Bab 4
"Mana mungkin anakku pacaran sama tukang taman, ada-ada aja. Ayo balik ke sana. Udah ditungguin tuh," kilah Tante Lilis bahkan sebelum aku mengeluarkan suara.
Bagus sih, daripada dia bermuka dua. Mending seperti sekarang, terlihat jelas dia tidak menyukaiku.
"Tapi aku pernah lihat mereka makan berdua di restoran, mirip sekali sama gadis ini. Masa iya salah lihat?" tukas temannya.
"Kamu tadi juga bilang sering lihat di rumahnya Jeng Lilis kan?"
"Kenapa senamnya pindah ke sini sih? Masih bagusan deket rumah,"gerutu Tante Lilis, sepertinya dia berusaha mengalihkan perhatian.
"Yang benar gadis itu bukan pacarnya Rendi? Tapi ya bagus sih, kasihan Rendi soalnya. Dia ganteng dan kerjaannya bagus eh dapat gadis tukang sapu kaya gini," ejek wanita lain.
Jika tidak mengingat harus menghormati orang yang lebih tua, rasanya aku ingin membalas omongan mereka.
Aku memilih diam dan pergi meninggalkan mereka. Pekerjaan membersihkan taman belum selesai, tidak ada waktu untuk meladeni ibu-ibu tadi.
"Kamu dengar kan tadi apa yang temanku bilang? Makanya kamu pindah kerja kek, betah banget jadi tukang bersih-bersih taman. Kan masih banyak pekerjaan yang lebih bagus," semprot Tante Lilis begitu jarak kami dekat.
Aku yang belum siap dengan kehadirannya terkejut. Waktu istirahatku jadi terganggu. Segelas es jeruk yang tinggal separuh segera kutandaskan.
"Eh, dibilangin malah diem bae. Pokoknya kalau kamu masih pengen deket dengan Rendi, segera ganti pekerjaanmu," pungkasnya sembari berlalu. Aku mengikuti kepergiannya lewat pandangan mata.
Rombongan ibu-ibu senam ternyata telah menunggu di pintu gerbang, saat kuintip dari jendela. Mereka tadi tidak melihat interaksi kami karena terhalang tembok. Lagian maminya Rendi itu lucu, mau uangnya tapi malu sama pekerjaannya. Maaf, Tante mulai bulan depan aku tidak akan memberikan jatah bulanan seperti biasa, dan akan tetap menjadi tukang taman, tekadku sudah bulat.
....
"Tadi mami ketemu sama kamu, Dek?" todong Mas Rendi saat kami tengah bersama.
Dia menungguku selesai bekerja dan mengajak ke kafe setelahnya. Kebiasaan lelaki ini tidak mau tahu dengan tanggal muda atau tua, selalu minta makan di tempat mahal. Padahal warung makan pinggir jalan juga banyak yang enak. Bahkan aku dan Santi mempunyai langganan di sana.
"Gak sengaja ketemu di taman. Mami kamu senam sama temannya," jawabku.
"Aku harap kalian akur," pintanya.
"Mami kamu minta aku pindah kerja, Mas. Kan kamu tahu sendiri, nyari kerja sekarang susah. Tadi dia juga gak ngakuin kalau kita ada hubungan."
Sekalian saja aku mengadu, pengen tahu juga reaksi dia bagaimana.
"Sabar ya. Orang tua kan memang suka begitu. Mami hanya ingin terbaik buatmu."
"Btw, kali ini kamu yang bayar ya, Mas. Sekali-kali, sejak kamu kerja aku belum pernah ditraktir."
Mendengar pembelaan untuk maminya Mas Rendi, membuatku sadar tidak akan dipandang.
"Kamu gak bawa uang, Dek?"
Aku membuka resleting tas dan menunjukkan isinya, bahkan ponsel tidak terbawa.
"Gimana ini?" gumam Mas Rendi dengan mimik wajah kebingungan.
Aku diam-diam tersenyum dan menikmati pemandangan di depan mata.
"Kamu gak mau bayarin, Mas?" tanyaku akhirnya.
"Bukannya gitu, Dek. Biasanya kan kamu yang bayar, sekarang aku juga gak bawa uang."
"Masa seorang PNS, ngajak anak orang makan gak bawa uang, Mas," sindirku telak.
Aku melambaikan tangan kepada pelayan dan meminta tagihannya. Mas Rendi diam saja seakan menunggu uangku akan keluar seperti biasa. Maaf, Mas sekarang hal itu tidak akan terjadi.
Dia mengedipkan mata sebelah seakan memberi kode. Kasihan pelayan restoran harus berdiri lebih lama.
"Maaf, pembayaran dilakukan dengan tunai atau lewat kartu?"tanya pelayan setelah lama menunggu.
"Sebentar, ini pakai kartu saya saja."
Akhirnya dalam sejarah hubungan kami, Mas Rendi mengeluarkan uang. Selama bertahun-tahun aku selalu mengalah dan memilih membayar karena tidak ingin ada perdebatan di kasir. Ternyata sikapku malah dimanfaatkan olehnya.
"Uangku melayang tiga ratus ribu," gerutu Mas Rendi di dalam mobil.
Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali dan itu cukup membuatku kesal.
"Kamu gak ikhlas bayarin makanan kita tadi, Mas?"tanyaku kesal.
"Bukan gitu, Dek. Sebenernya uang itu akan kupakai untuk hal lain."
"Bilang saja gak ikhlas, Mas. Kamu cuma sekali bayarin aja, menggerutu gak abis-abis. Aku yang sering bayarin, diam saja," tukasku dengan bersungut.
"Sebenernya ada apa denganmu, Dek? Dari kemarin kamu berubah."
Haruskah aku mempertanyakan gajiku dahulu yang telah terpakai?
"Aku gak berubah, Mas. Mungkin kamu kali yang muak sama aku tapi tidak berani berkata jujur."
"Aku gak pernah muak denganmu, Dek. Sudah tidak usah berkata yang aneh-aneh, percaya saja aku menyayangimu," kilah Mas Rendi.
Kalau saja aku tidak mendengar percakapan mereka, tentu hati akan berbunga-bunga mendengar rayuan kekasih hati.
"Kalau kita putus, bagaimana dengan uang yang selama ini kuberikan kepada keluargamu?"
Mas Rendi sampai menghentikan laju mobil saking kagetnya.
"Siapa yang akan putus?"
"Kita, barangkali kamu sudah muak denganku dan meminta untuk pisah."
"Ngawur, aku tidak akan melepasmu, Sayang."
"Meski aku tidak mengeluarkan duit lagi?"tantangku.
"Kamu lagi PMS ya, Dek. Dari tadi bicara aneh terus. Sebaiknya nanti setelah sampai di kost, langsung istirahat saja ya," pungkas Mas Rendi
Susah sekali membuat dia bicara jujur. Sebenernya aku sudah menyiapkan hati jika Mas Rendi meminta untuk berpisah setelah aku menagih uang yang selama ini terpakai. Namun, faktanya sulit. Dia pintar berkelit.
....
Tidak hanya hari itu, bahkan di hari-hari selanjutnya aku selalu tidak membawa uang. Dompet kubiarkan ketinggalan. Meskipun, Mas Rendi menyuruh dengan membayar lewat mbanking juga percuma. Rekeningku sengaja tidak terisi. Lambat laun dia curiga dan mulai menampakkan aslinya.
"Kamu berubah sekarang, Dek? Sebenernya ada apa? Kamu sudah tidak mau mengeluarkan uang untuk kita?"todong Mas Rendi suatu malam.
Kami baru pulang dari makan bersama untuk kesekian kalinya, sepanjang jalan pulang dia diam saja. Ternyata dia bertanya setelah sampai di kost.
"Iya, Mas. Maaf aku tidak akan mengeluarkan uang lagi untuk kita."
"Tapi kenapa?"
"Aku menabung untuk masa depan, tidak mungkin aku menjadi tukang taman terus."
"Masa depanmu kan bersamaku, Dek. Tenang saja, aku sudah PNS sekarang. Dijamin hidupmu akan sejahtera."
"Yakin? Mamimu saja tidak setuju dengan hubungan kita. Dia pernah berkata kamu sudah memiliki calon istri sendiri, benar bukan?"
"Jangan percaya omongan mami, dia berkata begitu supaya kamu termotivasi untuk mendapat pekerjaan lebih baik."
"Oh, ya? Lalu ini apa?"
Aku menyodorkan ponselku yang terpampang jelas foto-foto Mas Rendi bersama seorang wanita.
"Ini semua gak benar, Dek!"
"Benar juga tidak apa-apa, Mas. Silahkan kamu bersama wanita dalam foto itu. Dari penampilannya kelihatan sekali berkelas, berbeda dengan diriku. Kalian serasi."
Mas Rendi berdecak, kepalanya digaruk terlihat sedang frustasi.
"Ayo, Mas kita pisah saja. Aku juga sudah muak dengan hubungan ini,"tegasku dengan wajah lelah.
Dipikir lagi masih mending Santi yang jomblo, bebas kemana saja tanpa pusing memikirkan pasangan.
Tanpa kata Mas Rendi memilih pergi. Setidaknya sekarang aku sudah bebas dari cengkeramannya.