Langkah Pertama

2054 Words
Semua bagi Genah seakan berputar. Bahkan awan terasa mengelilingi dirinya seolah sedang mempermainkan. Dia sama sekali tidak bisa mengontrol pikirannya untuk tegar dan tidak terjatuh. Bruk! Sejenak kesadarannya menghilang. Dia terbawa sampai ke mimpi. Tentu saja dia pingsan. Dengan keadaan perut kosong, cuaca dingin dan juga memang beberapa hari terakhir kondisinya dalam keadaan buruk. Terus bertarung tanpa ada istirahat. Sungguh dia terlalu memaksakan dirinya sendiri, padahal jelas-jelas bahwa manusia juga memiliki batasan. Bahkan robot sekalipun akan rusak jika sudah sampai batas waktunya. Apalagi hanya manusia, yang serba minim kemampuannya. Darchen dan Dion pun sering mengingatkan dirinya untuk tidak memaksakan diri, tapi tidak pernah Genah mendengar. Dia selalu ingin tampil menjadi orang paling kuat, meski dialah yang paling butuh istirahat. Genah tidak akan terbangun dari ketidaksadarannya jika tidak ada tetesan embun yang membasahi wajahnya. Ditambah kicauan burung seolah sebagai pengingat waktu baginya. "Sudah berapa lama aku terkapar?" tanya Genah sambil melihat sekeliling. Dia langsung berdiri dan tidak membuang-buang waktunya, dia sigap mencari tanda keberadaan Pak Kong lainnya. Atau jika dia beruntung, dia bisa menemukan Pak Kong langsung tanpa harus mencari tanda peninggal yang ditaruh Pak Kong. "Dentalota!" ucap Genah. Mantra itu keluar lagi dari mulutnya. Angin seketika berhenti bertiup, bahkan percikan air yang mengalir menjadi tenang. Seketika cahaya seakan menuntunnya berjalan menuju ujung aliran sungai. Dia melangkah dari satu batu ke batu lainnya hingga sampai pada ujung sungai dimana banyak pepohonan yang membatasi antara sungai tersebut dengan sungai lainnya. Namun sudah sejauh itu dia berjalan, tidak ada cahaya yang dia temukan, apalagi Pak Kong. Sekali lagi dia memastikannya dengan berputar arah menuju tempat awal dia datang sambil mencari cahaya tersebut. Sayangnya sudah berulang kali dia berputar dan melompat, tidak ada yang dia temukan, tetap saja. Dia kembali introspeksi diri. Mungkin Genah telah melakukan kesalahan, atau tempat yang dia pijak sekarang bukanlah tempat yang benar. Genah mengambil minum yang dia bawa lalu meneguknya sampai habis karena haus. Kemudian dia mengisinya lagi dengan air sungai yang begitu jernih dan segar itu. Terlalu lelah dalam perjalanan. Dia duduk di sebuah batu besar yang letaknya di tangah aliran sungai sambil menenggelamkan kakinya sebagian. Dia menikmati alam yang begitu sejuk dan asri. Dia merenungkan kembali apa hal yang membuatnya gagal. Dia mengingat kertas itu lagi dan memaknainya perlahan. "Salah? Awan? Apa maksudnya?" Dia memaksa otaknya memecahkan hal tersebut. Jika sungai telah benar, lalu apa yang salah? Bahkan awan juga teramat tebal. Lalu Genah terpikir oleh awan yang dicoret abstrak oleh Pak Kong, dimana awan itu dia warnai dengan tinta hitam, yanh tentunya bukan bambu. Genah bangkit dan langsung berdiri. Dia melompat ke pinggir sungai lalu naik ke atas punggung kudanya. Dia sekarang paham, sungai yang dimaksud bukanlah alirannya yang berbentuk tanda silang, melainkan sebuah danau yang merupakan kesalahan dari dewa-dewa terdahulu dalam menciptakan sumber air. Karena dewa tersebut melakukannya hanya demi kepuasan pribadi seseorang yang dia cintai. Akhirnya tidak ada yang boleh masuk ke sana, bahkan semut pun tidak bisa. Hingga akhirnya danau tersebut dikatakan sebuah kesalahan dan tidak ada yang boleh memasuki area tersebut. Selama beribu tahun, tempat itu tidak ada yang menginjakkan kaki di sana, hingga akhirnya banyak pohon dan bunga-bunga cantik bertumbuhan di sana. Kemudian beberapa tahun sudah berlalu setelah pepohonan itu tumbuh, seorang pendekar berkelana dan menemukan tempat tersebut, lalu menjadikannya sebagai tempat persembunyian. Selain aman, tempat tersebut juga tersedia berbagai macam jenis buah dan tumbuhan yang dapat dimakan. Lalu suatu hari, pendekar itu membawa kekasihnya di sana, lalu menikah pada akhirnya disaksikan danau yang indah nan tenang itu. Sampai akhirnya mereka memiliki anak dan cucu. Mereka menjadikan tempat itu sebagai kepemilikannya. Namun secara misterius sekeluarga dari pendekar tersebut menghilang. Tidak ada yang mengetahui jejak mereka sampai sekarang kini. Semua hilang tanpa ada yang tersisa dari keturunan pendekar tersebut. Ada yang mengatakan kalau terakhir kali salah satu penduduk terkahir kali melihat cucu dari pendekar itu berjalan menuju Danau Kesalahan. Lalu setelah itu tidak pernah terdengar lagi kabar tentang mereka. "Semoga saja dia benar ada di sana," decak Celine berharap dengan ketulusan hatinya. Dia sudah terlalu memaksakan dirinya untuk berkenala tanpa persiapan. Jika hari ini dia belum menemukan Pak Kong, tidak ada kesempatan lagi baginya. Sebab sebentar lagi akan terjadi perang besar. Hal itu memaksa dirinya untuk berada di garis paling depan sebagai prajurit khusus. Karena hal itu pula, belum tentu dia akan selamat setelah perang itu terjadi. Tidak ada yang menjamin jikalau dia mati dalam perang. Kematiannya mungkin tidak akan berguna bagi Celine. Untuk itu meski harapan kecil yang dia lakukan, semoga saja dia bisa bertemu dengan Pak Kong dan memberikan harapan baru bagi Celine. Dia memaksakan diri yang telah letih itu. Sakit kepa yang dia alami, ditahan oleh Genah. Sampai akhirnya perjuangannya menuju Danau Kesalahan itu terselesaikan juga. Meski matahari telah terik, dia setidaknya sudah sampai di tempat satu-satunya harapan terakhir baginya. Jika Danau Kesalahan bukanlah tempat Pak Kong itu berada, dia terpaksa harus kembali ke Kerajaan Athiam. "Dentalota!" Untuk terakhir kalinya dia menyebutkan mantra tersebut. Karena hanya tiga kali saja dia bisa mengucapkan mantra tersebut, jika lebih dari tiga kali, maka kekuatannya akan melemah sampai setengah dari seutuhnya. Lagi-lagi angin berhenti berhembus. Dia mengikuti arah tuntunan dari mantra yang dia ucapkannya. Di pinggir danau itu terdapat pohon besar yang buah-buahannya sangatlah berlimpah. Panas matahari sangat mendenting ke kepalanya sebab tidak ada awan sama sekali berada di sekitaran danau itu berada. Pantas saja di gambar tersebut Pak Kong memberi garis abstrak, ternyata menunjukkan Danau Kesalahan dimana tidak ada awan sama sekali di atas langit. Warna birunya langit tersebut langsung terlihat luas ketika ditatap ke atas langit. Tidak bisa dipungkiri, Genah teramat selera dengan buah yang bergelantungan di pokok pohonnya. Dia melihat warna merah segar dari pohon apel, kemudian dia melangkah lagi menemukan pohon jeruk. Sungguh lengkap. Dia hanya tinggal berjalan lalu memetik semua yang diinginkannya. Bahkan karena terlalu melimpahnya, buah-buahan tersebut sampai berjatuhan di atas tanah, tapi tidak seorang pun memungutnya. "Segar sekali," decak kagum Genah ketika menggigit buah apel yang baru saja dia petik. Bahkan dari segi warna saja sudah membuatnya merasakan kesegaran dalam mulutnya. Setelah memakan beberapa buah yang dia petik langsung dari pohon itu, dia melanjutkan perjalanannya mencari keberadaan Pak Kong. Sampai akhirnya dia melihat seorang kakek-kakek tua sedang menggali tanah, hendak menanam sesuatu. Genah seketika menjadi merasa bersalah, dia mengira kalau semua buah itu tidak ada pemiliknya, tapi ternyata kakek tua yang menanamnya. Genah berpikir kalau orang tersebut adalah keturunan dari pendekar yang kabarnya telah menghilang itu. Sebab hanya keturunan pendekar itu sajalah yang mengetahui tempat tersebut. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam Danau Kesalahan. Hanya orang-orang bersih saja yang bisa melewati segel jalan masuk ke dalam wilayah danau. Hal itu tentu membuat Genah tidak perlu takut atau waspada terhadap kakek yang tengah menanam pohon tersebut. Dia pasti orang baik yang tinggal di wilayah danau tersebut. "Mohon maaf, Kakek. Tadi aku memakan beberapa buah dari pohonmu. Sudikah kiranya memaafkanku?" tanya Genah sambil memohon ampunan maaf dari kakek tersebut. "Hahaha … tidak apa-apa. Ambillah jika masih kurang," jawab Kakek tersebut dengan ramah. "Oh yah, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kakek itu lagi. "Aku sedang mencari seseorang, Kakek. Hanya saja aku belum menemukannya," jawab Genah. "Siapa?" tanya Kakek tua tersebut. Dia berhenti menanam pohon tersebut, lalu berdiri menghadap Genah. "Bukannya aku tidak ingin memberitahu, Kakek. Hanya saja ini adalah rahasia. Aku takut jika keselamatan orang tersebut terancam kalau aku menyebutkannya," balas Genah memberi alasannya. "Tapi jangan beranggapan kalau aku menganggap Kakek orang jahat. Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja dia memang begitu, terlalu takut jika diketahui keberadaannya," jelas Genah lagi. Dia takut kalau Kakek tersebut sakit hatinya akibat perkataan dari mulut Genah. "Hahaha … tentu tidak. Tapi kenapa kah mencarinya kemari? Hanya aku seorang yang tinggal di sini," ucap Kakek tersebut. "Aku sedang mencari kemungkinan kecil, Kakek. Berlandaskan harapan, aku datang kemari," sambung Genah. "Apa kau yakin orang tersebut ada di sini?" "Aku akan pastikan dengan mencarinya beberapa kali, Kakek," balas Genah lagi. "Jika dia tidak ada, apa yang akan kau lakukan?" "Mencarinya kemungkinan kecil itu lagi sampai besok sebelum matahari terbit," jawab Genah. Deg! Genah terpikir akan satu hal. Keberadaan kakek tua tersebut sangatlah aneh. Jika dia mengatakan kalau dirinya hanya sendiri di sini, itu artinya tidak ada orang lain bersamanya. Kemungkinan besar Pak Kong tidak ada di danau tersebut. Selain itu, petunjuk dari mantra yang baru saja diucapkan oleh Genah tadi tiba-tiba menghilang. Tidak ada petunjuk lain. Prasangka Genah menjadi semakin tidak yakin. Dia ragu kalau Pak Kong tidak ada di sini. "Bolehkah aku bertanya?" Tanya Genah. "Silahkan," jawab Kakek tersebut. "Siapa Anda sebenarnya?" Tanya Genah curiga. Jika hanya seorang diri saja dia berada di area tersebut, itu artinya tidak ada orang lain selain dirinya. Pertama, memang benar hanya ada dia. Kemungkinan yang kedua adalah bisa jadi kakek tua tersebut adalah orang yang sedang Genah cari, yaitu Pak Kong. Genah langsung melemparkan jimat berisi kekuatan untuk tidak membuat orang disekitar tidak bisa menyentuhnya. Jika benar dia adalah Pak Kong, artinya Genah harus mengambil posisi untuk bertarung dengan kakek tua di depannya tersebut. "Apa perlu kujawab?" tanya Kakek itu balik. "Tidak perlu, aku tahu Anda adalah Pak Kong," tukas Genah. Genah yang sudah yakin telah menemukan Pak Kong akhirnya bisa bernafas dengan lega. Dia mendapat banyak syukur karena berhasil dalam misinya mencari Pak Kong. Walau dengan perjuangan yang cukup melelahkan, setidaknya terbayarkan. Genah yang tengah berbahagia karena telah bertemu langsung dengan Pak Kong, berbeda dengan Celine yang merepet ke semua orang yang dia lihat. "Hey! Kenapa dia belum pulang?" tanya Celine pada Dion. "Sebentar lagi," jawab Dion saja mengasal. Sepanjang hari Celine dengan mulut cerewetnya menanyakan Genah. Sampai-sampai Dion sendiri bosan dengan pertanyaan berulang tersebut. "Dari tadi kau hanya bilang bentar lagi. Tapi apa? Dia belum juga datang," umpat Celine mengamuk. Dia terus disuruh diam dan tenang menunggu Genah. Padahal dia sibuk menanyakan pada mereka tentang Genah karena khawatir. Tidak pernah Genah pergi menjalankan misi, sebelum permisi dengan Celine. Namun kali ini sangat aneh, bahkan tidak mengatakan akan kemana. Celine tidak tahu kalau Genah sedang menjalankan misi jika Dion tidak mengatakan padanya. Berhubungan pula, jika Celine tidak tanya tentang Genah, Dion tidak akan mengatakannya. "Dia sedang menjalankan misi gaib? Ha? Sampai kalian tidak tahu tujuannya?" umpat Celine lagi. Bahkan bibirnya lebih cerewet dibandingkan nenek tua yang sedang mengalami pra-monopause. "Sabarlah, Celine," ucap Dion menenangkan Celine yang terus mendesak dan mengumpat. "Siapa yang menyuruh dia mengerjakan misi itu? Darchen? Cih," decak Celine kesal. Dion tidak menyahut Celine. Dia tidak bisa menjawab dengan kebohongan, akhirnya dia memilih untuk tetap menutup mulut. Sekaligus dia sudah malas membalas setiap umpatan dari Celine. Celine melangkahkan kakinya untuk menemui Darchen yang berada di ruang rapat istana. Dengan niat hanya untuk mengumpati Darchen karena memberi Genah tugas yang begitu misterius tersebut. Untungnya Dion langsung menghentikan Celine. Darchen tengah rapat dengan orang besar dari Negeri Seberang. Jika Celine mengacaukan rapat itu, bisa-bisa Negeri Athiam bisa kotor namanya. Ditambah rapat itu sangatlah serius, jika Celine yang tidak ada rasa takutnya itu datang mengumpati Darchen, bisa-bisa fokus mereka buyar karena kaget melihat aksi wanita liar itu. Begitulah yang Dion pikirkan. Perkiraan itu sudah terputar di pikirannya. Demi mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi, dia menyuruh Celine untuk tetap berada di sekitar kamarnya. Dia hanya boleh keluar tapi memiliki batas. "Pangeran Darchen sedang rapat penting," ucap Dion. "Wah … bagus kalau begitu. Aku bisa menyebarkan pada orang-orang kalau dia sangat kejam. Itu akan lebih baik," jawab Celine membangkang. "Aku sudah menduga," decak Dion dengan suara pelan. "Aku pergi, jangan halangi aku," tegas Celine berontak pergi menemui Darchen. "Celine, jangan menambah beban Pangeran Darchen. Berhenti menyusahkan dia, dan jadilah manusia seutuhnya. Kenapa kau terus mencari masalah dengan Pangeran?" Dion mengungkapkan pemikirannya pada Celine. Meski terdengar tajam dan menusuk, dia tidak peduli. Sebab dia hanya ingin semua bagi Darchen yang terbaik. "Apa?" Celine terkaget-kaget. "Kenapa kau kasar sekali, Dion? Aku … aku tidak habis pikir kau mengatakan itu padaku," ungkap Celine. Dion melirik ke arah samping, lalu menutup mata sejenak. "aku hanya mengatakan apa yang disuruh oleh Pangeran Darchen," gumamnya dalam benak. Sebelum Darchen rapat dengan orang besar, dia mengajarkan pada Dion cara mengatasi keras kepala Celine. Darchen sudah bisa menebak kalau mengendalikan wanita liar seperti Celine bukanlah pekerjaan mudah, untuk itu beberapa cara jitu membuat Celine terdiam adalah dengan melukai hatinya. Oleh karena itu, Darchen menyuruh Dion mengatakan hal seperti yang baru saja dikatakan oleh Dion baru saja. "Aku harap kau bekerja sama dengan situasi kami saat ini," ucap Dion lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD