Pertengkaran Dua Lelaki

2607 Words
ALEXANDER POV 28 Januari 2005 Hal terbodoh yang pernah dilakukan oleh seseorang adalah ketika ia menolak cinta dan bersikap tegar seolah-olah dia baik-baik saja dengan segala hal yang telah dilakukannya, namun di kemudian hari ketika ia mulai merindukan masa-masa itu, segera ia akan menyesali bahwa yang bisa dilakukannya hanya menyesal dan sia-sia. Malam itu aku sedang berbincang dengan bayanganku sendiri. Pada awalnya kami hanya berbicara seperti biasanya, namun beberapa menit kemudian pembicaraan itu berubah menjadi pertengkaran yang tak terelak lagi. "Aku akan pergi mencari ibu," katanya "Tapi di mana kau akan mencarinya? Ibu bahkan tidak mengatakan apa-apa saat ia pergi." Bayanganku balik menatapku. Tatapannya menyiratkan ketidaksukaan atas perkataanku. "Saat itu aku tidak ada di rumah. Kau, kau yang menyaksikan segalanya. Bagaimana ayah membawa masuk wanita gila itu hingga akhirnya ayah mengusir ibu. Bagaimana mungkin tidak terbesit di pikiranmu untuk membenci tempat ini?" "Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku lagi "Aku tidak pernah suka perpisahan dan kau tahu itu, kan?" Ia mendesah pelan, "Aku ingin pergi mencari ibu. Aku takkan tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tidak suka ketika ayah melarang kita untuk menemui ibu. Hanya karna ayah berpisah dengan ibu bukan berarti kita tidak memiliki hak untuk menemui ibu kita sendiri." Tuntutnya. Bersamaan dengan itu, kudengar suara bariton yang ikut menyusup ke dalam pembicaraan kami. "Jadi kau juga ingin pergi? Silahkan! Pintu terbuka lebar untukmu." Ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya di balik saku celananya. Ia menatap ayah dengan tatapan tak suka. "Aku harus mengucapkan selamat karena Ayah berhasil mendapatkan apa yang Ayah inginkan," ucapnya Ayah pun balik menatapnya dengan tajam. Kurasakan atmosfer di sekitar kami benar-benar tidak baik. "Ayah lebih memilih menghancurkan keluarga kita demi ..., demi kekasih gelap Ayah? Wanita tidak tahu diri itu?" Suaranya melemah ketika menyebut kata 'kekasih gelap'. "Jaga ucapanmu!" Ancam ayah "Apa, apa yang ingin Ayah katakan? Mengapa Ayah selalu bersikap seperti seorang ayah yang sempurna hanya di depan banyak orang sedangkan pada kami, Ayah bahkan tidak mempedulikan keluarga kami dan hanya memikirkan wanita itu dan putrinya," ucapnya menahan amarah. Tak kusangka perkataannya itu berhasil membuat ayah naik pitam. Ia digampar dengan keras oleh ayah. Kupikir itu mampu membungkam mulutnya. Tapi dia tidak selemah itu. Ia tersenyum tipis atas tamparan kasar yang diberikan ayah. "Ayah tidak pernah berubah. Aku tidak tahu apa alasannya, namun yang kutahu Ayah tidak pernah menyayangi keluarga kita. Sejak kecil pertengkaran Ayah dan Ibu telah menjadi makanan kami. Aku tidak tahu bagaimana dengan Alexander, yang jelas bagiku, aku sudah cukup kenyang dengan semua ini." Perkataan itu berhasil membuat ayah tertegun. Setelah berhasil membuat ayah terdiam, ia segera berlalu menuju kamar untuk mengemas barang-barangnya. "Kau yakin akan pergi?" Ia hanya membalas pertanyaanku dengan mengangukkan kepalanya. "Kau akan pergi tanpa tahu di mana keberadaan ibu?" "Kau tahu, lebih baik aku pergi dari rumah dari pada aku harus bertahan dan melihat banyak drama yang terjadi di keluarga ini. Apalagi setelah kehadiran wanita itu." Aku masih tidak merespon perkataannya. Pikiranku masih melayang menunjukkan penggalan kenangan masa kecil kami yang sesungguhnya sangat jauh dari kata bahagia.  Keluarga kami mungkin cukup terpandang dan tidak sedikit mereka yang menyanjung kerukunan keluarga kami. Hanya saja mereka tidak tahu, tak semua yang terlihat baik-baik saja dari luar akan sama dengan yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga kami. Sejak kecil keluarga kami telah terlatih untuk memainkan drama secara spontan. Memang benar katanya, kami sudah sangat kenyang mendengar pertengkaran ayah dan ibu setiap hari. Aku bukan seorang hakim yang mampu memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun dengan hanya mendengar cerita kami, semua orang pun mampu menentukan pelaku utama yang bersalah. Aku sendiri tak tahu bagaimana kisah masa lalu ayah dan ibu. Namun dari setiap pertikaian mereka, aku mampu menyimpulkan pernikahan mereka hanya sebatas jembatan yang dibangun untuk mempererat hubungan bisnis antara orang tua dari ayah dan juga ibu. Namun usia pernikahan ayah dan ibu saat itu bukan lagi usia pernikahan yang baru. Mereka telah menjalani hidup bersama selama kurang lebih tujuhbelas tahun. Namun selama itu ayah tetap mempertahankan prinsipnya untuk bersikap seolah ia masih bujangan. Perselingkuhannya dengan Maureen memang sudah lama terjadi. Namun tak kusangka karna kepentingannya sendiri, ayah rela menghancurkan keluarga kami demi dapat bersatu kembali dengan cinta pertamanya itu. Aku berandai jika saja kakek dan nenek masih hidup, ayah mungkin telah dikubur hidup-hidup oleh mereka. "Aku tahu wanita itu adalah cinta pertamanya, tapi persetan dengan cinta! Apa hanya karna mengenal wanita itu cukup lama, membuatnya melupakan ibu? Wanita yang selalu ada untuknya?" volume suaranya mulai meninggi. Tak terbendung lagi rasa kesal di dalam dadanya. Di saat seperti ini alangkah baiknya salah satu di antara kami berperan sebagai air yang menyejukkan. "Kita tidak bisa menyuruh seseorang untuk mengubah perasaannya. Kau juga tidak akan mungkin melupakan Catherine dan mencoba menerima kehadiran wanita baru di hidupmu. Tidak akan pernah mudah untuk melakukannya." Dan entah kenapa perkataan itu muncul begitu saja dari mulutku. Perkataan yang selanjutnya menimbulkan respon yang menyulut pertengkaran kami. "Aku bersumpah aku akan melupakannya. Aku takkan pernah mengingatnya lagi! Aku membencinya!" Dahiku seketika mengkerut. Ada rasa kesal yang membuncah di dalam dadaku. Apa maksud perkataannya? "Ada apa denganmu?! Kukira kau telah memendam perasaanmu selama dua tahun untuknya. Lalu tanpa usaha apapun, kau ingin melupakannya begitu saja? Oh, atau kau ingin merealisasikan perkataanmu padanya tadi?!" Tanyaku sarkastik. Ia menoleh. "Kau menguntit kami?" Kujawab dengan lantang perkataannya. "Ya. Aku membuntuti kalian. Apalagi yang bisa kulakukan? Aku tahu kau adalah tipe orang yang selalu mencampur aduk setiap permasalahan yang ada dan aku khawatir kau akan menyakiti Catherine karna perasaanmu yang sedang kacau atas perpisahan ayah dan ibu." Aku tak mengerti pikiranku seolah terbuka lebar untuk membicarakan hal seperti itu. "Itu bahkan bukan urusanmu. Memangnya apa pedulimu pada Catherine?! Atau jangan-jangan ...," Ia menyeringai, "kau juga menyukainya?" "Jangan bersikap bodoh! Kau menuduhku menyukainya, padahal kau sendiri juga menyukainya. Lalu mengapa kau ingin meninggalkannya?" Mataku masih menatapnya dengan tajam. "Apa kau pikir itu adalah perbuatan yang baik? Jangan menaruh harapan pada seseorang jika kau sendiri tidak bisa meyakinkan ke mana hatimu akan berpihak." "Jika kau memang menyukainya, ambil saja dia untukmu." Aku menghela napas panjang. Ingin sekali memberinya sebuah pukulan. Namun keinginan itu segera kutepis. Kita tidak akan bisa memadamkan api dengan bensin. "Dia menyukaimu, Kak. Lalu kenapa kau harus menyakiti hatinya di saat kau juga punya perasaan yang sama padanya?" Aku berujar dengan pelan. Tidak ingin menimbulkan pertengkaran lagi. Ia tertawa kecil. "Kau tidak perlu membahasnya. Aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Lagipula dia akan segera melupakanku." "Bagaimana jika dia mencarimu? Bagaimana jika dia memilih untuk tetap menunggumu? Cinta itu seperti api, kita tidak akan pernah tahu apakah ia akan menghangatkan ataukah berbalik membakar kita. Jujurlah pada perasaanmu sendiri, atau api yang kau miliki akan membakarmu. Hingga tak ada lagi yang patut kau sesali." Ia bangkit berdiri. "Kau tidak perlu mengajarkanku tentang itu. Aku tidak butuh nasihatmu. Jangan pernah berusaha untuk mengingatkanku padanya. Jangan pernah!" Setidaknya itulah yang kuingat tentang perdebatan terakhir kami. Dia benar-benar keras kepala. Di satu sisi dia juga adalah lelaki yang bodoh. Membuat sendiri prinsip bodoh yang akhirnya tidak ada gunanya sama sekali. Sedangkan aku, aku manusia bodoh yang terjebak dalam perasaanku sendiri. Entah itu sebuah perasaan empati pada Catherine ataukah suatu perasaan yang lain. Ia memintaku untuk tidak mencampuri urusannya. Namun bila itu berkaitan dengan Catherine, maka jangan pernah menghalangiku. ♧♧♧ Kantor Kepolisian Vellozia "Syukurlah kalian datang." Ucap Calliandra tepat setelah ia melihat penampakanku dan juga Catherine. Setelah dipersilahkan duduk, aku segera membuka pembicaraan langsung pada intinya. "Catherine berkata padaku bahwa kau telah berhasil menemukan mereka berdua. Di mana kau menemukan mereka?" Tanyaku mewakili Catherine yang masih belum sanggup berkata apa-apa. Sejak tadi saat kujemput, dia telah bercerita banyak hal tentang apa yang disampaikan Cale padanya. Hanya dari semua ceritanya, yang membuat Catherine nampak syok adalah ketika mereka menemukan fotonya di lokasi kejadian. "Itu memang benar. Kami telah menemukan Davin dan juga Ramona. Hanya saja kami menemukan mereka di dua tempat yang berbeda. Pertama kami menemukan Ramona yang tengah bersembunyi sambil ketakutan di sebuah mini market di dekat perumahan Louxville, sekitar pukul dua dini hari. Menurut penuturan pelayan toko, ia lari ke dalam mini market tersebut ..., seperti sedang dikejar oleh seseorang. Hanya saja ketika mereka mengecek ke luar, tidak ada seorang pun di sekitar mini market itu." Wanita yang memiliki pangkat penting itu menjelaskan dengan sangat serius. Terkadang seperti seorang reporter yang sedang melaporkan berita. "Sementara Davin, kami menemukannya di sekitaran Pier Street. Kurasa pelaku saat ini tengah bersuka karna berhasil mempermainkan kami dan membuat kami terjebak di dalam labirinnya." "Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Supir yang mengemudikan mobil mereka ditemukan tewas di Maples Street, Ramona ditemukan di daerah perumahan Louxville sedangkan Davin ditemukan di tempat yang jelas berbeda dari kedua tempat tersebut? Cale, apa kalian yakin telah melakukan pengintaian dengan benar?" Catherine membuka perkataannya dengan kalimat yang sepertinya menyinggung perasaan Cale karna kulihat wanita itu menatapnya dengan kedua alis yang mengkerut. "Pekerjaan ini tidak bisa dianggap sebelah mata, Deonasyera. Apa kau pikir selama ini kami bermain-main saja?! Kenapa bukan kau saja yang melakukan pekerjaan kami?" Ucapnya tegas. Catherine menundukkan kepalanya. Merasa bersalah atas perkataannya tadi. "Sudahlah, bagaimana jika kita memikirkan keterkaitan antara ketiga tempat itu?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Maksudmu?" Kedua wanita itu berujar bersamaan. "Pertama, kau harus menceritakan dengan detail, bagaimana akhirnya kalian menemukan Davin." Wanita itu menghela napas mendengar permintaanku. "Daerah pengintaian kami sangatlah luas. Kami berusaha menemukan jejak pelaku di sepanjang Pier Street. Tak hanya itu kami juga melakukan hal yang sama di Maples Street. Beberapa petugas kepolisian juga telah memasang selembaran daftar pencarian orang di jalanan. Kau tahu Syera, berminggu-minggu kuhabiskan waktuku untuk menyelidikinya namun hasilnya nihil. Jejak pelaku sama sekali tidak tercium oleh kami. Kurasa pelaku adalah seorang yang pintar. Segala hal yang akan dilakukannya telah ia pikirkan secara matang dan terstruktur, tepat pada waktunya." Cale bangkit berdiri, berkacak pinggang, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Dan hari ini, tepat sebulan sejak peristiwa itu terjadi, kami menemukan Ramona. Ada seorang pelayan mini market yang menelpon kami bahwa Ramona sedang berada bersama mereka. Mereka berkata bahwa Ramona terus menyebutkan, 'Bawa Davin pergi dari Pier Street'. Dan tepat di saat kami menjemputnya dari mini market itu, dia berteriak layaknya orang yang tidak waras. Dan dia kembali menyebutkan kalimat yang sama ...," "Dan itu yang membuat polisi bergerak menyusuri Pier Street?" Sambung Catherine, Cale mengangguk. "Awalnya kami menyangka bahwa ia hanya bercanda atau depresi karna ia tidak dapat pergi ke sana bersama Davin, namun aku menyuruh anggota polisi yang lain untuk terus menyusuri daerah tersebut. Dan ya, kami menemukan Davin dalam keadaan tak bernyawa. Aku menemukan fotomu berada dalam genggaman tangannya, Syera." Penuturan Cale berhasil membuat Catherine tercengang. Aku yakin dia pasti sangat bingung. Pertama saat pasutri itu menghilang, polisi menemukan liontin miliknya yang telah lama menghilang. Kedua, mereka menemukan fotonya ketika mereka menemukan Davin yang sudah terbujur kaku. "Ini," Cale memberikan selembar foto yang telah dikantongi sebagai sampel pada Catherine. "Dibalik foto itu terdapat tulisan permohonan maaf untukmu," lanjutnya Catherine masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aku ikut melihat tulisan yang berada dibalik foto tersebut. 'Maaf saja tak cukup bagimu. Namun kau pantas mendapatkannya.' Cale bergumam, "Mayat Davin sedang diperiksa di laboratorium dan kami mungkin akan mendapatkan laporan otopsinya dua hari lagi." "Lalu di mana Ramona?" Tanya Catherine "Kau ingin melihatnya?" Cale balik bertanya. Tak lama kemudian kami dibawa oleh Cale menuju sebuah ruangan yang adalah 'kamar sementara' milik Ramona. Pintu terbuka menampilkan sebuah ruangan berukuran 3×5 yang bernuansa serba putih dan hanya diisi oleh sebuah tempat tidur kecil, sebuah nakas, dan juga lemari kecil. Di sana, di pojok ruangan, kulihat Ramona yang sedang duduk dan kedua tangan dan kakinya dirantai. Catherine menatapnya dengan nanar. Ia melangkah lebih dekat dengan Ramona. Namun Cale mengisyaratkan kami untuk tidak terlalu dekat dengan Ramona mengingat kondisinya yang sedang buruk dan bahkan mampu menyerang siapa saja. "Ramona ...," wanita itu menoleh ketika namanya dipanggil oleh Catherine. Tak ada reaksi apapun seperti yang aku dan Cale takutkan bahwa dia akan mengamuk dan kemudian menjerit histeris karna nyatanya dia balik menatap Catherine dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti ia ingin mengatakan sesuatu namun kalimat-kalimat tersebut tertahan di bibirnya. "Kami akan memindahkannya ke tempat yang lebih layak besok. Saat ini hanya dia satu-satunya kunci yang dapat menjelaskan segala hal yang terjadi dari peristiwa itu," tutur Cale "Apa yang terjadi denganmu Ramona?" Catherine hendak mendekat memeluk Ramona namun tiba-tiba gadis itu menangis histeris dan memeluk tubuhnya. "Tidak .., aku tidak tahu apa-apa! Tidak, jangan mendekat! Aku tidak tahu apa-apa! Kumohon menjauhlah...." Seketika ia menjerit histeris kemudian memberontak, mencoba melepas genggaman rantai besi yang ada pada pergelangan kaki dan tangannya. "Sebaiknya kita pergi dari sini. Akan ada dokter yang menanganinya." Catherine masih terpaku pada Ramona. Sorot matanya menampilkan rasa iba yang mendalam. Kami lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut. Cale menyuruh kami untuk pulang dan ia akan mengabari kami jika ia menemukan sebuah keajaiban yang mungkin dapat menuntun kami untuk mengetahui pelaku pembunuhan sadis itu. "Ini seperti sebuah pembunuhan berantai. Kami harus berusaha untuk menjaga Ramona dengan penjagaan yang ketat. Karna jika tidak ia akan menjadi korban selanjutnya dalam kasus ini. Sang pelaku tentu tahu sang saksi mata belum bisa diraihnya dan ia pasti akan mencari cara untuk mendapatkan Ramona," Cale berujar sesaat sebelum kami benar-benar keluar dari kantor kepolisian. "Kabari kami jika kau menemukan sesuatu," ujarku Sang polisi berpangkat tinggi itu menyunggingkan senyumannya. "Kau tidak perlu mengingatkanku tentang itu. Sejujurnya aku penasaran, siapa sebenarnya yang menyimpan liontin dan juga foto milikmu dan apa maksudnya? Tapi sudahlah ...," Ia menyentuh pundak Catherine dengan pelan, "Jaga dirimu baik-baik, Syera. Perasaanku berkata kau juga adalah bagian dari penglihatan mereka," tambahnya Catherine sedikit tercengang. Ia tersenyum tipis lalu berujar, "Aku akan berusaha menjaga diriku. Aku punya Bryan dan Alex yang cukup itu menjagaku." Kami lalu berpamitan dan berjalan menuju parkiran. Sebuah halaman yang luas namun dipenuhi berbagai mobil kepolisian yang biasa mereka gunakan untuk berpatroli. Di sana juga tempatku menitipkan mobilku untuk sementara waktu. "Terima kasih telah menemaniku ke sini," ujar Catherine beberapa saat setelah memasang sabuk pengaman. "Ya, apalagi yang dapat kulakukan? Bukankah begitu seharusnya yang dilakukan oleh seorang teman? Kau tidak perlu khawatir. Kau mungkin sedang diintai oleh mereka, namun aku takkan membiarkan mereka menyakitimu." Aku lalu melajukan mobil meninggalkan kantor kepolisian. Tepat di saat mobilku keluar dari halaman tersebut, kulihat seorang pria berpakaian serba hitam tengah menatap ke arah kami dari kejauhan. Dan di saat yang bersamaan, Catherine tersentak kaget. "Alex, pria itu ..., dia adalah pria yang sama yang kulihat hari itu!" Mobilku seketika melaju hendak mengejar pria tersebut. Namun pria itu menghilang begitu saja bagai tulisan pasir yang disapu oleh deburan ombak. "Kau yakin pria itu adalah pria yang sama?" Ia mengangguk. "Ingatanku masih segar tentang hari itu. Dan dia sangat mengerikan. Kurasa dia mengikutiku." Aku masih terdiam. Pikiranku masih memutar rekaman terakhir saat kulihat pria berpakaian hitam tersebut menatap kami. Aku masih mencoba mencocokan penampakan pria itu dengan gambaran orang-orang yang kukenal yang wajah mereka tersimpan dalam benakku. Namun aku masih saja tidak dapat menemukannya. "Jangan pernah khawatir. Kau punya banyak orang yang peduli dan akan menjagamu, salah satunya adalah aku." "Aku hanya takut sesuatu akan terjadi padaku. Liontin dan foto yang menjadi barang bukti itu sudah cukup membuatku takut, Alex. Dan tatapan pria itu benar-benar mengerikan. Ya, wajahnya mungkin terhalangi oleh topi hitam, namun dari caranya menatapku, aku yakin dia pasti adalah seorang penguntit." "Aku tidak ahli dalam bidang kepolisian, Cathe. Namun untukmu aku akan berusaha agar pria itu atau siapapun mereka yang ingin berbuat jahat padamu, mereka tidak akan pernah melihat matahari saat mereka menyakitimu." Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat mendengar perkataanku barusan. Namun kebungkamannya dan bunyi mobil yang menderu membuatku yakin dia pasti tengah memikirkan bahwa dia seharusnya percaya padaku. Pria yang telah mengamatinya sejak lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD