Lika-liku Kehidupan

2042 Words
Darchen mendengar teriakan Celine dari dalam kamar mandi. Terdengar suara itu sudah berada di batas mampu pita suaranya. Terus meneriaki Darchen dan menyuruh pangeran itu keluar dari kamarnya. Mengerti akan perasaan Celine, Darchen merasa telah berbuat salah pada wanita itu. Dia juga tahu kalau wanita itu teramat terluka akibat dirinya yang terlalu keras padanya. Hanya saja dia memang pada dasarnya adalah orang yang kejam dan tegang terhadap orang lain. Tidak ada yang bisa mengatur dirinya, bahkan ibu kandungnya sendiri. Celine adalah orang pertama yang berani menyenggak pada Darchen, jadi wajar saja jika Darchen terkadang tidak terima akan hal tersebut. Di lain sisi, dia belum terbiasa diperlakukan seperti yang Celine lakukan. Namun hatinya yang telah dicuri oleh wanita itu sudah mencair. Dia tidak tega melihat Celine menangis separah itu hanya dikarenakan dirinya. Sudah sering kali dia menyakiti wanita itu. Padahal dia juga sudah meniatkan diri untuk tidak menyenggak ataupun membentak wanita tersebut, hanya saja dia kadang tidak bisa mengontrol diri. Selain itu dalam beberapa hari terakhir dia lelah berperang. Belum lagi karena kemunculan pria berkekuatan besar itu, membuat Darchen banyak pikiran hingga melupakan masalah pribadinya. Dia sudah biasa terbebani oleh tugasnya dalam menjaga keamanan negeri, dan melupakan masalah perasaan yang dapat membuatnya jauh dari kata kuat. Karena bagi Darchen adalah bahwa semakin dia menyayangi seseorang, semakin lemah pula dirinya, sebab dia memiliki seseorang yang harus terus dia lindungi, sehingga hal itu pula yang menjadi kelemahannya. "Sudah kukatakan padamu!!! Pergi!!!" teriak Celine keras sekuat tenaganya menjerit. Dia bahkan sampai kehabisan suara akibat terus menjerit-jerit. Suaranya terdengar serak kini. Darchen mendobrak pintu kamar mandi itu lalu menerobos masuk ke dalam. Dia langsung menutup bibir wanita itu lalu memeluk Celine erat. Namun Celine yang kesal dengan Darchen, terus memberontak menjauhkan badannya dari Darchen. "Kau hanya bisa menyakitiku … hanya itu yang kau lakukan," sebut Celine kecewa. Dia terus memukul d4d4 Darchen berulang. Darchen yang menenangkan hati Celine yang sedang kesal hanya diam terus memeluk wanita itu. Sampai Celine benar-benar berhenti menangis baru kemudian dia melepas dekapnnya. "Sudah mendingan?" tanya Darchen. Celine menghapus air matanya lalu air hidungnya yang keluar akibat menangis tersedu-sedu seperti tadi. Dia menutup wajahnya dari Darchen, sebab dia malu karena matanya sudah membengkak dan memerah. Selain itu bibirnya juga gembung dan memerah. Sekilas seperti wajahnya tersengat lebah, namun tidak separah itu juga. "Jangan menatapku lebih dekat lagi," suruh Celine melarang dengan sesunggukan karena habis menangis. Darchen tahu kalau Celine malu jika dipandang. Dia sedikit mengapresiasi wanita itu. Bahkan baru saja mereka bertengkar, tapi Celine langsung malu jika ditatap. Dalam benak Darchen bertanya apakah Celine masih mengingat bagaimana ekspresinya ketika mengamuk tadi. Mungkinkah saat itu dia tidak malu? Begitulah pertanyaannya. Darchen mengecup kening Celine lalu menutup mata Celine yang bengkak itu. Kemudian dia menutupkan kain selimut agar tubuh Celine tertutupi. Selain karena cuaca yang dingin, pakaian yang dikenakan Celine terlalu terbuka. Darchen memegang tangan Celine lalu menuntunnya ke arah ranjang tidur. Dia menyuruh agar wanita itu beristirahat agar suaranya yang hampir hilang itu pulih. Lagipula dia terlalu lelah seharian berjemur di bawah terik matahari demi hanya menonton panggung. Ditambah siang itu Celine mengganggu para penari dan bertengkar hebat pula dengan Darchen. Banyak sekali hal-hal yang membuat Celine stress, hingga kondisi tubuhnya bisa dibilang rentan terhadap penyakit. Faktor pendukungnya adalah karena pikirannya yang kacau, sehingga imun tubuhnya menurun. "Aku pergi dulu," pamit Darchen. Celine hanya diam. Tidak menyahut atau menjawab pamit dari Darchen. Dia langsung menutup matanya memaksa agar bisa tidur. Celine berharap agar besok hari-harinya cukuplah ringan. Jangan terlalu berat seperti hari yang dilaluinya sekarang. Sungguh melelahkan sampai Celine sendiri muak. Dia juga terkadang menyalahkan dirinya sendiri. Sebab terlalu mudah memaafkan Darchen. Bahkan pangeran itu sudah menyenggak dirinya keras bahkan mengamukinya. Namun setelah pria itu menenangkan dirinya, dia secara spontan langsung memaafkan dengan beralaskan merasa tenang. "Syalan! Kenapa wajahnya ganteng begitu, aku jadi cepat luluhnya," umpat Celine kesal pada dirinya sendiri karena terlalu lemah menahan diri dari ketampanan Darchen. Dia memukul bantal seolah membayangkan bahwa Darchen lah yang sedang dia pukuli. "Kenapa kau tidak jelek sekalian," sambung Celine terus mengumpat. Darchen langsung menemui Genah untuk ditanyainya beberapa pertanyaan tentang seorang misterius yang datang mengarah ke kamar Celine. Demi berjaga-jaga agar tidak sampai ada apapun yang terjadi pada Celine dan orang-orang sekitar. "Hamba yakin orang itu bukan berasal dari Negeri Seberang, Pangeran. Sebab Negeri Seberang semuanya memiliki tanda di leher mereka berupa simbol kerajaan yang dibentuk melalui magis khusus. Tentunya simbol itu telah ada sejak masih baru lahir," jelas Genah. "Namun pria itu sama sekali tidak memancarkan aura seperti milik orang dari Negeri Seberang lainnya," tambah Genah. "Panggil Dion kemari," perintah Darchen. Sementara Genah pergi memanggil Panglima Dion menghadap Pangeran Darchen, Darchen sendiri menjaga pintu kamar masuk Celine dan memantau wanita itu dari luar. Tidak sedetik pun benaknya teralih darj pengawasan terhadap pria itu. Bukan tidak berani bertarung dengan orang misterius tersebut. Hanya saja dia takut kalau sampai Celine sengaja didekatinya sebagai sandera. Jika sampai hal itu terjadi, tidak mungkin pula dia merelakannya. Kehilangan seseorang yang baru saja dia miliki bukanlah hal yang mudah. Tidak berapa lama, Dion dan Genah datang menghadap Darchen. "Mohon maaf, Pangeran. Aku hanya melihat Celine seorang diri di sana," jawab Dion. Sesuai yang dia lihat ketika menjemput Celine di hutan itu, dia hanya mendapati Celine seorang diri tanpa siapapun di sana. Hanya saja dia teringat akan satu kejanggalan. Sebelum dia datang mendekat ke arah Celine, dia bisa merasakan sesuatu sihir yang kuat. Bahkan karena kuatnya sampai Dion pun enggan menginjakkan kaki lebih dekat dengan asal aura itu datang. Awalnya Dion sudah menebak kalau aura itu dekat dengan Celine, tetapi dia salah, Celine hanya seorang diri saja. "Aku merasakannya, Pangeran," tambah Dion. "Sebutkan!" perintah Darchen. "Aku mencium dari kejauhan magis seseorang yang amat kuat. Dia bergerak di sekitar Celine. Sesampainya aku di sana, tidak ada seorang pun di dekat Celine. Saat kutanya padanya, Celine mengatakan hanya sendiri," jelas Dion. "Dia tidak berbohong?" Darchen sedikit ragu dengan kenyataan dari Dion. Dia merasa kalau Celine telah berbohong. Namun karena ada kesaksian dari Dion, dia bisa menerima hal itu, meski ragu dengan kebenarannya. "Mungkinkah Pangeran ragu?" tanya Dion. "Entahlah," jawab Darchen. "Mohon maaf, Pangeran. Namun pria itu tidak mengeluarkan pancaran aura magis yang negatif. Dia tidak memiliki niatan jahat pada Nona Celine," timpal Genah. "Apa benar yang kau katakan, Genah?" tanya Dion. "Selipkan jimat Noedix di sekitar sini," perintah Darchen pada Genah dan juga Dion. Jimat Noedix adalah segel terlarang yang hanya boleh digunakan oleh orang-orang petinggi saja, dalam konteks kepentingan negara. Selain itu hanya beberapa orang saja yang berhasil membuat jimat tersebut dengan nilai sempurna. Tidak semua orang bisa melakukannya. Terlarang karena memang jimat itu dapat menyegel orang lain tanpa memiliki penawar terbebas dari lingkaran segel tersebut. Jika sudah masuk tak akan bisa keluar atau lepas dari jeratannya. Hingga pemimpin kerajaan melarang menggunakan jimat tersebut jika hanya untuk kepentingan pribadi dan saat bertarung satu lawan satu. "Tapi, Pangeran, bukankah jimat itu terlarang?" peringat Dion. "Apa kau tahu siapa lawan kita?" tanya Darchen lagi. "Baiklah, Pangeran," angguk Dion menaati perintah Darchen. Dia langsung mengambil posisi berdiri lalu menyegel sekitar keberadaan Celine. Namun tiba-tiba Genah menghentikan Dion. Dia teringat akan Celine. Jika segel itu ditaruh di sekitar Celine, kemungkinan besar akan diserap oleh magis Celine. Yang akibatnya sangat berpengaruh bagi kesehatan Celine. Dia akan menyerap segel tersebut sampai tubuhnya sendiri tidak bisa menampung magis dari sihir Noedix tersebut. Jika sudah mencapai batas maksimum tubuh Celine, tidak bisa dipungkiri lagi berakibat pada nyawa Celine. "Benar juga, Pangeran," usul Dion setuju dengan pendapat Genah. Mengingat hal itu pula, Darchen akhir mengurungkan niatnya untuk menghabisi orang yang memiliki sihir kuat tersebut. Dia takut jika terjadi khawatirnya itu membawa petaka bagi Celine. Bukannya menjaga malah membawa bencana. "Dion, kau berjaga di sini. Aku yakin dia akan datang kembali," perintah Darchen. Darchen setelah memerintah Dion dan Genah untuk terus memantau pergerakan dari orang misterius tersebut, dia kemudian pergi ke aula besar Kerajaan Athiam untuk menghadiri acara penting perihal perang besar yang ditaksir akan segera tiba. Dalam rapat tersebut membahas strategi utama dan cadangan apabila kelak terjadi perang antara manusia dan Yumiro. Tidak hanya itu saja, bahkan persiapan pakan dan pangan juga harus mereka pikirkan, sebab sesaat terjadi perang tersebut mustahil bagi penduduk dari kedua negara mendapatkan atau berburu seperti biasanya. Akan ada banyak rintangan dan kerusakan, termasuk itu tumbuhan dan hewan. Untuk itu, rapat tiga hari tiga malam yang akan terlaksana tersebut harus dipergunakan secara maksimal demi persiapan semasa perang nanti. Perang antar manusia dan Yumiro memang dulu sudah pernah terjadi. Untungnya saat itu bangsa manusia berhasil mengalahkan Pemimpin Yumiro dan berhasil mendapatkan kedudukan di bumi. Terjadi kira-kira seratus tahun silam. Namun, kematian Pemimpin Yumiro bukanlah seutuhnya menghabiskan nyawanya bersama sayatan pedang dari raja terdahulu, namun hanya melukai jasadnya saja, tapi menyisakan serpihan magis. Sehingga Pemimpin Yumiro masih bisa kembali hidup alias berengkarnasi. Meski tebakan para pendahulu mengatakan kalau kekuatannya tidak sekuat sebelumnya, namun ibarat kekuatan milik Pemimpi Yumiro itu adalah sekali kedipan matanya dapat menghancurkan setengah bumi. Jika diperkirakan apabila renkarnasinya sekarang dapat menghancurkan satu kerajaan. Hal itu menjadi ancaman besar bagi penduduk negeri. Mereka sibuk mencari cara demi menghabisi Pemimpin Yumiro berserta pasukan kecilnya. Sungguh mereka hanya menjadi pengacau di muka bumi. Bumi bukanlah tempat para Yumiro, namun mereka dengan egoisnya mengambil hak para manusia. Jika diingat kembali, mereka para Yumiro hanyalah perasaan dari manusia, mereka tidak nyata. Lantas mereka mengambil kepunyaan manusia padahal sudah jelas kalau mereka hanyalah perasaan yang harusnya jauh terbuang. "Sungguh membosankan," decak Celine. Dia pergi berkaca melihat wajahnya yang mulai mendingan, tidak bengkak lagi. Dia keluar dari kamarnya untuk menghirup udara segar. Lagi pula dia ingin bersatu dengan bintang-bintang. Dia merasa kalau dirinya adalah bintang di langit. Berada di tempat gelap, namun tetap terus berusaha bersinar meski tahu takdirnya hanya singgah di malam hari, dan lenyap di siang hari. "Nona Celine? Mengapa Anda keluar?" tanya Genah. "Ha? Kenapa ditanya? Aku ingin keluar," jawab Celine kebingungan. "Ada apa?" tanya Celine lagi. "Sebaiknya Anda masuk, Nona. Sebab keadaan sedang genting," jawab Genah. Celine tersenyum." Siapa yang bisa menyakitiku?" tanya Celine sombong. Sebab memang benar tidak ada yang bisa melukai dirinya. Bahkan Yumiro tidak bisa menyentuhnya. Hal apa yang perlu ditakutkan hanyalah Darchen seorang. "Tapi, Nona, sebaiknya Anda tetap menjaga diri," ucap Genah lagi. "Ya, aku tahu," jawab Celine malas mendengar ocehan Genah. "Nona, hamba terus terpikir akan keselamatan Anda. Hamba tidak ingin jika Nona Celine pergi dari hamba. Sebab tujuan hamba saat ini adalah menjaga Anda, Nona Celine. Jika tidak ada Anda, maka tujuan hamba hidup tidaklah jelas," terang Genah. Ucapannya itu teramat menyayat hati Celine. Dia begitu tersentuh, sebab betapa tulusnya Genah padanya. Dia tidak memiliki saudara, tapi akhirnya dia bisa merasakan kasih sayang dari seorang saudara. Genah bukan hanya teman bagi Celine, kini dia paham, bahwa Genah adalah saudara baginya. Tempat dia berbagi, tempat dia bercerita, semua pada Genah. "Ehmmm, Genah … romantis sekali," rengek Celine sambil berekspresi lebay. Dia memeluk Genah sambil melompat lompat kecil untuk mengapresiasi ketulusan Genah. "Maafkan hamba jika terlalu mengekang kebebasan Anda, Nona," kata Genah merasa bersalah sebab dia beranggapan bahwa dirinya telah banyak mengatur hidup Celine. Bahkan melarangnya berkeliaran selain daripada dengan pantauannya. "Tidak masalah. Aku bahkan senang dikekang, jadi aku bisa membangkang," balas Celine. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak. "Ingin kemana kau?" Suara Darchen terdengar dari arah Dion berdiri. Tampak dia lebih ketat dibandingkan hari lalu. "Apa dia sudah lupa dengan mukaku yang bengkak tadi?" tanya Celine dalam benaknya. Mengapa tidak, baru saja terjadi sore tadi. Bahkan matanya masih berkedut-kedut karena menangis. "Kau hendak kemana?" tanya Darchen lagi seraya berjalan ke arah Celine dan Genah. "Ehm, ti-tidak ada. Hanya … hanya menyapa mereka," jawab Celine mencari alasan. "Masuk," suruh Darchen dengan muka dingin. "Ha? A-Aku hanya … hanya ingin menghirup …." Kalimatnya langsung terpotong. "Masuk," perintah Darchen tanda berkedip sama sekali. Celine berubah ekspresinya menjadi cemberut, sebab Darchen seolah mengacuhkan keinginannya. Dia hanya ingin menghirup udara dingin malam, sebab sudah lama dia tidak duduk di kursi dekat pohon taman, seorang diri. "Nona Celine, mari masuk bersamaku," ajak Genah. Ganeh inisiatif mengambil cara untuk membuat Celine mendengar perkataan Darchen. Jika tidak, mereka akan terus bertengkar, dan Celine akan depresi murung dan memenjarakan diri di dalam kamar. Hal itu membuat Genah pusing dengan tingkah Celine yang berubah-ubah. Daripada menonton mereka berdua saling suruh menyuruh, sebaiknya Genah menengahi mereka dengan mengajak Celine masuk bersama dengan dirinya ke dalam kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD