DEONASYERA POV
Sebagian orang mengatakan bahwa masa lalu adalah rumah yang indah untuk dikunjungi, namun terlalu buruk apabila ingin ditempati. Bagiku ungkapan tersebut tidak selalu benar, namun tidak juga selalu salah. Bagaimana jika kita merindukan kenangan masa lalu untuk hadir saat ini? Saat orang-orang yang sama yang pernah kita temui di masa lalu kini telah berubah. Saat orang-orang yang pernah kita temui di masa lalu takkan pernah bisa berada di masa kini. Bukankah masa lalu juga punya tempat bagi masa kini? Mengapa sebagian besar orang beranggapan bahwa masa lalu hanyalah sesuatu yang akan dan selalu berada di belakang? Mereka bertindak seolah tak pernah merindukan masa lalu. Seolah masa lalu tidak pernah punya andil dalam kehidupan mereka. Seolah mereka berhasil berdamai dengan masa lalu, mengikhlaskan apa yang telah dibawa pergi oleh masa lalu yang mungkin takkan pernah lagi kembali. Banyak orang menipu diri mereka dengan bertindak layaknya mereka bisa hidup tanpa bayang-bayang masa lalu. Mereka telah berada jauh di depan untuk tidak lagi melihat ke belakang. Masa lalu hanya sebagai penanda, mereka pernah melewatinya. Tapi tidakkah mereka juga merindukan kenangan yang dibawa pergi oleh masa lalu itu? Apa tidak pernah terbesit di pikiran mereka bahwa mereka menginginkan kembali masa-masa yang telah berlalu itu? Atau kupikir, hanya aku satu-satunya orang yang menginginkan hal itu terjadi. Banyak teman-temanku mengatakan bahwa masa lalu tidak seharusnya berada di depan. Sesuatu yang sudah lama, tidak mungkin di satukan dengan yang baru. Itu hanya akan merusak sesuatu yang baru. Mereka bilang, kita tidak pantas mencampur-adukkan masa lalu dan mengharapkannya terjadi pada masa sekarang. Suatu ketidakmungkinan yang takkan mungkin terjadi. Begitu klise. Bertahun-tahun kuhabiskan waktu untuk berandai bahwa dia akan muncul di depanku, mengatakan banyak hal yang seharusnya dikatakan sejak lama. Apakah salah jika aku berharap bahwa kami masih dapat bertemu? Apakah tidak pernah ada harapan bagi masa lalu? Jika harapan tidak berarti lagi untuk masa lalu, kalau begitu untuk apa kita setiap malam berandai dengan masa lalu? Merangkai impian dan mengharapkan banyak hal. Malam selalu menjadi saksi di mana mimpi-mimpi indah selalu muncul diiringi dengan alunan musik sendu, kala mata terpejam. Namun bukankah lebih baik memejamkan mata dan memulai khayalan gila tentang berbagai kenangan yang telah kau lewati, daripada harus membuka mata dan mendapati suatu kenyataan pahit bahwa kau begitu menikmati khayalan itu dan merasa bahwa semuanya sangatlah nyata, namun tanpa kau sadari semua ternyata hanyalah mimpi?
♧♧♧
"Kita ke Pier Street. Di sana ada banyak jenis bunga yang bisa kau lihat. Pemiliknya pun punya taman bunga yang cukup luas di belakang toko bunga," titah Ava sambil melihat layanan Google Maps yang ada di ponselnya. Kembali pada posisi sekarang, aku bertanya tanpa menoleh pada Ava, "Apa tidak ada toko bunga yang lebih dekat? Kenapa kita harus ke Pier Street? Waktu istirahat kita tidak cukup untuk kembali ke kantor." Pier Street letaknya di daerah pegunungan. Lokasi yang sering dijadikan sebagai destinasi wisata. Di salah satu sisi jalan itu, kau dapat melihat hamparan laut lepas yang hanya dibatasi oleh pembatas jalan. Aku tidak masalah dengan tempat itu, malah aku sangat menyukainya. Namun, lokasinya benar-benar jauh dari kantor dan perjalanannya pun memakan waktu hampir setengah jam. Aku ragu dalam waktu kurang dari tigapuluh menit kami dapat kembali dari sana. "Tapi aku ingin ke sana, Syera. Lagipula Stretlitzia's Floríst adalah satu-satunya toko bunga yang berada di Pier Street. Tidak susah untuk menemukan tempat itu." Ava mulai merengek seperti anak kecil. "Toko bunga itu mungkin letaknya di pinggiran kota, tapi ada banyak macam bunga yang dimiliki oleh toko bunga itu. Yang perlu kau lakukan hanya mengikuti instruksiku. Lagipula kau tidak akan kecewa dengan tempat itu," jelasnya. "Baiklah-baiklah ...," aku memelankan laju mobil, "kita akan tetap ke sana. Aku memang tidak bisa berdebat denganmu. Jadi, kau lebih baik tenang dan gunakan seat belt-mu." Aku tertawa setelah melihat Ava mengerucutkan bibirnya. Mobil miliknya segera melaju dengan kecepatan standar dengan posisi aku yang duduk di kursi pengemudi. Sedangkan wanita pecinta warna ungu itu sibuk meramaikan perjalanan kami berdua dengan mengoceh sepanjang jalan. Walau harus kewalahan merespons perkataannya ataupun menjawab teka-teki yang diberikannya, namun berkatnya aku berhasil mengemudikan mobil menuju Pier Street tanpa rasa bosan. Aku juga sempat dibuat kagum dengan pemandangan yang disuguhkan tempat itu di sepanjang perjalanan. Suasana segar dan menyejukkan segera menerpa kami, setelah aku dan Ava memasuki bangunan berukuran sedang milik Stretlitzia's Floríst. Bel berbunyi ketika kami membuka pintu. Kami pun disapa oleh sang pemilik toko, yakni seorang wanita paruh baya berambut sebahu. Wanita itu menyambut kami dengan ramah, tak lupa memeluk Ava. Di tempat ini ada banyak sekali bunga yang tertata rapi. Dimulai dari bunga yang masih segar, hingga replika berbagai macam jenis bunga, juga souvenir dan berbagai hal yang berkaitan dengan bunga. Dan di dalam ruangan ini hanya ada aku, Ava, pemilik toko, serta dua orang pegawai toko. Aku menemani Ava melihat-lihat bunga, diikuti dengan pemilik toko yang berjalan didekat kami. "Sebentar!" Ava menghentikan wajahnya lalu tersenyum sambil menatapku dan pemilik toko bergantian. "Aku ingin mengenalkan wanita ini padamu, Bibi. Namanya Deonasyera. Dia adalah sahabatku yang pernah kuceritakan padamu," ucap Ava yang spontan membuatku tersenyum pada pemilik toko. "Dia yang selalu menemaniku, saat suami dan kedua sahabatku yang lain sedang sibuk," tambahnya. Pemilik toko tersebut tertegun sebentar, kemudian mengangguk sambil tersenyum. "Ternyata kau jauh lebih cantik daripada yang kudengar di cerita. Aku Lucy. Lucienne Stretlitzia. Senang berjumpa denganmu," ujarnya. "Senang berjumpa denganmu juga, Bibi,” ucapku sambil menundukkan kepala. Ava pun berujar dengan antusias, "Syera, kau harus tahu, Bibi Lucy ini sangat baik dan sudah kuanggap sebagai salah satu dari ibuku. Maksudku, dia adalah ibu ketiga setelah ibu kandungku dan juga ibu mertua! Dan tempat ini, aku sering berkunjung ke sini. Raf yang mengenalkanku pada tempat ini." Aku dan bibi Lucy hanya bisa tertawa mendengar penuturan Ava. "Putraku dan suaminya telah lama berteman," tutur bibi Lucy. Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ada banyak bunga yang indah, namun hanya satu yang menarik perhatianku. Sekuntum bunga Edelweis yang berada di dalam sebuah toples, serta diletakkan di atas rak pajang yang bertuliskan 'not for sale'. Bunga itu mengingatkanku pada Edelweis pemberian lelaki itu. Tidak. Bunga itu bukan satu-satunya yang ada di dunia. "Bibi, menurutmu mana di antara bunga-bunga ini yang cocok untukku?" Tanya Ava sambil memalingkan wajahnya. Bibi Lucy bergumam sambil melihat aneka bunga yang tertata rapi di depan kami. "Bagaimana dengan Aster?" Ava terdiam, mencoba menimang perkataan bibi Lucy. Ia tampak ragu untuk mengambil bunga tersebut. "Kurasa aku lebih suka Tulip," ucap Ava sambil menunjuk pada barisan bunga Tulip berwarna kuning yang berada tak jauh di depannya. Dia pun kembali berujar, "Tapi packing-nya nanti saja. Tujuanku datang kesini untuk membawa Deonasyera melihat padang Lavender milikmu, juga ingin bercerita denganmu, Bibi." Bibi Lucy mengangguk tanda paham, lalu menyuruh kami untuk berjalan mengikutinya. Kami melewati sebuah pintu yang berada persis di dekat kasir. Pintu tersebut ternyata menghubungkan kami dengan sebuah lorong kecil berjarak kira-kira enam meter dari pintu lainnya yang merupakan pintu samping dari rumah bibi Lucy. "Maaf, rumahku sedikit berantakan," tutur bibi Lucy saat kami melewati ruang tengah yang dipenuhi dengan bunga-bunga palsu yang belum dirangkai dan berserakan di atas lantai. Aku dan Ava hanya tersenyum maklum, kemudian berjalan mengikuti bibi Lucy menuju bagian belakang rumahnya. Aku dan Ava terpana saat bibi Lucy membuka pintu dan terlihat hamparan bunga Lavender yang melambai mengikuti terpaan angin. Sementara bibi Lucy tersenyum bangga sambil mempersilahkan kami untuk duduk. Tak hanya itu, bibi Lucy juga meminta kami untuk menunggunya membuatkan suguhan untuk kami. Walau aku dan Ava telah menolak secara halus, namun bibi Lucy tetap bersikeras untuk membuatkan suguhan untuk kami. Beberapa menit kemudian, bibi Lucy pun datang sambil membawa nampan berisikan tiga cangkir teh beserta waffle. "Sebentar," bibi Lucy menatap Ava. "Apa kalian tidak akan kembali ke kantor lagi?" Ava menggeleng dengan cepat. Ia lalu memasukan potongan waffle ke dalam mulutnya. "Tidak perlu, Bibi. Aku lebih senang berlama-lama di sini. Lagipula jika di sini cuacanya mendung, pasti di sana telah turun hujan." Sebenarnya, walaupun hujan, kami tetap dapat kembali ke kantor. Hanya saja Ava bersikeras untuk berada di sini. Jadi kurasa untuk hari ini, tidak apa jika menuruti permintaannya daripada nantinya kau akan melihat Ava mengamuk di kantor karna keinginannya tidak terpenuhi. "Bibi, ini indah sekali," aku memuji dengan pandangan yang tetap mengarah pada hamparan Lavender yang terpampang nyata di depanku. Langit di sekitar sini ditutupi oleh awan hitam tebal yang menggantung di atas, namun tak sedikit pun mengurangi keindahan Lavender yang asik menari ke kanan dan ke kiri tertiup angin. Setelah tertegun cukup lama, bibi Lucy akhirnya buka suara, "Aku sangat menyukai Lavender. Selain karena aku menyukai warnanya yang ungu, Lavender juga memiliki aroma yang harum. Mereka adalah aroma terapi alami bagiku. Aku menyukai Lavender, karena suamiku juga menyukainya." bibi Lucy terdiam sejenak, lalu kembali bersuara dengan pelan, "Maksudku ... mantan suamiku." Aku dan Ava saling bersitatap, saling bertelepati tentang kalimat apa yang tepat untuk diucapkan pada bibi Lucy. Ava berdehem sebentar. "Tanah ini cukup besar. Apa Bibi sendiri yang mengurus Lavender itu?" "Tidak juga. Terkadang aku dibantu oleh beberapa pegawai di toko. Sebenarnya mengurus Lavender tidak serumit itu. Asalkan kita melakukannya dengan tulus,” tukas bibi Lucy. "Apa kau juga menyukai bunga, Syera?" Bibi lucy menatapku. Aku mengangguk. "Aku memang suka bunga. Namun, aku tidak suka menanam bunga, Bibi," ujarku sembari tersipu. "Dia tidak terlalu menyukai bunga, Bibi. Dia lebih senang dengan tumpukan novel. Sedangkan aku lebih senang berbelanja. " Ava menyerocos sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Memang kebanyakan orang, terkhususnya wanita, lebih senang melihat atau membeli bunga daripada harus mengurusnya. Aku dulu juga seperti itu. Aku baru mulai menanam dan mengurus bunga saat bercerai dari suamiku." Bibi Lucy menggeleng. Seperti mencoba menghapus sesuatu yang muncul dipikirannya, "namun, bukan dia alasan mengapa aku memilih untuk membuat toko bunga atau bahkan padang Lavender itu. Ini lebih kepada ... aku suka melihat bagaimana aku mengurus bunga, hingga waktunya saat bunga-bunga tersebut bermekaran dengan indah," jelasnya. Ava bergumam, "Dibanding aku, Raf lebih senang mengurus bunga. Aku bingung dengannya." Ia memutarkan kedua bola matanya dengan malas. "Aku tak pernah menyangka mantan cassanova seperti dia ternyata sangat menyukai bunga! Di rumah, kami punya sebuah kebun berukuran sedang dan Raf membuatnya terlihat seperti kami sedang membuat pameran bunga. Kapan-kapan Bibi harus berkunjung ke rumahku." Tanpa menghiraukan perkataan Ava, bibi Lucy memilih menatapku sambil berbicara, "Syera, apa kau telah menikah?" Aku terkejut. "Eh? Aku ...," Ponselku tiba-tiba berdering, mengalihkan dua pasang mata yang tengah duduk di dekatku. Aku segera mengucapkan kata maaf, lalu melihat nama yang tertera pada ponselku. Bryan. "Ada apa?" Aku membuka percakapan sambil menempelkan ponselku di telinga. "Aku mencarimu di kantor tadi. Mereka bilang kau sedang keluar bersama Ava. Kalian pergi ke mana?" "Aku sedang berada di toko bunga." "Toko bunga?" "Untuk apa kau mencariku di kantor?" Aku balik bertanya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu pergi.... Syera, apa semuanya baik-baik saja? Apa kau ingin aku menjemputmu?" Aku refleks menggeleng sambil menatap Ava. "Tidak perlu. Aku bisa pulang bersama Ava." "Apa kau masih marah dengan kejadian tiga hari yang lalu itu?" Seketika bayangan peristiwa saat tahun baru itu melintas di pikiranku. "Aku tidak pernah marah padamu, Bryan." Terdengar desahan napas lega saat aku mengatakan kalimat itu. "Baiklah. Jaga dirimu baik-baik." Sambungan telepon pun terputus setelah Bryan menyentuh tombol end call. "Maafkan aku," ujarku pada Ava dan bibi Lucy. Kedua wanita itu menatapku dengan penuh arti. Aku tahu di dalam pikirannya Ava akan kembali meyakinkan dirinya bahwa aku dan Bryan benar-benar ada dalam suatu hubungan khusus. Sedangkan bibi Lucy, wanita bermata hazel itu menatapku nanar. "Dia pasti adalah suamimu." Bibi Lucy mencoba menerka dengan nada suara yang pelan. Namun terkaan itu hampir berhasil membuatku terkena serangan jantung. Aku berujar dengan mantap, "Terkadang yang terlihat dekat sekalipun, belum tentu sedekat itu. Kami hanya teman biasa, Bibi." "Dia belum menikah, Bibi. Di antara kami, baru aku saja yang menikah. Dia masih menunggu pria masa lalunya yang tidak jelas itu," imbuh Ava. Bibi Lucy sempat mengerutkan dahinya sebelum akhirnya tersenyum seraya berucap, "Tunggu saja. Pada waktu yang tepat, dia pasti akan muncul." Aku tersenyum penuh harap. "Ya, semoga saja." "Kau harus yakin pada perasaanmu. Menunggu terlalu lama bukan berarti kau harus menyerah," bibi Lucy berujar sambil menerawang, "Aku tahu sulit untuk dipercaya, namun kau harus mengikuti kata hatimu, tak peduli apapun yang terjadi. Terkadang ada masalah-masalah tak terduga yang membuat penantian seseorang terasa lama. Namun bukan berarti itu membuatmu harus menyerah." "Aku telah melakukannya selama sepuluh tahun, Bibi. Kupikir, apa yang telah kulakukan selama ini adalah sesuatu yang sia-sia. Aku ... hanya membuang-buang waktuku." "Lalu apa kau ingin melepaskannya?" Aku menggeleng. "Tidak sama sekali. Aku hanya ...," "Tapi, Bibi, bukankah Syera patut mendapat pria yang lebih baik daripada pria itu? Aku tak mengerti. Untuk apa dia menyatakan perasaannya pada Syera, lalu meninggalkannya? Aku juga ingin melihat sahabatku menemukan pria baru di hidupnya," sela Ava Aku menatap Ava. Raut wajahnya benar-benar serius. Ia tidak menatapku ataupun bibi Lucy. Dalam situasi seperti ini, aku merasa sangat bersalah. Berbagai nasihat yang kerap ia beri untukku seolah sia-sia. Aku masih tetap pada pendirianku. Menjadi wanita bodoh yang mengunci dirinya sendiri dalam dekapan masa lalu. Aku mengabaikan semua usahanya, termasuk untuk membuatku berhenti berandai tentang pria itu. Ia telah berusaha terlalu banyak untukku, bahkan sejak kami masih remaja dulu. Bukan masalah keinginan. Ini lebih kepada, aku tidak ingin ada orang lain yang menggantikan posisi pria itu di hatiku. Lihat, betapa bodohnya aku. "Syera terus mengenang pria itu, Bibi. Sedangkan bagiku, mengharapkan sesuatu yang tidak pasti adalah hal yang melelahkan." "Sudahlah ... Ini hanya masalah hati. Tidak perlu diperdebatkan." Bibi Lucy menatapku dan Ava bergantian. "Berbagai petuah dari siapapun yang sebenarnya berguna akan terasa sia-sia jika kita sendiri tidak mau menerimanya. Memang bukan mereka yang mengalaminya. Jadi mereka tidak benar-benar tahu apa yang kau rasakan selain dirimu sendiri. Lakukanlah apa yang kau yakini. Tapi berhentilah berharap jika memang kau tak sanggup lagi, Syera. Jangan menyiksa dirimu sendiri." Aku menghela napas panjang. Memang benar. Mereka hanya mampu memberi saran, namun tidak benar-benar merasakan apa yang kita rasakan. Sesungguhnya kitalah pemeran utama dalam kisah kehidupan kita sendiri. Kita yang menentukan kemana alur kisah ini akan berlanjut. Aku punya harapan yang besar padanya. Hanya saja harapan itu terhimpit oleh kenyataan bahwa selama sepuluh tahun aku tak pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Mengikuti kata hati sesungguhnya adalah pilihan terbaik. Namun bagaimana jika aku sendiri tidak yakin, apakah aku masih mampu mengikuti kata hatiku? Aku benar-benar tidak tahu. "Terima kasih, Bibi. Kita baru saja bertemu, tapi aku merasa sangat akrab denganmu. Seolah kita telah saling mengenal cukup lama," ujarku. "Aku senang mendengarnya," tukas Bibi Lucy. Tak lama kemudian aku dan Ava berpamitan, hendak pulang. Bibi Lucy mengantar kami menuju tempatku memakirkan mobil. Sebelum kami meninggalkan halaman rumahnya, bibi Lucy memberikanku sekuntum bunga Lavender. Sementara Ava diberikan bunga Tulip yang tadi dipesannya. Kami akhirnya meninggalkan Pier Street. Aku akan langsung mengantar Ava pulang ke rumahnya. Setelah itu aku akan pulang ke rumah menggunakan taksi. "Maafkan aku karna terus menyusahkanmu. Aku memang adalah sahabatmu yang paling bodoh," ujarku pelan. "Aku hanya ingin kau mendalami perasaanmu. Apakah benar perasaan yang timbul dalam dirimu itu adalah perasaan cinta, atau kau hanya terobsesi padanya?" Ava menghela napas. "Kau tahu, sepuluh tahun ini kau mungkin bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan kau baik-baik saja. Tapi aku tahu kau hanya berbohong. Aku ini sahabatmu. Walaupun kau tidak mengatakannya, tapi aku tahu keadaanmu sangat buruk," ucapnya lirih. "Aku tidak berani mengambil langkah untuk melupakannya dan memulai hal yang baru, Ava. Aku terlalu mengkhawatirkan banyak hal." "Bibi Lucy benar. Masalah perasaan, tidak ada yang benar-benar memahaminya kecuali dirimu sendiri. Aku hanya ingin, setidaknya, cobalah untuk membuka hatimu pada pria lain. Bryan, misalnya. Kau tahu dia telah mencintaimu selama dia mengenalmu. Kalian sering bersama. Bagaimana mungkin perasaan itu tidak ada dalam hatimu, Syera?" "Aku tidak mungkin menerimanya, Ava. Kami hanya teman dan aku telah menegaskan hal ini berulang kali," tukasku. "Kalau begitu beri ruang kosong untuk dirimu sendiri. Kau terlalu sibuk memikirkan pria itu hingga kau lupa pada dirimu sendiri. Pikirkan baik-baik. Mungkin saja pria itu kini telah menikah dan hidup bahagia bersama pasangan atau bahkan anak-anaknya. Sementara kau, terus meyakinkan diri bahwa pria itu pasti akan kembali untukmu?" Aku terdiam. "Kumohon, Syera ... pikirkanlah baik-baik," pinta Ava sambil menggenggam tanganku.