DEONASYERA POV
Matahari belum terlalu memancarkan sinarnya pada beberapa jenis bunga yang menghiasi teras belakang rumahku. Udara yang dingin dan sejuk sanggup membuat beberapa orang bersikeras untuk semakin memeluk erat guling dan juga bersembunyi dibalik selimut tebal milik mereka. Berbeda dengan keluarga Cord yang telah sibuk dengan berbagai macam hal yang kebanyakan dari hal tersebut adalah mempersiapkan diri sebelum pergi bekerja. Aku masih bergelut dengan pikiranku dan berbagai macam hal lainnya yang membuatku menatap kosong ke arah taman bunga kecil yang dibuat ibu di teras ini. Berbagai pikiran itu datang dan pergi tanpa menimbulkan kejelasan yang jelas. Seolah kau sedang berpikir keras untuk suatu hal yang kau sendiri tidak mengerti apa itu. Begitulah yang kulakukan saat ini. "Jika ada yang harus kukatakan tentang pagi ini adalah ..., apa yang dilakukan oleh pagi ini sehingga wajahmu begitu murung, Syera? Apa semuanya baik-baik saja? Bagaimana dengan kencanmu kemarin malam?" Aku menoleh mendapati Dianee yang telah duduk di sampingku sambil memegang segelas teh. Kembali ke keadaan sekarang, aku masih menatap Dianee dengan raut wajah kesal. Sementara dia hanya terkekeh seraya meneguk kembali teh yang ia bawa. Penampilannya pagi ini sangat rapi dan kurasa sebentar lagi ia akan segera berangkat. Hanya saja ia belum menyisir rambutnya dengan rapi namun memilih untuk mengganggu lamunan seorang wanita yang hampir berusia duapuluhenam tahun pada 28 Januari mendatang. "Kakak kau selalu mengagetkanku." Aku menatap Dianee dengan malas. Kulihat Tee berlarian menuju ibunya seraya memeluknya dengan erat seolah tak ingin ibunya berangkat kerja. Sementara Dianee segera meletakkan gelasnya di sebuah meja kecil yang berada di sampingku. Ia was-was kalau nanti Tee akan merajuk dan memberontak seketika lalu terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti gelas yang pecah dan noda teh yang menempel pada rok navy kesayangannya. "Kau lihat itu Tee? Bibimu menuduh ibumu mengagetkannya. Padahal Ibu hanya berbicara dengan suara yang pelan. Ibu mencarinya sedari tadi. Kau tahu kan, bibimu seharusnya sarapan di ruang makan. Tapi lihat yang dilakukannya. Merenung di teras belakang rumah." Dianee tertawa sambil bergumam, "sepertinya bibimu yang satu ini sedang banyak masalah." Lanjutnya. Sementara Tee, putri sulung kesayangannya itu hanya tertawa seolah paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Aku menarik tangan gadis kecil itu untuk mendekat padaku, seraya mendudukannya di atas pangkuanku. "Pertama yang harus kau garis bawahi adalah aku tidak berkencan dengan Alex. Kedua, ada masalah cukup serius saat aku dan Alex mengunjungi rumah Ramona." Dianee mengangkat kedua alisnya terlihat tertarik dengan topik yang akan kubahas. "Apa? Jangan bilang dia menghinamu atau melakukan kekerasan fisik padamu?" Dianee mengembuskan napasnya dengan gusar. "Aku ingin sekali menjambak rambutnya!" Aku tersenyum simpul. Dianee pasti mengetahui cerita itu dari ibu. Seingatku kejadian saat pertengkaran di restoran itu hanya kuceritakan pada ibu. Namun sekarang aku semakin yakin bahwa seisi rumah telah mengetahuinya. Aku juga ingat ekspresi ibu saat kuceritakan bagaimana hingga sebuah tamparan dari Ramona sukses mendarat di pipiku. Geram dan berandai bahwa seandainya ibuku adalah seorang penjahat, mungkin saat itu juga ia telah mencelakai Ramona di rumahnya. Sayangnya kebenarannya adalah aku punya seorang ibu yang sangat baik dan jarang sekali marah. Bahkan sekalipun ibu marah, hal itu tidak akan terlihat. "Tidak, tidak begitu. Pesta pernikahan mereka tidak berjalan dengan begitu baik." Tee merajuk ingin lepas dari pangkuanku. Aku menurunkannya dan dengan segera gadis itu berlarian masuk ke dalam rumah. "Lalu?" Dianee masih menatapku dengan serius. "Saat aku dan Alex tiba, pekarangan rumahnya dipenuhi oleh banyak mobil polisi. Ternyata telah terjadi kasus pembunuhan. Dan pada kasus itu yang menjadi korbannya adalah kedua orang tuanya dari Ramona. Sementara Davin dan Ramona sendiri menghilang. Hingga kini polisi belum menemukan keberadaan mereka," jelasku. Aku tahu ini belum sampai duapuluhempat jam sejak mereka menghilang. Namun aku punya firasat buruk bahwa mereka akan baik-baik saja. Sama seperti film-film yang pernah kutonton, kurasa hilangnya Davin dan Ramona berkaitan erat dengan kematian kedua orang tua Ramona. Atau bisa saja aku salah kaprah, namun begitulah yang kurasakan. Kulihat Dianee membulatkan kedua matanya. Antara terkejut atau semakin tertarik dengan ceritaku. Ia pun mengambil tempat dan duduk di sebuah kursi kayu berbahan jati yang berada tak jauh di dekatku. "Masalah yang menarik." Dianee tersenyum tipis. "Mungkin mereka sedang menikmati bulan madu mereka? Lagipula siapa yang tahu?" Aku menggeleng. "Kurasa tidak begitu adanya, Kak. Entah kenapa sepertinya peristiwa pembunuhan itu berkaitan dengan menghilangnya Davin dan Ramona. Hanya saja aku belum menemukan alasan pelaku melakukannya." Dianee meneguk habis tehnya. "Kau tahu, masalah seperti itu bisa saja berkaitan dengan dendam masa lalu." "Tapi apa harus menculik Davin dan Ramona sekaligus?" Dianee mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya berspekulasi. Lalu menurutmu masalah ini berkaitan dengan dunia bisnis? Persaingan?" Dianee menggeleng tanda ragu. "Sang pelaku pasti punya dendam masa lalu atau bisa saja dia adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh seseorang. Dan motifnya tidak mungkin karna persaingan. Bayangkan jika pelaku atau dalangnya bermasalah dengan kedua orang tua Ramona, untuk apa dia atau mereka menculik Davin? Hanya untuk membalaskan dendam semata? Lagipula jika Davin terbunuh, apa itu merugikan bagi kedua orang tuanya? Apa itu merugikan perkembangan bisnis mereka?" Dianee tersenyum. "Jika itu berkaitan dengan balas dendam ...," ucapanku terhenti. Berbagai macam argumentasi terbentuk di otakku dengan sempurna. Mereka memunculkan berbagai alasan mengapa pembunuhan itu didasarkan pada balas dendam atau mengapa sampai sang pelaku memutuskan untuk balas dendam. "Sudahlah ..., hal itu bukan urusanmu. Untuk apa kau memikirkannya?" Dianee tiba-tiba terkejut, "Atau jangan-jangan kau masih belum dapat melupakan Davin?" Aku terbelalak. Yang benar saja. "Itu tidak benar! Aku hanya kasihan pada mereka. Pertanyaan seperti itu jangan pernah terlintas di pikiranmu, Kak," aku berujar sedikit ketus. "Lalu kau akan memikirkannya terus hingga rambutmu memutih?" Suara tawa Dianee seketika memecah. "Biarkan saja polisi yang menangani hal itu. Lagipula apa pentingnya mereka bagimu? Untuk apa mengkhawatirkan orang yang tidak pernah menghargaimu?" Dahiku mengerut. Aku segera menyela perkataan Dianee. "Kau tidak boleh seperti itu. Ya, hanya karena dia selalu bersikap buruk bukan berarti aku harus membalaskan hal yang sama padanya, bukan? Jika aku seperti itu, lalu apa yang membedakanku dengannya?" Dianee mengangkat salah satu alisnya. Tersenyum. Aku yakin dia pasti terkesan dengan perkataanku. "Sudahlah. Aku ingin ke kantor saja," ucapnya yang akhirnya menyerah. "Kau ingin pergi bersamaku dan Petter?" Dianee menawarkan. "Tidak, aku bisa pergi sendiri menggunakan taksi." "Kau tidak menggunakan mobilmu?" Aku menggeleng. Berucap sambil tersipu, "Alexander akan menjemputku nanti sore. Jadi mobilku kutinggalkan di rumah. Aku harus pergi sekarang. Ada yang harus kukerjakan." ucapku dengan segera sambil melangkah meninggalkan Dianee. "Apa?" Sahut Dianee penasaran. Aku menoleh sebentar. "Sesuatu yang tidak ada kaitannya denganmu." Wanita berusia duapuluhdelapan tahun itu mendengus sebal sambil ikut bangkit berdiri dan membawa gelasnya. ♧♧♧ "Perumahan Louxville nomor enam," gumamku sambil menatap lamat-lamat kartu nama milik Bryan yang sudah lama tersimpan di dalam dompetku, seraya menatap sebuah rumah berukuran sedang bergaya moderen yang terpampang di depanku. Ini adalah kali pertamaku mengunjunginya di rumahnya. Aku yakin dia pasti akan sangat terkejut melihat kedatanganku. Beberapa menit yang lalu sebelum aku tiba di sini, aku sempat mengunjungi cafe miliknya. Aku tahu aku seharusnya ke kantor, namun aku memilih untuk berbelok dan mengunjungi cafe. Dari sana aku mendapat kabar dari salah satu pegawai cafe bahwa Bryan sudah tiga hari tidak mengunjungi cafe dan juga tidak bisa dihubungi. Aku baru saja hendak membunyikan bel, namun tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan menampakkan seorang wanita yang keluar dengan raut wajah kesal, rambut yang berantakan, juga cara berjalan yang sedikit sempoyongan. Tak hanya itu, ia mengatakan bahwa dia benci dengan sikap Bryan. Tiba-tiba wanita tersebut terkejut dan menghentikan langkahnya. "Syera? Apa yang kau lakukan di sini?" Aku dapat mencium bau alkohol yang menyengat saat dia berucap. Aku tersenyum seadanya. Tak tahu bagaimana harus berekspresi. Ini bahkan masih terlalu pagi untukku mendengar perdebatan mereka. Ya, jarum jam tanganku menunjukkan pukul 06:30. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini, Viona?" Ucapku dengan santai sambil menatap Bryan dan Viona secara bergantian. Dia tergagap. Bahkan cuaca pagi hari yang cukup dingin tak mampu untuk menghalau tetesan keringat yang mulai membasahi dahinya. Aku tak mengerti hal apa yang membuatnya begitu gugup saat melihatku. "Syera, ada apa?" Bryan mengambil alih pembicaraan namun kulihat dia cukup terkejut mendapati kehadiranku. "Aku mencarimu di cafe. Tapi pegawaimu bilang kau sudah tiga hari tidak ke sana dan tidak ada kabar apapun darimu. Jadi aku menemuimu di sini," tukasku sambil masih tetap tersenyum. Entahlah. Perasaanku sedikit mencelos. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, namun beginilah kenyataannya. Viona adalah tipikal orang yang akan selalu menceritakan apapun yang dirasakannya pada kami para sahabatnya. Aku juga tahu dia belum menikah, sama sepertiku. Namun aku tak tahu bila dia dan Bryan sedekat ini. Dia tak pernah menceritakannya padaku ataupun pada Alston bersaudara. Seingatku, semua pegawai yang bekerja di cafe milik Bryan tidak ada satupun yang mengetahui alamat tempat tinggalnya. Dan lagi, seingatku Viona bukan tipikal wanita yang suka mengunjungi rumah pria seorang diri. "Aku pergi dulu," ucap Viona buru-buru, seolah ingin segera menyingkir dari sini, namun aku segera menahan tangannya. "Kau tidak bisa pergi dengan keadaan seperti itu. Kau mabuk, Vio!" Aku sedikit ragu dengan kalimat terakhirku. Belasan tahun aku mengenal baik para sahabatku dan tidak ada satupun di antara mereka yang suka dengan minuman beralkohol. Aku bahkan tak yakin saat ini sedang berbicara dengan Viona, sahabatku. "Dia bisa pulang sendiri," sahut Bryan sambil menatap Viona dengan datar. Tak menghiraukan ucapannya, aku tetap pada pendirianku. "Aku akan mengantarmu pulang, Vio." Wanita itu menatapku dengan sendu. Matanya mulai berkaca. "Aku bisa pulang sendiri, Syera. Terima kasih," tegasnya Bryan menatap Viona datar, kemudian menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia bahkan tidak memberi kesempatan bagi Viona untuk mengucapkan kata-katanya. Aku masih seperti orang linglung, hingga akhirnya aku melihat seekor anjing berjenis Bethouven yang berdiri tak jauh di hadapanku sambil menatapku dengan bingung--sepertinya. Aku tiba-tiba teringat, Bryan pernah bercerita dia memiliki seekor Bethouven jantan yang ia beri nama Mongchi. "Mongchi!" Aku tersenyum seraya mengelus kepalanya dengan sayang. Aku bukan pecinta hewan, namun Bethouven adalah favoritku. Selain karna wajahnya yang menurutku menggemaskan, ukuran tubuhnya yang lumayan besar juga akan membuatnya terasa nyaman bila dipeluk. "Kau tidak pernah ke sini sebelumnya. Ada apa?" Ucap Bryan yang masih penasaran dengan kehadiranku. "Aku tidak akan ke sini jika mereka tidak memberitahuku bahwa kau tidak ke cafe selama tiga hari. Aku ingin sarapan bersamamu." Aku menatap Bryan yang cukup terkejut mendengar jawabanku. "Aku serius. Berikan aku secangkir cappucinno. Bukankah cappucinno buatanmu enak sekali." Aku kembali berujar. "Kau bukan pecinta kopi. Kau adalah pecinta cokelat panas," sanggahnya "Tapi aku ingin," ucapku tegas. Bryan mengangguk pasrah. Dia mulai mengambil dua cangkir beserta kawan-kawannya yang tak lain adalah sendok, bubuk kopi, gula, dan sebagainya. Sementara aku membilas tanganku di wastafel seraya mengeringkannya dengan kain. Aku lalu mengambil beberapa lembar roti, mengoleskan sedikit margarin, lalu memberi sedikit taburan cokelat compound. Pikiranku sebenarnya masih dipenuhi dengan tanda tanya ... ada apa antara Bryan dan Viona. Namun aku enggan untuk mengeluarkannya. Biar saja pertanyaan itu kusimpan sendiri, atau mungkin akan terjawab seiring berjalannya waktu atau pada saat Bryan sendiri yang mengatakannya padaku. Kulihat Bryan telah selesai membuat kopi. Kami saling berpandangan selama beberapa saat. "Apa yang ingin kau tanyakan tentang kami?" Ia langsung menyerangku dengan pertanyaan itu, seolah-olah ia tahu apa yang ada di dalam kepalaku. Aku tahu dia pasti telah tahu apa yang tengah kupikirkan atau yang akan kutanyakan. Hanya saja aku ragu dia akan menceritakan yang sebenarnya padaku. "Viona ..., tidak pernah suka alkohol dan dia juga tidak pernah suka mengunjungi rumah pria. Apa yang dia lakukan di sini?" Aku berucap dengan penuh kehati-hatian. Mongchi menatapku prihatin. Seandainya hewan itu bisa bicara, mungkin dia yang akan memberitahuku. "Aku menemukannya di jalan dalam keadaan mabuk saat aku sedang pergi ke mini market pukul lima tadi. Dia duduk di pinggir jalan sambil menangis, habis di rampok. Dia juga mengalami beberapa luka di lengannya. Aku kasihan, lalu membawanya pulang ke rumah dan mengobatinya." Bryan berujar dengan sungguh-sungguh, berharap aku dapat mempercayainya. Aku sedikit mengerutkan dahi. Kemudian mencoba menghapus segala pikiran aneh yang hinggap di benakku tentang Viona dan Bryan. "Ada apa dengannya?" Tanyaku. Bryan menggeleng. Menyesap cappucinno buatannya. "Dia tidak mau menceritakannya padaku. Jadi aku tidak ingin bertanya lebih lanjut," ucapnya acuh. Aku mengangguk paham. Melahap potongan roti dan kembali bertanya. "Apa yang terjadi padamu tiga hari belakangan ini? Mengapa kau tidak pergi bekerja?" Bryan menatapku bingung. "Kenapa kau tidak pergi ke cafe? Para pekerjamu bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi padamu," tambahku Tiba-tiba ia tertawa. "Oh ..., aku tidak ke cafe karna aku sibuk dengan pekerjaan sampinganku." Aku mengernyitkan kedua alisku. "Pekerjaan sampingan?" Ia tersenyum, kemudian mulai menjelaskan dengan bangga. "Di lantai dua, ada sebuah ruangan yang khusus kubuat seperti galeri. Ada banyak foto yang belum kupajang di sana. Itulah alasan kenapa aku menghilang selama tiga hari. Bila telah selesai, aku akan menunjukkan ruangan itu padamu." Aku mengangguk. Cukup tertarik dengan penjelasannya, lalu menyesap cappucinno yang dibuatkannya padaku. Tiba-tiba aku teringat pada kejadian semalam saat aku dan Alexander berada di halaman rumah milik Ramona. Dan ya, rasa khawatir itu kembali muncul. Aku harus dapat menemukan mereka. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, siapa yang menculik mereka, dan apa alasannya. "Syera, apa semua baik-baik saja?" Bryan mengangkat kedua alisnya, mencoba memastikan tidak ada yang kusembunyikan darinya. Aku menelan ludah sebelum bercerita. Aku tidak menceritakan prolog saat Alexander menjemputku di rumah dan kami pergi menonton konser akustik The Duke lalu kami bertemu teman-teman lamanya dan ada salah satu di antara mereka yang terlihat tidak suka padaku. Aku langsung pada intinya. Terjadi pembunuhan dan pasangan baru itu menghilang. Untuk menit pertama Bryan sempat bertanya padaku bagaimana aku bisa sampai di sana, di kediaman Ramona. Akupun menceritakan bahwa aku baru saja selesai menonton konser akustik dengan Alexander. Jadi kesimpulannya aku pergi ke sana bersama Alexander. Limabelas menit Bryan mendengar ceritaku dengan seksama. Ekspresinya mulai berubah saat mendengar bahwa kedua orang tua Ramona dibunuh. Aku pun mulai menceritakan runtut permasalahan seperti yang dikatakan Cale padaku kemarin malam. "Bagaimana mungkin tidak ada bukti rekaman atau tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu? Kupikir daerah tempat tinggalnya adalah sebuah perumahan elit yang memilik keamanan ketat serta fasilitas keamanan yang memadai?" Bryan mulai mengkerutkan alisnya. Tak habis pikir. Tak lupa melahap habis roti cokelat yang kubuat. "Tapi begitulah kejadiannya. Tak hanya itu, aku melihat seseorang pria tengah mengamatiku dan juga Alexander. Sayangnya aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karna ia memakai pakaian serba hitam." Aku menghela napas, mengusap wajahku dengan kedua tanganku, lalu menyesap cappucinno buatan Bryan. Rasanya cukup menenangkan walau tidak seperti rasa segelas cokelat panas. "Namun di samping semua itu, aku lebih mengkhawatirkan Davin dan Ramona. Aku punya firasat buruk tentang mereka. Aku harus menemukan mereka. Setidaknya aku harus melihat keadaan mereka dan memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Aku juga tidak tahu apa reaksi yang akan diberikan Ramona ketika dia tahu kedua orang tuanya telah tiada," sambungku. Bryan menghela napas. Memandang ke lain arah, lalu kembali menatapku. "Masa lalu ternyata memiliki pengaruh yang besar dalam hidupmu. Apa beginikah yang akan kau lakukan pada semua orang yang telah menjadi bagian dari masa lalumu? Kau bahkan tidak enggan untuk menolong mereka yang jelas-jelas telah menyakitimu. Kau bahkan tidak mempersoalkan bagaimana dulu mereka menyakitimu karena sekarang yang kau inginkan adalah mengetahui keberadaan mereka, memastikan apakah mereka baik-baik saja. Aku ragu kau telah melupakan Davin dan seluruh perasaanmu padanya." Dahiku kembali mengerut. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Bryan? "Jika yang ingin kau katakan adalah aku masih mencintai Davin, maka kau salah besar." Aku menatap Bryan dengan yakin, seraya berujar, "Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu bahwa hanya ada satu orang yang takkan kulupakan sampai kapanpun. Mungkin aku harus kembali megingatkanmu bahwa bahkan cinta pertamaku tidak memberikan dampak sebesar ini terhadap kehidupanku seperti yang dilakukan lelaki itu. Mungkin kau seharusnya tahu bahwa aku hanya ingin menolong Davin dan Ramona dan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perasaanku terhadap Davin," jelasku Bryan tercengang. Ada raut kecewa yang terpampang jelas dari kedua matanya. Ia memberikanku sebuah senyuman simpul, sarat akan makna. "Perasaanku pada Davin telah lama menghilang sejak dia meninggalkanku dan kurasa itu cukup jelas," tegasku. "Itu yang membuatku kagum padamu Syera," ucapnya sambil tersenyum. "Aku tidak ingin kau mengungkit tentang masa laluku bersama Davin. Aku hanya ingin menolong mereka berdua dengan tulus." Aku menyudahi percakapan tepat setelah meneguk habis cappucinno milikku. Bryan terdiam. Membiarkan detak jarum jam meramaikan sunyinya suasana pagi ini. "Baiklah. Aku akan membantumu. Kau tidak perlu bersusah payah. Aku akan mengabarimu jika aku berhasil menemukan Davin dan Ramona." "Terima kasih." Dua kata yang kulontarkan padanya yang kembali membuat seulas senyuman terukir di bibirnya. ♧♧♧ Akhirnya aku kembali ke kantor seorang diri. Tadinya Bryan ingin mengantarku, namun tawarannya segera kutolak. Aku memilih untuk pergi ke kantor menggunakan trem. Setibanya di kantor, aku bertemu dengan Avariella di depan pintu masuk. Wanita yang tengah berbadan dua itu segera menimbunku dengan berbagai pertanyaan tanpa memberikanku kesempatan untuk berpikir. Namun dari sebagian besar pertanyaannya, aku mengambil kesimpulan bahwa berita mengenai kasus pembunuhan kedua orang tua Ramona telah tersiar ke seluruh pelosok Eleusine. "Kau tidak perlu bercerita panjang lebar padaku. Aku telah menontonnya di TV tadi pagi. Benar-benar tidak disangka," gumamnya "Aku dan Alexander ke sana." "Benarkah?!" Ava memekik, membuat seluruh mata memandang kami dengan tatapan menohok. Setelah sadar akan perubahan dari lingkungan sekitar, wanita itu hanya bisa tersipu malu seraya memohon maaf. "Aku penasaran dengan pelakunya. Apa pelakunya adalah orang yang sama?" "Belum tentu Davin dan Ramona menghilang. Siapa tahu mereka berdua memang sengaja menghilangkan diri untuk sesuatu hal yang ...," "Benarkah? Lalu mengapa supir yang seharusnya mengantar mereka menuju Pier Street malah ditemukan tewas di dekat tempat pembuangan sampah sebuah rumah tua yang bahkan lokasinya tidak mengarah ke Pier Street?" Aku balik bertanya. Ava melongo. "Kau juga menonton berita pagi ini?" Aku mendesah pelan. "Sebelum percakapan panjang ini dimulai, kau yang telah menceritakannya padaku, Ava." Wanita itu terkekeh. "Kau tahu, ada banyak hal yang terjadi di dunia ini yang dapat kita terima ataupun sulit untuk kita terima. Ada masalah yang akan datang tiap detiknya entah masalah baik atau buruk. Siap ataupun tidak, kau pasti akan diperhadapkan dengan masalah-masalah itu. Dan ...," belum sempat Avariella menyelesaikan ceramahnya, aku buru-buru memotong. "Dan apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Sedari tadi kau hanya mengarang indah tanpa memperhatikan inti dari perkataanmu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan," ucapku "Aku juga tidak mengerti apa yang harus kubahas." Wajahnya berubah menjadi sedih, wanita pecinta warna ungu itu kembali berujar dengan ragu, "tapi kurasa kau masih menyimpan perasaanmu padanya. Kau tahu ..., sisa rasa sayang yang berubah menjadi rasa peduli yang teramat dalam." Lagi? Belum sampai setengah hari dan aku sudah mendapat satu pernyataan yang menyerupai dari tiga orang yang berbeda. Pernyataan yang diutarakan di menit yang berbeda namun mampu menimbulkan desahan napas panjang di setiap kemunculannya. Apakah peduli terhadap mantan kekasih harus selalu diartikan sebagai perasaan sayang yang tersirat? Aku tidak mengerti mengapa tiga orang yang berbeda ini memiliki satu pemikiran yang sama. Apakah wawasan pemikiran mereka sesempit itu? "Oh, aku tahu!" Ava kembali berujar dengan senyuman yang mengembang di pipinya. "Kau tidak mungkin masih menyimpan perasaanmu pada si cassanova itu! Kau telah lama bangkit dari keterpurukanmu yang disebabkan oleh lelaki itu. Karena ...," Aku menunggu Ava menyelesaikan penuturannya. "Lelaki di halte itu, lelaki yang tidak jelas asal-usulnya itu telah merebut hatimu. Love at first sight." Bersamaan dengan itu dering teleponku berbunyi. Calliandra menelpon. "Halo," ucapku saat menjawab panggilannya. Ava segera merampas ponselku dan mengaktifkan pengeras suara sehingga kami berdua dapat mendengarnya. "Kami menemukan sesuatu." "Apa?" "Kau mengaktifkan pengeras suara?" Aku berucap sambil terbata. "Ya ..., aku sedang bersama Ava, sahabatku." Terdengar desahan napas di seberang sana."Kau akan tahu setelah kau melihatnya. Jadi, bisakah kau datang ke mari? Kantor kepolisian Vellozia." Ava bertelepati. Kurang lebih yang ingin dia katakan adalah 'Kita sedang ada rapat pukul sepuluh nanti.' "Aku harus mengikuti rapat pukul sepuluh nanti." "Kau bisa datang saat jam makan siang." "Baiklah." "Oke. Aku tutup teleponnya. Sampai jumpa." Bersamaan dengan itu terdengar bunyi tanda panggilan diputuskan secara sebelah pihak. "Wanita itu memiliki cara bicara yang ketus," gumam Ava sambil mengerucutkan keningnya. "Tidak, dia sangat baik. Dia juga cantik. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih, dan dia memiliki rambut yang panjang serta lurus. Dia sangat cocok menjadi pramugari. Aku sempat tertipu saat ia dalam proses penyamaran," jelasku "Jadi sekarang kalian berteman?" Tanya Ava acuh tak acuh. "Kurang lebih seperti itu." Aku menyalakan kembali ponselku seraya menghubungi Alexander. "Ada apa Syera?" "Aku butuh bantuanmu."