Bab 3

1158 Words
"Siapa itu?" Suara Mas Rendi terdengar lantang, dengan segera aku melangkahkan kaki keluar dan lari secepat mungkin. Tas selempang yang berisi ponsel dan dompet biar saja di mobil lelaki itu. Aku tidak ingin memikirkannya untuk sekarang. Tidak kuat terus berlari, aku terduduk di sebuah kursi pinggir jalan. Sangat menyakitkan mengetahui bahwa ternyata mereka hanya menginginkan uangku. Padahal rasa ini tulus kepada Mas Rendi dan ibunya. Selama sepuluh tahun dekat, tidak cukup untuk merubah perasaan malah semakin dalam. Pantas saja Tante Lilis selalu mengingatkan supaya aku tidak pernah lupa dengan jatah bulanan. Mas Rendi setiap bertemu juga mengingatkan hal serupa. Senaif inikah aku? Sampai tidak sadar telah ditipu mentah-mentah. Dalam tangis, mulut ini tertawa, menyedihkan sekali. .... Mobil Mas Rendi yang baru dibeli setelah resmi pengangkatan PNS, telah terparkir rapi di halaman kost dan sangat kuhafal. Dia berdiri di pintu kost yang tertutup, mungkin menungguku. Sayangnya, hati ini belum siap bertemu dengan lelaki pendusta seperti dia. Aku berbalik arah, entah kaki ini akan melangkah ke mana. Setiap ingatan melayang akan kebersamaan kami, selalu kutepis dengan keras. Lelaki yang telah mencuri hatiku ternyata hanya seorang munafik. Sampai sore hari baru kuputuskan untuk pulang. "Tadi Rendi ke sini," ucap Santi begitu aku memasuki kamar. Dia menunjuk ke arah sebelah kanan, ternyata tas selempang telah tergantung di sana. Syukurlah, aku tidak usah mengambil ke sana. "Dia bilang apa?"tanyaku sambil mengecek isi di dalamnya. Ponsel dan dompet yang berisi kartu penting masih utuh, sedangkan uang tinggal selembar biru. Padahal aku yakin telah memasukkan dua lembar merah bergambar sang proklamator. "Cuma nanyain kamu aja, terus pulang. Kalian habis ketemu?" Aku mengangguk dengan lesu. "Bisanya dia ambil uangku," gumamku. "Lah bukannya dia memang begitu," sahut Santi dengan wajah santai. Namun, aku baru merasa perkataan gadis yang sedang asyik dengan stok dagangan benar adanya. Setiap Mas Rendi tanpa sengaja membawakan tas atau dompet, pasti uangku berkurang. Dia tidak pernah menjelaskan sebelum aku bertanya. "San, aku mau cerita. Dengerin ya," rajukku. Santi tetap dengan kegiatannya mengecek stok dagangan, malam ini kami berencana mengadakan live di aplikasi belanja online lagi. "Cerita aja, aku sambil dengerin juga ini," sahut Santi tanpa menatap wajahku. Meski kesal hanya dianggap angin lalu, tetap saja aku menceritakan kejadian di rumah Mas Rendi. Bahkan percakapan mereka yang tidak sengaja kudengar. Santi menatapku terkejut dan mendekat. Dia tidak memperdulikan lagi dengan barang-barang yang ada di tangannya. "Serius, Rendi begitu? Bener-bener gak nyangka aku. Kurang baik apa kamu sama dia?" "Itulah, San. Aku gak habis pikir ternyata selama ini aku dikadalin. Lamanya waktu bersama ternyata tidak membuat hubungan kami tulus." Sontak Santi memeluk erat dan tangannya menepuk punggungku pelan. Sebentar kemudian dia menjauh sambil menyeka air mataku yang mengalir tiba-tiba. "Sudahlah, tidak perlu ditangisi modelan cowok kaya Rendi. Malah bagus kamu tahu sekarang, setidaknya gajimu sekarang utuh." Sahabatku itu menguatkan. Benar juga, berarti mulai bulan depan aku bisa merasakan gaji selama bekerja sebulan dengan utuh. Senyumku terbit setelah mengingat hal itu. Lalu list belanjaan mulai menari di kepala. "Tadi nangis sekarang senyum. Dira, kamu belum gila kan?" tanya Santi sambil memegang keningku. "Apa sih? Aku lagi mikir bulan depan mau belanja apa karena dapat gaji utuh." "Betul, anggap saja merayakan lepasmu dari jeratan Si Rendi. Tenang saja, nanti aku temani tapi jangan lupa traktir." Setelah deal dengan angan-angan kami, selanjutnya bersiap dengan live jualan online. Aku berperan di balik layar, sedangkan Santi yang bercuap-cuap di depan. Bersyukur hasilnya lumayan untuk hari ini. Ya, meski mendapat masalah dan menangis tadi, tapi tetap saja ada hal yang harus disyukuri. .... Rupanya angan-angan ingin menikmati gaji utuh tidak semudah khayalan. Mas Rendi pagi-pagi sekali sudah menyambangi kost. Tentu saja dengan seragam necisnya dan tidak lupa mobil yang terparkir rapi di depan. "Kemarin kamu ke mana, Dek? Aku coba telpon kok gak diangkat, pesan juga tidak dibalas," todong Mas Rendi setelah kami duduk di teras. "Kan tasku ketinggalan di mobilmu," jawabku tanpa melihat wajahnya. "Sebenernya setelah tahu tas kamu ketinggalan, aku langsung mengantar ke sini. Tapi kamu belum pulang." Bilang saja kamu gak peduli sama aku, Mas. Kenapa harus bersandiwara manis? Kamu gak capek bersikap begini? Pertanyaan itu hanya bisa menari di kepala. Mana mungkin aku menanyakan langsung kepadanya. "Kamu pake uangku 150 ya?" tuduhku. "Kemarin kehabisan bensin, jadi kupake dulu." "Kebiasaan pakai duitku gak ngomong dulu, Mas. Gak diganti juga, mentang-mentang aku cuma diem." "Dek, kamu kok berubah gini?" "Aku masih sama, Mas. Tapi sekarang udah sadar." "Lucu banget kamu marah pagi-pagi gini, Dek. Sayang, Mas harus berangkat kerja. Pamit dulu ya," pungkas Mas Rendi. Padahal aku ingin menumpahkan kekesalanku, dia malah melarikan diri. "Segitunya ngeliatin kekasih hati. Siapa yang kemarin seneng gajinya bakal utuh?" Aku menoleh, ternyata Santi telah duduk di bekas kursi yang ditempati Mas Rendi. "Aku kesal, San. Tadi coba minta ganti uangku yang dipakai kemarin, malah dia pergi." "Uang apa?" "Tasku kan kemarin ada uang dua ratus, yang tinggal lima puluh. Dia yang ambil, katanya buat beli bensin." "Bahkan dia tidak menyia-nyiakan selembar uangmu, Dir," sahut Santi diakhiri dengan suara tawa. "Gimana aku nagih uang yang selama ini dipakai? Sedangkan 150 aja susah banget." "Aku curiga dia gak bakal nglepasin kamu," tebak Santi dengan mimik muka serius. "Ibunya aja gak mau punya calon mantu kaya aku, udahlah. Yok berangkat kerja!" "Semangat banget sih kerjanya, eh iya lupa gajinya kan buat camer. Masa gak semangat," ledek Santi. Gemas, aku menoyor kepalanya. Bukannya kesakitan, Santi malah tertawa sambil menghindari serangan ku selanjutnya. .... Sekumpulan ibu-ibu datang ke taman saat aku sedang menyapu. Mereka tampak rapi dengan balutan seragam. Bisa jadi akan senam, karena tiap pagi taman kota ini selalu ramai dengan aktifitas warga sekitar. Senam adalah kegiatan yang rutin diadakan di sini. Namun, wajah mereka serasa asing bagiku. Dua wanita paruh baya datang menghampiri. Mereka saling berbisik tapi masih bisa kudengar. "Bukannya dia gadis yang sering datang ke rumahnya Jeng Lilis?" "Iya kah? Aku malah tidak tahu. Tapi masa iya pacarnya Rendi tukang taman?" "Aku sudah sering kabar hal itu tapi baru kuperhatikan akhir-akhir ini." "Coba kita tanya sama Jeng Lilis, aku juga penasaran beneran gak gadis yang lagi menyapu ini pacarnya Rendi?" Tidak lama terdengar suara langkah kaki menjauh dan datang lagi tak lama kemudian. "Jeng, gadis yang lagi nyapu itu beneran pacarnya Rendi, bukan?" "Kalian ini dapat gosip dari mana?" Suara maminya Mas Rendi terdengar jelas. Posisiku yang membelakangi mereka membuat kesulitan untuk mengetahui bagaimana reaksinya. "Bukannya gitu, kan kalau dikonfirmasi kita jadi tahu fakta yang sebenarnya, gak asal gosip." Wanita yang dari awal bicara itu terdengar memaksa Tante Lilis membuat pengakuan. "Lagian masa iya, Rendi ganteng begitu, mana PNS lagi mau pacaran sama gadis tukang taman." Aku tersenyum mendengar cibiran mereka. Gerakan sapu terpaksa kuhentikan dan beralih ke area taman lain. "Tunggu dulu, Mbak." Seorang wanita menghadangku. "Ada apa, Bu?" tanyaku sopan. Bagaimanapun mereka ini pengunjung taman, aku diajari untuk berlaku demikian. "Apa benar kamu pacarnya Rendi anaknya Jeng Lilis ini?" tanya wanita itu sambil memeluk bahu Tante Lilis. "Iya, apa benar kamu pacaran sama anaknya yang PNS itu?" Duh, bagaimana aku harus menjawab?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD