Kembali ke Tempat Semula

1757 Words
~Istana Athiam~ Peti berisi hiasan di tangan Ratu Sibenth terjatuh ke lantai saat setelah mendengar kabar dari pelayan bahwa Celine telah kembali bersama dengan anaknya, Darchen. Berhari-hari dia telah menanti datangnya gadis itu, kini telah terkabul. Sempat dia mengira kalau anaknya, Darchen, tidak akan membawa kembali Celine ke istana itu. Tapi dia terus berusaha berpikir positif dan yakin kalau Celine akan kembali. Sebab dia tahu, kalau anaknya benar mencintai Celine, dan ternyata benar, Darchen membawa gadis itu kembali ke istana. Ratu Sibenth langsung berlari menyambut ke arah pintu masuk istana. Dengan tergesa-gesa dan senyum bahagia, dia mengangkat gaun bermanik-manik beserta permata yang dikenakannya. Langkahnya yang semula anggun, berubah seketika karena langkah panjang. Dia begitu senang. Sebab karena Celine, Darchen berubah sifatnya. Bahkan tampak bahwa anaknya yang pendendam itu kini memaafkannya. Untuk pertama kalinya anaknya itu mendengarkan permintaannya setelah sekian lama teracuhkan. "Celine!" Panggil Ratu Sibenth senang dengan senyum di bibirnya. Langsung ratu itu memeluk Celine dan berucap syukur karena gadis itu telah kembali. Seperti membawa cahaya ke dalam hidupnya maupun anaknya itu. Tentu saja dia sangat menyayangi Celine. Berkat Celine, Darchen mulai menatapnya. "Ratu Sibenth, hahaha …," balas Celine. "Kau terlihat kurus, apa kau baik-baik saja? Apa Nenek Zoe tidak mengurusmu dengan baik?" Beruntun pertanyaan cemas keluar dari mulut Ratu Sibenth. "Bukan, aku hanya tidak bernafsu makan sudah dua hari yang lalu, Ratu. Terjadi sesudah aku keluar dari kediam itu," jelas Celine membela keluarga Zoe yang mengurusnya dengan baik. Dia menyelipkan kata-kata yang menyindir Darchen. Dimana dia berkata kalau dia tidak bernafsu makan setelah tinggal di kastil bersama dengan Darchen. Darchen sedikit melirik ke arah Celine dan tersenyum tipis, hampir tak terlihat oleh siapapun kalau dia tengah tersenyum. "Kau harus memperbaiki gizimu sekarang. Mari, agar aku menyiapkan makanan untukmu, KHUSUS," ucap Ratu Sibenth sambil menarik tangan Celine. "Hahahaha … aku menghargai niatmu, Ratu. Tapi bukankah itu terlalu berlebihan. Aku terlalu segan jika sampai Ratu Sibenth memasak untukku," timpal Celine dengan mulut manis menolak. Sejenak Celine teringat. "Dimana Genah?" tanya Celine menatap ke segala arah. "Entahlah, beberapa hari lalu dia sudah tak terlihat," jawab Ratu Sibenth. "Benarkah? Padahal aku juga merindukan dia," keluh Celine dengan muka sedikit menunduk. "Oh, aku rasa dia kembali menjaga di pusat keamanan khusus milik Pangeran Darchen. Bukankah begitu, Pangeran?" ucap Celine menyindir. "Ehm," angguk Darchen dengan muka cueknya. Sebab di depan ibunya, dia selalu bergaya kejam. Demi gengsi yang tinggi. "Aku pikir dia sangat diperlukan di sini, hahaha, benar tidak, Pangeran Darchen?" lanjut Celine lagi. Nada bicaranya sangat jelas sekali sedang memaksa Darchen untuk membawa Genah kembali ke istana. Celine melemparkan mata mengancam pada Darchen, tapi ditutupinya dengan senyum manis di bibirnya, hingga tampak mengerikan saat di tatap Darchen. Pangeran itu langsung berbalik membuang muka seolah tidak melihat kode ancaman yang dituju padanya. "Terima kasih, Anakku, karena kau membawa Celine kembali ke istana. Aku sangat senang," ucap Ratu Sibenth dengan senyum. Namun nada bicaranya terdengar ragu saat mengucapkan kalimat itu pada anaknya. "Tentu saja, Ratu. Sudah sepantasnya pangeran berbakti pada ibunya, hahaha," jawab Celine menengahi. Sebab tidak terdengar kalau Pangeran Darchen yang dingin itu ingin membalas perkataan ibunya itu. Darchen diam seolah tidak melakukan segalanya demi ibunya. Dengan inisiatif, Celine memecahkan keheningan yang terjadi akibat perbuatan pangeran itu. "Aku tidak melakukannya demimu," jawab Darchen apatis. Seketika wajah ratu itu berubah sedih. Dia mungkin sangat sakit hati mendengar anaknya berkata begitu, namun dia terus tersenyum menutupi segala kesedihannya. Ratu itu sangat tabah. Bahkan dalam keadaan menyakitkan pun dia tetap tampak kuat. "Ekhem … Ratu Sibenth, tampaknya aku memang butuh pertambahan gizi," timpal Celine menghancurkan keheningan. "Iya," jawab Ratu Sibenth. Celine menggandeng tangan Ratu Sibenth ke arah dalam, dengan perasaan senang dan bahagia. Mereka tampak dekat. Terlihat seperti ibu dan anak pada umumnya. Meski sebenarnya mereka tidak saling kenal dan tidak memiliki persaudaraan sedikit pun. "Celine," panggil Ratu Sibenth sambil tersenyum. "Ya, Ratu?" balas Celine. Dengan tangan yang sedang sibuk mengupas buah, Ratu Sibenth melirik Celine. "Dimana kalian tinggal sebelum datang kemari?" "Eh, itu … aku dan Darchen di kastil," jawab Celine ragu. Dia tidak ingin ratu itu salah paham tentang hubungan mereka. "Benarkah? Aku senang mendengarnya. Semoga kalian melakukan hal-hal yang tidak wajar," ucap Ratu Sibenth sambil dengan mata membunuh. "Astaga! Aku rasa harapanmu terlalu mengerikan, Ratu," ejek Celine. "Hahaha … aku hanya bercanda." Ratu Sibenth tertawa terbahak-bahak. Dia tampak bahagia. Seolah bebannya hilang. Sejak lama dia membutuhkan orang untuk saling berbagi keluh kesah. Kini dia telah menemukan orang itu, yaitu Celine. Meski tidak seutuhnya mereka selalu bersama dan tatap muka, di waktu yang singkat itu, dia menghabiskan bersama Celine. Melepaskan kerinduannya pada gadis itu. Terkadang, Ratu Sibenth menganggap Celine sebagai alat untuk membantu dirinya dan anaknya kembali akur. Namun setelah lama berlalu, dia baru sadar, kalau sesungguhnya wanita itu teramat penting baginya. Dia merasa ada yang berbeda yang tumbuh dari hati gadis itu. Sekiranya jika memang Darchen dan Celine tidak bisa bersatu. Ratu Sibenth akan mengangkat gadis itu menjadi putrinya. Di balik layar, Erica yang sudah membara kekesalannya karena Celine kembali pulang, membuatnya mengamuk di kamarnya. Dia melampiaskan kekesalannya tersebut kepada pelayan-pelayan miliknya. Dia tidak bisa tenang karena saingannya sudah kembali. Dari berbagai orang dia mencari informasi tentang cara menyingkir Celine dari permukaan bumi itu. Namun orang-orang di kerajaan sangatlah takut untuk bermain licik di belakang panggung. Sebab mereka sudah tahu bagaimana konsekuensi jika melakukan pelanggan. Bukan sampai disitu saja, Erica dengan perasaan tidak tenangnya, datang menemui ayahnya yang kaya raya itu untuk meminta bantuan agar mengatakan pada Raja Erogha bahwa dirinya harus terus diperhatikan. "Tidak ada yang berani menolak putriku. Pangeran Darchen tentunya tidak akan melupakanmu," ucap Nezy, Ayah kandung Erica. "Ayah, kau harus segera bertindak. Erica hanya akan menikah dengan Pangeran Darchen. Tidak mau dengan yang lain!" tegas Erica sambil merengek minta pada ayahnya. Sebenarnya dia memiliki sifat egois karena sedari kecil sudah dimanjakan oleh ayah dan ibunya. Apapun yang dia inginkan selalu dituruti. Hingga akhirnya dia mengira bahwa segalanya akan dia dapatkan jika dia meminta. Hal itu sudah menjadi karakter Erica. Dia meminta dinikahkan dengan Darchen, ayahnya setuju. Bahkan Nezy, ikut membantu Erica agar bisa masuk ke dalam anggota kerajaan. Melihat betapa kaya rayanya ayah Erica, dan berkebetulan pula penasehat di istana, membuat kedatangan Erica disambut hangat oleh Raja Erogha. Sejak kecil dia terus bersama dengan Darchen. Mereka berdua tumbuh bersama hingga dewasa bersama. Namun, keakraban seolah tidak pernah mendatangi mereka. Darchen selalu menganggap Erica sebagai adik sendiri. Sementara Erica terus ingin bersama dalam artian menyukai pangeran tersebut. Sejak dulu, Darchen sudah mengatakan pada Erica kalau dirinya tidak akan bisa mencintai Erica, dan tidak akan pernah melihat Erica sebagai wanita. Sungguh dia pernah menegaskan itu pada Erica. Namun wanita yang egois itu terus berusaha, dia tidak pernah berkecil hati. Sebab dalam ambisinya, dia bisa mendapatkan Darchen. Apapun caranya. Begitulah yang dipendamnya di dalam hati. Perasaan itu terus bertumbuh menjadi lebih besar, hingga Erica sendiri sudah tidak memiliki tujuan selain daripada mencintai dan berusaha agar Darchen membalas perasaannya. Erica terus memupuk rasa cinta itu hingga bahkan tidak sadar kalau cara yang dilakukannya benar atau salah. Yang dipandangnya hanyalah bagaimana dia agar tetap dekat dan terus dipandang oleh Darchen. "Semenjak Celine datang, Pangeran Darchen jarang menemuiku. Bahkan menyapaku saja tidak pernah," ucap Erica kesal menyalahkan segalanya pada Celine. "Mungkin dia sibuk, sayang. Tentu saja Darchen menyukaimu. Siapa yang tidak terpesona dengan putriku yang jelita," puji Ayah Erica. Dia tahu bagaimana mental Erica yang sesungguhnya. Dia tidak boleh dibantahkan. Jika perasaan tergores sedikit saja, bisa panjang urusannya. Dengan penuh simpati, Ayahnya Erica membujuk agar putrinya itu tidak terlalu memikirkan segalanya. Sebab dia takut kalau Erica yang memang lemah fisik dan mentalnya itu drop tiba-tiba. Agar tenang dari keresahannya, Erica menemui Darchen yang sedang beristirahat di kamarnya. Dia mengetuk pintu berulang kali, berharap Darchen Si Pangeran Dingin itu membukakan pintu untuknya. Tidak pernah selancang itu dia sebelumnya. Namun agar memastikan kekhawatiran akan kehilangan Darchen. Hal itu dia lakukan. Segala cara akan diusahakannya agar hubungannya dengan Darchen semakin dekat. "Pangeran Darchen …" Panggil Erica dari luar kamar Darchen. Dia mengetuk pintu dan mencoba mendengarkan pergerakan Pangeran Dingin itu dari dalam sana. Sayang sekali, tidak ada sahutan dari dalam. Terasa sunyi saat dia mendengarkannya. Batinnya beranggapan kalau memang tidak ada orang di dalam. Tanpa tahu kebenarannya, kalau pria itu ada di dalam kamar. Darchen berada di dalam dengan buku-buku di mejanya. Dia bersengaja untuk tidak membukakan pintu pada siapapun. Sebab saat ini fis lebih ingin sendiri. Banyak hal yang harus dia pahami dan tekuni. Salah satunya tentang Celine. Salah satunya tentang kesehatan wanita itu yang semakin lama semakin mengancam. Bukannya menjadi kelebihan, justru kekuatan itu menjadi kelemahan bagi Celine. Kebenaran mengatakan kalau jenis magis milik Celine adalah salah satu yang terbaik diantaranya. Namun karena pernyataan bahwa dia adalah manusia biasa yang berasal dari dunia lain, tentu saja menjadi kutukan bagi Celine. Karena terlaku sibuk mencari penawar bagi Celine, Darchen lupa kalau dia harus menjemput Genah agar wanita yang dia cintai tidak lagi mengamuk. Darchen bangkit dari kursinya lalu pergi keluar. Niatnya mulus hanya untuk memerintah Panglima Dion agar segera menjemput Genah yang sekarang berada di tempat perasingan, dimana tempat adalah gudang bagi orang-orang hebat yang dikumpulkan oleh Darchen kemudian dilatihnya agar menjadi orang hebat. Orang-orang di sana adalah manusia berbakat yang menjadi prajurit handal untuk persiapan jika ada perang antar sesama kerajaan, ataupun perang dengan Yumiro. Namun ketika tangannya memegang gagang pintu, dia sudah merasakan keberadaan Erica di depan pintunya. Karena memang dari awal dia tidak ingin diganggu. Akhirnya Darchen tidak jadi keluar kamar. Dia kembali duduk sebab tahu kalau Erica berada di depan pintu kamarnya. Sementara Erica yang sudah lama menunggu Darchen keluar, tapi tak kunjung keluar, akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang utama istana. Dia berjalan dengan perasaan tidak senang karena tidak berhasil bertemu dengan Darchen. Sudah susah payah dia mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu Darchen, namun hasilnya nihil. Mereka sama sekali tidak bertemu. Kebetulan, saat hendak ke arah kamar Darchen, haruslah melewati kamar Celine. Kedua wanita yang saling dendam itupun bertemu. Dalam keadaan tidak senang, kemudian melihat wanita yang Erica benci sungguhlah merupakan hal yang tidak diinginkannya sama sekali. Erica melihat Celine tengah bediri di depan lorong sambil memandangi kolam indah yang berada tepat di depan jalan menuju kamar mereka. Sekilas Erica melihat wajah Celine teramat murung. Namun dia tidak yakin akan hal itu, sebab yang Erica bayangkan tentang wanita itu adalah, "Celine selalu bahagia, dia suda mendapat perhatian dari Pangeran Darchen, beserta Ratu Sibenth, untuk apa lagi bersedih? Dia hanya berpura-pura murung, agar Pangeran Darchen melihat kalau hatinya sedang hancur, dia caper. Aku tidak suka dia, aku membencinya, aku ingin dia menghilang dari dunia ini," ucap Erica bersungguh-sungguh dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD