“Terlihat menyebalkan, adalah salah satu caraku masuk ke dalam hatimu.”
CaS AFM
Tarisa pov
Setelah kejadian yang sangat tidak diinginkan kemarin itu. Sekarang gue jadi canggung buat ketemu bos gue sendiri.
"Ehem"
"Pagi pak"
"Ya, tolong siapkan laporan yang saya minta kemarin dan bawakan secangkir kopi "
"Iya pak baik"
Dia berlalu dia hadapan gue, hello Tarisa, dia aja bersikap biasa aja ko lu malah deg-degan kaya orang b**o sih. Halu aja terus. Lu berharap apa setelah kejadian kemarin itu, nanti tiba-tiba dia bakal beneran lamar lu gitu. Plis, mimpi mah malem ini mah udah pagi. Gue buru-buru menyiapkan laporan yang dia suruh dan ga lupa sama kopi yang dia pinta, for your information CEO gue itu kalau minum kopi ga paket gula. Aneh kan kopi kan pahit, mana enak coba ga paket gula gitu, mungkin takut kena diabetes kali ya.
"Pak ini kopinya dan ini laporan yang bapak minta"
"Duduk" widih Kesambet setan dari mana nih, tumben dingin banget gini.
"Saya mau ngomong serius sama kamu"
"Soal apa pak"
"Kamu ga lupa kan, soal omongan mamah saya kemarin"
"Aduh maksudnya apa ya pak?"
"Jangan pura-pura lupa, saya mau kamu jadi istri saya"
"APA?"
"Jadi istri saya" dengan santai nya dia bilang gitu, pengen ngejadiin gue istri ko kaya beli sabun mandi Santai banget ga ada romantis-romantisnya.
"Maaf saya ga bisa, permisi masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" gue pun meninggalkan ruangan CEO itu, lagian kan ya siapa coba orang yang mau nerima lamaran kaya gitu. Gue sebagai perempuan yang menjunjung asas kehormatan saat merasa direndahkan. Tersinggung lah gue. Dasar CEO gila. Gue doain jomlo seumur idup tau rasa deh lu.
"Tarisa ke ruangan saya sekarang" perintah ziqri yang entah dari mana datangnya tiba-tiba udah ada di depan gue saat ini. Setelah merintah, dia langsung masuk ke ruangannya. Dasar bos mah bebas.
"Ada apa ya pak"
"Nanti pulang bareng saya" what the, boleh ga sih mengumpat, kalau bilang gitu kenapa coba ga di depan aja tadi seneng banget ngerjain orang.
"Eum tidak usah repot-repot pak, makasih"
"Saya ga repot dan ga ada penolakan"
"Baiklah"
Bodo ah, iyain aja lama-lama deket sama dia bisa buat darah tinggi gue naik.
Waktu nya beres-beres dan segera melesat pergi sebelum bos gue datang kesini. Gue segera naik lift dan
Ting
Turun di lantai bawah dengan keadaan sadar ga sadar ternyata bos gue udah ada di depan lift, mana ini lift karyawan.
"Eh bapak, belum pulang pak"
"Kamu kenapa aneh gitu, malu ketauan kabur sama calon suami" ucap Ziqri sambil sedikit mengencangkan suaranya saat bilang calon suami. Langsung gue tarik tangannya setelah memastikan bahwa disekitar ga ada yang denger ucapannya itu. Heran deh cowok ko lemes banget.
Di dalam mobi dia diam ga ada percakapan di antara kita, canggung juga sih ada di posisi kaya gini.
"Tarisa"
"Iya pak, kenapa?"
"Jadi, gimana tawaran saya?"
"Saya pikir pasti bapak lagi bercanda kan"
"Emang muka saya ada raut bercanda?" dengan muka datar.
"Bukan gitu pak, pernikahan itu bukan hal main-main"
"Jadi mau kamu apa? Kamu pengen saya kasih bunga sama cokelat tiap hari, terus saya antar jemput kamu atau kamu mau saya umumkan kepada semua orang bahwa saya serius sama kamu"
“Bapak tidak perlu menghabiskan tenaga, hanya untuk melakukan hal tidak penting seperti itu,”
Ting
“Saya permisi Pak,”
Tarisa tidak memberi kesempatan pada Ziqri untuk menjawab ucapannya, dia sudah kehilangan kata-katanya. Bagaimana bisa, Ziqri bersikap seolah tidak tahu dirinya saja.
Esok harinya
Ziqri datang lebih pagi dari pada Tarisa, dia sedang dikejar target, bukan target kerjaan tapi target nikah. Dia menunggu tarisa di meja kerjanya. Cara yang cukup aneh ya, harusnya ziqri itu jemput tarisa. Tapi yaudah lah mungkin ini caranya untuk mendekati tarisa.
Ting
Tarisa tergesa-gesa, karena dia sudah telat 10 menit. Betapa terkejutnya dia seorang bak dewa Yunani sedang duduk dan sembari memainkan handphonenya. Kemudian, Ziqri melihat ke arah Tarisa dengan tatapan mengintimidasi. Hal ini cukup membuat Tarisa gelagapan.
"Maaf Pak, saya terlambat"
"Maaf kamu saya terima." Semudah itu. Pikir Tarisa.
"Terima kasih Pak, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi,” ucap tarisa sungguh-sungguh.
"Dengan syarat, kamu harus saya hukum dengan cara ngedate bersama saya di weekend ini"
"apa?” Tarisa dengan spontan mengucapkan kata itu.
"apa? Apa kurang jelas.” Ziqri memasang muka sangat bossynya. Sangat menyebalkan.
"Yasudah baiklah," ucap Tarisa dengan sangat amat terpaksa.
"Silahkan bekerja!" kalimatnya bukan mempersilahkan, tapi lebih tepat memerintah.
Tarisa sangat jengkel, seharusnya tadi tidak perlu berterima kasih bila ujungnya ada sesuatu yang harus dia bayar atas kesalahannya.
Tarisa sedang sibuk mengerjakannya tugas yang diberikan Ziqri padanya, namun sebuah telpon mengganggu indra pendengaran nya. Secara refleks dia mengangkat telpon itu.
"Hallo,” ucapnya dengan sopan.
"Ca masuk!” setelah tahu siapa yang menelponnya, dia mendengus sebal.
Dengan menghela nafas akhirny dia menjawab ok dan langsung bergegas ke ruanga bos nya itu.
"Ada apa Pak?"
"Tolong kamu beliin saya makanan dong"
"Ini masih jam 10, Bapak mau beli makan apa ya?"
"Eum kira kira apa yang enak ya?"
"Apa bapak sudah sarapan sebelumnya?"
"Cieee perhatian nanyain udah sarapan apa belum."
Tarisa hanya menunjukkan wajah cengo nya.
"Eum maksud saya, sepertinya jam segini enak untuk makan salad"
"Kamu pikir saya ini sedang diet, makan salad segala"
"Kentang goreng mungkin"
"Jauh banget itu tuh, sengaja kan supaya bisa istirahat lama"
Sabar tarisa, itulah yang ada di hati tarisa saat ini.
"Yasudah bapak mau apa?"
"Engga mau apa apa, saya cuma pengen lihat dan ngobrol sama kamu aja"
"What the"
"Namanya juga lagi usaha"
Seketika wajah tarisa yang sedang dalam keadaan menahan emosi menjadi merah seperti tomat.
"Yasudah saya balik ke meja saya dulu ya pak permisi"
"Jangan"
"Apalagi pak?"
"Saya kan bilang saya pengen liat dan ngobrol sama kamu"
"Tapi pekerjaan saya gimana pak?"
"Enaknya kamu saya pindahin jadi apa ya supaya kerjanya ga berat jadi kamu bisa sama saya terus"
"Maaf pak saya ga suka makan gaji buta"
"Lah kata siapa,orang yang ngegaji kamu ga buta,kalau buta mana bisa transfer"
Selamat datang kembali, Ziqri yang menybalkan. Sudah hampir 5 bulan dia kehilangan Ziqri yang seperti ini. Biasanya bosnya itu akan bersikap kaku dan dingin. Apa secepat itu Ziqri move on. Sementara dirinya belum kunjung bisa melupakan seseorang yang dicintainya