Dia Bagian dari Masa Laluku

2099 Words
ALEXANDER POV Jika ada yang harus kukatakan saat ini maka aku ingin sekali mendekap masa lalu. Menjaga dan memastikan bahwa dia baik-baik saja dan tidak ada yang menyakitinya. Aku harusnya melakukan itu belasan tahun yang lalu, jauh sebelum hatinya terluka karena cinta. Namun aku membiarkannya terombang-ambing dengan penantian panjang yang tak kunjung menemukan tempat untuk berlabuh. Ingatanku masih segar tentangnya dan segala hal yang kutahu tentangnya. Kala pertama kali aku melihatnya, saat-saat yang mungkin tak pernah ia sadari. Dia adalah seorang gadis manis yang sangat senang menulis. Cita-citanya adalah menjadi seorang penulis sederhana, namun takdir menempatkannya sebagai seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan buku yang terkenal di kota ini. Sejak dulu ia sangat senang mendengar musik. Sebagian besar musik yang ia sukai adalah musik yang sendu, namun penuh makna dan menenangkan. Jangan tanya dari mana aku mengetahuinya. Aku tahu segala hal tentangnya jauh, jauh sebelum ia mengenal cinta pertamanya. Jangan juga bertanya bagaimana bisa aku mengenalnya. Kau tahu, cinta selalu punya cara untuk membawamu bertemu dengan dia yang kau cintai bahkan sebelum kau menyadari bahwa kau mencintainya. Sejujurnya, aku tidak terlalu percaya pada kalimat itu. Namun kalimat itu berhasil meyakinkanku bahwa itulah kebenarannya. Dulu, dulu sekali, ketika kami masih sama-sama muda, bahkan mungkin terlalu muda. Saat itu usiaku masih terlalu muda untuk jatuh cinta. Aku sendiri tidak yakin apa itu cinta, namun aku merasakan sesuatu yang aneh setiap kali aku melihatnya. Seorang anak laki-laki berusia empatbelas tahun jatuh cinta pada seorang gadis berusia tigabelas tahun? Yang benar saja! Saat itu statusku masih sebagai seorang siswa kelas dua di Marantha Junior High. Salah satu dari dua sekolah favorit yang sangat didambakan oleh pra remaja Vellozia saat itu. Dan dia, dia bersekolah di sebuah sekolah sederhana. Fernseea Junior High. Namun pertama kali aku melihatnya bukan di sekolah itu.  Rumah Sakit St. Fransiskus. Aku lupa detail waktunya, namun yang pasti saat itu adalah penghujung Desember 2002 dan aku berkunjung ke rumah sakit tersebut. Tidak ada hal penting yang kulakukan di sana. Aku hanya pergi mengunjungi pamanku, Gilbert Franz, yang tidak lain adalah kakak dari ibuku. Aku selalu berkunjung ke rumah sakit itu sebelum pulang ke rumah. Tidak ada alasan apapun. Aku lebih senang bercengkrama dengan paman Gilbert dari pada dengan ayahku sendiri. Sejak dulu ayahku selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak heran jika aku lebih menemukan jiwa seorang ayah pada diri paman Gilbert. Dan tentang gadis itu, pertama kali aku melihatnya adalah ketika ia dan kedua orang tuanya baru saja keluar dari ruangan kerja milik paman Gilbert. Masih segar dalam ingatanku perawakan gadis itu ketika masih berusia tigabelas tahun, walau dengan tubuh yang lemas dan pucat, aura kecantikannya tetap terpancar melalui kedua bola mata hitamnya. Dia mungkin tidak mengingatnya, namun tatapan kami saat itu berhasil membangkitkan desiran di hatiku yang aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Ketika mereka keluar dari ruangan kerja paman Gil, aku segera masuk dan bertanya mengenai gadis itu. Dan dari hasil penjelasan paman Gilbert, aku akhirnya mengetahui namanya. Catherine Deonasyera Cord. Putri kedua dari dua bersaudara. Ia adalah putri bungsu dari pasutri Hendrick Cord dan Elizabeth Raveenala. Mereka membawa Catherine pada paman karena beberapa gejala-gejala aneh yang dirasakannya yang kemudian membuat kondisi tubuhnya menjadi menurun. "Dia harus melakukan banyak pengobatan dan istirahat. Tapi aku yakin beberapa hari ke depan kondisinya akan membaik," tutur paman kala itu. Sebenarnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang begitu penting untukku. Namun entah mengapa, seak saat itu aku mulai terus mengikutinya, menjadi penguntit dalam diam dan tak ada seorang pun yang tahu. Kala waktu luang aku selalu menyempatkan waktuku untuk melihatnya dari jauh. Kebiasaan aneh yang entah kenapa masih kuterapkan hingga sekarang walau dalam kondisi yang berbeda. Lalu apa tujuannya aku melakukan semua itu? Tidak ada. Aku sendiri masih tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mencintainya. Namun setiap kali melihat wajahnya, selalu ada desiran aneh yang muncul dalam hatiku. Aku yakin rasa itu tidak mungkin cinta. Aku telah mempunyai seorang pasangan. Amanda Cathartica Landolph, namanya. Kami telah bersama sejak SMA. Namun kembali lagi pada kenyataannya, walaupun telah lama bersama dengan Amanda, namun rasanya tidak sama ketika melihat Catherine. Lalu apa arti sesungguhnya dari desiran yang selalu menggangguku itu? "Selamat pagi!" Aku menoleh mendapati Amanda yang entah sejak kapan telah berada persis di belakangku. Hari ini adalah hari Sabtu, hari favoritku setelah lima hari harus bergelut dengan dunia pekerjaan. Biasanya aku akan mengajak Amanda untuk pergi berakhir pekan. Namun perihal hari ini aku sama sekali tidak membuat janji apapun dengannya. Kami bahkan kehilangan kontak selama beberapa hari. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku padanya yang dibalas tawa kecil darinya. "Kau melupakan sesuatu. Happy anniversary!" Ucapnya yang kembali tersenyum dan kemudian memelukku. "Kau ingin aku buatkan sarapan? Bagaimana dengan panekuk? Atau waffle?" Tawarnya setelah mengurai pelukan kami. Aku menatapnya tanpa ekspresi. "Kau memasak?" Ucapku yang segera membuatnya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Kau bercanda? Bukankah menyukai masakanku?" Ucapnya balik bertanya seraya menaikan salah satu alisnya. "Aku tak suka bercanda." Ujarku yang kemudian tersenyum kecil dan membuatnya memberikan sedikit tatapan sarkastiknya padaku. "Hari ini anniversary-ku. Dan aku ingin membuatnya terlihat sempurna." Ucapnya yang kemudian tersenyum penuh arti padaku dan itu membuatku sedikit bingung. Tak berselang lama ia menyuruhku untuk menunggunya di ruang makan selagi ia menyiapkan makanan. Jujur saja aku bahkan baru menyadari bahwa hari ini adalah anniversary kami. Oh, kurasa aku mengalami gejala demensia. "Aku tadi menelponmu sebanyak lima belas kali. Namun kau tidak mengangkat teleponku. Jadi kuputuskan untuk mengunjungimu di rumah." Dahiku mengkerut. "Kau menelpon?" tanyaku yang lebih memilih untuk menemaninya memasak di dapur. "Di mana ayah dan ibumu?" tanyanya. Aku mengangkat kedua bahuku. "Aku tidak tahu. Mungkin mereka sedang pergi berakhir pekan." Amanda mengangguk. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. "Aku singgah ke pasar membeli bahan-bahan membuat sandwich." "Kau hanya membuat sandwich?"  Ia menghentikan pekerjaannya. Menatapku dengan gemas seraya mencubit lenganku. "Tadinya aku ingin memasak sesuatu yang lain. Tapi karena kau selalu berkomentar bahwa masakanku tidak enak, maka lebih baik aku membuatkanmu sandwich," tuturnya. Aku tertawa geli. Itu memang benar. Dia tahu memasak, tahu bagaimana harus mengolah makanan hingga matang sempurna. Namun hasil masakannya tidak pernah enak. Dan aku yang paling sering mengomentarinya. "Bukan begitu. Lagipula semua komentarku itu berguna bagimu agar kau bisa belajar bagaimana membuat makananmu enak. Bukannya terlalu asin atau tawar." Ia segera menyodorkan sepiring sandwich padaku. Kedua bibir tipisnya ia kerucutkan. "Ini ambil sandwich mu. Aku ingin membereskan dapur." "Tidak perlu. Rumah ini punya dua orang pembantu yang akan membersihkannya. Tapi jika kau ingin membersihkannya, lakukan saja," ucapku acuh seraya menggigit pinggiran sandwich, lalu berlalu meninggalkannya. Aku berjalan menuju ruang makan. Menemukan secangkir cappuccino yang telah dibuatkannya di atas meja. Tak lama setelah itu Amanda menyusulku. "Jadi bagaimana dengan hari ini? Kemana kita harus pergi merayakannya?" Ucapnya antusias sambil melipat kedua tangannya di bawah dagunya. Aku masih menyantap sandwich dengan perlahan. Mengunyahnya dengan baik agar tidak menyakiti lambungku dan membebani pekerjaannya. Sambil pula aku memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Amanda. Namun entah kenapa aku teringat pada Deonasyera. "The Duke akan mengadakan konsernya di taman kota tanggal 9 nanti. Aku punya dua tiket VIP yang kudapatkan dari bibiku. Apa kau berniat pergi bersamaku?" Dia berujar cukup pelan. Masih dengan sikap canggungnya. "Aku tidak tahu apa aku bisa menemanimu atau tidak," jawabku. Sejujurnya aku tidak masalah jika harus pergi menemaninya. Aku malah sangat bisa menemaninya. Namun aku hanya ingin melihat ekspresinya yang terkejut. Dan dia memang terkejut. Kemudian kembali berujar dengan pelan. "Aku sudah lama menantikan konser akustik milik Danvy dan teman-temannya. Ini adalah konser pertama mereka di kota ini. Tapi bila kau tidak bisa, itu tak apa. Aku mungkin akan pergi bersama Avariella, temanku," "Boleh kuminta nomor teleponmu?" tayanyaku sembari memberikan ponselku padanya. "Tapi aku lupa membawa ponselku." "Yang kuminta hanya nomormu, bukan ponselmu." Aku bergurau. Membuatnya tersenyum malu lalu mengambil ponselku. "021-999-757-8." Dia mengeja sambil mengetik nomornya, lalu menyimpannya pada ponselnya. "Baiklah. Kita sampai," kataku setelah memberhentikan mobil di halaman parkiran RS. St. Fransiskus. "Aku pamit dulu. Sekali lagi terima kasih," dia segera keluar dari dalam mobil setelah memberikan seulas senyuman yang sangat canggung. Begitulah dia. Wanita yang tidak terbiasa dan tidak cepat beradaptasi dengan orang baru. Hey apa aku orang baru baginya? "Alex!" Aku terkejut mendapati Amanda yang menatapku kebingungan. "Ada apa?" "Kau tidak mendengar perkataanku?" Dahiku mengerut. "Memangnya apa yang kau katakan?" Amanda menghela napas panjang. Ia mulai mengikat rambut panjangnya yang ia gerai. "Aku tidak ingat apa yang kukatakan tadi." Aku mengangkat kedua alisku. "Yasudah." "Hanya itu?" "Memangnya apa yang harus kukatakan?" "Aku ingin pergi bersamamu." ♧♧♧ Sulit untuk membayangkannya sekarang, tapi ada saat di mana semua ini belum terjadi. Kami masihlah remaja berusia limabelas tahun, yang masih menjalani kehidupan sebagai para bocah nakal yang sering berulah dengan berbagai cara jahil yang kami punya. Musim semi 2003. Saat itu setelah berhasil menjahili beberapa orang, aku dan beberapa temanku sengaja berkunjung ke Fernseea Junior High untuk mengajak beberapa teman kami yang bersekolah di sana untuk bertanding basket. Kami datang ke sekolah itu tepat saat jam pelajaran usai dan semua siswa telah berhamburan keluar dari lingkungan sekolah. Kami lalu berjalan menuju lapangan basket yang telah kami tentukan untuk bertemu di sana. Dan di situlah pertama kali ia melihat gadis itu. Seorang gadis berwajah sendu yang sedang duduk di tribun seorang diri sembari menulis sesuatu pada sebuah buku berwarna hitam. Kurasa saat itu dia terlalu sibuk dengan kegiatannya sehingga tidak menyadari bahwa seseorang tengah terpana melihatnya. Saat itu aku hanya menganggap bahwa tatapannya pada gadis itu hanya ketertarikan sekilas antara seorang lelaki pada seorang gadis yang baru saja dilihatnya, namun setelahnya aku baru menyadari bahwa tatapan itu akan lebih dari yang kubayangkan. Dia mulai mencari tahu segala hal tentang gadis itu, tentang nama lengkapnya, keluarganya, kebiasaannya, hal yang dibencinya, bahkan pada hal-hal kecil seperti setiap pulang sekolah gadis itu selalu menyempatkan diri untuk singgah di kedai kopi sekedar untuk membeli secangkir cokelat panas, singgah ke toko buku sekedar untuk mengecek harga novel kesukaannya, dia tahu bahwa Catherine sangat suka sesuatu yang manis, bahkan bahwa Catherine adalah seorang ambivert, dia pun mengetahuinya. Ia rela membuntuti gadis itu hanya untuk melihat wajahnya dan mengetahui apa saja yang dilakukannya setiap hari saat tidak berada di sekolah ataupun di rumah. Awalnya aku tidak yakin dengan apa yang dikatakannya padaku tentang gadis itu. Aku tak percaya bahwa dia menyukai gadis itu. Namun segera aku menyadari bahwa dia tidak pernah bercanda dengan apa yang dikatakannya. Seandainya ia masih berada di sini, aku mungkin akan memberitahunya bahwa gadis itu kini telah berubah menjadi seorang wanita cantik yang masih bertahan dengan sifat phobia-nya terhadap lelaki. Namun kenyataannya berbeda. Dia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Aku telah berulang kali mencoba menghubunginya namun tetap saja gagal. "Halo?" Ucapku saat mengangkat telepon darinya. Saat ini aku sedang berada di mobil bersama Amanda. Aku tidak tahu ia akan membawa kami kemana. Yang kutahu aku akan mengikuti perintahnya untuk berbelok ke kiri atau ke kanan sebab dia sedang menggunakan layanan Google Maps. "Alex, apa kau sedang sibuk?" Tanyanya suaranya terdengar pelan sekali seperti sedang menahan tangis. "Ada apa denganmu?" "Cale menelpon. Mereka telah menemukan Davin dan Ramona." "Kau seharusnya senang, bukan?" Amanda menoleh menatapku. Ia mulai risih, ingin tahu siapa yang menelponku. Lebih tepatnya ia ingin mengetahui gender dari si penelpon. "Ya ..., tapi Davin ditemukan tewas." Seketika itu kudengar suaranya bergetar. "Aku akan menjemputmu. Kau masih berada di rumah, kan?" "Ya." Aku lalu mematikan ponselku. Sekilas kulihat Amanda telah memasang muka tegangnya. "Siapa yang menelponmu barusan?" Tanyanya tanpa menoleh padaku "Catherine." Satu kata dariku tentu saja menimbulkan jutaan tanya yang menghiasi kepalanya. Dia menoleh dan bertanya penuh selidik, "Seorang wanita? Siapa dia?" Aku masih memfokuskan diriku untuk mengemudi. "Kau cemburu dengannya?" Tanyaku sambil terkekeh Ia segera mengalihkan pandangannya dariku. "Tidak! Aku ..., hanya ingin tahu siapa dia." "Dia adalah teman lamaku." "Seberapa lama kau mengenalnya?" "Jauh sebelum aku mengenalmu." Aku bergumam, mencari momen yang tepat untuk mengatakan padanya bahwa rencananya untuk pergi bersamaku harus dibatalkan. "Amanda, maafkan aku tapi kita tidak bisa pergi bersama. Aku harus menjemput Catherine di rumahnya." Ia tertegun sebentar, kemudian bertanya. "Memangnya ada apa?" "Kami harus ke kantor polisi. Ceritanya sangat panjang. Aku akan menceritakannya padamu nanti. Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Tidak apa kan?" Aku bertanya memastikan bahwa dia memang tidak keberatan jika rencana kami harus tertunda. "Sebegitu pentingnya kah wanita itu untukmu?" "Amanda, tolonglah...." Dia terdiam. "Aku janji akan memindahkannya ke lain waktu dan kau pasti akan menyukainya," aku menggigit bibir bawahku. Takut ia akan marah. "Ini adalah anniversary kita. Tapi jika ada yang membutuhkanmu lebih dariku, maka apa yang bisa kulakukan?" ucapnya pelan. Kuanggap itu adalah pernyataan secara tak langsung bahwa ia setuju untuk membatalkan kepergian kami. "Tapi ..., apakah wanita bernama Catherine itu adalah cinta pertamamu?" Seketika kurasakan degupan jantungku memacu. ♧♧♧
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD