Bab 6

1061 Words
Bab 6 [Kamu memang wanita yang baik, Dek.] Aku mengernyitkan kening saat membaca pesan dari Mas Rendi. Maksud dia apa? Tidak mau berpikir lebih jauh, segera kutuntaskan pekerjaan sebelum hari kian terik. "Makan, Yuk!" ajak Santi setelah dia mendekat. Semalam kami sempat janjian untuk makan di warung bakso yang lagi viral. Harus beralasan apa lagi, dia pasti marah jika tahu uang yang kubawa malah diberikan kepada maminya Mas Rendi. "Udah selesai?" tanyaku mengulur waktu. "Udah. Makanya sekarang aku laper, setelah itu kita pulang dan mulai live jualan lagi. Mau gak?" Sejenak aku mengangguk. "Ya udah, ayo!" ajak Santi lagi sambil menarik tanganku dengan keras. "Tapi aku gak bawa uang, San," lirihku. "Kan tadi kamu bawa dua ratus, biar sekalian cuss ke sana. Ilang apa gimana?" "Tadi Tante Lilis ke sini. Terus ...." "Uangmu diambil sama dia?" tebak Santi dengan tepat."Dia tahu kamu lagi bersihin taman ini?"lanjutnya. "Kan pernah senam di sini bareng temannya. Waktu itu dia tidak mengakuiku." "Dan barusan dia minta uangmu, kenapa dikasih?" "Aku gak tega, San. Dia bilang kelaparan, wajahnya tampak kuyu." Santi menepok jidatnya. "Terus gimana ini? Jadi gak ke sana?" "Kamu aja dulu ke sana. Aku bisa makan di warteg, ngutang dulu seperti biasa." Terdengar helaan napas dalam dari gadis itu, disertai gelengan kepala. "Ya udah, kutraktir aja. Mana tega aku ngebiarin teman ngutang makan di warteg." "Beneran? Kamu emang sahabat yang baik, San." "Tapi gantian nanti, jangan keenakan kaya keluarga Rendi itu. Heran aku, dah tahu belangnya, tetep aja kamu luluh." Aku tersenyum mendengar gerutuan dari sahabat yang telah bersama sejak lima tahun itu. Awalnya kami dekat karena sekamar, waktu itu aku diterima bekerja sebagai tukang kebersihan taman karena frustasi belum juga mendapat panggilan bekerja. Santi juga ternyata bernasib sama. Meskipun, aku tidak mengenal seluk beluk keluarganya tapi kedekatan di antara kami tulus. Saling membantu, mungkin tepatnya aku yang selalu meminta bantuan karena uangku sudah habis digerogoti Mas Rendi. .... Lagi-lagi Mas Rendi datang ketika aku pulang. Dia menyambut dengan wajah sumringah. "Aku senang kamu tetap baik sama mami, Dek," celetuk Mas Rendi. "Temanku itu memang baik, Mas. Keluargamu aja yang suka manfaatin," ceplos Santi. "Jangan ikut campur! Dari kemarin udah kudiemin ternyata kamu malah ngelunjak." Aku menggamit lengan Santi, memberi kode supaya tidak menanggapi ucapan kasar dari Mas Rendi. Namun, dia tidak bergeming. Tatapan matanya tajam mengarah ke lelaki yang memakai kemeja abu-abu itu. "Kemarin-kemarin aku juga diem, tapi setelah Dira tahu akal licik kalian. Maaf saja, aku tidak akan tinggal diam begitu saja." "Akal licik apa? Kamu tahu tentang apa, Sayang?" Mas Rendi balik bertanya kepadaku. Duh, kenapa Santi malah keceplosan? "Lupain aja. Kamu ke sini mau ngapain?" "Aku mau ngucapin makasih ma kamu, Dek. Ternyata kamu masih perhatian sama mami. Dia pengen mengundangmu ke rumah, Dek." "Gak ada, Dira sibuk gak ada waktu buat diporotin sama kamu dan mamimu," sambar Santi dengan cepat. "Udah kubilang kamu diem aja, gak usah ikut campur," balas Mas Rendi. "Maaf, Mas. Untuk saat ini aku belum bisa datang ke rumahmu. Aku sudah diusir dua kali ke sana, cukup untukku mengerti bahwa memang tidak diharapkan," sanggahku. "Noh, dengerin!" Mas Rendi menatap tajam Santi, tampak sekali dia menahan geram. Kedua tangannya mengepal erat. "Lebih baik kamu pulang saja, Mas. Gak enak dilihat tetangga kost lain jika kalian bertengkar," pungkasku sambil menyeretnya keluar dari teras. Meskipun terlihat kesal, Mas Rendi akhirnya menaiki mobilnya dan melaju pergi. "Heran aku, udah PNS bermobil pula masih aja morotin ceweknya," gerutu Santi. "Makasih ya, kamu bantuin aku buat tetap sadar untuk tidak hanyut dalam rayuannya," ucapku tulus. "Tenang aja, aku akan membantu selagi bisa. Tapi serius deh, risih juga lama-lama tiap pulang selalu ditungguin dia. Katanya PNS kok kaya pengangguran." "Tahulah, San. Mana aku ngerti soal begituan." Santi mengendikkan bahu dan mengajakku masuk ke kamar. Kami menyiapkan segala sesuatu yang dilakukan untuk live. Beberapa waktu lalu, ada pelanggan yang menginginkan live pada siang hari. Dia selalu ketinggalan karena sudah tidur. Buat pelanggan, apa sih yang enggak? Meskipun, masih capek karena habis bekerja, harus tetap semangat. .... Fitri, teman yang masih tetanggaan dengan Mas Rendi menelpon usai live selesai. Aku jadi ingat beberapa hari yang lalu, pernah dikirimi foto Mas Rendi dengan seorang wanita. Sampai hari ini belum ada penjelasan dari lelaki itu, setiap kutanya dia selalu mengalihkan pembicaraan. "Dira, mending kamu ke sini deh. Rendi lagi bawa cewek pulang. Kalian belum putus kan?" Ucapan dari Fitri membuatku terhenyak. Meskipun, akhir-akhir ini aku merasa muak dengan kehadirannya tapi tetap saja ada rasa nyeri di hati. "Kenapa?" Tatapan penuh tanda tanya jelas tersirat dari wajah Santi. "Fitri menelpon dan ngasih tahu kalau Mas Rendi pulang dengan membawa seorang wanita,"jelasku. "Benar-benar lelaki itu! Padahal tadi dia mohon-mohon supaya kamu ke rumahnya. Eh, udah bawa cewek lain." Aku menunduk, rasa sakit di d**a belum hilang. "Kamu kenapa? Cemburu mendengar Rendi bawa pulang cewek?" "Gak tahu, San. Tapi kenapa di hati rasanya sakit?" Santi menepuk bahuku pelan, seolah mengerti. "Mau ke sana?" tawarnya. "Buat apa? Tadi aja aku tolak mentah-mentah ajakannya, masa sekarang ke sana." "Untuk menangkap basah Rendi. Barangkali dengan begitu, dia akan berhenti mengganggu." Pemikiran dari Santi ada benarnya juga. Setidaknya nanti tidak ada yang menggangguku lagi. Aku mengirim pesan kepada Fitri untuk memastikan gadis itu masih di rumah Mas Rendi. Ternyata benar, dia masih di sana. Setelah berpesan supaya tetap mengabari, aku bersiap menyusul. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk datang, karena memang jaraknya tidak begitu jauh. Mobil Mas Rendi terparkir rapi di halaman rumahnya. Sedangkan pintu rumah terbuka lebar. Aku memasuki rumah tersebut dengan mengucap salam. Gadis itu berdiri menyalami, sedangkan Mas Rendi dan Tante Lilis tampak syok. "Katanya kamu gak mau ke sini, Dek?" Suara Mas Rendi terdengar lirih. "Sebenernya memang tidak, Mas. Tapi aku dengar kamu bawa cewek ke rumah. Jadi penasaran kan pengen ke sini." Tante Lilis dan Mas Rendi saling berpandangan. Ekspresi mereka tampak kaku, tidak seperti biasa. "Kamu cewek barunya Mas Rendi ya?" todongku. Gadis itu tampak malu-malu sembari mengangguk. Dia memang cantik dan kelihatan dari penampilannya lebih baik dariku. Sesak di d**a membuat air mata ingin keluar, rasanya kenapa masih sakit padahal sering kali aku dikecewakan. "Selamat ya! Semoga setelah ini Mas Rendi tidak menggangguku lagi dan juga Tante Lilis sekarang tahu kan harus minta bantuan sama siapa? Jadi tidak perlu datang ke taman lagi. Ya sudah aku tidak akan mengganggu lagi," pamitku sambil melangkah keluar dari rumah. Akhirnya ceritaku dengan Mas Rendi telah usai. Benar-benar telah usai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD