Part 4 (First Date)

561 Words
“Akan selalu ada jalan menuju bersama, sekalipun terpaksa.” CaS AFM     Hari pertama ngedate ini, Ziqri menjemput Tarisa jam 6 pagi. Bahkan Tarisa hanya sempat cuci muka dan gosok gigi. Awal hari yang buruk untuknya. Mereka sekarang sedang sarapan bubur, lucu gak sih, pergi bersama konglomerat, namun sarapan paginya bubur, di pinggir jalan pula. Ya walaupun bukan ide Ziqri, ini kemauan Tarisa karena dia tidak ingin terlihat aneh, makan di restoran bintang lima dengan pakaian lusuh. Kan ga cocok banget. "Ca, masa kita makan nya malah di sini sih, kamu sudah jatohin harga diri saya loh sebagai laki-laki," "Daripada saya harus jatohin harga diri saya di restoran bintang lima mending gini aja, kan bapak juga untung ga ngeluarin banyak duit" "Saya masih mampu, bahkan buat beli hotel bintang lima sekalipun" "Dih sombong nyaa" "Kenapa hemm udah tertarik nikah sama saya?" "Ucul Banget masa" "Ucul itu apa?" "Ga tau yaa, tua sih" Ziqri yang sebal dengan ucapan tarisa segera bangkit dengan bubur yang masih setengah. "Yaudah sekarang kita mau kemana?" "Ko nanya saya, lah kan bapak yang ngajak" "Dufan" "Boleh," Mereka pergi ke Dufan bersama. "Jadi mau naik wahana apa?" "Eum apa ya?" ."Jangan bilang kamu takut." "Ya engga lah pak, cuma ngilu doang" "Roller coaster gimana?" "Bapak ga niat bunuh saya bukan." "Kalau saya bunuh kamu, saya nanti nikah sama siapa" "Ayoo naik" Tarisa akhirnya menaiki roller coaster tersebut, dia tidak mau disebut Cemen oleh Ziqri. Tapi demi apapun tarisa menyesal. Lebih baik disebut Cemen, daripada menghantarkan nyawa dengan Cuma- cuma. Saat turun diapun menangis. "Cengeng juga kamu ya.” "Hikss itu tuh serem banget tau" "Lebih seram mana sama ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?” Tarisa enggan menjawab. Manusia dengan segala yang dia sebut bercanda, tapi lupa yang dibercandai belum tentu sedang dalam mood yang sama. Cup Ini bukan kecupan, itu adalah suara Ziqri bilang cup cup sama Tarisa, tapi habis gitu meluk dan ngusap rambut dia.   "Sekarang kita naik kereta gantung yuk." "Kan tinggi Pak, saya takut." "Tenang, kan ada saya" "Bapak mau jagain saya?" "Bukan, tapi mau nerjunin kamu" Dan ziqri pun berlalu pergi.   Kereta gantung Mereka menaiki wahana kereta gantung, entah apa yang di pikiran tarisa saat ini dia tidak lagi mengedepankan gengsinya dan malah memegang tangan ziqri dengan erat. Bukan hanya erat tapi sangat erat. Membuat ziqri meringis kesakitan. "Awww" "Apasih pak lebay banget " "Kamu kali, naik ginian aja pake pegangan dikira mau nyebrang" "FYI, ini bukan atas kemauan saya" "Ya ga usah modus kan bisa " "Udah lah males saya " "Yaudah lepasin" Sebenarnya ziqri hanya becanda, lagian menurut ziqri dia malah menang banyak kalau tarisa menegang nya. "Iya iya nih saya lepasin" Setelah melepaskan tangannya nya tarisa melihat ke arah sekitarnya. Berusaha meluapkan rasa gugup dan gemetaran lengannya. Hap "Maaf, biar saya yang gandeng kamu aja, saya kan laki-laki. Harus bisa menjaga bukan di jaga" Tarisa menengok ke arah ziqri "Wanita kaya kamu itu langka" "Tapi cuma boleh saya yang melestarikan" "Will you be mine" Ctak Suara kotak beludru berwarna biru dan di dalamnya terdapat cincin berlian yang sangat indah. "Mak-sud bapak" "Saya tau mungkin kamu pikir saya becanda, tapi jujur saya ingin mencoba mencintai kamu dengan serius." "Tapi saya ga bisa pak" "Terima atau saya lempar kamu dari sini" Mata tarisa dengan otomatis membulat dan membuat ziqri tersenyum evil kepadanya. Cinta memang tidak bisa di paksakan, namun seseorang akan bisa karena terpaksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD