Sebuah Tanya Untuk Yakin

2073 Words
ALEXANDER POV "Jadi bagaimana? Katakan padaku apa yang harus kulakukan," ucap Raf dengan suara yang cukup pelan, hampir-hampir berbisik. "Untuk saat ini belum ada," ujarku. Raf menatapku penuh tanya. "Lagipula, menurutku bisa saja orang yang kalian lihat hari itu adalah tetangganya yang kebetulan berada di sekitar situ untuk melihat proses pemeriksaan," ujarnya yang kemudian mulai merogoh korek api dan membakar rokoknya. "Awalnya kukira begitu, namun ia bilang pria tersebut beberapa kali membuntutinya. Dan ia selalu mengenakan stelan yang sama." "Benarkah?! Ya, ampun, seseorang sengaja membuntutinya!" Ia pun mengembuskan asap rokok dengan gusar. "Aku harus tahu siapa pria yang kerap membuntutinya itu dan apa tujuannya membuntuti Catherine." Kulayangkan pandanganku ke lain arah. Bila memang pria tersebut erat kaitannya dengan kasus pembunuhan Davin, maka Catherine saat ini sedang ada dalam bahaya. Namun bila memang pria tersebut sama sekali tidak memiliki kaitan dengan kasus tersebut, tetap saja aku harus tetap menjaganya. "Anyway, apa yang kau rasakan setelah berhasil menampakkan dirimu padanya?" Dahiku mengerut. "Maksudmu apa?" Raf kemudian terkekeh pelan. "Sudahlah, aku telah lama mengenalmu!" "Apa?" "Kau dan Syera." "Ada apa dengan kami?" "Kau tahu, aku selalu berpikir dan meyakini bahwa kau telah salah menempatkan pilihanmu." Raf berujar sambil menepuk bahuku. "Aku tahu betul kau, sama seperti kau yang teramat mengenal Deonasyera. Yang kusesalkan, mengapa kau akhirnya memilih Amanda daripada Syera? Maksudku, kau telah lama menjadi "pengagum rahasianya". Kau tahu betul segala hal yang berkaitan dengannya bahkan Ava, sahabatnya sendiri pun belum tentu mengetahuinya." Ia kembali menatapku. Seakan memintaku memikirkan sesuatu secara matang sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Ah, kau menyebalkan sekali! Maksudku, mengapa tidak kaujadikan saja Syera menjadi kekasihmu daripada harus dengan Amanda?" "Mana mungkin? Aku telah cukup lama bersama dengan Amanda!" ujarku. Raf menggeleng. "Tetap saja! Rasa sayangmu jauh lebih banyak pada Syera. Menurutku kau hanya berusaha melarikan diri. Kau membunuh perasaanmu secara perlahan," jelasnya. Sebaik-baiknya aku mengenal diriku sendiri, aku pun tak dapat menampik fakta bahwa para sahabatku teramat dalam mengenalku. Raf dan perkataannya sama sekali tidak menyulut emosiku. Sebaliknya, aku sadar akan hal-hal yang dapat dengan mudah dilihat orang lain dariku yang aku sendiri bahkan tidak melihatnya. Namun terkait perasaanku pada Deonasyera, kurasa Raf hanya terlalu yakin pada apa yang dilihatnya. Nyatanya, kukira perasaanku pada Amanda jauh lebih besar daripada perasaanku terhadap Deonasyera. "Masalahnya hanya sesederhana ini, Alex." Raf mulai berucap. Ia membuang puntung rokoknya dan mulai bergaya layaknya seorang pejabat tinggi negara yang sedang memberi pidato. "Menurutmu kau sangat menyayangi Amanda dan kau sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap Deonasyera. Nyatanya, selama tigabelas tahun ini, kaulah satu-satunya orang yang dengan gigih memantaunya dalam diam. Mengetahui segala hal tentangnya secara detail dan bahkan selalu berusaha melindunginya," jelasnya seraya memanggil seorang pelayan untuk datang menghampiri kami. "Sebentar, aku ini haus. Selama ini kau tidak pernah memberiku minum, sedang aku selalu memberimu nasihat!" Gerutunya yang kemudian berucap pada pelayan tersebut untuk memesan segelas lemon tea. Selepas itu, ia pun kembali pada posisinya. "Aku tahu kau telah lama bersama Amanda. Namun kau jauh lebih lama telah meluangkan waktumu untuk Syera. Dan aku merasa benar jika kukatakan kau sebenarnya mencintai Deonasyera dibanding Amanda. Kau boleh memikirkannya nanti. Namun satu yang harus kau tahu, pada akhirnya, kau tetap harus menentukan pilihanmu," tambahnya. "Kukira aku telah memilih." "Siapa? Amanda?" Raf berdecih kemudian berucap, "Dia hanya pelampiasan selama ini," kicaunya. "Raf!" "Ya, kurasa kau harus ditampar dengan cara itu. Jika tidak, kau takkan menyadarinya. Ingat, Syera juga adalah teman dekatku dan Danvy." Aku menghela napasku. "Kau tahu, aku tidak pernah menyakitinya, Raf." "Namun akhir-akhir ini kau selalu bersamanya. Dan jika hal ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, bisa saja ia menaruh rasa padamu. Dan walaupun kau telah lama bersama dengan Amanda, tetap saja, selama kau belum menikahinya, kau masih berkesempatan mengubah pilihanmu." Raf kemudian menghentikan ucapannya; bersamaan dengan itu seorang pelayan membawakan lemon tea untuknya. "Begini Alex," ia berucap sebentar sebelum kembali menyeruput minumannya. "Tidak peduli seberapa lama kau bersama dengan Amanda, namun ia pasti butuh kepastian. Dan kau bahkan tidak pernah terpikirkan untuk melamarnya." "Kami sudah pernah membahas itu sebelumnya. Ia pun masih sibuk meniti karir. Kau tahu sendiri, ia punya banyak sekali jadwal pemotretan," ucapku. Raf menganggukkan kepalanya. "Ya, dan kalian sering sekali bermasalah dengan waktu sekadar untuk mengobrol. Jika kau tidak mengabarinya, maka ia pun akan melakukan hal yang sama," gumamnya. "Dan ia pun tidak ingin menikah muda," tambahku. "Kau pernah menanyakannya?" "Tidak, tapi dilihat dari pekerjaannya, tidak mungkin ia ingin menikah muda." "Apa kalian baik-baik saja? Maksudku, akhir-akhir ini." "Sangat baik. Tiga hari yang lalu kami baru saja bertemu." "Setelah itu?" Aku mengangkat kedua bahuku. "Kami tidak pernah lagi berkomunikasi." "Ah, pertanda buruk!" Raf menatapku serius. "Dia pasti cemburu," tuturnya. Baru saja aku hendak membalas ucapannya, tiba-tiba ponselku berbunyi. Amanda. "Alex, maaf aku mengganggu waktumu," ucapnya dengan kikuk. "Tidak apa, aku sedang bersama Raf. Ada apa?" "Tidak, aku hanya ingin menanyakan kabarmu." "Hah? Aku baik-baik saja." Terdengar suara desahan napas di seberang sana. "Jika kau tidak keberatan, bolehkah hari ini kita bertemu?" Aku bergumam. Mencoba mencari kalimat yang pas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi. "Amanda ... aku tidak bisa hari ini. Aku ada janji dengan temanku." "Siapa? Catherine?" Ucapnya ragu. "Kalau begitu nanti saja. Kumatikan dulu teleponnya. Bye." "Kenapa?" Raf segera bertanya selepasku mematikan sambungan telepon. "Dia cukup aneh hari ini. Dia ingin bertemu denganku," tukasku. "Kau ada janji dengan siapa? Danvy? Bukannya dia akan datang ke rumahmu nanti setelah acara reuni?" "Catherine. Sebentar sore aku akan menemaninya menghadiri acara reuni Fernseea Junior High." Kulihat Raf mengernyitkan kedua alisnya. Sepertinya pikirannya mulai mengeluarkan berbagai spekulasi. Dan aku yakin ia akan kembali meyakinkan dirinya bahwa aku lebih baik meninggalkan Amanda dan bersama dengan Catherine. "Kurasa kau harus menemuinya nanti. Kawan, wanita itu selalu berpura-pura." Ia kemudian memukul kepalanya sendiri. "Tidak! Lebih tepatnya mereka sangat lihai dalam menyembunyikan perasaannya. Kau mungkin melihat mereka baik-baik saja, namun itu bukan keadaan sebenarnya yang mereka tunjukkan padamu," sarannya. "Dan apa yang harus kulakukan atau kujelaskan padanya?" "Tidak ada. Terkadang kau hanya perlu untuk menemaninya. Membiarkannya bercerita mengenai hari-harinya. Setidaknya kau berhasil menenangkan perasaannya. Aku yakin, ia hanya rindu padamu dan ingin sekali bertemu. Kau tahu, Ava selalu seperti itu. Dia tidak pernah secara langsung akan mengatakan apa yang tengah dirasakannya ... kecuali kalau ia sedang benar-benar marah padaku. Dan ia akan tiba-tiba menelpon hanya untuk menanyakan kabarku. Bila begitu, tentu aku tahu bahwa ia sedang rindu padaku jelasnya lagi. "Kau berbakat sekali dalam hal percintaan." Aku kemudian terkekeh. Menyadari betapa aku sangat buruk sekadar melihat tanda yang diberikan kekasihku sendiri. "Tidak begitu. Aku ini mantan cassanova. Jelas aku tahu bagaimana seorang wanita ketika mereka ingin mendekati pria." Raf berujar sambil mengangkat salah satu alisnya. "Mungkin akhir-akhir ini aku selalu menempatkannya pada prioritas paling terakhir yang harus kupunya. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Raf. Kau tahu sendiri perihal kasus pembunuhan Davin dan pihak kepolisian yang mulai mencurigai Catherine terlibat di dalamnya. Kau pun tahu bahwa ada seorang pria asing yang belakangan ini sering membuntutinya, dan ...," "Dan aku tahu kau hanya ingin melindungi Deonasyera," sahut Raf. Ia kembali menepuk pundakku seraya berucap, "namun kau pun harus tahu batasan. Jangan sampai kedekatanmu dengannya menyakiti Amanda. Atau sebaliknya, jangan sampai kau membuat Syera menaruh rasa padamu. Ingat yang pernah dan sering kaukatakan padaku dulu bahwa, Cinta itu seperti api. Kita tidak akan pernah tahu apakah ia akan menghangatkan atau malah membakar.' Aku yakin, kau jauh lebih tahu apa yang harus kaulakukan," jelasnya yang kemudian tertawa sambil menyeruput minumannya. ♧♧♧ "Kukira kau akan mengenakan stelan berwarna hitam?" ujarnya sambil tersenyum sesaat setelah mobilku terparkir di depan rumahnya. Kulihat ia mengenakan dress selutut berwarna biru laut dengan beberapa motif bunga di sekitarnya. Rambutnya ia ikat setengah dan hanya mengenakan sneakers berwarna senada. Siapa lagi wanita yang tengah kudeskripsikan? Yang jelas bukan kekasihku. "Tidak jadi. Aku lebih suka dengan yang ini," ucapku sambil menunduk, menatap kemeja berwarna senada seperti dress yang tengah dikenakannya. Sementara wanita itu hanya tertawa, kemudian meminta waktu sebentar untuk berpamitan pada penghuni rumahnya. "Oh, Alex! Kau tidak ingin masuk dulu?" Ujar seorang wanita paruh baya yang energetik dan humoris, yang kini kukenal dengan sebutan 'Bibi Hanna'. Kami menoleh sebentar, kemudian aku berucap sambil tersenyum kecil. "Tidak apa, Bibi. Catherine bilang acara reuninya akan dimulai sebentar lagi." Bibi Hanna kemudian mengalihkan pandangannya pada Catherine seraya berkata, "Syera, boleh kulihat riasan wajahmu sebentar? Apa kau sudah memakai eyeliner, lipstick, dan sebagainya?" Ia kemudian berjalan mendekati Catherine, sedang wanita itu hanya bisa mendesah pelan. "Bibi, aku ini hanya pergi menghadiri acara reuni, bukan akan pergi sebagai seorang mempelai wanita yang hari ini tengah merayakan hari bahagianya." Bibi Hanna menggeleng. "Kalian kan baru bertemu lagi setelah sekian lama. Kau harus tampil cantik, Syera! Apalagi ada Alex yang akan mengantarmu," tutur bibi Hanna. "Bibi," Catherine menatap bibi Hanna dengan gemas, seraya menepuk pundak sang bibi. "Aku begini saja. Dan kami harus segera pergi. Sampai jumpa," ucapnya yang kemudian tersenyum seraya melambaikan tangan pada bibi Hanna, juga pada ibunya yang tengah menatap kami dari dalam rumah. Sedang aku pun turut membungkukkan diri seraya berpamitan: membawa putri bungsu keluarga ini untuk pergi menghadiri acara reuni sekolahnya. Kami lalu masuk ke dalam mobil, sebelum akhirnya kubunyikan klakson pertanda kami benar-benar pamit dari halaman rumahnya. "Bagaimana kabarmu, Cathe?" ucapku memulai percakapan. "Aku baik-baik saja. Kemarin Ava menemaniku ke toko buku. Lalu kami sempat singgah ke sebuah butik karena Ava ingin sekali melihat-lihat model pakaian yang sedang tren bulan ini. Dan akhirnya, kami mengakhiri hari dengan dua mangkuk pangsit ayam," tukasnya. "Apa masih ada yang membuntutimu? Maksudku ...," "Aku tidak tahu apa ini hanya perasaanku saja atau memang kemarin seseorang memang sedang membuntutiku lagi. Namun kurasa memang benar aku kembali diikuti oleh pria yang sama. Namun ia hanya menampakkan diri beberapa saat, sebelum akhirnya ia menghilang," ia berujar memotong perkataanku. "Anehnya, pria tersebut memiliki tinggi yang cukup sama denganmu. Hanya saja aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena wajahnya tertutupi oleh masker dan topi berwarna hitam. Aku sebenarnya tidak menyadari keberadaannya, hanya Ava memberitahuku bahwa ketika kami sedang makan bersama, ada seorang pria yang duduk berjarak cukup jauh yang terus memantau kami. Dan aku juga tidak mungkin berjalan mendekati pria tersebut," jelasnya lagi. Entah mengapa penuturannya membuat pikiranku mengarah pada sebuah nama yang telah lama menghilang. Aku tahu, ini sudah lama sekali. Namun yang kuyakini nama itu hanyalah satu-satunya nama yang akan melakukan hal itu. Dengan mengatakan ini aku tidak bermaksud menerka sembarangan, namun mungkin saja ini insting yang membuatku yakin. Sebab yang kutahu, hanya nama itu saja yang akan dengan senang hati melakukan pekerjaanku. Dan mungkin untuk seterusnya kami akan tetap seperti itu. Namun, bila memang nama itu adalah jawaban atas pertanyaan yang sama perihal siapa pria berjaket hitam dan apa maunya, apakah mungkin sang pemilik nama telah kembali? Atau jangan-jangan ia telah cukup lama memantau Catherine? "Alex, tenang saja, aku tidak menuduhmu sebagai pria misterius itu," ujar Catherine sembari tertawa kecil. "Tidak, aku tidak mengapa. Lagipula bila kesukaanku adalah membuntutimu dan menyamar sebagai pria misterius itu, maka aku tidak akan mungkin bersedia menemanimu ke acara reuni ini." "Benar juga. Tapi kau bisa saja kan merangkap menjadi dua orang yang berbeda dalam waktu yang berlainan?" "Kalau pun iya, maka kupastikan salah satu orang lainnya adalah bayangan dari diriku." Catherine kembali tertawa kecil. "Maafkan aku. Karena harus membawamu ke acara reuni sebuah sekolah yang dulu sering menjadi saingan sekolahmu." "Kau tahu dari mana?" "Raf, Danvy, mereka telah mendeskripsikanmu dengan cukup detail padaku," tukasnya. "Ah, mereka berdua itu benar-benar cocok menjadi anak-anak dari bibi Hanna," ucapku yang kemudian terkekeh. "Ternyata kau punya seorang adik perempuan, ya? Pasti menyenangkan punya seorang adik. Aku dulu selalu ingin memiliki seorang adik," ucapnya menerawang. "Kau tahu, Cathe, terlepas dari memiliki seorang kakak, adik, atau saudara kembar sekali pun, tetap saja kau harus berjuang sendiri. Tidak ada yang benar-benar akan mempedulikanmu, apalagi sekadar mengingat hari ulang tahunmu." "Benarkah? Namun setidaknya, dengan memiliki seorang saudara, kau masih punya harapan untuk dapat berbagi keluh kesah. Atau setidaknya mereka lah orang-orang yang akan kaulihat saat nanti orang tuamu tidak ada." Aku hanya tersenyum. Sejauhku mengenalnya, entah melalui Danvy atau Raf, yang kutahu ia adalah sosok pendiam ... sejak peristiwa sepuluh tahun terakhir itu. Yang kutahu, sejak saat itu ia tumbuh menjadi sosok pendiam yang tidak banyak berinteraksi dengan orang lain. Ia benar-benar hanya akan terbuka pada sosok terdekatnya saja. Dalam hal ini, Avariella pasti tahu banyak hal tentangnya secara mendetail. Namun kini, melihat dan mendengarnya mampu berinteraksi denganku yang notabenenya masih seorang asing, entah mengapa aku merasa senang sekali. Apakah untuk seterusnya kan kudapatkan momen seperti ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD