Di bawah sinar sang rembulan, Darchen terlihat sangat tampan. Bagai mimpi indah ketika membayangkan wajahnya. Seakan cahaya bulan itu tidak kalah banding dengan dirinya. Matanya yang cantik membuat pandangan tertuju padanya. Celine sampai terpelongo melihat Darchen ketika sedang memandang ke atas langit.
Bersamaan dengan itu, kembang api memeriahkan bintang-bintang yang bertebaran di atas langit. Sangat mempesona, seakan sudah menyatu dengan diri. Terasa dekat dan dapat digenggam. Meski semuanya hanyalah perasaan sesaat saja.
Layaknya kembang api yang indah, begitu pula juga kebahagiaan. Sangat indah, tapi singkat. Setelahnya hanya tinggal serpihan ingatan saja. Hanya tinggal kenangan yang membelenggu saja. Semuanya akan segera menghilang.
Celine tersenyum melihat kembang api itu. Dia sadar bahwa semuanya akan menghilang ditelan waktu. Semuanya akan ditinggalkan ketika batasan yang telah ditentukan.
"Bukankah indah?" tanya Darchen pada Celine dengan mata yang masih terfokus pada kembang api.
"Hmmm, sangat indah. Tapi sangat singkat," celetuk Celine. Matanya bukan menata kembang api melainkan wajah Darchen.
"Aku sudah pergi ke bukit Teris," ucap Darchen.
"Kapan kau pergi?"
"Kemarin," jawab Darchen singkat.
"Bu-Bukannya kau bilang … akan pergi bersamaku?" tanya Celine mengingat perkataan Darchen saat itu padanya ketika mereka berada di kastil.
"Dia tidak tahu tentang asal duniamu," ucap Darchen.
"Aku sudah menduganya," timpal Celine dengan nada sedikit kecewa.
"Namun ada satu hal yang harus kau tahu," sambung Darchen.
Dia mulai menceritakan pada Celine kebenaran sesungguhnya. Alasan dia menjauhi Celine, alasan dia berubah sikap terhadap Celine. Semuanya bukanlah karena keinginannya. Dia melakukannya hanya semata demi keselamatan Celine.
Jadi Tuan Jing mengatakan padanya, bahwa Celine memiliki kekuatan sihir yang terbelenggu oleh segel yang teramat kuat. Sihir itu tidak akan aktif kecuali dua hal, salah satu diantaranya karena sihir Darchen sendiri. Ketika dirinya dekat dengan Celine, melakukan sentuhan yang melibatkan perasaan, maka sihir yang terbelenggu di dalam hati Celine akan terkikis seiring dengan waktu. Jika mereka terus dekat, maka tidak ada yang bisa menjamin kekuatan Celine yang mengerikan itu dapat membahayakan orang lain ataupun dirinya sendiri.
Untuk itu Darchen tidak ingin kalau Celine terluka sedikit pun. Hingga ia memutuskan agar tidak pernah lagi berurusan dengan dirinya. Mereka tidak perlu berdekatan. Dia juga sangatlah tersiksa dengan batasan yang dia buat sendiri. Namun demi wanita itu tetap terjaga aman, Darchen menyimpan keegoisannya itu sendiri.
Awalnya Darchen tidak yakin dengan yang dikatakan Tuan Jing padanya. Sampai akhirnya dia membuktikannya sendiri. Malam saat dia pulang ke istana, dia langsung mempraktekkan langsung. Dia mencium Celine dengan gairah, dan ternyata benar. Celine seolah sedang menyerap semua kekuatan yang ada pada tubuhnya. Bahkan tulangnya terasa sakit akibat serapan energi yang ganas.
Hanya Celine seorang saja yang memiliki sihir itu untuk beberapa periode. Sudah lama jenis magis itu menghilang dari permukaan bumi, namun sekarang ada seseorang yang mewarisi.
"Tidak mungkin," rintih Celine tidak percaya dengan yang dikatakan Darchen. Dia belum sepenuhnya meyakini bualan dari orang-orang di sana. Dia benar hanyalah manusia biasa. Tidak ada sedikit pun percaya pada hal tidak logis seperti yang dikatakan Darchen. Namun dia kembali sadar, bahwa kedatangannya ke dunia itu juga merupakan ketidak logisan.
"Apa kau sudah tanyakan padanya cara pulang ke dunia ku?" tanya Celine sambil menampakkan raut wajah sedih.
"Tidak," jawab Darchen sambil menunduk. Seolah dia sedang menutupi sesuatu hal. Hanya saja dia tidak menyampaikan pada Celine.
"Aku tahu ada yang kau sembunyikan. Katakan dan jangan menutupi semuanya seolah kau sedang mengasihaniku! Aku tidak butuh!" amuk Celine. Dia sudah lelah terus-terusan diberi harapan oleh Darchen. Dia sudah tidak ingin lagi semakin dalam masuk ke liang kegelapan.
Darchen terdiam tidak mengatakan apa-apa. Dia terus memandang langit dengan gemuruh suara kembang api dan mercusuar. Dia tidak menoleh sama sekali.
"Bukankah katamu aku akan hancur jika berciuman denganmu?" tanya Celine dengan muka nekat ingin melakukan sesuatu.
Darchen langsung berbalik. Dia menatap Celine dengan mata setengah terkejut.
Melihat reaksi dari Darchen, Celine tahu jawabannya. Benar kalau mereka tidak diperbolehkan untuk saling berdekatan akibat gaya tarik magis yang bertolakan. Selain itu, segel dalam diri Celine dapat terbuka jika bersentuhan langsung dengan Darchen.
"Cih, ternyata benar," decak Celine dengan muka tampak muak.
Dengan nekat, Celine berjalan dengan langkah berani mendekati Darchen. Dia menarik kerah baju pria itu lalu berjinjit menyetarakan tinggi badannya dengan Darchen. Dia mencium bibir Darchen dengan inisiatif untuk mengaktifkan magis yang ada di dalam tubuhnya, jika memang benar adanya magis itu.
Darchen langsung menjauh dari Celine dan menghindari ciuman yang diberikan Celine. Dia tidak ingin kalau segel itu aktif dari tubuh Celine.
"Dasar b******k! Kenapa kau menghindar? Apa hanya kau yang bisa sesuka hatinya mencium bibirku, lalu mengacuhkanku?" rutuk Celine dengan mata memerah.
"Berhentilah!" tegas Darchen yang tidak ingin Celine terluka sama sekali.
Melihat Darchen yang bersikeras menghindari dirinya. Membuat Celine tidak sabaran lagi dengan tingkah pria itu. Kemarahannya seolah dipancing oleh pangeran tersebut.
Tidak pikir panjang, Celine membuka gaunnya, sampai dari leher hingga ke pusat terlihat jelas oleh Darchen. Dibantu penerangan bulan, Darchen dengan tangkas menangkap pemandangan Celine dengan jelas.
"Apa yang kau lakukan?!"
Celine menarik Darchen mendekat ke arahnya. Lalu dengan bringas, dia membuka kancing baju pangeran itu tergesa-gesa. Hingga satu kancing bajunya rusak karena Celine terlalu keras menariknya.
"Celine," panggil Darchen mencoba menyadarkan wanita itu. Dia memperbaiki baju wanita itu agar tubuhnya tertutup kembali.
Namun Celine yang sudah dipenuhi amarah kekesalan, tidak mendengarkan Darchen sama sekali. Dia malah membuka gaunnya hingga tubuhnya semakin terlihat.
"Kau bisa terkena angin malam," kata Darchen penuh perhatian.
"Lepaskan!" senggak Celine.
Celine berjinjit lagi, dan mulai mencium bibir Darchen. Tangannya meraih leher Darchen, kemudian melingkarkannya di sana. Dia sambil menutup mata menjajali bibir pangeran itu. Sebab Darchen terus berontak. Celine akhirnya memutuskan untuk melakukan jalan terakhir. Dia dengan nekat menarik tangan Darchen ke arah d4d4nya. Dia menempelkan tangan pria itu di sana.
Lalu dengan niat untuk menaikkan gairah dari pria itu, Celine mengelus wajah pria itu. Dengan perlahan ia mengusap badan bagian depan Darchen. Hingga Darchen pun tidak bisa mengontrol dirinya juga.
Dia yang sudah lama menahan diri untuk tidak mendekati wanita itu lagi, kini bisa dengan buasnya melampiaskan. Meski waktu itu dia telah berusaha menghilangkan rasa pada Celine, akhirnya hancur sebab wanita itu yang menggoda terlebih dahulu.
Darchen menarik pinggang ramping Celine lalu membalas ciuman yang diberikan wanita itu padanya. Dengan cekaman bibir yang kuat, Celine tidak bisa melawan sama sekali. Dia hanya bisa menjadi seorang penikmat yang pekerti.
Darchen mencium leher Celine sampai meninggalkan bekas berwarna merah. Kemudian dia turun ke bawah, sampai pada d4d4 Celine, dia berhenti.
Darchen menarik lengan baju Celine lalu mengancingkannya kembali. Dia mengecup kening Celine kemudian sambil mengelus rambut wanita itu.
"Aku tidak ingin kau hancur," ucap Darchen dengan suara halus sambil tersenyum lebar.
"Aku telah hancur sejak lama," balas Celine dengan muka cemberut.
"Apa kau merasakan sakit?" tanya Darchen memberi perhatian, takut kalau segel itu aktif kembali.
"Sudah kukatakan, aku manusia biasa! Tidak akan terjadi apa-apa padaku!" tegas Celine dengan suara ngotot.
"Maafkan aku," ucap Darchen.
Mendengar hal itu, Celine tidak langsung luluh terhadap Darchen. Dia tidak mempercayai perkataan Darchen setelah melihat kemesraan mereka berdua semalam. Bahkan malam ini mereka terlihat sedang memamerkan hubungan mereka ke publik dengan datang bersama ke acara yang ramai. Seolah mereka sedang memberitahu dunia kalau mereka sedang menjalin hubungan baik dan lebih dari sekedar saudara.
"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Celine dengan wajah masam.
"Sebab aku mengacuhkanmu," jawab Darchen.
"Aku tidak masalah dengan hal itu," balas Celine lagi dengan muka masamnya.
"Kalau begitu, maaf karena aku sudah pergi bersama Erica," sambung Darchen.
Dengan muka gelagapan, Celine mengelak. "A-Aku tidak marah akan hal itu," sangkal Celine.
Darchen tersenyum melihat Celine yang bertingkah seolah tidak benar apa yang dikatakan oleh dirinya. Padahal jelas sekali kalau dia cemburu dengan Erica.
Darchen juga terbayang dengan aksi Celine saat bersilat lidah dengan Erica. Dengan tajamnya dia membalas sekaligus menyindir dalam waktu yang bersamaan. Dia merasa lucu saja apabila diingat kembali. Bagi Darchen setiap yang dilakukan oleh Celine adalah sesuatu yang lucu. Dia merasa konyol saja. Wanita itu telah cemburu buta padanya, namun dengan sigap Celine mengelak, padahal jelas sekali kalau dirinya sedang cemburu.
"Kenapa kau tersenyum?!" senggak Celine. Dia sedikit terpesona dengan senyum yang jarang keluar dari bibir Darchen. Hanya muka kaku itu saja yang dia lihat sehari-hari. Sekarang dia sudah menunjukkan pada dirinya bagaimana bentuk senyum yang keluar dari bibirnya. Saat melihatnya saja, Celine ikut bahagia.
Setelah canggung beberapa saat, Darchen tiba-tiba menanyakan pada Celine perihal alasan kebersamaannya dengan Alan beserta anaknya.
"Kenapa kau bisa bersama dengan Alan?" tanya Darchen dengan niat mengintrogasi Celine.
"Tentu saja karena ingin. Sama sepertimu, bersama Erica karena ingin," jawab Celine sekaligus menyindir.
"Benarkah?"
"Aku tidak ingin mengulang kata-kataku dua kali," sindir Celine lagi menirukan sifat angkuh Darchen.
Melihat serangan bertubi-tubi dari Celine, Darchen merasa tergelitik. Dia seolah melihat orang istimewa yang berani mempermainkan dirinya. Dia senang sekali. Sehingga dia banyak tersenyum di malam yang terang dengan pancaran sinar rembulan.
"Jawab dengan benar!" perintah Darchen dengan wajah yang mulai serius.
"Bukan urusanmu," balas Celine dengan ketus.
"Kenapa kau pembangkang sekali?!"
"Aku bersamanya karena aku bahagia! Puas?!" serang Celine dengan suara yang kuat.
"Kau hanya boleh bahagia dan sengsara denganku," ucap Darchen dengan nada mengancam.
Dia tidak akan membiarkan Celine tersenyum dengan pria lain. Dia cemburu. Darchen lebih baik menahan tusuk panah yang dilumuri racun daripada harus menahan rasa cemburu. Sebab dia tidak bisa mendapat perasaan nyaman pada orang sembarangan.
"Aku bahagia bersama mereka," ujar Celine dengan tampang polosnya.
Dia tidak tahu kalau Darchen sedang serius. Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Celine, api kecemburuan Darchen membara. Seolah separuh dari dirinya telah diambil oleh Alan. Dirinya memandang perbedaan mereka. Dia membayangkan bagaimana rupa Alan sehingga Celine bahagia dengannya. Dengan polos Darchen mengatakan," Tidak boleh!" tegas Darchen. "Kau tidak akan kubiarkan pergi bersama mereka," ujar Darchen tidak rela.
Namun Celine yang kebingungan dengan sikap Darchen yang terlalu mudah berubah, merasa kalau ada kelainan jiwa pada pria itu. Seolah dia haus akan perhatian dan orang yang dia harapkan tidak boleh berpaling darinya. Dia tidak ingin orang itu terbagi dan terus-terusan bersamanya. Hanya dia seoranglah yang dapat mendapatkan perhatiannya.
"Kau tidak akan kubiarkan tinggal bersama mereka!" tegas Darchen.
Tiba-tiba saat mereka sedang berdebat, Erica datang menghancurkan suasana. Erica menghampiri mereka dengan muka marah. Dengan lancang dan ringan tangan, Erica menampar Celine tidak jelas alasannya.
Plak!
Tamparan keras menghantam pipi Celine. Suaranya teramat nyaring sebab suasana yang dingin mencekam dan bulan yang sunyi. Celine sampai kaget sebab ada seorang tiba-tiba saja menamparnya, tanpa tahu salahnya dimana.