Melihat Celine kesal melihat Darchen dan Erica berdekatan, Joel pun akhirnya terikut merasa jengkel dengan mereka. Dengan lantang, Joel mendekati Darchen membawa tampang murkanya.
"Joel!!!" teriak Celine memanggil Joel yang berlari ke arah Darchen dan Erica.
Joel tidak mendengarnya sama sekali. Anak itu terus berlari dengan kencang. Padahal Celine sudah teriak-teriak memanggil namanya, namun sama sekali anak itu tidak menorehkan dirinya.
"Pantas saja ayahmu tidak melepaskanmu di keramaian, ternyata ini sebabnya," umpat Celine sambil ngos-ngosan mengejar Joel. Mulutnya masih tidak henti memanggil anak itu. Dia berharap agar Joel tidak berbuat onar pada mereka.
Namun harapannya telah sirna. Celine terlambat mengejar Joel yang amat gesit itu.
"Paman!" teriak Joel dengan mulut yang mengerucut.
"Siapa kau?"
"Pangeran, siapa anak ini?" sambung Erica dengan senyum palsu di wajahnya. Seolah dia suka dengan anak kecil, padahal sesungguhnya ia teramat benci dengan mereka.
"Kenapa kau jahat sekali pada kakakku?!" senggak Joel dengan suara nyaringnya yang begitu kecil. Anak itu dengan berani menyenggak pangeran kejam. Dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.
"Kakak?" Sejenak Darchen memikirkan dan mencoba mengingat wajah anak itu di dalam memorinya. "Kau Joel," tebak Darchen.
"Iya, aku tidak suka Paman terus menyakiti kakakku. Kemarin kau mengamuki dia karena dekat denganku, kau marah aku merebutnya darimu, tapi kau hanya bisa menyakiti dia saja! Mulai sekarang dia adalah milikku, dia akan tinggal di rumahku," tegas Joel dengan bijak. Wajahnya yang serius teramat lucu dilihat. Namun dibalik mukanya itu terdapat kata-kata bijak yang mana orang dewasa sekalipun tidak terbesit untuk mengucapakan kalimat tersebut.
"Aku tidak akan memberikan dia padamu," balas Darchen dengan nada ketus.
Sementara Erica yang masih terawang-awang dan mencoba membaca situasi mereka, dia baru sadar kalau mereka sedang memperebutkan Celine.
Seketika dia tidak senang. Dengan tampang sok polosnya, Erica menyentuh kepala Joel sambil mengelus rambutnya dengan pelan. Dia tersenyum seraya berkata,"Adik manis, siapa namamu?"
"Awas, jangan sentuh aku!” senggak Joel tidak suka Erica memegangnya. Dia benci dengan wanita itu. Sebab dia tahu kalau hati Erica sangat busuk. Entah mengapa Joel sangat cerdik dalam memilih orang. Dia hanya ingin dekat dengan orang baik saja.
"Darchen, dia kasar sekali," adu Erica sambil menampakkan wajah memelas lemah. Dia berpura-pura agar Darchen menghukum anak tersebut.
"Joel, dimana ayahmu?" tanya Darchen.
"Aku tidak tahu," jawab Joel singkat.
"Dimana ayah ibumu, apa mereka tidak mengurusmu?" tanya Erica sambil bersimpuh dan mensejajarkan tinggi mereka. "Dasar anak busuk!" bisik Erica. Dia kemudian berdiri lalu berpura-pura iba pada Joel. "Pantas saja dia nakal, ternyata ayah ibunya tidak mengurusnya," ucap Erica dengan lancang.
"Heh! Jaga ucapanmu! Enak saja kau bilang tidak diurus, susah payah aku mengasuh dia dan kau bilang aku tidak mengurusi dia?! Tidak sopan," amuk Celine dengan muka mengerikan. Dia teramat sakit hati saat mulutnya yang licik itu menghina Joel. Belum lagi karena dia sudah benci melihat Darchen dan Erica bersama.
"Celine? Jadi … kau ibunya?" simpul Erica berpura-pura tidak tahu.
"Terserah ibunya kek apanya kek, yang penting mulutmu jangan lancar sekali mengatai dia tidak diurus!" Dengan lemes Celine menghadapi setiap kata-kata sindiran dari Erica.
"Maafkan aku, Celine. Hanya saja dia memang nakal," tambah Erica.
"Nakal kau bilang?! Apa kau sangat baik dulu makanya bisa mengatai orang nakal, ha?! Namanya saja anak-anak, dia tidak paham. Harusnya kau mengajarinya dengan lembut, bukan malah menghujatnya," serang Celine balik.
Joel memeluk kaki Celine dengan erat sambil menunjukkan wajah memelas. Dia seperti ketakutan dan meminta bantuan perlindungan dari Celine.
"Kakak, jangan bertengkar. Aku akan minta maaf pada mereka," ucap Joel dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak perlu, mereka terlalu sibuk dengan urusan percintaan, hingga lupa menyayangi orang lain," sindir Celine.
"Ini salahku, aku hanya ingin agar Paman Darchen membiarkanmu tinggal bersamaku. Tapi wanita sana malah mengatakan aku anak busuk," timpal Joel dengan rasa bersalah teramat.
"Untuk apa meminta izin darinya, malam ini juga Kakak akan tinggal bersamamu," ucap Celine dengan suara keras. "Oh, yah, Putri Erica yang baik hati, sebaiknya mulut itu dijaga, jangan asal mengatai orang seperti itu. Menurutmu kalau dia anak busuk, lalu kau yang benar-benar busuk disebut apa?" rutuk Celine dengan mata tajam penuh kebencian.
"A-Apa? Aku tidak mengatakan apapun tentang dia. Anak itu berbohong!"
"Aku sebenarnya ingin sekali menjambak rambutmu, menyobek bibirmu, mencakar wajahmu, memotong lidahmu, semuanya ingin kulakukan. Tapi aku masih bersabar. Sebaiknya kepalamu jangan dijadikan hiasan saja, gunakan sesuai fungsinya. Apa kau kira anak kecil bisa berbohong?" peringat Celine dengan wajah serius. "Ayo, Joel, kita pergi dari sini!" panggil Celine. Dia memegang tangan anak itu, lalu beranjak pergi dari hadapan mereka.
"Ce …." Saat Darchen baru saja memanggil Celine dan berniat menghampiri wanita itu, Erica langsung menarik tangannya. Lalu menahan Darchen bersamanya. "Jangan pergi, Pangeran," ucap Erica dengan suara yang sengaja dilemahkan.
Sementara Celine yang naik darah akibat hal tadi, hanya bisa menggerutu dalam benaknya saja. Mukanya yang masam itu tampak jelas oleh Joel.
"Kakak, maafkan aku," pinta Joel.
"Hahaha … kerja bagus, Kakak jadi bisa melampiaskan emosi padanya," jawab Celine sambil tertawa.
"Aku juga tidak menyukai dia," tambah Joel.
"Heh, tidak boleh marah begitu!" nasehat Celine.
"Aku tidak suka padanya, sebab Kakak membencinya," terang Joel dengan bibir yang mengerucut.
"Kakak hanya kesal saja, bukan benci," ujar Celine sekaligus membela diri.
"Beda kesal dengan benci apa, kalau boleh tahu?"
Suara seorang pria terdengar dari belakang mereka. Spontan Celine dan Joel langsung berbalik melihat ke arah belakang.
"Ayah?!"
"Alan?!"
Ucap mereka bersamaan.
"Bedanya, yah? Kalau kesal, berarti marah akan satu hal, sedangkan benci, karena kecewa," jelas Celine dengan bijak.
"Hmmm … kata-kata yang bagus," puji Alan.
"Terima kasih. Oh yah, Alan, maafkan aku karena tidak datang berkunjung. Aku sedang sakit."
"Aku tahu, tidak apa-apa," jawab Alan memaklumi.
"Dari mana kau tahu?" tanya Celine keheranan.
"Aku menanyakannya langsung pada Dion," jawab Alan.
Ternyata beberapa hari yang lalu, Alan didesak Joel untuk membawa Celine ke tempatnya. Sebab itu dia langsung datang untuk menjemput Celine. Hanya saja saat hendak masuk dan memanggil Celine. Dion tiba-tiba saja datang dan memberitahu padanya kalau Celine sedang sakit.
Karena tahu akan hal itu, Alan melarang Joel untuk menyusahkan Celine tadi. Sebab dia tahu kalau wanita itu baru saja siuman dari sakitnya.
"Ayah, Kakak akan ikut bersama kita nanti. Dia akan tinggal mulai malam ini!" riuh riang Joel menceritakan pada Alan.
"Apa kau memaksa Kakak?" tanya Alan curiga.
"Tidak, aku yang mengatakan padanya tadi," bela Celine.
"Kau tidak perlu mendengarkan ocehannya. Jika memberatkan, kau tidak usah berusaha menuruti dia," timpal Alan yang takut menyusahkan Celine. Anaknya yang begitu keras kepala itu, sungguh membuatnya sakit kepala.
"Joel tidak memaksaku," kata Celine.
"Maaf telah menyusahkanmu, Celine."
Saat mereka bercerita, tiba-tiba suara terompet yang kuat terdengar keras di telinga. Pertanda kalau acara festival Hyros sudah dimulai. Artinya setiap orang dipersilahkan berdoa kepada Yang Kuasa meminta semua yang mereka inginkan. Konon katanya, ketika festival Hyros berlangsung, dan kita memanjatkan doa, maka permintaan itu akan terkabul. Sebab itu orang berbondong-bondong menghadiri acara tersebut.
Terompet kedua berbunyi, artinya setiap orang sudah bisa mengikatkan jimat keberuntungan di bambu yang berjejer di sepanjang lokasi festival Hyros. Jimat itu dapat dibeli pada para pedagang yang bersusun rapi di sebelah festival itu berada.
"Kakak, apa kau ada kertas jimat?" tanya Joel.
"Tidak," jawab Celine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayah, belikan aku dan Kakak kertas jimat," perintah Joel dengan semangat.
"Kenapa tidak kau saja yang beli?" timpal Alan ketus.
"Hahaha … biar aku saja yang beli," gelitik Celine tertawa.
"Aku ikut!" sorak Joel.
Setelah kertas itu telah dibacakan doa, mereka mengikatkannya di lembar bambu yang berjejer rapi. Setiap bambu telah diisi oleh jimat kertas tersebut. Hingga saat dipandangi terlihat sangat indah.
"Apa yang Kakak minta?" tanya Joel penasaran.
"Agar semuanya cepat berlalu," jawab Celine sambil menghela nafas. "Lalu, kau meminta apa?" tambah Celine menanyakan.
"Aku minta banyak sekali. Aku berdoa agar Kakak dan Ayahku bisa menemaniku bermain. Aku meminta agar ibuku tidak perlu datang lagi, dan digantikan dengan Kakak," ucap Joel dengan polos.
"Sopankah begitu?" Seseorang menimpali perkataan Joel. Dari kumpulan orang-orang itu, mereka melihat bahwa ternyata yang berbicara itu adalah Darchen.
"Paman?"
Joel langsung memegang tangan Celine dan melemparkan tatapan hati-hati pada Darchen. Dia menganggap Darchen bak saingan. Hingga apabila Darchen datang, dia takut kalau pamannya itu mengambil Celine darinya.
"Salam pada Pangeran," sapa Alan.
Celine yang masih sakit hati, pura-pura tidak menghiraukan Darchen. Dia langsung membuang muka dan menghindari Darchen.
"Kakak Celine akan tinggal bersama kami dari sekarang, jangan mengambilnya dariku!" peringat Joel sambil menghadang Celine berniat untuk melindungi wanita itu.
"Joel, jaga ucapanmu!" nasehat Alan.
Tanpa basa-basi lagi, Darchen langsung menarik tangan Celine dari Joel. Namun Joel yang tidak takut apapun itu, menarik Celine lagi.
"Lepaskan aku!" senggak Celine sambil menepiskan tangan Darchen.
Celine pergi dari hadapan Darchen dengan menggandeng tangan Joel. Dia tidak ingin berlama-lama menatap wajah Darchen yang membuatnya muak dengan semua ucapannya.
"Aku mohon pamit, Pangeran," ucap Alan.
Alan mengikuti langkah Celine dan Joel kemudian. Dari belakang dia mengawal anak dan wanita itu. Bibirnya dengan sendirinya tersenyum melihat Celine dan Joel. Seakan kehangatan lahir kembali di dalam keluarganya setelah lama membeku.
Namun dia sadar semuanya hanya sementara. Darchen tiba-tiba datang menghentikan langkah mereka.
"Apa maumu?!" tanya Celine dengan suara keras.
"Kakak," hambat Joel menahan Celine. Tapi karena tahu posisi, Alan langsung menarik anaknya itu untuk tidak mengikut campuri persoalan Darchen dan Celine.
"Ikut aku, atau perlu kugendong lagi?" ucap Darchen memilihkan pada Celine.
"Jangan mengancamku!" tegas Celine.
Karena melihat Celine yang menganggap Darchen tidak sedang serius, akhirnya dia membuktikan perkataannya. Darchen mengangkat tubuh Celine. Dia menggendong wanita itu dan membawanya pergi menjauh dari kerumunan orang ramai.
"Turunkan aku! Darchen, b******n!"
"Apa kau sangat ingin menarik perhatian orang banyak? Sebab itu kau bertingkah seperti itu?" ucap Darchen.
Celine langsung melihat sekeliling. Ternyata banyak mata yang tertuju pada mereka. Semuanya sedang menatap mereka. Banyak sekali bibir yang membicarakan mereka. Karena merasa malu, Celine langsung menutup wajahnya dan menyembunyikannya dengan cara memeluk Darchen.
"Kenapa kau terus menyiksaku," decak Celine dengan muka memerah karena malu sebab banyak mata yang memandang mereka.
Darchen tidak menurunkan Celine bahkan sudah keluar dari zona festival Hyros. Darchen membawa Celine ke sungai yang begitu jernih. Udara yang begitu dingin membuat tulangnya menginginkan kehangatan. Bulan yang besar membuat pemandangan malam terasa sunyi. Sangat indah namun menyiksa. Mereka berdiri di atas jembatan kayu melengkung.
Darchen kemudian menurunkan tubuh Celine lalu menatap ke arah bulan yang utuh.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Celine ketus.
Sebelum pertanyaan darinya terjawab, suara terompet ketiga terdengar. Artinya kembang api dan mercusuar siap untuk diletuskan ke atas langit.
Waktunya begitu pas. Seakan semuanya telah direncanakan. Mengapa ketika momen bahagia itu, harus Darchen yang ada di hadapannya. Celine tidak senang, namun harus dengan kata apa lagi dia menolak. Sebab hatinya merasa lega. Meski penghianatan itu masih terasa, tapi ia tidak lagi resah.