Liontin dan Sebuah Perkenalan Kecil

2361 Words
DEONASYERA POV Ruangan kantor kepolisian terasa mencekam saat aku dan Alexander memasuki ruangan kerja milik Calliandra. Jujur saja, tidak banyak yang kutahu tentang prospek kerja kepolisian dan pembagian tugasnya ataupun tingkat jabatannya. Namun melihat ruangannya yang terpisah dan cukup 'special,' aku yakin Cale pasti memiliki jabatan yang tidak bisa dianggap remeh. "Kalian berdua adalah sepasang kekasih?" Sebuah pertanyaan yang meluncur indah dari mulutnya seketika membuatku terkejut. Jujur saja bukan itu yang harusnya ia katakan saat aku dan Alexander masuk ke dalam ruangannya. "Tidak." Aku menjawab dengan spontan. Calliandra mengangguk kemudian mempersilahkan kami untuk duduk. "Kurasa aku tidak memintamu untuk datang bersama orang lain," ucapnya sambil menatap Alexander penuh selidik. "Namaku Alexander dan kau tidak perlu khawatir. Semua rahasia akan aman padaku." Alexander berujar dengan mantap kemudian mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman kecil. "Jadi, untuk apa kau memanggilku ke sini?" Aku memulai percakapan ke arah yang lebih serius. Calliandra tersenyum. "Kami telah menyusuri area Pier Street, namun tidak menemukan apapun di sana. Lalu aku memutuskan untuk melebarkan pencarian ke daerah di sekitar. Semalaman penuh kami menghabiskan waktu untuk mencari petunjuk ataupun barang bukti. Namun belum juga menemukan apa-apa." Cale menatapku serius. Terdapat lingkaran hitam yang menghiasi kedua matanya. Aku yakin dia pasti telah menghabiskan malamnya dengan kasus ini. Rambutnya yang waktu itu kulihat tergerai, sekarang diikat setengah, membuatnya terkesan elegan, walau dengan wajah yang lelah. "Masalah ini cukup membingungkan. Supir yang mengemudi mobil mereka ditemukan tewas di Maples Street, tempat yang jelas-jelas bertolak belakang dengan jalan menuju Pier Street." "Lalu apa yang kalian temukan? Dan mengapa harus memintaku untuk datang ke sini?" tanyaku penasaran. Aku berharap mereka telah menemukan keberadaan Davin dan Ramona. Cale bangkit berdiri, mengisyaratkanku dan Alexander agar berjalan mengikutinya. Kami keluar dari ruangan kerjanya. Lalu berjalan, berbelok ke kiri dan ke kanan, menaiki lift menuju lantai lima, dan di sanalah aku melihat 'sesuatu' yang disebut oleh Cale tadi. "Apa ini milikmu?" tanyanya sambil menyodorkan sebuah liontin emas berbentuk hati yang terbungkus di dalam sebuah kantung plastik. Alexander tidak memberikan reaksi apapun. Ia hanya menatap lurus pada liontin tersebut. Sementara aku terkejut bukan main saat melihat liontin emas tersebut. Cale menyuruhku untuk mengenakan sarung tangan sebelum menyentuh liontin tersebut. Aku menuruti perintahnya dan segera mengambil liontin tersebut lalu membukanya. "Ini ... adalah liontin milikku." Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. "Benda ini sudah lama menghilang. Tetapi mengapa benda ini bisa ada di sini?" Aku masih menatap liontin itu Seingatku, aku terakhir melihatnya saat berumur 14 tahun. Aku tidak pernah memakai liontin itu, tetapi aku selalu membawanya pergi kemana pun aku pergi, karena itu adalah liontin pemberian dari mendiang kakekku beberapa bulan sebelum kepergiannya. Di dalam liontin itu terdapat foto kecilku bersama kakekku saat aku berumur delapan tahun. Dan melihat liontin itu tiba-tiba muncul di dalam laboratorium penyidikan saat ini membuatku merasa takjub. "Coba kau ingat kembali. Siapa saja yang pernah melihat liontin ini atau yang pernah kautunjukkan liontin ini?" ucap Cale. Kini aku merasa bahwa ia sedang berusaha menginterogasiku. "Tidak ada yang tahu mengenai liontin ini, kecuali ayah, ibu, dan kakakku." "Bagaimana dengan Davin? Aku tidak mengatakan bahwa ia yang mengambil liontin itu darimu. Tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi, apalagi kau dan dia pernah menjadi sepasang kekasih," ujarnya masih dengan tatapan yang serius. Dahiku sedikit mengerut. Kurasa tidak mungkin Davin mengambil liontin itu dariku. Ia bukan tipe orang yang terobsesi sehingga ingin mengoleksi segala barang kesayangan milik kekasihnya (aku pada saat itu). Dan seingatku, aku tidak pernah menceritakan apapun mengenai liontin itu padanya. "Kau tahu, liontin itu ditemukan tak jauh dari TKP saat supir yang mengemudikan mereka ditemukan tewas. Kami sementara ini sedang menyelidiki daerah di sekitar tempat itu. Dan untuk sementara liontin ini akan menjadi sampel barang bukti." Aku hanya mengangguk, kemudian memasukkan kembali liontin tersebut ke dalam kantung plastik. "Aku ingin tahu, apa yang memicu pertengkaran kalian saat malam tahun baru itu?" "Apa aku sedang diintrogasi saat ini?" tanyaku. Cale tersenyum. "Jawab saja pertanyaanku." "Malam itu aku baru saja menjemput temanku, Bryan dan kau pun pasti masih mengingatnya karena hari itu bertepatan dengan hari saat aku bertemu denganmu. Setelah bandara, kami memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran favorit kami. Sesampainya di sana, Bryan meminta ijin untuk keluar sebentar, dan saat aku sedang menunggu, Davin tiba-tiba muncul begitu saja serta duduk tepat di depanku." Aku mencoba untuk mengingat kembali kejadian malam tahun baru itu. "Dia berbicara banyak hal, tetapi aku tidak memberikan respon yang begitu baik padanya. Inti dari pembicaraannya adalah dia mencoba merayuku untuk kembali dengannya sehingga ia dapat membatalkan pernikahannya dengan Ramona. Lalu tiba-tiba Ramona muncul, lengkap dengan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipiku serta sebuah undangan pernikahan yang kemudian diberikannya padaku,” tambahku. "Apa saja yang dikatakan Ramona padamu?" Aku tersenyum masam. "Ramona telah membenciku sejak kami masih berada di Fernseea Junior High. Dan setiap bertemu denganku ia selalu berkata kasar dengan berbagai macam hinaan yang ada. Itu pula yang dilakukannya malam itu. Semua mata memandang kami. Terutama aku. Beruntung Bryan muncul dan segera membawaku pergi," jelasku. Cale masih menatapku dengan serius. "Baiklah. Kami masih harus melakukan penelusuran. Namun dari hasil uji DNA, kami menemukan bekas DNA milik Ramona tertempel pada liontin milikmu." Aku membelalakkan kedua mataku. "Ra ... Ramona?" "Kau ingin mengatakan bahwa Ramona yang mengambil liontinnya?" Kali ini Alexander yang berbicara. "Untuk saat ini tidak terlalu penting memikirkan siapa yang mengambil liontin miliknya. Yang terpenting adalah menemukan keberadaan mereka dan menangkap pelaku. Namun keberadaan liontin ini tidak bisa diabaikan begitu saja," tukas Cale. "Apa kalian menemukan bukti lain?" tanyaku. "Kami menggeledah mobil yang ditumpangi mereka. Tidak ada satu pun yang janggal, kecuali undangan pernikahan mereka yang ditemukan robek. Sementara saat kami menggeledah seisi rumah Ramona, tepat di sebuah gudang kecil, kami menemukan sebuah peluru milik senjata magnum. Senjata yang tidak menghasilkan bunyi saat ditembakkan ke arah sasaran," Cale menjawab. "Aku mohon pada kalian, tolong bantu aku untuk menemukan mereka. Aku tahu Ramona sangat membenciku dan Davin tidak memiliki hubungan baik denganku, tetapi aku sangat ingin melihat mereka selamat," pintaku. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk hal itu. Hanya saja kurasa si pelaku sedang mencoba bermain-main dengan kami. Ia sedang membuat kami seperti puluhan kelereng yang berhamburan kemana-mana untuk mencari keberadaannya." Aku dapat melihat jelas raut wajah geram serta kemarahan yang terpancar dari aura wajah milik Cale. Pandangannya kini menatapku dengan serius. Seolah ia telah berhadapan dengan sang pelaku pembunuhan serta penculikkan itu. "Dan jika aku menemukan mereka. Takkan kubiarkan mereka bernapas walau sedetik pun." ♧♧♧ "Yang benar saja? Perkataannya tadi seolah menyindirmu," ucap Alexander tak habis pikir. Aku tertawa kecil. "Benarkah?" Saat ini kami sedang berada di dalam mobil miliknya. Aku berencana untuk memperkenalkannya pada Bryan sebelum ia mengantarku ke kantor. "Tentu saja!" Ia memelankan volume musik dan kembali bersuara, "Aku tahu kau baru saja bergulat dengan wanita bernama Ramona itu. Namun bukan berarti kau adalah pelakunya, bukan?" Aku mengangkat kedua bahuku. "Kurasa itu adalah hal wajar jika mereka mencurigaiku. Karrna kasus-kasus seperti ini lumrah terjadi di dunia per-film-an." Alexander menggelengkan kepalanya. "Aku tidak terlalu suka film seperti itu. Seolah dunia ini sangat sempit sehingga kau tidak dapat menggunakan akal sehatmu untuk berpikir jernih." "Kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda." Aku memutar kedua bola mataku. Mobil yang ditumpanginya hampir berbelok menuju kantorku. Namun aku segera bersuara sehingga membuatnya memperlambat laju mobilnya dengan perlahan. "Aku ingin mengajakmu ke sebuah cafe." "Di mana?" Aku lalu memberikan instruksi. Menyebutkan nama cafe milik Bryan, kemudian mobilnya melaju sesuai instruksi yang kuberikan. "Itu cafe milik temanku. Dia adalah teman dekatku sejak SMA. Aku ingin mengenalkanmu padanya, agar ketika ia melihatmu nanti, ia tidak berpikir bahwa kau adalah orang jahat yang membuntutiku untuk suatu maksud tertentu." "Boleh juga. Siapa namanya?" Ia terlihat antusias. "Kau akan mengetahuinya saat berkenalan nanti." Aku tertawa, menggelengkan kepala, kemudian memberitahukanya untuk menghentikan mobilnya. "Di sini tempatnya,” aku berujar sambil menunjuk ke arah sebuah cafe bergaya modern yang berada persis di depan kami. "Kurasa aku pernah ke sini," gumamnya. Kami pun turun dari dalam mobil seraya berjalan memasuki cafe tersebut. Suasana cafe saat ini tidak terlalu ramai, namun ada beberapa orang yang sedang duduk dan bersantai di sini. Dari luar, walau terhalangi oleh sebuah pintu kaca, aku dapat melihat Bryan yang sedang sibuk mengatur bahan-bahan kopi. Sementara itu, tak jauh dari situ aku melihat Viona yang tengah melamun. Matanya sembab. Aku sebenarnya ingin berjalan ke arahnya, namun Bryan tiba-tiba memanggil namaku. "Syera? Dan ...," pandangannya teralih pada Alexander. Dahinya sedikit mengkerut, mencoba mengingat kembali bagian di dalam memorinya yang mengenal pria yang sedang berdiri di sampingku sambil bersikap acuh pada keadaan sekitar. Namun sebelum Alexander memperkenalkan namanya, aku terlebih dahulu bersuara dengan antusias. "Baiklah," aku menatap mereka berdua secara bergantian. "Alex, ini Bryan dan Bryan ini Alex," ucapku sambil mengarahkan tanganku secara bergantian pada Alex dan Bryan. Kedua pria tersebut tersenyum kikuk kemudian bersalaman, tanda perkenalan mereka telah resmi. "Aku tahu, kau yang mengantar Syera pulang beberapa hari yang lalu, bukan?" Bryan berujar dengan yakin. "Ya, kebetulan aku bertemu dengannya lagi di hari yang sama," tukas Alexander. "Kurasa tidak begitu kebenarannya?" Aku menaikkan salah satu alisku. Kami pun terlibat perdebatan kecil (yang sebenarnya tidak terlalu penting), hingga akhirnya suara deheman Bryan membisukan kami berdua. "Kurasa kalian tidak mungkin berdiri hingga pulang nanti. Jadi, mengapa tidak mengambil tempat untuk duduk dan melanjutkan perdebatan kalian nanti saja?" Bryan menatapku dan Alex secara bergantian. "Ide bagus!" "Apa yang ingin kau pesan, Syera? Segelas cokelat panas yang diberi sedikit gula?" tanya Bryan. Aku bergumam, menatap ke arah jendela. Cuaca saat ini sedang mendung. "Ya, cokelat panas saja." "Dan kau?" tanyanya pada Alexander "Kopi hitam," jawabnya dengan mantap. Bryan kemudian memanggil Viona. Sepertinya ia sengaja memanggil Viona untuk maksud tertentu. "Tolong buatkan cokelat panas dan juga kopi hitam untuk tamu kita," Bryan berujar dengan santai. Sementara Viona terlihat kikuk sambil menundukkan kepalanya, persis seperti seseorang yang baru saja dimarahi karena telah berbuat salah. "Jangan seperti itu. Kami hanya tamu biasa," Alexander berujar berusaha mendapatkan suasana yang bagus atas kecanggungannya dengan keberadaan Bryan. "Viona?" Wanita itu menoleh padaku. "Pesanan Anda akan segera diantarkan," ucapnya seraya berlalu meninggalkan kami. Melihat reaksinya yang seperti itu, aku segera menatap Bryan, meminta penjelasan. Lebih tepatnya aku memotong pembicaraan Bryan dan Alexander yang baru saja berjalan sekitar beberapa detik yang lalu. "Ada apa dengannya? Mengapa ia bersikap seformal itu?" Bryan menjawab dengan acuh seraya menatap Viona yang kini sudah berada di kitchen bar, "Masing-masing orang punya masalah di dalam dirinya yang tidak mungkin akan diceritakannya pada orang lain." "Dia tidak biasanya seperti itu, Bryan," aku berucap dengan penuh penekanan. "Aku yakin kau tahu sesuatu tentangnya." "Jika ada yang harus kutahu maka itu adalah berapa gaji yang harus kuberikan padanya diakhir bulan nanti," tukasnya. Alexander tiba-tiba bersuara, "Bisakah kalian membicarakan sesuatu yang juga kuketahui? Maksudku, ada tiga orang di meja ini dan dua di antara mereka sedang berbicara sementara satu yang tersisa hanya menjadi pendengar setia, bukankah itu menyedihkan?" Aku tertawa. Dia benar-benar lucu. "Ah, iya, aku lupa memberitahukanmu. Novel yang kau berikan padaku kemarin belum sempat k****a. Tetapi sekali lagi terima kasih atas novelnya." Bryan menatapku dan Alexander secara bergantian. "Jadi, bagaimana caranya sehingga kalian saling mengenal satu sama lain?" Kali ini Alexander yang bersuara. "Kami tidak sengaja bertemu di sebuah toko buku. Lalu aku mengajaknya berkenalan dan sekarang dia memercayaiku sebagai supirnya." Aku mendelik padanya. Benarkah begitu? Ia balik menatapku seolah ingin mengatakan, 'ya, memang begitu adanya ' "Kau sendiri? Kudengar kau adalah temannya sejak SMA? Bagaimana caranya kalian berteman?" Kata terakhir yang diucapkannya seolah ragu bahwa aku dan Bryan benar-benar berteman. Tetapi dia mengatakannya secara spontan dengan ekspresi yang biasa-biasa saja, sementara Bryan menanggapinya dengan salah satu alis yang terangkat. "Selain bersekolah di sekolah yang sama, kami juga mengikuti ekstrakulikuler yang sama saat SMA. Dan akhirnya kami berteman." Bryan menatapku sekilas dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan. Alexander mengangguk. "Kau pasti sangat bahagia. Bisa berteman dengan wanita sebaik Catherine." Jantungku seketika berdegup dengan kencang. Alexander kembali mengingatkanku pada lelaki itu. Seketika sekelebat bayangan tentang kenangan senja itu kembali muncul dalam ingatanku.... "Aku sebenarnya tidak percaya pada cinta, Cathe. Cinta itu seperti api. Kita tidak pernah tahu apakah ia akan menghangatkan atau malah membakar. Tetapi aku percaya pada perasaanku. Aku akan mengingatmu. Sampai bertemu di masa depan, Cathe...." "Cathe, Catherine!" Aku terkejut dan menyadari bahwa aku baru saja tersadar dari lamunanku. "Kenapa kau menangis?" Bryan menatapku penuh tanya, begitu pula dengan Alexander. Aku … menangis? "Ini, minumlah," ucap Alexander sembari menyodorkan segelas cokelat panas padaku. "Maaf." Aku segera mengusap air mataku sebelum mengambil cokelat panas tersebut. "Aku harus kembali ke dapur. Ada banyak barang yang harus kuatur di sana." Bryan kemudian bangkit berdiri meninggalkan aku dan Alexander. "Ada apa denganmu?" tanyanya. "Aku tidak tahu." "Lalu mengapa kau menangis?" Aku menggeleng. "Apa aku membuatmu menangis?" "Tidak." "Jangan pernah mengingat masa lalumu selagi kau bersamaku, Cathe." Aku menatap matanya. Mencari kebenaran dari perkataannya. Apakah itu hanya gurauan atau kah sebuah pernyataan yang tegas. "Aku serius. Kau tidak perlu memikirkannya. Jika dia benar-benar mencintaimu, maka dia pasti akan kembali padamu," sambungnya lagi dengan acuh. Benarkah? Lalu berapa lama aku harus menunggunya kembali? "Jika seandainya masa lalumu berada tepat di sampingmu, apa yang akan kau lakukan?" Jantungku kembali berdetak dengan kencang. Wajahnya memang sangat mirip dengan lelaki itu. Tetapi, apa maksud dari pertanyaannya itu? Mengapa dia seolah ingin meyakinkanku bahwa dia adalah pria masa laluku? "Sudah, lupakanlah." Dia menepuk bahuku. "Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Jadi jangan pernah bersedih di depanku." "Apa kau telah mengenalku jauh sebelum aku mengenalmu?" "Kau menanyakan hal itu lagi. Sudah kubilang kita mungkin telah saling mengenal jauh sebelum kita mengetahuinya." Dia tertawa. "Aku hanya merasa bahwa kau sangat tidak asing bagiku." "Terkadang perasaan bisa menipu hanya karna penampilan yang terlihat sama. Tetapi kau juga harus jeli melihat. Mana yang hanya pantas untuk menjadi bagian dari masa lalumu." Ia tersenyum penuh makna kemudian mengajakku untuk pergi dari cafe ini. Dan di saat itulah aku menyadari bahwa ia sepertinya bukan sembarang orang. Dia bukan cenayang, namun semua perkataannya seperti ingin menunjukkan bahwa dia mengenalku. Aku yakin dia bukan bagian dari masa laluku, namun wajahnya mengingatkanku pada masa laluku. Pada pria yang selama ini kutunggu. Kami baru bertemu dan belum lama saling mengenal, namun ia bertingkah seolah ia telah lama mengenalku. Dia seolah dapat membaca pikiranku tanpa perlu kujelaskan padanya. Sebenarnya siapa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD