"Kamu sudah makan?"
Terdengar suara Santi lagi.
Aku kembali menoleh dan mendapati dia sedang duduk sambil menikmati nasi bungkus.
Baru teringat sejak tadi siang belum makan, akibat terburu-buru memenuhi undangan Tante Lilis untuk datang ke rumahnya.
Seketika aku menggeleng lemah, pantas perut tidak enak. Tetapi rasa lapar hilang entah ke mana.
"Nanti saja," jawabku dengan suara pelan.
"Rendi udah ngabarin kamu?"
Aku menggeleng lagi.
"Dira ... Dira, mau sampai kapan kamu sebucin ini? Aku pernah bilang kan lihat Rendi sama wanita lain di kafe, kamu gak percaya. Sekarang kamu pulang basah kuyup gini, apa karena udah tahu yang sebenarnya?"
"Pokoknya sebelum Mas Rendi bilang sendiri, aku gak akan percaya."
"Ya, mana ada selingkuh ngaku. Woi lah, punya sahabat gini banget!"
"Tadi aku ke rumah Mas Rendi karena diundang sama maminya."
"Terus?"
"Aku disuruh menjauh sama Mas Rendi, San. Gimana ya?"
"Ya udah menjauh aja. Aku malah seneng kalian pisah."
Santi berbicara seperti itu pasti karena senang akhirnya dapat teman senasib, sama-sama jomblo.
Secara logika aku ingin mengakhiri hubungan secara tegas setelah diusir dari calon mertua. Namun, lagi-lagi hatiku menyangkal bahwa hubungan kami masih baik. Sebelum mendengar sendiri dari pria yang telah dekat denganku selama sepuluh tahun terakhir ini, maka aku akan tetap menganggap kami tetap baik-baik saja.
....
"Kamu ngapain dari tadi manyun di depan hp?"
Santi bertanya sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Kami sedang istirahat setelah selesai membersihkan taman. Cuaca yang terik membuat kami gampang kehausan, padahal tadi aku menengok jam di ponsel masih pukul sembilan pagi.
"Mas Rendi kok belum balas pesanku ya?"
"Mbok ya sudah, Dir. Ibunya saja sudah gak mau kamu jadi menantunya."
"Tapi kan Mas Rendi sendiri belum bilang apa-apa?"
"Terserah kamu, dari dulu kamu kan sudah dibilangin."
Temanku itu memilih pergi setelah berucap demikian, terlihat kesal sekali. Jomblo menahun seperti dia mana tahu rasanya cemas, saat pujaan hatinya tidak ada kabar.
Pesan yang sejak semalam kukirimkan belum juga terbaca. Ke mana dia?
"Dir, mau pulang apa masih mau di sini?" teriak Santi.
Gadis itu telah berdiri di depan taman. Rupanya dia telah bersiap untuk pulang. Jarak taman dengan kost tempat tinggal kami terbilang dekat. Kurang lebih lima menit juga sampai.
"Duluan saja, aku masih pengen di sini," balasku tidak kalah kencang.
Teman kerjaku yang lain juga sudah pulang, ada juga yang pindah ke taman lain. Sehingga di taman ini hanya ada aku, sedangkan satpam berada di depan pos jaga.
Asyik memainkan ponsel, aku tidak memperhatikan sekeliling.
"Ternyata kamu di sini. Tadi kucari di kost gak ada," celetuk seseorang yang suaranya sangat kukenal.
Seketika aku menoleh dan mendapati Mas Rendi telah berdiri di hadapanku. Kegalauan dari semalam langsung sirna, semua ini memang hanya prasangka buruk bukan nyata.
"Loh, kamu udah di sini aja. Eh ada yang mau kuomongin," sahutku dengan riang.
"Aku juga, sekalian cari makan yuk!"
Ajakan Mas Rendi tentu tidak kulewatkan. Kami mengunjungi sebuah warung makan terdekat, tentu setelah aku ganti pakaian terlebih dahulu. Berbeda dengan seragam kerja dia yang masih tetap dipakai, meski begitu terlihat keren.
"Kenapa ponselmu susah dihubungi, Mas? Dari semalam aku mau cerita, malah tidak kabar," protesku setelah selesai memesan makanan.
Mas Rendi terlihat terkejut, dia segera mengecek ponselnya. Sekarang gantian aku yang kaget dengan gadgetnya.
"Baru, Mas?"todongku.
"Eh, iya. Maaf nomermu belum tersimpan di sini," jelasnya dengan kikuk.
Ternyata ini alasan dia tidak bisa kuhubungi. Sedikit ada rasa kesal di hati, mengetahui nomer ponselku bukan jadi prioritasnya.
"Sekarang disimpan kan?"
"Pasti dong, nih lihat!"
Sebuah kontak diberi nama Sayang dan lambang hati disimpan dengan nomer ponselku. Rasa kesal tadi seketika langsung sirna.
"Katanya tadi ada yang mau diomongin?"tanya Mas Rendi. Tangannya kembali menyimpan ponsel kembali ke saku kemeja.
"Kamu dulu aja, Mas."
"Wanita lebih dulu."
Tidak ingin berdebat lebih panjang. Aku mulai menyiapkan mental sejenak. Bagaimanapun juga apa yang akan kubicarakan ini mengenai ibunya. Seseorang yang dihormati Mas Rendi.
"Ada apa?" ulang Mas Rendi.
"Sebenarnya semalam mami mengusirku, Mas. Dia tidak setuju dengan hubungan kita."
"Masa mami berkata seperti itu?"
"Aku tahu Mas Rendi tidak percaya. Bahkan dia tidak mau dipanggil mami olehku, cukup tante saja. Katanya kamu juga sudah mempunyai calon istri. Bagaimana ini, Mas? Apa semua yang dikatakan mami benar?"
"Tenang dulu. Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Coba nanti aku tanyakan dulu sama mami. Jatah bulanan mami aman?"
"Aman, Mas. Setelah gajian langsung kuberikan padanya, seperti biasa. Kenapa?"
"Ah, tidak. Barangkali kamu lupa, makanya mami bisa marah."
"Aku tidak pernah lupa dengan jatah bulanan mami, Mas."
"Kamu memang istri idaman, Sayang."
Aku tersipu malu dengan pujian kekasih hati. Setidaknya sekarang ada perasaan lega karena sikap mami bukan berasal dari Mas Rendi. Mungkin saja semalam itu, mami sedang khilaf atau lagi banyak masalah. Ya, mungkin saja.
....
Pandangan mata terkejut dari Tante Lilis tidak lepas dari pengamatanku, saat kami datang. Sore hari ini, Mas Rendi membawaku ke rumahnya. Siapa yang tidak senang mengunjungi rumah kekasih hati? Alih-alih menyambut, maminya Mas Rendi malah berkacak pinggang.
"Kenapa dia ke sini lagi, Rendi?"tanya Tante Lilis.
"Ya kan main seperti biasa, Mi. Kenapa mami jadi beda sama Dira, apa salahnya?"
Wanita yang memakai dress selutut itu berdecak.
"Harus berapa kali mami bilang, jauhi Dira. Dia tidak sepadan dengan kita."
Hatiku bagai dihantam badai setelah mendengar ucapan menyesakkan dari calon mertua. Ternyata pengusiran tempo hari bukan gurauan.
"Lagian jadi cewek kok gak tahu malu. Udah diusir masih saja ke sini," decih Tante Lilis lagi.
Ya, harusnya aku sadar diri. Bukan malah muka tembok dengan terus datang ke sini. Sebaiknya memang aku pergi.
Tidak ada suara dari Mas Rendi, sedikitpun dia tidak menahan langkahku.
Rasanya seperti de javu ketika terdengar suara pintu yang tertutup setelah aku melewatinya.
Bahkan keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama.
Mendadak aku teringat jika tas selempang masih terbawa di mobil Mas Rendi. Tidak mungkin diambil sendiri karena pasti terkunci. Mau kembali rasanya malas, tetapi isinya penting semua. Aku membulatkan tekad untuk mengambil, apapun resikonya.
"Kita masih butuh uangnya Dira, Mi."
Sebuah suara menghentikan langkahku setelah kembali masuk ke dalam. Mas Rendi dan ibunya ternyata telah berpindah ke ruang tengah.
"Mami gak kuat denger gunjingan tetangga. Masa anak mami pacaran sama tukang taman."
"Tapi uangnya Dira enak kan? Cuma dia yang gampang kita kibulin, Mi. Tahu sendiri kan gajiku udah habis buat bayar cicilan mobil. Kita mau makan dari mana?"
"Benar juga?"
"Lalu kalau Dira beneran pergi. Mami kuat harus makan pakai sambel tiap hari atau mobilnya dibalikin aja ke dealer."
"Eh, jangan."
"Gak mau kan? Aku sebenarnya juga sudah muak dengan dia tapi mau gimana lagi. Kita masih butuh Dira, Mi."
Percakapan mereka membuatku takut tiba-tiba, dengan pelan kakiku melangkah mundur. Sayang, tanpa sengaja tangan ini menyenggol sebuah vas bunga yang terletak di sebelah pintu dan menimbulkan suara keras.
Refleks aku terkejut seraya menutup mulut.
"Siapa itu?"