Perjuangan Genah

2019 Words
Ujung-ujungnya Celine tetap di kamarnya sambil merenungi nasibnya yang bisa dikatakan sangat monoton. Tidak bekerja tapi bisa makan dengan nyaman dan teratur. Selian itu, dia hanya berdiri menjadi pajangan bagi mereka, pihak Ratu Sibenth dan Darchen. Tidak tahu kapan segalanya akan berakhir, tapi dia selalu berharap yang akan terjadi padanya adalah kebaikan. Kini dia pasrah, akan hidup di dunia mana. Asal dia bisa bahagia, Celine akan terima. Sebab dia menangis darah pun jika memang takdirnya berada di dunia yang telah ditentukan untuknya, tiada guna menolak. "Nona Celine," panggil Genah menghentikan renungan Celine. "Ada apa?" tanya Celine. "Apa yang ada pikirkan, Nona?" tanya Genah. "Aku rindu pada ketenangan," jawab Celine. "Bukankah hari Anda begitu tenang?" "Ehm … begini yah, aku dulu hidup di dunia tanpa ada sihir, tidak ada Yumiro, dan bahkan kerajaan tidak ada. Pakaian ini? Aku bahkan tidak pernah gunakan," jelas Celine satu persatu. "Hamba tidak mengerti, Nona," balas Genah tidak mengerti makna dari perkataan Celine. "Genah … aku akan cerita semuanya. Hidupku memang melarat saat di duniaku, bahkan gaun seperti ini tidak pernah kutemukan. Aku hanya seorang karyawan percetakan di sana dan tinggal di apartemen biasa. Tapi tahukah kau, aku bahagia." "Maksud Anda, cetak tulis jimat?" "Heduh … cetak digital. Jaman modern dimana semua tidak manual lagi," tambah Celine membuat Genah paham. "Benarkah, Nona?" "Ya, apa kau tahu, bahkan masak nasi tidak perlu menggunakan api lagi. Kau hanya perlu cuci lalu masukkan air dan tunggu beberapa menit tanpa menggunakan api. Hebat bukan?" kata Celine. "Apakah ada benda seperti itu?" tanya Genah. "Tentu. Seandainya aku dulu mengambil teknik mesin, mungkin sudah bisa buat listrik di sini," decak Celine. "Nona? Apakah memang ada dunia seperti itu?" Genah tidak percaya sama sekali dengan perkataan Genah. "Ada! Jelas ada." Celine langsung memegang kedua bahu Genah sambil menatap dirinya serius. "Genah, mau kah kau menolongku mencari jalan pulang?" tanya Celine. "Aku selalu mencari tentang hal itu, Nona. Tidak perlu khawatir. Namun ada sesuatu yang aneh, tidak ada satupun tempat yang kehilangan orang seperti Anda, Nona," jelas Genah. "Heduh … bukan pulang ke rumah, tapi ke duniaku," timpal Celine memperjelas. "Aku tidak paham, Nona," jawab Genah lagi. Pada dasarnya Genah tidak pernah berhenti mencari tahu asal muasal Celine. Setiap penjuru negeri itu telah dia selusuri demi mencari alamat Genah. Dikala dia tidak sempat, dia memerintah orang untuk mencari tahu dan menyebar lembar kertas berisi wajah Celine. Berharap ada yang mengenalnya, agar semua lebih mudah. Kenyataannya, tidak ada kabar ataupun orang yang mengenalnya. Pesuruh Genah bahkan kelelahan sebab tidak mendapat sedikit petunjuk. Sudah berbulan-bulan mereka mencari, tidak ada hasilnya. Akhirnya orang-orang tersebut mengundurkan diri dan tidak meminta apapun dari Genah, sebab merasa gagal dalam melacak. Bukan hanya pesuruh Genah, bahkan Ratu Sibenth yang juga ikut serta dalam mengirimkan orang-orang, tidak menemukan apapun. Bahkan secercah harapan tidak ada. Sudah letih dia mengirimkan orang namun hasilnya tetap nihil. "Apa mungkin benar yang dikatakan Nona Celine?" tanya Genah dalam benaknya. Akankah semua yang diceritakan oleh Celine tentang dia yang hidup di dunia berbeda dari Genah. Dimana semua sudah tidak manual lagi. Tidak ada kerajaan kuno dan pakian seperti yang biasa mereka kenakan. Genah mendapat sebuah konspirasi. Jika memang benar kalau Celine berasal dari dunia berbeda. Sebab tidak pernah dia temukan darimana asal Celine. Bahkan tempat lahir atau kerabat pun tidak ada. Hendak memastikan kegundahan hatinya itu, dia menemui Darchen untuk menceritakan tentang Celine pada Pangeran tersebut. Siapa tahu kalau Darchen lebih tahu tentang kehidupan Celine dan lebih paham dengan dunia luas. Dia keluar dari kamar tersebut setelah melihat Celine tidur pulas. Dia mencoba agar tidak menggangu keheningan tersebut, membuka pintu perlahan dan menutupnya lagi dengan hati-hati. "Pangeran Darchen, ada satu hal yang ingin hamba sampaikan," sebut Genah. "Hmm?" "Tentang Nona Celine. Dia mengatakan padaku sesuatu yang aneh, bahkan aku sendiri tidak memahami maksudnya," ucap Genah. "Apa?" "Nona Celine mengatakan kalau dirinya bukan berasal dari dunia yang sama dengan kita. Hamba memastikan kalau pada saat itu Nona Celine serius mengatakannya. Dia tidak sedang bercanda," jelas Genah. "Lalu?" "Nona Celine juga menggambarkan dunianya dengan sangat mendetail, bahkan seorang sastrawan saja tidak bisa mengarang cerita semendetail dan seunik itu. Hamba semakin bingung, Pangeran," cerita Genah. "Entahlah, mungkin saja benar," jawab Darchen. "Apakah hamba perlu mencarikan jalan pulang bagi Nona Celine?" tanya Genah lagi. "Akan lebih cepat jika kau ikut juga," jawab Darchen. Hari itu juga Genah yakin dengan cerita yang tidak masuk akal sama sekali untuk pertama kalinya. Dia terkenal logis dan selalu mempercayai apa yang diyakininya benar. Namun karena memang konspirasi itu terus bermunculan di pikirannya, dia semakin tertantang untuk menuntaskannya. Segera dia pergi ke sebuah tempat dimana dia bisa mencari informasi tentang apapun yang mengganjal di hati. Bahkan hal sulit tak terpecahkan bisa terjawab. Meski hanya kecil kemungkinan dia menemukan orang tersebut. "Kemana kau, Genah?" tanya Dion. "Aku akan pergi menemui Pak Kong," jawab Genah dengan kuda yang sudah dia ambil dari gudang. "Untuk apa? Lagi pula itu sangatlah tidak mungkin. Dia tidak pernah ditemukan, tempatnya selalu berpindah," ucap Dion mengingatkan. Pak Kong adalahs seorang juru kunci, begitulah sebutan orang-orang padanya. Dia bisa menjawab pertanyaan bagi orang yang sedang gundah hatinya. Meski keberadaannya tidak ada satupun yang tahu. Dia terus berpindah tempat dan sangat sulit untuk ditemukan. Namun dia masih meninggalkan secercah harapan bagi orang yang membutuhkan bantuannya. Pak Kong memberi petunjuk bagi orang-orang beruntung dengan meninggalkan tanda di tempat-tempat yang pernah dia lalui. Dengan itu orang bisa melacak atau menebak keberadaannya. Terdengar mudah, namun hanya orang kuat saja yang bisa membuka kode yang dia tinggalkan tersebut. Mengharapkan petunjuk sedikit itu, Genah tidak membuang-buang waktu lagi. Dia yakin kalau dirinya pasti akan bertemu dengan Pak Kong. Meski hanya dengan kemungkinan kecil itu saja, namun dia akan berusaha keras semampu yang dia bisa agar dapat bertemu dengan Pak Kong. Apalagi ketika mengingat betapa rindunya Celine dengan asalnya itu, membuat Genah iba dan simpati. Jika memang benar dunia mereka berbeda, dia merasakan betapa tersiksanya Celine hidup di dunia mereka saat ini. Tentunya Celine tidak terbiasa. Ditambah saat ini sedang terjadi kericuhan, sebentar lagi akan ada perang besar melawan Yumiro. Sebisa mungkin Genah tidak ingin membuang waktunya. Dia berharap bisa mengembalikan Celine ke dunia asalnya sebelum perang. Agar Celine terlindungi dari marabahaya. Meskipun sebenarnya dia ingin hidup bersama di sekitar Celine. Melihatnya bahagia adalah keinginan Genah. Tapi Genah tahu bahwa kebahagiaan sesungguhnya bagi Celine adalah bertemu dengan orang-orang dari dunianya. Untuk itu dia mengubur rasa egoisnya itu dan mengembalikan Celine ke dunianya. "Panglima Dion, aku mohon jagalah Nona Celine selama aku pergi," pinta Genah sambil naik ke atas punggung kuda. "Apa kau sedang bercanda?" "Aku akan segera pergi. Sebelumnya aku sudah suruh seseorang untuk menjaga Nona Celine. Namun alangkah baiknya jika orang sepertimu bisa menjaga Nona Celine," kata Genah. "Apa Pangeran Darchen mengetahui hal ini?" Tanya Dion lagi. "Pangeran Darchen merasa diringankan jika aku membantunya mencari jalan pulang bagi Nona Celine," jawab Genah. "Jalan pulang? Bukankah kasus mencari asal wanita itu telah ditutup?" "Ya, tapi aku tidak akan menyerah," balas Genah. "Aku tahu kau orang yang ambisius, namun mencari Pak Kong bukanlah hal yang mudah. Setidaknya bawalah orang kepercayaan berasama denganmu," ucap Dion menasehati. Betapa sukarnya menemukan Pak Kong tersebut. Bahkan dia sendiri kewalahan mencari keberadaan Pak Kong. Belum lagi jika orang tua itu meminta banyak syarat ketika ditanyakan pertanyaan. Sungguh hanya kesia-siaan belaka bagi orang lemah. "Pak Kong akan bersembunyi jika dicari lebih dari satu orang," timpal Genah. Selain Pak Kong banyak permintaan. Dia juga adalah tipe orang yang suka memperibet hidup seseorang. Dia dengan teganya memberikan syarat bagi orang yang hendak menanayinya. Salah satunya adalah jika hendak bertemu dengannya harus datang seorang diri, tanpa pengawasan dari orang lain. Bisa dikatakan hal itu dia lakukan demi keamanan dirinya sendiri. Banyak orang jahat di dunia. Jika sampai dia tertangkap oleh orang yang salah dan dijadikan sebagai alat yang salah pula. Bisa-bisa dunia yang mereka tinggali hancur. Untuk itu dia terus berpindah tempat dan tidak tentu arahnya. "Aku sudah mengingatkanmu," decak Dion. Genah langsung bergegas pergi mencari Pak Kong. Peranh dia mendengar dari orang-orang sekitar bahwa saat itu Pak Kong datang menghadiri acara Perdamaian. Namun hanya beberapa saksi saja yang melihatnya, dan durasi kunjungannya juga sangat sebentar. Dia hanya berjalan lalu terus menghilang. Ada juga yang mengatakan kalau Pak Kong pergi ke hutan. Mengingat hal itu, Genah langsung bergegas mencari jejak tinggal Pak Kong. Walaupun hanya sekecil titik tinta hitam harapan tersebut, dia akan terus kejar. "Hutan Maleni," ucap Genah dalam hati dan mempersiapkan dirinya. Hutan Maleni adalah tempat suci. Karena Pak Kong adalah orang yang bersih, tentu saja dia memilih tempat suci pula. Dia pergi ke sana dan mencari tanda peninggal yang ditaruh Pak Kong, jika memang benar dia ada di sana. Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang, membuat Genah merasa berat untuk melakukan pergerakan dengan bebas. Tenaganya habis sebagian untuk menghangatkan dirinya. Padahal dia sudah menggunakan pakaian tebal, tapi tetap saja angin itu menusuk tulangnya. Bahkan nafsnya sampai berasap karena cuaca yang terlalu ekstrim. "Dentalota!" teriak Genah. Jimat itu keluar dari mulutnya. Sektika pohon-pohon berhenti bergoyang. Serangga-serangga kecil berkerumun di pepohonan dengan lampu kelap-kelip di punggungnya. Cahaya berdatangan di tengah hutan yang gelap. Dengan bantuan serangga-serangga itu, dia lebih mudah mencari tanda keberadaan Pak Kong. Dari sudut kejauhan, Genah melihat cahaya kecil yang kadang nyala, kadang pula redup. Berwarna hijau tua dan redup menjadi hijau muda. Cahaya itu melayang tidak berdasar di tanah. Dia langsung pergi ke sana dan memeriksa cahaya tersebut. Berharap itu adalah tanda dari Pak Kong. Namun dia berpikir, tidak semudah itu pula menemukan pria tua itu. Mungkinkah itu benar tanda yang ditunggalkan oleh pak tua itu. "Semoga saja ini benar," ucap Genah berharap. Tangannya menyentuh cahaya tersebut sambil mengucapkan mantra pembuka segel. Dia berharap semua akan mudah dia lalui agar Celine cepat terselamatkan olehnya. Jika saja benar cahaya itu adalah tanda yang ditunggalkan Pak Kong, artinya dia tidak perlu berhari-hari menemukan jalan pulang bagi Celine. Segel itu redup ketika dia menyentuh cahayanya. Kemudian timbul sebuah kertas seperti jimat yang bertuliskan huruf-huruf abstrak yang entah apa artinya. Dalam kertas tersebut berisi sebuah gambar berbentuk awan namun tercoret dengan garis-garis yang membuat jimat tersebut semakin abstrak. "Apa ini?" tanya Genah tidak mengerti. Dia memutar kertas tersebut dan membalikkannya. Semakin dia ingin mengetahui arti dari tulisan tersebut, makin tidak paham pula dia dengan artinya. "Kenapa dengan pak tua ini?" ledek Genah sambil mencoba memahami kertas tersebut. Kemudian di balik kertas tertulis sebuah kata yang menurut Genah sangatlah ambigu. 'Salah' , begitulah yang tertera di sana. "Permainan kata," tebak Genah. Beberapa detik dia berpikir, dia mencerna setiap gambar dan kata yang ada di sana. Sudah yakin pasti tidak akan semudah itu dia menemukan Pak Kong. Benar yang dikatakan orang-orang. Sangatlah sulit hanya untuk menemukan dirinya. "Mungkinkah …." Genah langsung naik ke punggung kudanya. Dia memacu kuda dengan cepat menuju tempat yang disangka Genah adalah keberadaan yang ditunjukkan kertas itu. Sebuah tepat dimana sungai tersebut berbentuk seperti tanda silang dan mengalir sesuai aliran yang aneh itu. Yang paling meyakinkan dirinya adalah sungai tersebut diselimuti awan hitam yang tebal dan dipenuhi dengan bambu-bambu yang berlambangkan garis-garis abstrak sesuai gambar di kertas itu. Jaraknya cukup juauh, hingga memakan waktu sampai matahari hampir tampak di bumi. Meski begitu, dia tidak berniat beristirahat sedikit pun walaupun badannya sudah kelelahan. Cauaca dan jarak tempuh yang cukup jauh itu tentunya membuat Genah banyak kehabisan tenaga. Perbekalan yang dia bawa juga tidaklah banyak. Hanya air saja yang dia bawa sebagai persiapan pakan. Jika dia lapar, hanya tumbuhan sekitar saja yang dia harapkan. Kicauan burung sudah terdengar, ayam liar berkokok saling bertautan, dan aungan hewan buas sudah tidak terdengar lagi. Begitu pula perjalannya. Dia hampir sampai. "Benarkah ini tempatnya?" tanya Genah pada dirinya sendiri yang sudah pegal. Dia menginjakkan kakinya ke tanah setelah sampai di pinggiran sungai beraliran seperti sebuah tanda silang tersebut. Tiba-tiba saja kepalanya pusing tidak karuan. Penglihatannya juga buram tidak bisa dia kendalikan. Dia berpikir mungkin karena tadi malam hari terlalu dingin menyebabkan tubuhnya kelelahan untuk beradaptasi, hingga dia demam. Ditambah dia pergi dengan perut kosong pula. Dia bukanlah orang hebat seperti Darchen dan Dion yang bisa hidup tanpa makan ataupun minum. Dia hanyalah manusia dengan kelebihan yang tidak terlalu kuat. Lagian dia juga adalah wanita, sudah tentu pasti kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD