DEONASYERA POV
Kutatap kembali wajah yang tengah menatapku dari dalam cermin. Ini adalah kali pertamaku keluar dengan pria lain selain Bryan dan itu cukup untuk memunculkan perasaan gugup yang luar biasa dalam diriku. Aku mengenakan baju berwarna hitam dengan potongan lengan tiga perempat, jeans berwarna navy serta tas kecil berwarna senada. Aku memajukan tubuhku hingga dapat melihat garis wajahku dengan jelas. Aku hanya memoles wajahku seadanya, seperti yang biasa kulakukan saat pergi ke luar rumah atau pun ke kantor. Selain itu, aku hanya menggerai rambutku. "Kau cantik." Aku menoleh menuju sumber suara. Nampak Dianee yang tengah berjalan menemuiku. "Apa kau akan pergi bersama pria bernama Alexander itu?" tanyanya. Aku tersenyum simpul. "Kami akan menonton konser akustik The Duke di taman kota, sekaligus aku ingin bertemu dengan Danvy." Dianee memelukku dengan erat, seraya berbisik, "Kalau begitu cepatlah. Dia sudah menunggumu di bawah." Aku tersentak. "Sejak kapan dia datang?" Dianee tertawa. "Beberapa menit yang lalu. Dia sedang bersama dengan Ayah dan paman Sam." Aku kembali menatap cermin, sebelum akhirnya bergegas keluar dari kamar dan turun menemui mereka. Sesampainya di bawah, kulihat mereka sedang berbincang-bincang sambil beberapa kali bibi Hanna menggoda Alexander bahwa kepergian kami ini bukan sekadar menonton konser akustik, tetapi juga berkencan. "Ini dia! Keponakanku yang cantik akhirnya turun juga," ucap bibi Hanna sambil mendelik ke arah Alexander yang tengah melihatku. "Selamat bersenang-senang," ujar ibu yang muncul dari arah ruang makan. "Ayolah, mereka hanya pergi menonton konser akustik," sahut ayah sambil menggelengkan kepalanya menatap bibi Hanna dan ibu yang tengah mengerlingkan mata mereka padaku. Aku tersenyum kikuk. Seraya meminta izin pada ayah, ibu, juga berpamitan pada yang lainnya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Alexander. Pria yang tengah mengenakan jaket berwarna hitam itu kembali dibuat canggung karena bibi Hanna kembali menggodanya. "Aku tidak menyangka kau benar-benar datang," ucapku beberapa saat setelah Alexander melajukan mobilnya cukup jauh meninggalkan rumahku. "Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin salah satu dari dua tiket yang kau punya itu terbuang sia-sia," tukasnya sambil tersenyum. Aku mengerutkan dahiku, kemudian tertawa. "Aku tak percaya dengan kata-katamu!” "Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku tidak bisa pergi menemanimu hari ini?" "Aku tidak akan datang. Tiket itu akan kukembalikan pada bibi Hanna," gumamku "Kukira kau bisa pergi bersama Bryan." Aku tidak perlu bertanya panjang lebar tentang bagaimana dia bisa mengenal Bryan. Karna aku yakin jawabannya pasti bermuasal dari bibi Hanna atau ibu. Sumber informasi yang senantiasa membeberkan apa saja yang menurut mereka penting untuk diketahui orang lain mengenai aku. "Dia tidak pernah suka keramaian dan tidak pernah suka dengan musik rock," ucapku. "Kali ini The Duke tidak akan membawakan lagu mereka yang terlalu keras. Maksudku, mereka hanya akan menyanyikan lagu-lagu mereka yang cukup sendu dan katanya lagu-lagu yang akan dinyanyikan mereka nanti adalah permintaan dari para fans." "Kau juga penggemar The Duke?" tanyaku. Alexander menggeleng. "Tidak juga. Tapi aku suka beberapa lagu mereka di album keempat. Dan lagi, aku juga mendapatkan informasi ini langsung dari salah satu personil The Duke." "Siapa?" Dia tidak menjawab pertanyaanku dan memilih untuk tertawa sambil menyetir mobilnya memasuki taman kota yang sejatinya merupakan tempat yang cukup luas, namun bagi para penggemar The Duke se-Vellozia, tempat ini mampu disulap menjadi kecil, sempit, dan penuh keramaian. Dari dalam mobil aku mampu melihat banyak tenda-tenda yang menjual aneka makanan dan minuman, juga berbagai macam souvenir berlabelkan 'The Duke'. BMW yang dikemudikan oleh Alexander akhirnya berhenti tak jauh di depan sebuah tenda berukuran cukup besar berwarna putih dan terdapat seorang pria bertopi yang tengah berdiri seolah menyambut kedatangan kami. Aku masih sibuk menajamkan penglihatanku pada pria itu, sementara Alexander telah membuka seat belt-nya sambil mengajakku untuk turun dari mobil. Kami lalu berjalan menuju pria tersebut hingga akhirnya aku dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. "Danvy?" Pria bertopi yang kusebut namanya itu segera memelukku. "Lama tak bertemu, Syera...." Aku membalas pelukannya. Kurasakan kedua mataku mulai memanas, aku benar-benar ingin menangis saat ini juga. Aku teringat akan masa-masa kami sewaktu masih berada di Fernseea Junior High. Selain bersahabat dengan Ava, Danvy dan Raf juga adalah orang-orang yang cukup dekat dengan kami. Aku kembali mengingat masa-masa persahabatan kami, termasuk peristiwa saat Davin meninggalkanku dan Danvy yang datang menjemputku sambil mengutuk Davin dan juga Ramona. "Apa kabarmu?" tanyaku beberapa saat setelah mengurai pelukan kami. Danvy kemudian menarik tanganku memasuki tenda, diikuti dengan Alexander yang berjalan membuntutiku. "Tidak aman jika kita berbicara di luar. Jika ada penggemar yang melihatnya kau bisa dicakar dan foto kita bertiga akan tersimpan di dalam kamera para paparazzi hingga akhirnya foto tersebut muncul menjadi hot news selama sepekan ke depan," candanya. "Kau terlalu berlebihan," tukas Alexander sambil menggelengkan kepalanya. "Kau hanya tidak tahu bahwa The Duke punya cukup banyak pasukan untuk menghancurkan rumahmu!” sahut Danvy sambil menatap Alexander dengan kesal. Bersamaan dengan itu terdengar suara seorang pria memanggil nama Danvy dan juga Alexander. Kami sama-sama menoleh dan kulihat Raf sedang berjalan bersama kami sambil menggandeng tangan Ava. "Deonasyera, Alexander, Danvy-ku," ucap Raf dengan nada suara yang terdengar aneh bagiku, atau mungkin bagi yang lainnya juga. Kami sama-sama tertawa tanpa mempedulikan para kru yang sibuk bekerja dan lalu-lalang di hadapan kami. Kulihat Raf segera memeluk Danvy walaupun dia cukup kewalahan mengingat tubuh Danvy yang lebih besar darinya. "Kalian bertiga sudah saling kenal satu sama lain?" Aku menatap Raf, Danvy, dan Alexander, sambil meminta penjelasan mereka. "Tentu!" tukas Raf antusias. "Kami telah berteman sejak kecil, Syera. Sebenarnya kami tidak hanya bertiga," Alexander pun melempar pandangannya pada seorang pria yang tengah duduk beberapa meter di depan kami sambil bermain gitar. Kebetulan ia menengok pada kami dan saat itu pula Danvy memanggilnya. "Namanya Michael. Michael Wilden," ucap Alexander sambil menunjuk pada si pemilik nama. Seorang pria bertubuh tegap, berkulit putih, dan berkumis tipis. Aku akhirnya berjabat tangan dengan Michael. Namun raut wajahnya terlihat tidak suka dengan kehadiranku. "Di antara kami, dia yang sangat pendiam. Jadi kau tidak perlu kaget jika suatu saat, di tengah keramaian kau bertemu dengannya dan dia tidak menyapamu. Tapi di antara kami dia yang paling handal dalam bidang IT," jelas Danvy layaknya seorang pemandu wisata. Sementara aku hanya bisa mengangguk mendengar penuturannya. "Kurasa kita akan mengadakan reuni. Bagaimana jika kita pergi makan bersama setelah menonton konser?" Ucap Raf sambil menaik-turunkan alisnya meminta persetujuan dari Alexander, Danvy, juga Michael. Aku dan Ava hanya tersenyum dan saling bersitatap. Tak ingin ikut campur urusan mereka. Biarlah rencana reuni diatur oleh mereka sendiri. "Tidak bisa. Kita masih kekurangan satu orang lagi. Kita masih belum lengkap. Dia adalah orang terpenting dalam sejarah pertemanan kita. Apa kalian tega bersenang-senang tanpanya?" Tukas Michael dengan wajah yang datar. "Hanya karena kita kekurangan satu orang, bukan berarti kita tidak bisa pergi bersama-sama. Lagipula dia yang memilih pergi meninggalkan kita tanpa alasan yang jelas. Jadi untuk apa kita harus memikirkan keadaannya? Pikirkan baik-baik, sekarang hanya tersisa kita berempat. Kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini? Apalagi kau yang sekarang telah menjadi warga negara lain dan Danvy yang tidak tinggal tetap di Vellozia." Raf mencoba membujuk Michael sambil menepuk pundaknya. "Benar katanya. Dalam tiga tahun terakhir ini kita sangat jarang bertemu. Bahkan hampir tidak pernah. Apa kau ingin menyia-nyiakan kesempatan ini?" Imbuh Danvy "Baiklah jika itu yang kalian mau ... aku tidak akan ikut." Michael menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. "Nona, kau tidak seharusnya pergi bersama pria ini," ia melirik Alexander, "Kau hanya semakin memperburuk keadaan!" Ucapnya sambil menatapku penuh ketidaksukaan. Alexander hendak membalas perkataannya, namun segera kutahan. "Aku tidak pernah suka dengan wanita ini dan kalian tahu itu," ucapnya seraya berlalu meninggalkan kami. Sementara aku hanya mampu terdiam sambil mencoba menormalisir detak jantungku. "Apa masalahmu dengannya, Syera?" Ucap Ava sambil memegang pundakku. Aku menggeleng, mencoba untuk tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku juga tidak tahu. Sudahlah, jam berapa The Duke akan tampil?" tanyaku pada Danvy. Danvy melirik jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya. "Astaga! Sedikit lagi." ♧♧♧ Konser akustik yang diadakan Danvy dan teman-temannya berjalan dengan sukses. Mereka membawakan banyak lagu dimulai dengan lagu pertama yang berhasil melambungkan nama mereka, hingga berujung pada lagu-lagu yang diminta langsung oleh para penggemar yang mereka tunjuk. Sementara aku, Ava, Alexander, dan Raf menontonnya di deretan kursi kedua, khusus untuk para tamu yang memiliki tiket VIP. Aku sendiri heran, bagaimana mungkin bibi Hanna membeli tiket konser The Duke sedangkan ia adalah tipikal orang yang tidak suka dengan aliran musik rock. Semua orang mungkin terfokus dengan penampilan The Duke yang luar biasa memukau para penonton, dengan berbagai aksi lucu yang dilakukan para personil band di atas panggung, hingga pada tantangan yang diberikan para host pada masing-masing personil untuk melakukan stand up comedy. Berbeda denganku yang masih memikirkan kejadian yang terjadi beberapa waktu sebelum konser dimulai. Aku berusaha keras untuk mengingat wajahnya dalam ingatanku, kalau saja aku pernah bertemu dengannya. Namun hasilnya nihil. Aku merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu. Tapi kenapa dia terlihat sangat membenciku? "Syera, apa kau tidak menghadiri pesta pernikahan Davin dan Ramona?" Ucap Ava sambil menyodorkan segelas cokelat panas padaku. Aku menggumamkan terima kasih, sebelum menjawab pertanyaannya. "Aku hanya akan merusak pesta pernikahan mereka, jika aku datang ke sana. Kau sendiri?" Ava mengerucutkan bibirnya. "Aku dan Raf tidak diundang. Lagipula aku senang dia tidak mengundang kami. Dulu dia juga pernah menggoda Raf. Untung saja Raf tidak termakan godaannya," tuturnya. "Apa menurutmu Ramona benar-benar mencintai Davin?" tanyaku. Ava menoleh menatapku dengan salah satu alis yang terangkat. "Apa kau masih mengharapkannya?" Aku sontak menggeleng. "Aku hanya tidak yakin bahwa dia benar-benar mencintai Davin," kataku. "Ya, aku tahu. Kau lebih memilih pria senja itu daripada Davin." Ava bergumam, "Pernikahan mereka hanya salah satu cara untuk meningkatkan reputasinya sebagai seorang model cantik yang kaya, memiliki segalanya, serta menikah di usia muda dengan pasangan yang tampan," ucap Ava sembari meneguk cokelat panas miliknya. Tak lama setelahnya, Alexander datang menghampiri kami. "Ava, Raf menyuruhmu menunggu di sini. Dia akan segera menjemputmu setelah dia mengambil mobilnya di parkiran," ujarnya. "Apa kita tidak jadi makan malam bersama?" ucap Ava. "Kurasa tidak jadi. Maaf," tukas Alexander. "Mungkin kita bisa pergi lain kali," tambahku. "Ini semua karena pria menyebalkan itu!" Ava mendengus sebal sambil mengepalkan tangannya. "Aku tidak suka caranya berbicara, terlebih lagi aku tidak suka dengan caranya menatap Syera. Satu lagi, wajah tampannya ternyata sangat berbanding terbalik dengan sifatnya," ujar Ava. Bersamaan dengan itu Raf muncul dengan mobilnya untuk menjemput Ava. Mereka pun berpamitan dan menyisakanku bersama Alexander. "Tentang kejadian tadi, maafkan aku. Michael hanya tidak terbiasa dengan kehadiran orang baru." Alexander menatapku penuh penyesalan. Aku mengangkat kedua bahuku. "Aku hanya tidak mengerti. Mengapa dia terlihat begitu membenciku, dan mengapa dia melarangku untuk pergi bersamamu?" Dia terdiam cukup lama. Mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaanku. "Dia hanya kurang suka berdekatan dengan wanita. Sudahlah, kau tidak perlu memikirkannya. Cepat atau lambat dia akan bisa menerima kehadiranmu. Apalagi kau adalah teman dekat dari Danvy dan Raf." Akupun mengangguk. Tak ingin bertanya lebih lanjut tentang Michael. Kuteguk habis cokelat panas yang diberikan Ava padaku tadi, kemudian membuangnya pada tempat sampah. Alexander pun mengajakku untuk masuk ke dalam mobil. Kulirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ada keinginan besar untukku menghadiri pesta pernikahan Davin dan Ramona. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada mereka dan juga permohonan maaf atas segala masalah yang pernah terjadi di antara kami, tak peduli siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun aku sangsi Ramona akan menerima etikat baikku. "Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?" Alexander berujar sambil menatapku. "Apa kita tidak berpamitan pada Danvy?" Ucapku beralibi. "Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku akan mengantarmu pulang. Lagipula dia sedang sibuk memberi tanda-tangan pada para penggemarnya." Alexander menatapku penuh arti. Seolah ia baru saja mengetahui sebuah rahasia besar dariku. "Aku tahu bukan itu yang ingin kau katakan. Kusarankan kau mengatakan yang sebenarnya atau aku tidak akan mengantarmu pulang," lanjutnya. Aku menghela napas. "Mantan pacarku merayakan pesta pernikahannya hari ini. Aku sebenarnya tidak ingin datang, karena isterinya sangat tidak suka denganku. Tapi kupikir aku harus datang untuk mengucapkan selamat pada mereka dan juga permohonan maaf atas segala masalah yang pernah terjadi di antara kami, tak peduli siapa yang benar dan siapa yang salah ..," aku menatap wajahnya, mencoba mencari pembelaan, "jika seseorang memiliki niat baik untuk memperbaiki hubungannya dengan orang lain, bukankah dia tidak perlu ragu pada reaksi yang akan diberikan orang lain padanya?" "Jadi intinya kau masih tetap ingin pergi, atau ...?" Aku terdiam. "Kurasa akan lebih baik jika kau pergi. Apalagi jika ternyata kau telah diundang mereka. Kau tak perlu memusingkan pendapat isterinya bila melihatmu ada. Yang terpenting adalah bagaimana niat baikmu itu teraktualisasi." Aku tersenyum. Alexander menyarankan pilihan yang baik. Kami akhirnya berangkat menuju alamat rumah Ramona yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman kota. Sebuah perumahan elit yang letaknya strategis karna diapit oleh dua mall besar dan juga berbagai macam restoran berbintang. Dalam perjalanan aku berandai apa yang akan terjadi bila aku tiba di sana dan Ramona melihatku. Aku mencoba menghapus segala pikiran yang muncul bahwa kehadiranku hanya akan merusak pesta pernikahan mereka. Kutarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kuhembuskan secara perlahan. Bahkan musik yang terputar dari tape mobil Alexander tak mampu menenangkan diriku yang sedang gugup. Aku hanya takut dan tidak ingin menimbulkan masalah lagi dengan Ramona. "Syera, jika kau terus berlaku cemas seperti itu, kuyakin saat kita sampai di pesta pernikahan mantanmu, banyak orang akan melihatku berjalan bersama seorang zombie." Alexander kemudian tertawa dengan lelucon yang dibuatnya sendiri. "Kau menyebalkan!” ucapku sembari tertawa. "Tengoklah ke belakang, ada sebuah paper bag berwarna cokelat yang kuletakkan di atas jok. Ambillah, untukmu," ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Ia pun memelankan laju mobilnya agar aku dapat mengambil paper bag yang dimaksudkannya. Aku lalu membuka paper bag tersebut dengan penuh rasa penasaran. Ternyata isi dari paper bag tersebut adalah sebuah novel yang sepertinya sudah sangat lama, terbukti dari warna kertasnya yang kecokelatan. Namun secara garis besar penampilan novel tersebut masih sangat rapi. Masih dengan rasa kagum, kubalikkan novel tersebut agar dapat melihat judulnya. "Caught the Light in Summer edisi pertama tahun 1998...." ucapku sambil menyentuh sampul novel itu. "Hadiah." Satu kata dari Alexander yang mampu mendapatkan beribu ungkapan terima kasih dariku. Kami akhirnya tiba tepat di depan pekarangan rumah milik Ramona. Aku dan Alexander dibuat tercengang melihat suasana di sekitar pekarangan rumahnya yang dipenuhi dengan mobil polisi dan juga beberapa mobil ambulans. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kami segera keluar dan menghampiri petugas kepolisian yang juga baru keluar dari mobil mereka. Alexander menyapa mereka dan mencoba menggali informasi dari para polisi tersebut. "Baru saja terjadi kasus pembunuhan di sini." Aku membelalakkan kedua mataku saat salah satu dari petugas kepolisian itu memberitahu kami. Raut ketakutan seketika menghampiri diriku. Dalam hati aku berdoa semoga Davin dan Ramona baik-baik saja. Alexander kembali berujar, "Siapa yang dibunuh?" Belum sempat petugas kepolisian itu menjawab, pandanganku teralih pada seorang wanita yang memakai atribut kepolisian lengkap, sedang berbicara kepada dua orang polisi yang lain untuk menggeledah area perumahan Ramona. Aku mencoba mengingat kembali di mana aku pernah bertemu dengan wanita tersebut. "Calliandra!" Teriakku. Dan benar saja, wanita itu segera menoleh sambil terkejut. Dia pun berjalan mendekati kami dan sedikit terkejut saat melihat Alexander. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya. "Jadi kau adalah seorang polisi?" ucapku balik bertanya. Calliandra berujar dengan pelan, "Maafkan aku telah membohongimu. Waktu itu aku sedang menyamar sebagai seorang pramugari. Ada seseorang yang harus kuintai." Ada jeda yang cukup lama sebelum ia melanjutkan kalimatnya, "Apa yang kau lihat sekarang ini memang benar. Aku seorang detektif yang bekerja di kantor kepolisian. Namun tentang hari itu, aku benar-benar kehilangan ponselku," jelasnya "Tidak apa. Aku tahu kau hanya menjalankan tugasmu. Hanya saja apa yang terjadi dengan Davin dan Ramona?" "Kau mengenal mereka?" "Davin adalah mantan pacarku dan Ramona adalah wanita yang tidak pernah suka denganku," tukasku. Calliandra sempat mengerutkan dahinya sebelum akhirnya bersuara, "Ada seseorang yang secara sengaja telah membunuh orang tua dari Ramona. Para tamu undangan atau para pelayan sekalipun tidak ada yang melihat wajah pelaku. Namun menurut penuturan mereka, kejadiannya berlangsung sangat cepat saat lampu tiba-tiba padam dan seketika terdengar suara menyerupai benda yang jatuh di atas tanah. Tiba-tiba lampu kembali menyala dan mereka melihat orang tua Ramona yang sudah tergeletak tak bernyawa." Calliandra mendesah pelan, "Mereka mengerjakan semuanya dengan sangat terstruktur dan rapi. Tidak ada satu pun jejak atau barang bukti yang ditinggalkan oleh pelaku. Aku curiga mereka menggunakan senjata yang tidak menimbulkan bunyi sehingga suara tembakan sama sekali tidak terdengar." "Lalu bagaimana dengan Davin dan Ramona?" Calliandra menatapku sambil memegang pundakku. "Saat kejadian berlangsung mereka telah pergi ke Pier Street. Sayangnya kami mendapat laporan bahwa mereka menghilang." Aku tercekat. Bagaimana mungkin masalah sekompleks ini bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan? Seketika aku merasa kasihan pada Davin dan Ramona. Tak menyangka hari pernikahan mereka akan berakhir setragis ini. Bulir bening berhasil jatuh membasahi kedua pipiku. Rasa ibaku yang tinggi mengalahkan seluruh rasa kesalku terhadap mereka. Alexander mendekapku. Mencoba memberi penguatan. "Polisi pasti dapat menemukan mereka. Tenanglah." Ia mengarahkan pandangannya pada Calliandra seraya berujar, "Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" "Nihil." Calliandra kembali menatapku. "Pulanglah, Syera. Di sini tidak aman bagimu. Aku janji aku akan segera memberitahumu jika aku berhasil menemukan keberadaan mereka. Simpan ini baik-baik," ujarnya sambil memberikan kartu namanya padaku. Aku hanya mampu mengangguk sambil menggumamkan terima kasih. Alexander pun menuntunku untuk masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan pada Calliandra. Dari dalam mobil aku melihat ada seorang pria berpakaian serba hitam yang juga memakai jubah hitam tengah berdiri sambil mengarahkan pandangannya pada kami. Entah kenapa kurasa pandangannya tertuju padaku. Pria tersebut kemudian menghilang dibalik semak-semak saat Alexander menyalakan mesin mobilnya. "Ada apa?" Alexander kembali menatapku dengan raut wajah khawatir. Aku berujar dengan pelan, "Kita harus berhati-hati. Kurasa seseorang sedang membuntuti kita." Alexander menatapku dengan kerutan di dahinya. "Siapa?" "Aku tidak tahu. Dia memantau kita dibalik semak itu." Aku menunjuk pada semak-semak tempat berdirinya pria misterius tersebut. "Kau mungkin masih syok dengan kejadian hari ini. Dan mungkin itu hanya halusinasimu." "Tidak! Aku benar-benar melihatnya di sana, tadi. Hanya saja aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas," selaku "Namun bukan berarti dia akan membuntuti kita. Lagipula, tidak ada apa-apa di sana saat aku masih berada di luar mobil." "Aku sangat yakin ada yang mengawasi kita. Dia mengenakan baju serba hitam. Tapi aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas," ucapku meyakinkan Alexander yang sedari tadi tidak percaya bahwa ada seseorang yang terus mengawasi kami. "Syera, dengar ..., itu mungkin hanya salah satu dari tetangga sekitar yang penasaran karna ada banyak mobil polisi yang terparkir di halaman rumah Ramona. Hanya cara berpakaiannya saja yang aneh." Alexander masih tetap dengan pendiriannya. Ia bersikap sangat santai, berbanding terbalik denganku. "Bagaimana jika pria yang kulihat tadi adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua Ramona, dan bagaimana jika dia juga yang menyebabkan hilangnya Davin dan Ramona?" Mataku mulai berkaca menahan tangis. "Kami pernah bertengkar delapan hari yang lalu, karna Ramona menuduhku merebut Davin. Walaupun Ramona tidak pernah menyukaiku, namun aku tidak pernah membenci Ramona hanya karna dulu dia telah merebut Davin dariku. Aku sangat mengkhawatirkan mereka, Alex," ujarku dengan suara yang bergetar, hampir menangis. Alexander menatapku iba, lalu menggenggam jemariku. "Kau tidak perlu berpikir terlalu jauh. Sebaliknya, kau harus yakinkan dirimu bahwa mereka baik-baik saja. Kau hanya kelelahan dan butuh istirahat. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," ucapnya lembut. Aku menatap manik cokelatnya yang masih menatapku. Wajahnya semakin mengingatkanku pada lelaki itu. Aku tersenyum lembut membalas tatapannya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku sangat tidak asing dengan wajahmu," ucapku seraya menatap kedua matanya. Alexander spontan mengangguk. "Ya, di toko buku Jim, dan mungkin di masa lalu saat kau atau aku sama-sama tidak menyadarinya." Wajahnya seketika berubah menjadi masam. "Kau masih mengingat masa lalumu, hah?" Kualihkan pandanganku ke lain arah. "Aku masih mengingatnya meskipun kami tidak pernah lagi bertemu sejak terakhir kali aku melihatnya...."