Mulai Memanas

1755 Words
Celine berdiri di depan lorong yang terbuka setengah tubuhnya saat menatap ke arah samping. Dengan tenang dan hati damai, dia memandangi pemandangan indah di depan kamarnya. Dia membayangkan bagaimana indahnya dunia yang tampak nyata itu, namun dia tidak boleh terlalu menikmatinya, sebab dunianya bukanlah di sana, di tempat dia berdiri sekarang adalah buaian mimpi belaka meski terasa indah dan nyata. Dunia nyata sedang menunggu kepulangannya. Celine tidak sengaja kepala Celine berbalik ke arah kamar Darchen karena menyadari ada suara gelang kaki yang bertapak dari arah sana. Dia langsung melihat asal bunyi itu. Seketika dia menyesal karena sudah menatap ke arah sana, sebab kenyamanan langsung buyar ketika melihat Erica berjalan dari kamar Darchen. Tentu saa membuatnya muak. Serasa akan muntah saat menatap wajah wanita yang polos itu dengan hati busuknya. Seolah Celine ingin sekali mencabik-cabik organ dalam milik Erica, lalu memotong-motongnya kemudian diberikan pada hewan buas. Dengan mata penuh kebenciannya, Celine menatap Erica. Dia seolah memberikan tanda pada Erica kalau sekarang kini wanita itu, Erica, tidak aman karena sudah bermain-main degannya. Celine yang awalnya berdiri dengan tenang, langsung berdiri di tengah-tengah jalan, guna untuk menutup jalan bagi Erica, agar wanita itu tidak bisa lewat dari depan kamarnya. "Ya ampun, ada hama tanaman di sini, hahaha. Rasanya ingin membasminya dari dunia ini," sindir Celine jelas ke arah Erica. Sementara Erica yang sudah sedikit khawatir dengan keselamatannya hanya bisa menelan ludah menahan takut. Mengingat terakhir kali, bagaimana wanita itu memberinya pelajaran. Sungguh kekuatan Celine berbeda dengan orang pada umumnya. Pada saat itu memang benar kalau badannya terhempas dan remuk. Syukur ada Darchen yang terus menyelamatkan, jika tidak, bisa jadi nyawanya sudah melayang. Dengan perasaan cemas, Erica menatap Celine. "Kau sudah kembali, Nona Celine?" ucapnya basa-basi. Meski sebenarnya harinya tidak sudi mengucap kalimat tersebut. Namun demi keselamatan dirinya, dia harus menipu hatinya dengan mengeluarkan kata-kata penuh dusta. "Ya, kenapa? Tidak suka?" balas Celine dengan judes. Matanya yang tajam itu menatap Erica. Mulutnya mengerucut sebelah saat menjawab basa-basi dari bibir Erica yang penuh kebohongan. Celine sangat tidak suka melihat wanita di depannya itu. Sudah berhati busuk, suka berdrama, ditambah banyak tipu muslihat di otaknya, membuat Celine merasa jijik. Bahkan rasanya Celine sangat ingin meludahi wajah wanita itu. Karena dia berakhlak, akhirnya dia tidak melakukannya dan menahan diri agar terlihat berkelas di hadapan wanita itu. "Aku senang melihatmu kembali. Maaf karena aku, kau diusir oleh Darchen," sambung Erica. "Apa? Diusir? Hahaha … aku yang minggat dari istana ini. Tolong dikoreksi kata-katamu, Putri Erica," jawab Celine dengan lemes. "Asal kau tahu saja, Darchen, orang yang kau cintai itu, datang menjemput aku, KHUSUS! Dia datang menjemputku bahkan memaksaku Kembali ke sini, padahal sudah kutolak. Jadi, kau! Ingat apa yang kukatakan ini, dengar baik-baik. Dia menyukaiku, jadi menjauh dari hubungan kami, karena kau hanya serangga dan hama di mata Darchen." Dengan tegas Celine mengumandangkan kalimat tersebut. Lantang sekali mulut wanita itu saat berkata. Sampai Erica saja terkejut mendengarnya. Sungguh dia teramat berani karena mengusik pikiran Erica. Padahal sudah jelas-jelas semua orang terus berusaha agar tidak mengusik pikiran putri tersebut dikarenakan status ayahnya di dalam kerajaan. Semua orang selalu berlaku halus dan lemah lembut padanya, bahkan ingin mencibir saja orang takut. Sedangkan Celine, dengan kasar dia mengingatkan Putri Erica. Sampai putri tersebut hampir hancur pikirannya. Seakan dunianya telah mengkhianati dirinya. Hatinya tertusuk mendengar Celine mengatakan hal tersebut. Dia sempat berpikiran untuk membunuh wanita itu saat itu juga. Namun karena dia sadar diri dengan kondisi magisnya yang lemah dibanding Celine yang kuat, membuatnya pasrah. Dia sudah menyiapkan berbagai cara agar bisa menghabisi wanita itu dari dunia itu. "Tidak mungkin Pangeran Darchen menyukaimu, dia hanya milikku, dia hanya milikku! Tidak! Tidak mungkin!!" Tiba-tiba Erica menggila. Dia seperti orang yang sedang kerasukan. Dia memegang kepalanya kemudian menarik rambutnya seperti orang gila. Dia menjerit histeris ketika mendengar kata-kata dari Celine. Dia tidak terikat dengan fakta sebenarnya, karena dia terlalu yakin kalau Darchen, orang yang dia sukai itu suatu saat akan menjadi miliknya. Dia sudah menggambarkan masa depan bersama dengan pangeran itu, namun setelah mendengar Celine, seolah dia telah dikhianati oleh Darchen. Dia merasa tertipu karena Darchen. Mengapa pangeran itu selalu baik padanya jika sebenarnya dia tidak menyukainya. Untuk apa Darchen menjaganya kalau sebenarnya pangeran itu tidak mengharapkan dirinya. "Pangeran Darchen menyayangiku! Aku tahu itu! Jangan pernah rebut dia dariku!" teriak Erica. Putri tersebut benar-benar tidak menyangka akan mendengar kata-kata menyakitkan itu. Setelah beberapa hari yang lalu dia mantap yakin kalau Darchen menyukainya. Keyakinannya terjadi saat malam dimana dirinya terhempas dan remuk, terlihat kalau Darchen teramati khawatir. Darchen dengan cemasnya menyelamatkan dirinya secepat mungkin. "Dasar bodoh, aku merasa jijik melihatmu. Buka mata lebar-lebar, dia tidak menyukaimu. Sudahlah, kalau mau gilak, gilak saja, aku tidak peduli. Tapi tolong yah Putri Erica yang berhati busuk, jangan gilak di depan kamarku. Mengganggu," ucap Celine dengan lancang. Dia bersikap acuh dengan kondisi Erica yang sedang menggila. Celine masuk ke dalam kamarnya sambil tersenyum sinis melihat Erica sedang berduka. Dia menutup pintu kamarnya dengan kuat sampai suara pintu itu menggema keras. Bahkan Erica yang sedang histeris di luar terkejut mendengar suara pintu itu saat ditutup oleh Celine. "Argh! Arggggghhhh!" jerit Erica. Dia berlari dengan derai air mata. Dia ingin mengadu pada ayahnya pasal apa yang telah terjadi. Hatinya hancur. Jiwanya meronta-ronta meminta agar wanita itu, Celine, mati segera. Dia sudah tidak tahan lagi dipermalukan oleh wanita yang tidak dikenal identitasnya sama sekali. Dia tidak siap jika harus kalah dengan Celine. Jika memang benar dia tidak dicintai oleh Darchen, tapi setidaknya saingannya bukan Celine. Dia merasa direndahkan karena kalah saing dengan wanita itu. Sementara Celine yang tidak peduli sama sekali, malah tertawa riang karena berhasil membuat Erica, orang yang dibencinya hancur sejadi-jadinya. Celine akan membalas berkali-kali lipat lebih menyakitkan lagi pada Erica karena waktu itu putri itu telah mengucurkan kebahagiaannya. Sudah hampir saja Celine mendapatkan semangat hidup, tapi tiba-tiba Erica, si ratu drama, datang dengan sandiwara belakanya, dan menghancurkan segalanya. Apa yang dilakukan olehnya hari ini, belum ada apa-apanya dibanding perbuatan yang dilakukan Erica padanya. Jika dengan kata-kata saja Erica sudah hancur begitu, mungkin pembalasan yang sudah direncanakan olehnya akan lebih menyakitkan. "Baru saja dikatakan seperti itu, dia hampir gila. Haduh, dasar wanita, mudah sekali hancur karena cinta," decak Celine mengingat reaksi Erica yang terlalu berlebihan. Padahal yang dikatakannya baru tadi itu bukanlah terjamin kebenaranya. Belum tentu Darchen tidak menyukainyanya, tidak menutup kemungkinan kalau pangeran itu mencintai Erica. Tapi baru saja dipancing dengan kata-kata seperti tadi itu, Erica sudah menggila. Hal yang terjadi tadi sungguh membuat hati Celine terhibur. Semula moodnya tidak bagus, tapi setelah melihat Erica tersiksa, dia sedikit terhibur. Tidak berapa lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Celine. Hal itu membuatnya hancur dari bayang-bayang wajah Erica yang menggila itu. Tentu saja kesenangannya pun hilang seketika. "Siapa woy!" teriaknya dari dalam dengan nada tidak senang. Dia membuka pintu tersebut segera dengan langkah kaki yang sebelumnya sengaja dihentakkan dengan kuat, sehingga menimbulkan suara yang keras. Dia mengira kalau orang yang mengetuk pintu itu adalah Erica. Dengan sengaja Celine bersikap keras agar bila itu Erica, ratu sandiwara itu bisa turun mental terhadapnya. "Aku ragu kalau kau ini wanita." Ternyata orang tersebut adalah Darchen. Dialah yang mengetuk pintu tadi. Padahal Celine sudah menyiapkan diri untuk menyembur Erica apabila dia orangnya. "Ada apa?" tanya Celine langsung. Mukanya menggambarkan ketidaksenangan saat melihat Darchen. Seolah dia kecewa karena bukan wanita itu yang datang. Ditambah dia sedikit resah pula. Dia takut kalau kedatangan Darchen ke kamarnya adalah semata-mata untuk mengamuki dirinya perkara sudah membuat Erica menggila. Celine dengan negatif membayangkan apa yang akan dilakukan Darchen padanya karena sudah membuat Erica histeris. Mungkin sekarang kini dia akan diamuki oleh Darchen. "Silahkan memarahi aku jika memang itu alasanmu datang kemari. Tapi asal kau tahu, aku sakit hati melihatnya sebab itu aku membalas perbuatannya," jelas Celine. Mendengar itu, Darchen kebingungan. Dia mengangkat alisnya sebelah karena bingung. "Apa maksudmu?" tanya Darchen yang tidak tahu tentang apa yang dibicarakan oleh Celine padanya. Darchen hanya ingin menyampaikan pada Celine kalau besok Genah sudah kembali dari persinggahan khusus. Tapi kedatangannya itu mungkin dianggap salah oleh Darchen. Terjadi kesalahpahaman antar Celine dengan kedatangannya. Bahkan Darchen tidak tahu sama sekali permasalah yang baru terjadi antara mereka berdua, Celine dan Erica. "Eh? Kau tidak tahu?" tanya Celine lagi. Padahal pernyataan Darchen tadi belum dia jawab, tapi dia sudah melemparkan pertanyaan lagi. "Apa? "Erica?" ucap Celine. Darchen menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak tahu. Karena memang benar dia tidak tahu apapun. "Aku dan sepupu kesayanganmu itu bertengkar tadi. Dia berteriak seperti dirasuki roh jahat. Ngeri lihatnya," jelas Celine dengan rasa tidak bersalah sama sekali. Malah dia berbicara dengan datar sekaligus menghina Darchen terlebih dahulu. "Benarkah?" "Iya, dia benar-benar gilak," tambah Celine mempertegas. "Aku kira dia mengadu padamu seperti biasanya," sambung Celine lagi mengumpat. "Aku melihat sesuatu," timpal Darchen menghentikan umpatan Celine. Dia menatap wajah Celine dengan fokus seolah sedang melihat sesuatu yang aneh di sana. Dahinya berkerut. Sungguh ekspresi yang membuat Celine cemas. "Ada apa? Kenapa? Mengapa kau menatapku begitu? Katakan cepat!" Celine menjadi heboh seketika karena melihat raut wajah Darchen yang membuatnya resah. Darchen mengangkat jari telunjuknya, lalu mengarahkannya ke samping bibir kiri Celine. Dia menyentuh dengan satu jari. "Ada kerutan di wajahmu," jelas Darchen. "Ih, dikira apa. Gataunya itu doang. Lebay," hardik Celine.. "Jangan marah-marah. Nanti cepat tua," nasehat Darchen peduli. Lagi pula jika wanita itu, Celine emosi, yang ada semua akan jadi lebih sulit. "Kenapa? Kau takut aku menua?" serbu Celine. "Selama itu adalah kau, tidak masalah.," jawab Darchen cepat. "Sudahlah. Kau terus membuatku semakin bingung denganmu. Aku istirahat," ucap Celine tidak peduli. "Silahkan," balas Darchen ringan. Tidak seperti biasanya dia maklum begitu. Tidak pernah pangeran itu mengerti dengan kondisinya. Namun kali ini tampak kalau Darchen tidak mempersulit dirinya. Namun hal itu pula yang membuatnya semakin takut dengan tingkah Darchen. Semakin lama semakin berubah-ubah pula sifatnya. Tidak selamanya dia pemaksa, dan tidak selamanya pula dia baik dan berbudi pekerti seperti sekarang. "Kalau begitu aku masuk dulu," pamit Celine dengan muka pangling kebingungan. Dia berjalan mundur ke arah dekat pintunya hendak menutupnya, dengan posisi wajah menghadap Darchen yang berdiri di depannya. Darchen tersenyum tipis menjawab pamitan wanita itu. Dia seolah memberikan jalan lempang ketika wanita itu akan menutup pintu padanya. Biasanya jika Celine begitu, Darchen bisa mengamuk meminta agar jangan ditinggalkan sebelum ada izin darinya. Prak! Pintu tertutup rapat. Celine dengan langkah pelan berjalan ke arah jendela, lalu menguntit dari sana keadaan Darchen di luar. "Eh? Kenapa dia belum pergi?" tanya Celine keheranan. Celine melihat Darchen tetap berdiri di depan pintunya tidak jelas untuk apa dia melakukannya. Namun yang terpenting adalah pria itu tampak aneh. "Apa dia sedang menyantet aku karena membalaskan dendam Erica, sepupu tercintanya," umpat Celine bercampur cemburu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD