bc

Janda Cantik Galak Incaran CEO Lajang

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
affair
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Agnes sudah menikah dengan Hadi selama 3 tahun. Pernikahan mereka baik-baik saja, setidaknya itu menurut Agnes dan Hadi. Tapi, masalah lain justru muncul dari mertuanya-ibu Hadi yang sudah merongrong meminta cucu. "Udah tiga tahun loh kalian itu, mau sampe kapan nunda terus?" "Nanti yah, Bu. Kerjaan kita masih banyak,""Kamu, Agnes. Mbok ya diem di rumah gitu loh jangan kerja, perempuan itu gak usah kerja kalau udah nikah, urus rumah, suami, sama anak. Mau sampe kapan kerja terus?!" Dumel mertuanya itu yang entah sudah kesekian kalinya, dan udah kesekian kalinya juga Agens menahan sabar. Bego sama t***l itu beda tipis, mungkin ini yang cocok untuk Agnes. Bertahan dengan pernikahan toxic nya yang entah sampe kapan. "Kalau kata gue, mending cerai, Nes. Lo emang mau sampe kapan di jajah sama mertua dan suami patriaki kayak gitu?" Ucap kawannya kala itu, yang sampe sekarang masih betah singel. Dan Agnes mulai mempertimbangkan perkataan temannya, tapi di sisi lain ia tidak mau mendapat label *Janda* di belakang namanya.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Agnes dan Hadi sudah menikah selama tiga tahun, mereka tinggal di rumah orangtua Hadi karena keinginan ibu mertuanya. Hadi anak pertama dari dua bersaudara, dia memiliki adik perempuan yang masih kuliah. Sedangkan Agnes dia anak tunggal, dari keluarga berada. Orangtua Agnes tidak pernah setuju Agnes berhubungan dengan Hadi apalagi sampai menikah, tapi Agnes bersikeras pada pilihannya, alhasil mereka menikah tanpa restu sang ayah. Kehidupan pernikahan mereka baik-baik saja, Agnes masih bekerja sebagai seorang Senior Relationship Manager disebuah Bank bonafit di kota-nya, dan Hadi pun sama dia menjabat sebagai Account Manager di bank lain. Awalnya mereka cinlok, tapi karena mereka tidak boleh menikah di dalam satu perusahaan yang sama. Agnes mengalah, dia pindah ke bank lain dengan jabatan yang lebih tinggi di bank yang sebelumnya. Agnes memasukan mobil milik Hadi ke halaman rumahnya, mobil miliknya dipakai oleh Hadi. Jadi mereka bertukar mobil sejak menikah, karena mobil dirinya lebih minimalis tidak membutuhkan banyak ruang akhirnya Toyota Camry miliknya ditukar dengan Pajero milik suaminya. Agnes sih tidak masalah, toh dia bisa menggunakan mobil milik suaminya juga. Hanya saja alasannya kadang tidak dimengertinya. Agnes masuk ke dalam rumah sambil menenteng beberapa makanan untuk makan malam mereka. Karena hari ini dirinya lembur tidak bisa memasak, Agnes langsung saja ke ruang makan untuk menaruh makanannya yang di sana rupanya ada adik iparnya-Luna. "Baru pulang, Mbak?" "Iya, nasi udah matang kan? Mbak beli lauknya doang ini." Agnes menaruh paper bag yang berisi makanan yang sudah dibelinya. "Belum, Mbak. Hehe. Aku lupa, sekarang aja aku masak nasinya dulu ya." Agnes hanya diam sambil menganggukkan kepalanya, tak ada tenaga untuk membalas. Dia ingin mandi, juga lapar. Menyesal dia tidak makan diluar bersama teman-temannya tadi. "Yaudah, Mbak ke kamar dulu mau bersih-bersih." "Oke," Tak lama Agnes pergi, Farah-sang ibu mertua datang. "Kakak iparmu udah pulang?" "Iya, Bu. Ini aku mau masak nasi," "Hiii kenapa kamu yang masak, kenapa gak dia aja." "Mbak Agnes mau bersih-bersih, Ibu. Kasian dia, lagian tinggal masukin nasi ke rice cooker aja ini." "Ck, pemalas. Kenapa sih kamu mau-mau aja disuruh sama dia?" "Aku gak disuruh, Ibu. Aku yang mau, udah deh. Lagian masih ada waktu sebelum jam makan malam, Mbak juga udah beliin lauknya buat kita." Luna tidak mau lagi mendengar ocehan ibunya itu, malas dia tuh. Farah yang mendengar anak bungsunya itu seolah membela Agnes seketika pergi dari sana dengan wajah kesal. Di dalam kamar Agnes, ada Hadi yang sedang memainkan ponselnya. Hadi udah pulang dari siang, suaminya itu asyik berselancar dengan media sosialnya. "Mas," Agnes yang sudah selesai bersih-bersih menghampiri suaminya di ranjang. "Iya, sayang." "Aku mau ngomong," "Iya ngomong aja," Balasnya sambil tetap fokus dengan ponselnya, kali ini dia tengah bermain game karena layar ponselnya itu menyamping. Meskipun sebal, Agnes tetap berbicara. "Aku kan tadi gak sengaja ketemu temenku-Maria, abis ketemu klien-ku di resto. Dia nikahnya sama kayak kita, Mas dan tau gak, dia sekarang sedang hamil! Dan hamilnya itu lewat bayi tabung. Gimana, kalau kita coba aja?" Hadi mendengarkan omongan Agnes kok, meskipun dia sedang bermain dengan ponselnya. Buktinya sekarang dia mematikan ponselnya dan langsung memandangi Agnes dengan tatapan datar. "Bayi tabung?" Agnes mengangguk dengan semangat. "Iya, bayi tabung." "Nggak, aku nggak setuju." Wajah Agnes seketika berubah. "Kenapa?" "Sayang, apa kata orang nanti kalau kita lakuin bayi tabung? Belum biayanya? Kamu gak mikirin ke sana emang?" "Nggak usah peduliin omongan orang, yang penting kita punya anak!" "Tapi biayanya?" "Kita pake tabungan kita, Mas." Mata Hadi melotot sempurna. "Kamu gila, yah? Aku gak setuju, apalagi pake tabungan kita!" "Mas, kita masih bisa nabung lagi. Ayo dong, kamu emang gak mau punya anak?" "Tapi nggak dengan bayi tabung, sayang." "Iya, terus apa?!" "Lakuin dengan normal." "Udah, udah! Hasilnya apa? Nihil!" "Kamu makanya ikutin kata ibu, jangan makan-makanan junk food, selalu rutin minum jamunya." "Mas, seriously kamu bilang gini ke aku?" Agnes berdiri dari duduknya memandang suaminya tak habis pikir. "Apa kamu gak inget, setiap hari akun makan, makanan yang sehat? Aku selalu minum jamu! Aku gak pernah minum kopi atau minuman manis lainnya? Aku selalu nurut kata ibu kamu! Tapi mana hasilnya? Belum ada!" "Iya, sabar sayang. Aku tau, aku ngerti kok." "Nggak, kamu mana ngertiin aku! Aku selama ini selalu nurut sama kamu dan ibu kamu, sekarang giliran aku dong. Kamu harus mau," "Sayang," "Kamu, emang gak cinta sama aku'kan?!' Hadi seketika menggelengkan kepalanya. "Sayang, kok kamu ngomongnya gitu." "Ayo buktiin kalau kamu juga cinta sama aku," "Nggak dengan program bayi tabung, sayang." "Aku mau bayi tabung, terserah kalau kamu gak setuju." "Sayang," "Mas, tolong dong kamu dukung aku kali ini aja." "Tapi biayanya, itu pasti mahal. Nggak cukup dua puluh juta kan?" "Iya makanya kita pake tabungan, lagian kita bisa ngumpulin lagi Mas." Dengan helaan napas berat, Hadi setuju. "Oke, tapi ingat. Kalau biayanya up 60 juta kita batalin, gak perlu bayi tabung. Under 60 juta, kita ambil." Agnes menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, ia lantas memeluk suaminya itu. Di dalam hatinya, jika pun biayanya di atas 60 juta dia tetap akan melakukannya menggunakan uangnya. Lagi pula, selama ini yang selalu mengisi tabungannya itu kebanyakan darinya. Jadi, seharusnya suaminya itu tidak mempersalahkannya. "Yaudah yuk, kita makan. Kayaknya nasinya udah matang." Hadi mengangguk mereka melepaskan pelukannya dan keluar dari dalam kamar. Di ruang makan, sudah ada ibu juga adik iparnya. Wajah Farah tertekuk, terlihat tidak ramah sama sekali. "Agnes, kamu kalau gak bisa bantu ibu gak usah suruh Luna buat masak nasi." Baru saja Agnes duduk, ibu mertuanya sudah memulai perdebatan. "Iya, Bu maaf. Aku tadi gak minta Luna buat masak nasi, kok." "Halah, gak usah alasan." "Ibu, udah dong. Kan tadi Luna udah bilang, ini Luna sendiri yang mau." Farah tidak menjawab, dia mulai mengalasi nasi untuk Hadi lalu dirinya sendiri. Sedangkan Luna dan Agnes mengambil makannya sendiri. Makan malam mereka berakhir dengan tenang. Agnes sudah memikirkan, dia akan menceritakan usulnya pada ibu mertuanya itu, syukur-syukur dia dapat dukungan besar dari ibu mertuanya itu. "Ibu, aku sama Mas Hadi udah putusin. Kita mau coba bayi tabung." Wajah Farah semakin keruh, dia memandang menantunya itu dengan padangan dingin. "Bayi tabung?" "Iya, Bu." "Nggak, Ibu gak setuju!" "Gak usah kalian ikut-ikutan kayak begitu, yang normal-normal aja kenapa sih? Apa kata orang kalau kalian pake bayi tabung? Belum lagi biayanya! Ibu gak setuju." Perasaan Agnes seketika kecewa mendengarnya. "Bayi tabung juga sama aja kok, Bu. Cuman proses nya aja yang beda, aku tetep hamil anak Mas Hadi." "Kamu itu ngerti gak sih sama omongan orangtua! Bayi tabung itu beda! Ibu nggak mau punya cucu hasil dari bayi tabung! Kamu gak usah aneh-aneh, dari pada uangnya buat program bayi tabung. Mending uangnya buat besarin rumah ini lagi, atau beli tanah." "Bu, Agnes mohon sama Ibu. Bukannya ibu pengen cepet dapet cucu?" "Iya tapi nggak dengan bayi tabung, Agnes! Kamu emang gak sayang apa sama uangnya? Itu pasti gede nggak mungkin cuman sepuluh juta kan? Gimana kalau gagal? Uang udah jelas ilang gak ada bentuknya, bayi gak ada. Mending yang pasti-pasti aja deh, kamu. Uangnya beliin tanah, atau bangun lagi rumah buat Luna nanti." "Makanya kamu gak usah kerja, diem di rumah. Jangan makan, makanan diluar. Rajin minum jamu, mbok ya di omongin sama mertua itu nurut toh, jangan ngeyel. Ini akibatnya kalau ngeyel. Pokonya Ibu gak setuju, titik!" Setelah mengatakan hal itu, Farah keluar dari ruang makan diikuti Luna meninggalkan Agnes, juga Hadi. Agnes yang sedari tadi menahan rasa sesak di dadanya, seketika air matanya jatuh begitu deras. Ia langsung beranjak dari kursi dan masuk ke dalam kamar. Tak lama Hadi mengikuti sang istri untuk masuk ke dalam kamar. Hadi diam saja membiarkan istrinya itu yang menangis sambil memunggunginya. "Kenapa sih, kamu sama ibu tuh sama! Kenapa kamu gak ngertiin perasaan aku! Kurang apa aku selama ini sama kamu, sama ibu?!" "Aku juga pengen punya anak, makanya aku usaha. Aku minum jamu, makanan aku jaga, dan sekarang aku pengen program bayi tabung kalian larang? Kenapa sih kalian tuh!" "Sayang, hei. Aku sama ibu tuh tau yang terbaik buat kamu. Yang ibu bilang itu bener, kita harus pikirin juga minusnya kalau program bayi tabung ini gagal. Sayang kan uangnya kalau kebuang sia-sia?" Agnes tak ingin menjawab, dia diam saja. "Udah yah, gak usah nangis lagi. Kita pikirin masalah ini nanti," "Nggak, keputusan aku udah bulat! Aku mau bayi tabung, terserah kalau ibu gak mau! Ini uang aku, terserah aku!" Agnes lantas pergi ke dalam walk in closet untuk tidur di sana, ngomong-ngomong di sana ada sofa. Dia tidak mau tidur bersama suaminya jika kepalanya masih panas. *** Tbc

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
718.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
956.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
345.4K
bc

Not just, the Beta

read
341.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook