Bab 5

1053 Words
Bab 5 Sebuah email berisikan notifikasi transfer gajian telah masuk ke rekening. Aku segera mengecek, dan mendapati bulan ini ada kenaikan. Meskipun seratus ribu tetapi sangat berarti. Hari ini Santi juga mengajakku ke Mall. Kami berencana belanja bulanan sekalian membeli dagangan untuk dijual kembali. Mas Rendi tiba-tiba menelpon saat aku hendak bersiap. Dia mengingatkan supaya aku datang ke rumahnya seperti biasa. Tanpa menjawab, aku mematikan sambungan telepon. Dia pikir aku akan mengikuti kemauannya, jangan harap! "Udah siap?"tanya Santi dengan gaya centilnya. "Let's go girl," sahutku tak kalah centil. "Eh, ponselmu dari tadi bunyi terus tuh." Aku mengecek ternyata Mas Rendi belum menyerah. "Biarin aja, nanti juga diem. Kuylah, kita kemon!" Santi bersorak menanggapi ajakanku. Sebuah taksi online datang begitu kami keluar dari kost, pas dengan perhitungan. Biasanya naik angkutan umum, sekali-kali ingin juga merasakan naik mobil. Kalau bukan karena habis gajian, Santi pasti tidak mau menuruti kemauanku ini. "Mahal banget," bisiknya setelah taksi membawa kami berlalu. "Gakpapa, besok-besok juga naik angkot lagi," sahutku asal. Dua orang satpam menyambut kami di pintu masuk. Berlagak bak sosialita KW, kami menyusuri pusat perbelanjaan. Gajian bulan ini bertepatan dengan hari libur, sungguh sangat membahagiakan. Satu persatu gerai fashion kukunjungi, tak lupa skincare yang sedari dulu kutaksir juga tidak luput dari perhatian. Ternyata begini rasanya membelanjakan uang demi penampilan, tanpa menyampingkan kebutuhan. "Habis ini ke mana lagi?" tanya Santi dengan wajah antusias. Di tangannya memegang beberapa goodie bag, kondisiku juga tidak jauh beda. Ada keinginan untuk berkeliling lagi, tapi rasa lelah mulai melanda. Beberapa kali aku memijat kaki saat istirahat. "Pulang, Yuk! Capek banget nih," ajakku. Santi mengangguk cepat, rupanya dia juga sama-sama merasa lelah. Kami tiba di kost saat tengah hari dan terkejut mendapati Mas Rendi tengah duduk di teras. "Dari mana, Dek?" Matanya memindai belanjaan yang kubawa. "Kalian habis belanja? Banyak sekali," lanjutnya. "Iya dong, kan habis gajian. Sekali-kali nyenengin diri sendiri, masa nyenengin orang lain terus. Mending kalau orang itu ngerti kalau cuma dimanfaatin doang kan nyesek," celoteh Santi dengan lugas. Aku melirik ke arah Mas Rendi yang seakan tidak suka dengan perkataan sahabatku itu. "Mami nungguin kamu di rumah, Dek," ucapnya kemudian. Santi memilih masuk ke dalam setelah diabaikan oleh Mas Rendi. Dia memberi kode supaya aku jangan pergi. "Buat apa, Mas? Kita kan sudah putus. Mami kamu ngusir aku, ngapain lagi ke sana?" "Mami cuma khilaf waktu itu, Dek." "Sudahlah, Mas. Kita kan bukan siapa-siapa lagi sekarang. Aku mau masuk dulu, mau istirahat. Capek habis belanja," pungkasku. "Kamu habisin gajimu, Dek?" tanya Mas Rendi dan membuatku menghentikan langkah. "Mau dihabisin atau gak, ini uangku, Mas. Kamu gak boleh ikut campur." "Jangan boros, Dek. Gajimu jangan dihabiskan dalam sekali belanja." Dia tidak tahu saja, belanjaan banyak karena ada barang dagangan juga. Mana mungkin aku habiskan semua uang dalam sekejap. Begini-begini juga, aku masih bisa berpikir. "Kita bukan siapa-siapa sekarang, Mas. Tolong jaga sikap!" tegasku. Lama-lama jengah juga dengan sikapnya. "Aku ini masih pacarmu, Dek. Kita belum ada kata putus, berarti masih berhubungan," kekehnya. Padahal setelah pertemuan terakhir dua pekan yang lalu, tidak sekalipun Mas Rendi menghubungiku. Artinya memang sudah selesai kan? "Ayo ke rumah, Dek. Mami menunggu di sana." Tangan Mas Rendi menahanku yang akan masuk ke dalam. "Buat apa Tante Lilis mengundangku datang. Suruh saja cewek yang di foto itu. Maaf, Mas, aku lelah," pungkasku sambil melepaskan genggaman tangannya. Jika dia masih bersikeras, aku tidak akan segan melapor ke satpam depan. Untung saja lelaki itu memilih undur diri. "Sudah kuduga, Rendi tidak akan melepasmu dengan mudah," celetuk Santi yang ternyata sudah berada di sebelahku. "Gak usah sok tahu. Jomblo abadi kok ngomongin cinta," ledekku. "Eh, jangan pandang remeh. Gini-gini aku itu analisis cinta." Aku mencibir mendengar pembelaan dari Santi. "Sekarang tinggal kamu nih. Apa bakal luluh dengan rayuan seorang Rendi atau tidak?" "Aku sudah muak sama dia." "Yakin?" "Kamu gak percaya?" "Iya." Aku mencebik. "Dah gak usah pasang muka jelek gitu. Sekarang kita cobain yang tadi dibeli," ucap Santi sambil mengeluarkan beberapa baju dan aksesoris yang keren. Mendadak kami melupakan perdebatan yang baru saja terjadi dan bergaya bak model profesional. .... "Dira, ternyata kamu di sini. Mami dah tunggu dari kemarin. Kenapa tidak datang?" sapa Tante Lilis seraya menghampiriku di taman. Aku berhenti dari aktifitas mencabut rumput lalu mendongak. Diakah orang yang sama dengan orang yang tidak mengakui identitasku di depan temannya? Kenapa sekarang malah mencariku sendiri? "Maaf, bukannya tante sudah mengusir tempo hari. Masa iya, saya dengan tidak tahu diri datang ke sana lagi," kilahku. "Waktu itu mami khilaf, Dira. Lagipula banyak orang yang mengejek tentang pacar Rendi. Lama-lama mami tidak tahan. Mainlah ke rumah seperti biasa, mami akan menyambutmu." Ajakan tante Lilis tidak kutanggapi berlebihan. Dalam hati aku sudah tidak tertarik untuk datang. "Dira," panggil Tante Lilis lagi. "Dir, kamu dengar mami kan?" "Iya, Tante." "Em, bawa uang gak? Di rumah lagi kehabisan beras, Dir. Kalau tidak beli sekarang, nanti Rendi bisa kelaparan." "Maaf, Tante. Saya gak bawa uang. Lagipula Mas Rendi kan bekerja, pasti punya gaji. Masa iya kelaparan." "Gaji Rendi ditabung, Dir. Dia ingin membeli rumah katanya untuk kalian." Jujur, aku tidak percaya dengan ucapan Tante Lilis. Jelas-jelas Mas Rendi bilang gajinya habis untuk menyicil mobil. Sekali lagi aku menggeleng kuat, menandakan benar-benar tidak membawa uang. "Duh, gimana nih? Mana mami gak tahu mau pulang naik apa karena kehabisan duit. Tadi mami bela-belain ke sini dengan uang yang tersisa." Kini tatapanku fokus melihat wajah wanita yang telah melahirkan Mas Rendi. Dia tampak kuyu, sinar matahari yang terik menerpa wajahnya. Tangannya mengusap perut dengan perlahan. "Tante belum makan?"tebakku asal. Seketika dia mengangguk. "Mami tadi buru-buru ke sini, mana sempat sarapan. Sudah lama sekali kita tidak ketemu, dugaanku benar kita akan bertemu di sini." Ada rasa kasihan, aku juga tidak kuat berhadapan dengan orang tua yang tidak berdaya. Dia tampak sekali menahan lapar dan juga rasa lelah. Dua lembar uang kertas bergambar Sang Proklamator segera berpindah tempat menuju pouch milik Tante Lilis. Di dalam dompet tidak bersisa karena wanita itu telah menyambar semuanya. "Terima kasih, Dira. Mami tahu kamu orang baik. Mami pergi dulu ya," pamitnya dengan riang. Kini tersisa diriku dengan rasa penyesalan. Mudah sekali memberikan uang itu. Dua lembar uang kertas kini melambai-lambai di tangan Tante Lilis. Benar kata Santi, tidak mudah lepas dari cengkeraman keluarga Mas Rendi. Pasti dia juga sudah menduga kejadian ini. Haruskah sekarang aku mulai memikirkan strategi untuk menghadapi mereka? Jangan sampai kecolongan lagi. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD