernikahanku dengan Ramona?" Sudah kuduga. Dia mempunyai maksud tertentu untuk menemuiku. Dulu kukira dia adalah lelaki yang baik. Ternyata dia tidak lebih dari seorang pemain topeng. Aku benar-benar bingung. Bagaimana mungkin aku bisa sangat menyukainya dulu? "Tujuanmu menemuiku bukan untuk memintaku kembali. Kau hanya mengatakan itu agar aku percaya bahwa kau masih mencintaiku, jadi aku akan membantumu membatalkan pernikahanmu. Lalu, setelah itu kau akan meninggalkanku lagi." Aku kembali merajamnya dengan tatapanku. "Kau pikir setelah berpisah denganmu aku tidak melihat perkembanganmu? Kau bahkan memiliki gadis lain saat kau telah bersama dengan Ramona. Kau pikir aku tidak mengetahui itu? Kau adalah seorang cassanova tidak tahu diri yang berlindung dibalik wajah malaikat,” ucapku. Davin tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar telah berubah, Syera. Kau tidak seperti yang dulu." Dia menatapku. Pandangannya menyiratkan kekecewaan yang amat dalam. Dulu, aku mungkin akan tertipu dengan tatapan itu. Namun tidak sekarang. "Kau mengatakan hal itu hanya karna kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku memang tidak mencintaimu lagi." Aku bangkit berdiri. Hendak meninggalkan Davin. Sayangnya langkahku terhalangi oleh Ramona yang muncul sambil menatapku dengan tajam. Dan secara tiba-tiba sebuah tamparan kasar mendarat di pipiku dengan sempurna tanpa bisa kuhindari. Peristiwa yang berlangsung hanya selama beberapa detik namun berhasil menarik perhatian banyak mata. "Pantas saja Davin menyuruhku menunggu di mobil selagi dia memesan makanan untuk kami berdua. Ternyata tujuannya adalah kau! Dasar perempuan tidak tahu diri, kau selalu saja mengusik kehidupanku!" Ia berucap dengan penuh kebencian. Tanpa menghiraukan tatapan pengunjung restoran yang mulai menyorot kami. Tanpa peduli pada Davin yang berusaha mengalihkan perhatiannya. Sejenak aku terdiam dengan pikiranku sendiri. Aku sudah sangat lama tidak bertemu atau berhubungan dengan sepasang kekasih yang sekarang berjarak sangat dekat denganku ini. Dan seketika mereka muncul di hadapanku, mereka membawa bencana. "Ramona ...," Davin mencoba menenangkan. "DIAM KAU!" Ramona memotong perkataan Davin dengan kasar. Pandangannya teralih lagi padaku yang menatapnya tanpa ekspresi. "Dengarkan aku baik-baik ...," Wanita berambut pirang itu mencengkram lenganku kananku dengan kuat, lalu tangan kanannya memberikanku sebuah undangan berwarna merah marun, "kau tidak akan dan selamanya tidak akan pernah lebih dariku! Aku akan segera menikah dengan Davin. Hari ini akan menjadi hari terakhirmu melihatnya. Setelah itu jangan pernah berharap aku akan mengizinkanmu bertemu dengannya. TIDAK AKAN PERNAH! Kau ...," dia menunjuk wajahku, "wanita paling menyedihkan yang pernah kutemui di hidupku. Apa kau telah ditinggalkan oleh kekasihmu sehingga kau mengganggu tunangan orang?!" Aku tertegun mendengar ucapannya. Ya, aku memang telah ditinggalkan. Tetapi aku tidak akan semenyedihkan itu dengan merebut tunangan orang. Aku tidak suka berada pada situasi seperti ini di mana semua mata memandangmu seolah kaulah orang yang bersalah atas segala keributan yang telah terjadi. Jika aku menjelaskan kronologi peristiwa yang sebenarnya pada Ramona, tetap saja dia tidak akan percaya. Kemungkinan besar dia akan menyalahkanku dan membuat keributan semakin besar. "Aku tidak punya urusan dengan tunanganmu. Apalagi denganmu. Kau tidak perlu mempermalukan dirimu sendiri di depan banyak orang." Aku tersenyum melepas cengkramannya. "Karena aku tidak suka berurusan dengan wanita licik. Wanita yang selalu mengandalkan harta dan kekuasaan keluarganya untuk menindas kehidupan orang lain. Kau seharusnya memberikan kesempatan pada jati dirimu yang sebenarnya. Aku tahu kau bukan orang jahat. Jati dirimu bersembunyi dibalik egomu." Aku segera berbalik, berniat keluar dari restoran tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang melihatku. Namun langkahku terhenti saat melihat Bryan yang telah mematung sambil menatap Davin dan Ramona secara bergantian. Aku berjalan mendekatinya. "Bryan, kita pergi saja dari sini," pintaku sambil memegang lengannya. Berniat untuk mengajaknya keluar, namun segera ia tepis. Ia menatapku sekilas, kemudian pandangannya beralih pada Ramona dan Davin yang telah menegang. Berjalan menuju mereka. "Berani sekali kau melakukan itu padanya." Matanya menatap tajam Ramona. Melihat Ramona yang mulai gemetar, Davin segera maju untuk melindunginya. "Siapa kau? Apa urusanmu dengan kami?!" Ucapnya sambil menatap Bryan. Posisi mereka saat ini saling berhadapan. "Kau bertanya padaku?" Bryan bertanya balik. Mereka saling bersitatap dengan pandangan yang sulit kuartikan. "Kau tidak punya hak untuk ikut campur urusan kami," ujar Davin sambil menatap tajam pada Bryan. Bryan menyunggingkan senyumnya. "Aku hanya tidak suka ada diskriminasi di sekitar sini." "Diskriminasi? Padanya?!" Kali ini Ramona angkat bicara sambil menunjuk wajahku. "Dia bahkan tidak pantas untuk dibela!" Suaranya kembali melengking, menarik puluhan pasang mata untuk menoleh pada kami, atau malah bertahan untuk menyaksikan keributan ini. Pandanganku menggeledah ke seluruh penjuru ruangan. Di restoran yang cukup terkenal ini, apakah tidak ada seorang pun karyawan atau mungkin security yang berniat untuk menghentikan keributan ini? "Aku tidak akan tinggal diam jika ada yang menyakitinya. Namun bagaimana jika yang menyakitinya adalah seorang wanita? Apa kau pikir dia ingin menemui tunanganmu? Tidakkah kau tahu, pria yang berdiri di belakangmu itulah yang memulai segalanya?" Bryan berujar amat tenang, seolah sedang berbicara dengan seorang pendeta atau biarawati. Raut wajah Ramona terlihat bingung saat mendengar penjelasan Bryan. Dahinya mengerut, seolah tidak percaya bahwa bukan aku yang menemui Davin pertama kali. "Sebelum menikahinya, kau seharusnya tahu persis bagaimana sifatnya. Bagaimana mungkin kau bisa menikahi pria yang terlihat baik hanya di depanmu, namun di belakangmu ia mendekati wanita lain?" Bryan menyeringai, "Kau seharusnya tidak membuat keributan seperti ini. Apa beginikah yang diperbuat oleh harta, kekuasaan, dan keegoisan? Mereka mempermalukan dirimu sendiri. Benar-benar menyedihkan." Bryan berdecak, sementara Ramona menggigit bibir bawahnya. Menahan amarah. "Aku tidak punya urusan denganmu!" Ramona berujar dengan ketus, suaranya kembali melengking, serta pandangannya kembali menatapku dengan tajam. "Tapi aku berurusan dengannya! Dia harus menjauhi tunanganku! Dan kau seharusnya tahu, dia hanyalah wanita payah yang mencoba menggoda tunanganku. Jadi kau tidak usah membelanya!" Ucapnya dengan suara yang tertahan. Bryan maju selangkah lebih dekat. Davin menatapnya was-was. Sementara Ramona menatapnya dengan tajam. Seolah tidak takut jika saja Bryan akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. "Sayangnya, wanita yang kau sebut begitu adalah istriku." Bukan hanya Ramona dan Bryan yang terbelalak kaget. Akupun melakukan hal yang sama. Kami sama-sama terkejut mendengar penuturan Bryan. Untungnya, aku lebih cepat menormalisasi keadaan dan juga ekspresi wajahku. Setelah puas melihat Ramona dan Davin yang menegang, Bryan pun melanjutkan kalimatnya, "Aku tidak suka jika ada yang merendahkannya, apalagi di depanku." Bryan mendesah pelan, "Istriku mungkin tidak butuh permohonan maaf darimu. Namun jika kau menganggap dirimu wanita terhormat, maka seharusnya kau tahu bagaimana caranya meminta maaf ketika kau melakukan hal yang tidak seharusnya." Ramona hanya menatap sinis ke lain arah. Tak suka jika ada yang mengaturnya. "Syera, jadi kau telah menikah?" Davin menatapku nanar. Entahlah. Antara sedih, kecewa, dan menyesal telah menggangguku, begitulah tatapannya. Bryan mengalihkan pandangannya pada Davin. Menepuk pundak pria itu dengan pelan, seraya berujar dengan penuh penekanan, "Kuharap hari ini adalah hari pertama dan terakhir aku melihatmu mendekati Syera...." ♧♧♧ "Aku tadi ingin membelikanmu ice cream. Namun mini market yang ada di samping restoran tidak memiliki ice cream cokelat. Jadi aku kembali ke restoran dan ingin menanyakanmu, rasa apa yang kau sukai selain cokelat. Tapi kulihat kau sedang berbicara dengan seseorang." Bryan berujar memulai percakapan. Setelah berhasil membuat Davin dan Ramona bungkam, dia lalu membawaku keluar dari dalam restoran. Kami kembali masuk ke dalam sedan miliknya yang kini tengah melaju menuju rumahku. "Aku seharusnya merayakan kepulanganmu ke Vellozia. Tapi aku hanya membuat masalah bagimu. Maaf," ucapku sambil menatapnya. Dia tersenyum. "Jadi, apakah dia adalah lelaki yang selama ini kau tunggu itu? Lelaki yang memberikanmu bunga Edelweis itu?" "Dia adalah bagian dari masa laluku." Bryan menatapku sekilas sambil menaikkan salah satu alisnya. "Kau pernah memiliki seorang kekasih?" Aku mengangguk. "Ya. Itu sudah sangat lama. Saat aku masih bersekolah di Fernseea Junior High. Kami ...," Bryan memotong perkataanku. "Kau tidak perlu melanjutkannya. Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi. Aku hanya menunggu untuk mendengar pengakuan itu langsung darimu. Dan ternyata kau melakukannya." "Dia dulu adalah pria yang baik. Dia tidak pernah menyakitiku. Dia hanya punya satu kesalahan. Dia meninggalkanku karena Ramona." Aku berujar dengan lirih. Kuakui aku memang sedih. Bukan karna menyesal telah berpisah dengan Davin. Aku hanya sedih karna dia adalah cinta pertamaku yang memberi pandangan buruk bagiku tentang cinta. Cinta yang hanya bisa mematahkan hati setiap orang yang berharap padanya. “Jadi ... pria Edelweis itu bernama Davin?” Bryan bergumam seakan tidak percaya bahwa ia baru saja bertemu dengan sosok yang selama ini teramat ingin dilihatnya. Sayangnya, ia keliru. Davin adalah pria yang benar-benar jauh berbeda dari lelaki itu. Walau begitu, aku tidak ingin merespon ucapannya. Berbicara mengenai lelaki itu hanya akan menambah kesedihanku. Aku memilih diam, mengadahkan wajahku pada kaca mobil. Alunan musik pun terdengar pelan dan sendu dari tape mobilnya. Membiarkanku memutar kembali kejadian sendu yang telah berlalu belasan tahun yang lalu. Sejak aku masih bersama Davin, hingga akhirnya aku bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang tentu kini telah bertumbuh menjadi seorang pria dewasa. Aku menyesal tidak menanyakan namanya saat itu, karena terlalu bahagia menikmati senja bersamanya. Rasanya tidak adil jika dia mengetahui namaku, bahkan mungkin mengenalku dengan sangat baik, sedangkan aku sendiri tidak mengetahui namanya. "Aku tidak mengerti denganmu. Kurasa tadi aku mendengar kau menyebutnya sebagai 'seorang cassanova tidak tahu diri yang berlindung dibalik wajah malaikat'. Lalu sekarang kau masih saja membelanya dengan mengingat kebaikannya bertahun-tahun yang lalu?" Bryan berujar dengan santai, walau aku tahu, dia pasti kesal denganku. Aku yakin ada banyak sekali perrtanyaan yang muncul di benaknya tentangku. Tidak, lebih tepatnya tentang masa laluku bersama Davin. "Itu ...," aku berujar dengan terbata, "aku hanya terbawa emosi saat berbicara dengannya." "Kau tahu ia meninggalkanmu demi gadis lain, lalu kenapa kau masih membelanya?" "Aku hanya mencoba berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Memikirkan banyak alasan yang membuatnya meninggalkanku. Aku hanya mencoba menjadi orang yang tidak egois." Aku menyibakkan rambut yang menutupi dahiku. Sementara tangan kananku masih memegang undangan pernikahan yang diberikan Ramona padaku tadi. "Apa yang kau katakan padaku sekarang dengan apa yang kau katakan padanya tadi sangatlah berbeda. Kau berbicara padaku seolah semuanya baik-baik saja. Sedangkan saat berbicara dengannya tadi, wajahmu terlihat sangat sedih." Aku mendesah pelan. "Aku telah memaafkan semua yang ia lakukan padaku dulu. Kami pun telah lama berpisah, tidak pernah ada kontak. Dan sekarang dia muncul secara tiba-tiba, itu membuatku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Saat melihat wajahnya, aku seperti melihat bayangan diriku di masa lalu yang begitu menyedihkan. Kau telah mengenalku cukup lama, Bryan. Tidakkah kau tahu aku bukan tipe orang yang mudah menyesuaikan situasi, apalagi jika aku tahu bahwa aku berhadapan dengan seseorang yang pernah membuatku terluka?" Aku menoleh menatap Bryan. Pandangannya masih tertuju pada jalanan yang saat ini tengah diguyuri hujan. Wiper mobilnya berkali-kali menari ke kiri dan ke kanan, menghalau butiran hujan yang mengalir menutupi pemandangan. "Saat melihatnya, aku langsung teringat pada pertanyaanku yang tidak pernah dijawab olehnya. Dan itu membuatku tersulut emosi. Namun bukan berarti aku masih menyimpan perasaan padanya." Aku masih memandanginya, hingga ia bersuara tanpa menoleh padaku, "Aku selalu berada di dekatmu. Namun selalu menjadi orang terakhir yang tahu tentang masalahmu. Sedangkan kau, kau tahu segalanya tentangku Syera. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan hal yang sama sepertimu?" Kualihkan pandanganku ke lain arah. "Kau mungkin dekat denganku, Bryan. Namun tidak semua masalah yang kupunya harus kauketahui juga. Apa gunanya masa laluku bagimu?” “Bila kau tidak lagi menyimpan perasaan untuknya, lantas mengapa kau sering membicarakannya? Aku tahu kau punya harapan yang besar agar dapat bertemu kembali dengannya. Tapi, Syera ...,” “Kau tidak perlu menyusahkan dirimu dengan mencoba menampung seluruh masa laluku dalam dirimu. Aku juga punya hak untuk tidak membagikannya pada siapapun. Maaf,” tukasku. Di bawah sorotan lampu jalan, melalui pantulan cahaya pada jendela mobil, kulihat Bryan memalingkan wajahnya dariku. Raut kecewa terpancar jelas dari wajahnya. Kurasa aku telah menyakitinya lagi. Sosok yang tak pernah berhenti menyatakan cintanya padaku. Dia selalu membuatku tersenyum, selalu ada untukku. Namun aku selalu mematahkan hatinya dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutku, sadar ataupun tidak. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Tidak lagi membalas perkataanku. Ini adalah kali pertama kami bertemu setelah tiga bulan dipisahkan. Dan ini adalah kesekian kalinya aku mengecewakan hatinya. Dia selalu terbuka padaku, membuatku tahu segala hal tentangnya, termasuk pada hal-hal yang tak pernah diketahui orang lain bahwa dia sangat benci hujan. Karena hujan telah merenggut ayahnya dalam sebuah kecelakaan mobil dan membuat ibunya lumpuh. Aku tahu sebagian besar kisah hidupnya, sedangkan aku membatasinya untuk tidak perlu mengenalku secara lebih dalam. Tak ada lagi percakapan di antara kami. Di bawah guyuran hujan, mobil ini terus melaju. Aku dan Bryan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku tiba-tiba merasa bersalah telah mengatakan kalimat sejahat itu. Bryan tidak pernah marah atau membentakku. Dia seolah baik-baik saja saat aku menyakitinya. Namun karena kebaikannya itu pula, aku sering merasa bersalah. Kenapa aku berulang kali menolak cintanya, di saat ada banyak gadis cantik yang begitu menginginkannya? Sepuluh tahun berada di dekatnya tak sedikit pun mampu membuka mataku. Perasaanku pada masa lalu cukup kuat untuk mengatakan pada Bryan bahwa aku tak pernah mencintainya. Aku sempat berpikir, apakah keputusanku untuk menolak cintanya adalah hal yang benar dan tidak akan membuatku menyesal di kemudian hari? "Kita telah sampai," ujar Bryan beberapa saat setelah memakirkan mobilnya di depan halaman rumahku. "Kau tidak ingin masuk?" Tawarku. Dia menggeleng seraya tersenyum. "Lain kali saja. Aku benar-benar lelah." Aku mengangguk, membuka seat belt, lalu berujar sebelum keluar dari mobilnya, "Tentang kejadian tadi, maafkan aku." Aku membuka dompetku, mengambil beberapa lembar uang seratus ribu, lalu menyodorkannya pada Bryan. Salah satu dahinya terangkat sambil menatapku. "Untuk apa?" "Makanan yang tadi telah kau pesan," aku berujar dengan pelan. Bryan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak perlu. Aku tidak butuh uangmu." Dia lalu mengacak rambutku seraya berujar sambil tersenyum, "Jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salamku pada paman dan bibi. Selamat malam." Aku mengangguk, lalu merapihkan rambutku. "Selamat malam juga." Aku tersenyum tipis, kemudian keluar dari mobilnya. Tak berselang lama, ia memutar mobilnya, membunyikan klakson tanda perpisahan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahku. Pandanganku kini teralihkan pada langit malam yang kosong. Tanpa bulan ataupun bintang. Hanya ada beberapa awan kelam yang menggantung di langit. Rintik hujan kembali turun. Memberi tanda bahwa tahun yang akan kujalani ini tidaklah mudah. Butuh banyak perjuangan, termasuk untuk bertemu kembali dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD