Festival Hyros

1569 Words
"Genah!!!" teriak Celine. Dia memeluk Genah sambil berteriak-teriak keras karena bangga dan salut melihat wanita itu teramat cantik. Bahkan wajahnya tidak bisa dibandingkan dengan Genah saat sedang memakai riasan. "Nona?" Genah yang tidak bisa tersenyum itu sama sekali hanya bisa terdiam kaku. Dia dengan ekspresi tidak nyamannya mengernyih pada Celine. Melihat pakaian Genah yang begitu sederhana. Celine langsung mengambilkan gaun baru miliknya yang tercantik, lalu mendesak Genah untuk mengganti pakaiannya itu. "Hamba tidak bisa memakai ini, Nona," tolak Genah tidak enak. "Huss … jangan membantah," elak Celine tidak menerima alasan apapun dari Genah. Dia memaksa agar Genah mengganti pakaiannya segera, agar mereka bisa cepat sampai di lokasi festival. Setelah gaun merah gelap itu dikenakan Genah, seolah seisi ruangan menyatu padanya. Setiap pose dan ekspresi yang dia keluarkan, terlihat natural dan indah. Sangat cantik. Badannya yang ramping membuat gaun itu terlihat mencolok bagus. Ditambah lagi dengan hiasan bunga camelia. Membuat dirinya menjadi salah satu pusat perhatian malam festival Hyros. Celine yang bangga melihat Genah yang cantik jelita, langsung tersenyum lebar. Dia dengan semangatnya menggandeng tangan Genah. Lalu dengan riang gembiranya menaiki kereta kuda. Saat di kereta, Celine hanya memuji-muji Genah sajam. Bibirnya komat-kamit melontarkan pujian berulang kali. Dia berdecak kagum setelah sadar ternyata Genah adalah guci cantik yang selama ini tertutupi debu, hingga keindahannya tidak tampak. Bahkan sudah sampai di lokasi festival Hyros, Celine masih saja memuji Genah. "Ya ampun, Genah, kau cantik sekali. Posemu sepertinya bisa dijadikan model majalah," ucap Celine sambil menutup matanya sebelah sambil membentuk jari seperti persegi panjang, yang dibidikkannya ke arah Genah. "Nona, hamba tidak nyaman," desis Genah sambil menarik gaunnya yang begitu menyiksa dirinya. Dia merasa agak susah bernafas karena baju yang menghimpit tubuhnya. Belum lagi karena pewarna bibir yang dioleskan Celine padanya. Membuatnya teramat sulit untuk berbicara, apalagi tersenyum. "Hahaha … nanti juga akan terbiasa," ledek Celine sambil tertawa. Dia menarik tangan Genah untuk masuk ke dalam, menikmati malam yang begitu indah. Langit yang kabut hitam, terhiasi terang oleh lilin jalanan yang diletakkan di setiap pinggir pertapakan. Lentara yang disangkutkan di atas pepohonan, membuat malam terasa hangat meski angin malam menerpa semua. Bambu kuning yang menjadi latar dari festival Hyros itu, seakan menghancurkan kesepian dalam diri. Kerumunan orang ramai, membuat hati terhibur. Anak-anak yang saling berkejaran dengan tawa riang, sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan dengan senyum meluluhkan, sekelompok wanita dan pria yang saling bersenda gurau, semuanya tampak bahagia. Kesedihan dalam benak Celine seakan ikut terimbun dalam senyum yang ia tunjukkan. Seolah tidak ada masalah dan beban hidup dalam dirinya. Melihat betapa riangnya semua orang, membuatnya enggan menampakkan wajah sedihnya. Dia seakan diajak untuk menabur senyum ke setiap orang. "Nona, apa kita bisa beli lentera sana?" tunjuk Genah ke arah pedagang yang menjual beberapa lentera cantik. "Tentu saja," angguk Celine menyetujui. Pada festival Hyros semua orang membawakan sehuah lentera yang bertujuan untuk menerangi malam yang gelap. Selain itu, membawa lentera di hari festival Hyros juga diartikan sebagai pemberian keceriaan pada orang lain. Guna untuk menghapus segala kesedihan dan mengubur harapan yang tidak tercapai. "Wah, aku suka yang itu, sama seperti kalungku," decak Celine sambil tersenyum melihat ukiran tempat lentera itu sama dengan bingkai liontinnya. "Mata Anda sangat jeli, Nona," puji Genah. Mereka membeli satu seorang lentera itu. Dengan senyum yang tidak pudar, mereka menjinjing lentera itu kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke pusat lokasi festival, dimana pesta kembang api dan mercusuar akan dimulai. "Kapan acaranya kembang apinya dimulai?" tanya Celine yang sudah tidak sabar menunggu waktu kembang api melukis langit. Dia sudah lama tidak melihat keramaian yang begitu cantik seperti malam festival Hyros. Dulu di dunia nyata, dia selalu menyaksikan kembang api tahun baru dengan Lyn saja. Tapi kini, di dunia berbeda itu, dia dapat menyaksikannya lagi, meski tidak harus bersama dengan Lyn. "Mungkin masih agak sedikit lama, Nona," jawab Genah. "Aish … padahal aku sudah tidak sabar," decak Celine. Dia dari tadis sudah menunggu kembang api itu ditembakkan oleh orang-orang. "Atau kita berjalan-jalan lagi, Nona?" tanya Genah. "Baiklah," angguk Celine. Saat mereka baru saja hendak ingin melangkah pergi, tiba-tiba Dion, panglima kepercayaan Darchen, muncul di hadapan mereka. Berpapasan dengan tidak ada unsur kesengajaan. Mereka alami bertemu di sana tanpa direncanakan terlebih dahulu. Saat melihat Dion, Genah langsung mati kaku. Dia terlihat canggung dan menutupi dirinya dari pandangan Dion. Dia seolah tidak ingin Dion melihat dirinya dengan riasan dan pakaian seperti itu. "Celine," sapa Dion. "Astaga! Dion … ternyata kau sempat menghadiri festival, yah, hahaha …," ledek Celine sambil tertawa akrab pada Dion. "Hmmm." "Oh, yah, kau tampan sekali dengan pakaian kasual itu," puji Celine sambil tersenyum. Matanya yang melebar saat melihat pria tampan sangat jelas sekali. "Terima kasih, kau juga sangat cantik malam ini," puji Dion balik. "Apa aku hanya cantik malam ini saja?" tanya Celine bersenda gurau. "Tentu saja tidak," jawab Dion sambil tersenyum. "Genah … kau juga sangat mempesona hari ini," puji Dion pada Genah. Seketika muka Genah memerah. Dia tidak bisa menutupi rasa canggungnya pada Dion. Seolah hatinya bergemuruh di dalam sana. Perasaannya bercampur aduk. Dia hampir kepanasan akibat pujian yang dilemparkan Dion padanya. "Oh iya, dia sangat cantik, aku saja sampai terpesona," timpal Celine menambah pujian pada Genah. "Te-Terima … kasih," jawab Genah sambil menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah. Celine yang sadar akan sesuatu pada Genah, langsung paham. Dia baru sadar kalau Genah malu saat dipandangi Dion. Tingkahnya seakan kaku saat pria itu datang. Meski Celine tidak melihat ekspresi wajah Genah saat ini, namun ia bisa lihat daru daun telinga Genah yang memerah. Belum lagi karena tangannya yang tidak bisa diam, membuat Celine tahu kalau Genah sesungguhnya sedang gugup saat melihat Dion. "Eh … sepertinya ada yang tertinggal di sana, aku ambilkan dulu," kata Celine berpura-pura. "Noa, apa Anda perlu hamba temani?" tanya Genah. "Tidak perlu, aku hanya sebentar," teriak Celine sambil berlari meninggalkan Genah dan Dion berdua. Dia sengaja melakukannya agar Genah lebih banyak menghabiskan waktu dengan pria tersebut. Sebab dia yakin, kalau sebenarnya, Genah menyukai Dion. Hanya saja dia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada panglima kerajaan tersebut. "Jaga Genah sebentar yah, Dion!" teriak Celine lagi sambil melambai dan berlari meninggalkan mereka. Rencana untuk membiarkan kedua orang itu bersama telah selesai. Celine akhirnya sadar, kalau dia tidak memiliki tujuan setelah itu. Di keramaian kota, dia hanya sendiri tanpa tahu harus melakukan apa. Mukanya yang pangling tampak jelas terlukis. Dia menatap setiap orang di sana kemudian menyalip kerumunan agar tidak terlihat menyedihkan. Dia takut diculik jika terlihat panik. Apalagi di tempat ramai seperti ini. Biasanya para pencuri berkeliaran mencari mangsa. Tiba-tiba seseorang menarik bajunya dari belakang. Spontan Celine langsung berbalik dan melihat siapa yang sudah menarik bajunya. "Astaga! Joel?! Buat kaget saja," decak Celine terkejut. Hatinya lega ketika tahu orang yang menarik bajunya adalah Joel. "Kakak." Joel melompat girang meminta Celine untuk menggendong dirinya. Setelah Celine mengangkat tubuhnya, Joel langsung mendekap erat Celine dan tidak mau melepaskan dekapannya. "Kenapa kau bisa menemukanku?" tanya Celine sambil mengelus kepala Joel. "Aku datang bersama ayahku, tapi dia tidak terlihat, jadi aku mencarinya. Tidak sengaja aku melihat Kakak, jadi aku kejar saja," jelas Joel dengan wajah yang serius. Bibirnya yang kecil terlihat sangat menggemaskan saat berbicara serius. Hingga Celine tertawa melihat Joel yang tengah bicara. "Aku tidak yakin ayahmu meninggalkanmu, pasti kau kabur kan dari dia?" tebak Celine menduga. Dia sudah tahu betul sifat Joel terhadap ayahnya. Selalu saja menyulitkan Alan. Padahal Alan begitu peduli pada Joel, hanya saja tidak bisa berlaku lembut seperti ibu. Sebab dia adalah ayah yang gunanya memberi perlindungan. "Ih Kakak, ayahku benar-benar tidak terlihat. Kenapa kau lebih membela dia daripada aku?" rungut Joel. "Ya ampun, bocah ingusan. Masih kecil sudah merajuk begitu," ledek Celine sambil mencubit hidung Joel yang mancung. "Ah … ah … sakit Kakak," desis Joel sambil memegang tangan Celine pertanda kalau dia menyerah. Kisah sebenarnya adalah Joel bersikeras meminta ayahnya untuk menemaninya datang ke festival Hyros bersama. Alan sangatlah sibuk. Namun tetap saja Joel merengek meminta datang bersama dengannya. Karena permintaan dari anaknya yang rewel itu, terpaksa Alan meninggalkan segala urusan bisnisnya. Setelah berada di lokasi festival Hyros, Alan tidak sengaja melihat Celine. Karena takut anaknya akan mengusahakan wanita itu, Alan berusaha agar jangan sampai mata anaknya melihat Celine. Dia terus mengalihkan Joel. Namun entah itu karena intuisi atau ikatan batin, Joel menyadari keberadaan Celine di tempat itu. Alan sudah menariknya untuk tidak menganggu Celine, tapi anaknya yang nakal itu tidak mendengarkan perkataan dari mulutnya. Alan sudah menggendong dirinya untuk menjaga keamanan agar dia tidak lepas dari pantauan Alan, dan tentunya tidak menggangu Celine. Dengan cerdiknya, Joel malah berpura-pura ingin buang air kecil, sampai Alan melepaskan anaknya tersebut. Kemudian dengan cepat Joel berlari ke arah Celine dengan langkah tergesa-gesa. Bahkan Alan sampai kewalahan mengejar anaknya, sebab kerumunan manusia banyak yang menghalangi jalannya. Pletak! Celine dengan muka datar tidak berperasaan menjetik telinga Joel dengan keras. Sampai anak itu meraung keras sambil menggosok-gosok daun telinganya yang memerah. Nyeri yang dia rasakan tidak hilang-hilang sangking sakitnya. "Nakal lagi, anak nakal?!" amuk Celine mengajar Joel agar bersikap lebih patuh pada ayahnya, Alan. "Ampun, Kakak. Aku janji setelah ini tidak akan mengulanginya lagi," ucap Joel meminta maaf. "Janji janji … masih kecil sudah memberi janji busuk! Kalau terulang lagi, awas!" "Kakak … ampun, aku janji. Huhuhu … kenapa aku malah disalahkan," rengek Joel. Untuk mengambil simpati Celine, Joel memegang tangan wanita itu dengan erat dan tidak melepaskannya. Dia bertingkah seolah takut dengan kerumunan orang, agar Celine merasa iba padanya. Mereka berjalan menyusuri lokasi yang dipagari bambu-bambu yang tinggi berwarna hijau, sekalian melihat lilin-lilin yang hangat dan berbau sedap. "Kakak …," panggil Joel. Dia berhenti berjalan dan menahan Celine agar tidak melangkah lebih jauh lagi. "Hmmm?" Celine menoleh keheranan ke arah Joel. "Ada paman itu di sana," bisik Joel dengan suara pelan. "Paman mana?" tanya Celine dengan mata yang menjajali setiap orang di sana. "Sana!" unjuk Joel. Ternyata tangannya yang kecil itu sedang menunjuk ke arah Darchen. Tampak pangeran itu sedang berdua bersama dengan Erica. Mereka tampak dekat sampai banyak orang yang berkusip membicarakan mereka. Pusat perhatian menjadi milik mereka. Sampai banyak orang yang lebih fokus pada kedunya dibandingkan dengan acara festival Hyros tersebut. Sebagian memuji keduanya sebab tampak serasi. Sebagiannya lagi, berdecak kesal sebab pangeran mereka sudah memiliki pasangan, hingga mereka tidak ada kesempatan lain lagi untuk menyalip, terutama karena saingannya adalah Putri Erica. "Cih, dasar manusia bodoh!" umpat Celine dengan muka kesal. Dia dengan mata tajamnya melirik kemesraan keduanya. Hatinya yang sempit itu kemudian memanas melihat Darchen dan Erica. Seakan dia sudah tidak berselera lagi untuk tetap berlama-lama di sana. Terutama melihat keduanya begitu dekat tak terpisahkan. "Miifkin iki, nyenyenye …," ledek Celine menirukan model perkataan Darchen saat itu. Ketika Darchen datang dan meminta maaf atas keterlambatannya melihat keadaan Celine saat dia masih diterpa sihir yang membelenggu. "Kakak sedang mengejek siapa?" tanya Joel. "Siapa lagi kalau bukan pamanmu sana. Dia sungguh menjengkelkan," lontar Celine dengan kesal. "Aku sampai muak melihat mereka," sambung Celine dengan kesalnya. Matanya yang julit itu tampak penuh dengan kecemburuan. Hanya saja dia menyelimutinya dengan amarah dan muak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD